
"Malu kenapa? Kamu salah mengira dari pria lain? Oh, mungkin kamu berpikir kalau makanan itu dari Richard? Pantas saja," gumam Khoirul. Dia kesal kalau Khadijah berpikir begitu. Padahal dia berniat memberikan kejutan dengan mengirim makan siang ekslusif dari sebuah restoran Padang paling mahal.
Sudah jatuh tertimpa tangga. Khadijah telah salah bicara pada suaminya. "Bukan begitu, Mas. Pagi tadi, aku dapat kiriman makanan. Aku pikir dari Mas tapi ternyata bukan. Lalu siangnya aku dapat kiriman makanan lagi jadi aku pikir orangnya sama."
"Dari Richard?"
"Iya, Mas."
"Lalu kamu menerimanya? Kamu juga berterima kasih karena Richard memperhatikan kamu?"
"Bukan, Mas. Aku malah sudah telanjur marah padanya padahal aku yang salah. Kupikir memang dia perhatian tapi ternyata bukan. Dia memberiku makanan karena sisa satu kotak. Lalu yang kotak makan siang dia nggak mengakuinya. Malu kan aku?" jelas Khadijah.
Khoirul tersenyum geli. Kecemburuannya tidak berlangsung lama. Dia lebih gemas dengan sikap Khadijah yang penuh kepercayaan diri. "Kasihan sekali istriku ini."
"Senang ya kalau aku malu?" sungut Khadijah.
"Bukan begitu. Lucu saja melihat kamu melabrak orang yang salah."
"Ya habisnya nggak ada nama pengirim. Kenapa Mas juga nggak ngasih pesan? Jadinya kan aku nggak menerka. Mana nasinya sudah aku berikan pada teman. Aku sebenarnya ingin memakannya tapi kalau aku makan nanti aku suka lagi diberi sama Kak Richard."
"Sarapan juga kamu tolak?"
"Iya. Aku berikan pada teman lagi."
Khoirul mengusap kepala istrinya, "Bagus. Itu baru namanya patuh pada suami."
"Tanggung jawab, Mas. Aku mau nasi Padang."
"Ganti baju dulu. Nanti kita makan di sana," ucap Khoirul.
"Asyik."
°°°
[Kak Dijah, aku besok pagi berangkat ke London. Maaf ya kalau aku pamit lewat pesan bukannya langsung]
"Mas, lihat deh!" ucap Khadijah pada Khoirul. Dia menyorongkan ponselnya pada Khoirul. Khoirul membacanya dengan cepat, lalu mengembalikannya lagi. "Kinan bicara sama kamu, Mas?"
Khoirul mengangguk, "Aku pikir keputusannya belum final."
"Mungkin karena masalah kemarin, jadi Kinan mempercepat kepergiannya. Nggak masalah sih, yang penting dia siap."
__ADS_1
Khadijah mengunyah ayam goreng yang dibalur sambal hijau dengan suapan besar. Dia terlihat semangat untuk menghabiskan miliknya. Khoirul mengambil tissue untuk membersihkan sisa makanan di sudut bibir istrinya.
"Dia sudah menyiapkan semuanya sejak lama. Gara-gara Zaki saja dia jadi mundur untuk pergi. Untunglah dia nggak jadi menikah dengan Zaki. Kalau iya, rusak sudah masa depannya," komentar Khoirul.
"Hukumannya sudah dijatuhkan, Mas?"
"Sudah. Pengacara papa mau mengajukan banding biar hukumannya sepadan dengan apa yang dia lakukan pada keluarga kita," jelas Khoirul.
Khadijah menanggapi dengan anggukan. "Baguslah."
"Tinggal kamu. Aku harap kelulusan kamu bisa secepatnya. Tapi kalau misalkan semua selesai dan kamu harus pergi ke Jakarta untuk wisuda, kamu nggak apa-apa?"
"Nggak masalah, Mas. Aku nggak salah. Kenapa aku harus takut?"
"Bagus. Ini baru istriku. Makan yang banyak. Habis ini kita nonton. Ada film baru."
"Film apa, Mas?"
"Horor."
"Noo, aku nggak mau," tolak Khadijah.
"Lalu kamu maunya?"
°°°
Beberapa bulan berlalu ...
Seiring berjalannya waktu, banyak sekali hal-hal yang membuat Khadijah tidak henti-hentinya bersyukur. Disaat dia harus menjalani kehidupan sebagai seorang ibu yang sedang hamil muda, dia harus kembali ke Jakarta untuk menghadiri wisudanya. Dia berhasil lulus dengan nilai lumayan bagus meskipun tidak setinggi harapan mama mertuanya.
Khadijah pikir Marwah tidak akan datang ke acaranya karena wanita itu tidak begitu suka padanya. Tapi ketika tiba saatnya dia naik ke atas panggung, Marwah datang bersama Raden dengan sebuket bunga besar di tangannya. Wajahnya terlihat tidak bersahabat namun hatinya tentu berbeda. Sedikit banyak sikap mengalah Khadijah membuat wanita itu luluh.
Apalagi Khadijah juga sering bertanya resep masakan khas keluarga Marwah yang pernah dia makan beberapa kali. Mengidamnya kali ini lebih simpel dan tidak neko-neko. Dia juga jarang mual. Sesekali saja waktu di pagi hari.
"Malam ini menginap di rumah kan?" tanya Marwah setelah acara wisuda selesai. List foto mereka sudah lebih dari cukup untuk dipajang di ruang tamu.
"Boleh, Ma?" tanya Khadijah.
"Siapa yang melarang?" cerca Marwah.
"Ya, siapa tahu ditolak kan?" canda Khadijah.
__ADS_1
Marwah merengut, pura-pura kesal. "Mau makan malam apa? Biar mama yang siapkan."
Benar kan? Meskipun lidah berkata tajam tapi perhatiannya lebih dari cukup untuk dikatakan Marwah mulai sayang padanya.
"Sup iga, Ma. Tapi santannya jangan terlalu kental. Sama tempe mendoan dan tahu goreng," pinta Khadijah.
Marwah hanya mengangguk.
"Aku nggak ditawari, Ma?" tanya Khoirul. Iseng dia cemburu melihat kedekatan Khadijah dan Marwah. Dalam benaknya dia bahagia melihat semuanya membaik.
"Kamu bisa makan apa saja. Beda kalau ibu hamil."
"Wah, mama mulai mendiskriminasi," keluh Khoirul.
"Sudahlah, Khoirul. Kamu jangan iri begitu. Biarkan Khadijah mendapat perhatian penuh dari mama kamu. Kalau kamu mau perhatian, nanti papa yang akan perhatian sama kamu. Kamu mau makan apa?" sela Raden. Dia turut senang jika dua wanita yang harusnya saling menyayangi itu telah mengibarkan bendera putih tanda perdamaian.
"Aku mau makan sup iga juga," ucap Khoirul manja.
"Oke, kita buat porsi besar biar kalian puas makan. Kita pulang dulu. Khadijah nggak boleh sampai capek," sela Marwah. Dia tidak berniat menautkan lengannya pada Khadijah tapi Khadijah berinisiatif melakukannya. Dua pria yang sibuk berbisik di belakang tampaknya menikmati kedekatan keduanya.
°°°
Tanda-tanda kelahiran itu sudah ada. Khadijah merasakan perutnya mengencang seiring dengan keinginan untuk mengeluarkan sesuatu. Dia sudah mengikuti anjuran dokter untuk melakukan gerakan naik turun agar persalinannya lancar.
Khoirul juga membantunya untuk berjalan setiap pagi agar Khadijah terbiasa melakukannya. Menjelang persalinan, Khadijah dan Khoirul kembali pindah ke rumah mereka yang di Jakarta karena permintaan Marwah dan Ratna. Dua wanita paruh baya itu ingin menjaga Khadijah agar Khadijah tidak kesulitan melakukannya sendiri.
Pada hari H, Khadijah sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Khoirul membawanya ke rumah sakit dan dokter mengatakan proses persalinan akan dilakukan. Semua keluarga menunggu di kamar paling ekslusif yang dibooking Khoirul agar mereka nyaman menunggu persalinan Khadijah. Sementara di ruang persalinan, hanya Khoirul yang boleh menemani.
Entah berapa lama, yang jelas Khadijah sudah tidak fokus pada sekitarnya. Dia berusaha melakukan yang terbaik sesuai dengan instruksi dokter. Meskipun rasa sakitnya lebih dari yang dia bayangkan, tapi ketika dia mendengar suara tangis bayi dalam ruangan itu, seketika rasa sakitnya lenyap.
Khadijah menangis haru. Wanita itu menatap bayangan gelap bayinya dengan senyum dikulumnya. Lalu pandangannya mulai menggelap. Dia tidak ingat apa-apa lagi.
°°°
"Siapa namanya?" tanya Marwah penasaran.
Khadijah melirik Khoirul, suaminya yang telah menyiapkan nama.
"Karina Senja Putri Khoirul."
°°°
__ADS_1
END
°°°