
Kinanthi yang akrab dipanggil Kinan melongok ke dalam kamar Khoirul. Wanita itu menyunggingkan senyum ejekannya, "Semalam habis perang ya, Kak? Kok berantakan banget kamarnya."
Ucapan itu sontak saja membuat Khadijah menutup mukanya rapat. Sementara Khoirul mengusir adiknya karena sikapnya benar-benar keterlaluan.
"Kamu ditanya malah mengalihkan pembicaraan. Siapa yang kamu pacari kali ini? Anak jurusan mana? Rumahnya mana? Sering nongkrong di cafe mana?" tanya Khoirul dengan pertanyaan bertubi-tubi.
Kinan melengos, "Polisi aja kalau menanyakan sesuatu nggak mendetail begini. Pokoknya ada deh."
"Dia tahu keluarga kita?"
"Kalau nggak tahu mana mungkin kita pacaran sih, Kak? Udah ya jangan banyak tanya, aku pusing. Aku ke sini niatnya mau cari kesegaran karena di rumah mama selalu ngomel. Aku belajarpun nggak bisa konsentrasi."
"Skripsi beres?" tanya Khoirul lagi.
"Udah, Kak. Udah diterima juga. Makanya sebelum aku ke London cari-cari informasi, aku mau jalan-jalan dulu. Yuk, Kak, libur aja hari ini," tukas Kinan lebih mirip paksaan.
"Sama aku aja gimana?" sela Khadijah yang tiba-tiba muncul di belakang mereka.
Kinan mengerutkan keningnya melihat penampakan Khadijah yang lebih muda dari perkiraannya. Dulu waktu pesta pernikahan, dia tidak terlalu memahami wajah kakak iparnya. Ternyata lebih manusiawi kalau tidak memakai makeup.
"Kak Khadijah?" sapa Kinan.
"Benar."
"Duh, lama nggak bertemu. Waktu makan malam itu aku nggak melihat kakak. Kakak juga jarang main ke rumah."
Khadijah tidak ingin membahas masalah itu. Dia mengalihkan pembicaraan. "Katanya mau jalan-jalan. Kemana?"
Seketika rona wajah Kinan berubah, "Pusat perbelanjaan." Dia menoleh pada Khoirul dengan mata berkedip-kedip.
"Apa?"
"Card."
"Limit ya?"
Kinan mendengus, "Pelit amat sama adik sendiri?"
Meskipun Khoirul mengomel, dia tetap memberikan apa yang diinginkan adiknya. Dia memberikan kartu hitam miliknya yang lain, lalu berpesan untuk tidak lebih dari sembilan digit. Dia juga berpesan pada Khadijah untuk melarang apa yang dibeli adiknya kalau barang tersebut di luar nalar.
"Emang aku gila?" sungut Kinan.
__ADS_1
°°°
Pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta menyuguhkan pemandangan yang indah. Aroma barang-barang baru yang menggugah para gadis untuk belanja benar-benar bisa diterima dengan baik.
Khadijah dan Kinan berjalan mengelilingi pertokoan yang harganya perlu digarisbawahi. Semuanya di atas satu juta, itupun barang kecil yang paling murah. Selebihnya, ratusan juta banyak berseliweran di etalase.
"Kakak suka barang apa?" tanya Kinan ketika dia melihat tas branded yang warnanya gelap. Dia menimbang apakah dia perlu membelinya. Sebenarnya dia sedang banyak pikiran saat ini, makanya dia memaksakan diri untuk memuaskan hasrat berbelanjanya.
"Apa aja sih. Nggak ada yang spesifik. Aku juga nggak punya koleksi tas atau semacamnya. Semua barang-barang di wardrobe yang memilih Pak Khoirul," jelas Khadijah. Dia masih menggunakan sapaan yang biasa dia gunakan untuk Khoirul.
Kinan tampaknya tidak terkejut. Dia hanya tersenyum simpul. "Aku juga sebenarnya, cuma kali ini aku mau beli tas. Apalagi kalau kuliah di London pasti kepakai. Ngomong-ngomong kakak mau lanjut S2 dimana?"
"S1 aja belum, Ki."
"Hah? Seriusan? Umur kakak berapa sih?" tanya Kinan bingung.
"Dua puluh lima. Kamu?"
"Aku dua puluh dua. Astaga, kak Dijah benar-benar mahasiswi abadi," ejek Kinan tanpa pikir panjang.
Khadijah heran. Sifat Kinan mirip dengan Khoirul tapi bedanya Kinan lebih santai dari pad kakaknya. Hanya saja dalam bayangan Khadijah, Kinan itu tipe wanita pendiam yang selalu mengutamakan belajar bukannya fashion. Nah ini kenapa berbeda? Kalau tahu begitu, Khadijah tidak perlu merasa rendah diri di depan Khoirul.
"Nggak. Aku malah berpikir kamu semudah ini bergaul pasti punya banyak teman. Kok bisa beda ya dengan kakak kamu itu?"
"Ya karena dari lahir udah beda. Kata mama kalau kak Khoirul itu, perutnya jarang gerak-gerak. Nendang juga kalau mau saja tapi kata dokter sehat. Tapi kalau aku, aku nggak bisa diam. Pasti ada aja gerakannya tiap hari. Aktif banget. Jadi jelas aku punya ciri khas dari pada kak Khoirul yang mirip patung es. Sekarang malah lebih mencair sejak menikah sama kakak. Kalau dulu parah banget. Bisa nggak ada senyum sedikitpun," jelas Kinan.
Jadi berkat Khadijah, Khoirul bisa berubah sifatnya? Senangnya mendengar pujian langsung dari adik suaminya itu. Khadijah tersenyum simpul, bangga pada dirinya sendiri.
"Terimakasih atas pujiannya," ucap Khadijah.
"Ini hadiah dari aku karena kakak sudah membuat kakakku satu-satunya berubah. Suka nggak? Nanti kita samaan," kata Kinan sembari memperlihatkan dua tas dengan model dan warna yang sama.
"Suka."
"Baguslah. Kita pakai besok ya, Kak? Kita jalan-jalan lagi. Kalau hari ini cukup sekian. Mama pasti ngomel kalau aku pergi lebih dari dua jam," jelas Kinan.
Khadijah mengangguk.
°°°
Dua hari kemudian ...
__ADS_1
Kinan kembali datang dengan barang-barang belanjaan yang dia beli dari minimarket. Katanya untuk Khadijah supaya dia bisa cepat punya momongan. Di sudah tidak sabar mengasuh anak kakaknya itu.
Mendengar hal itu, membuat Khadijah tersipu malu. Pasalnya dia belum memikirkan akan punya anak dalam beberapa bulan ini atau dia akan menundanya sampai kuliahnya selesai. Dia hanya menerima pujian itu dan membawa Kinan pergi ke pusat perbelanjaan karena ada sesuatu yang ingin dia beli.
"Kak, pernah punya mantan toxic nggak?" tanya Kinan tiba-tiba.
"Nggak. Aku nggak suka punya hubungan spesial sejak dulu makanya lebih banyak punya teman tapi mesra."
"Oh, tipe yang hampir mirip playgirl ya?"
"Beda dong. Playgirl kan statusnya pacar orang terus punya pacar lain. Aku hanya sebatas teman tapi terlalu dekat saja," jelas Khadijah. Dia kembali menanyakan maksud dari pertanyaan Kinan tadi. "Ada yang mengganggu kamu?"
"Em, dibilang mengganggu sih iya, Kak. Setiap hari nelepon, kalau nggak diangkat dia mengirim pesan bejibun. Aku sengaja nggak balas satupun pesannya tapi dia tetap memburuku. Pernah aku jawab, aku bilang jangan ganggu aku. Eh, dia malah mengancam yang aneh-aneh."
Khadijah bergidik ngeri mendengarnya, "Bukannya itu sudah keterlaluan? Lapor polisi aja."
"Nggak ada bukti kekerasan yang mengancamku jadi percuma saja. Pasti dibilangnya ganti nomor telepon saja."
"Kenapa kamu nggak ganti nomor?" tanya Khadijah penasaran. Dia semakin terbawa suasana dengan cerita Kinan.
"Sudah puluhan kali tapi dia tetap tahu nomorku. Anehnya satupun temanku nggak ada yang punya kontak dia. Dari mana dia bisa punya nomorku?" Mimik muka Kinan menjadi lebih tegang. Mereka berbelok ke arah kanan, lalu masuk ke dalam toko sepatu.
"Masa acak nomor?"
"Acak nomor harusnya nggak selalu tepat sasaran kan? Ini aku baru ganti kemarin, dia udah telepon hari ini. Aneh kan?" tanya Kinan lagi.
Memang aneh. Khadijah belum pernah mendapati mantan setoxic itu. Kalaupun Fattan, dia hanya mendekat ketika kami bertemu di kampus. Kalau untuk telepon setiap hari rasanya tidak separah itu. Berarti Kinan harus waspada jika menyangkut masalah mantannya.
Apa sebaiknya aku cerita ini pada Pak Khoirul? Batin Khadijah.
"Aneh sekali, Ki. Kok kepalaku terbayang cerita thriller ya?" ucap Khadijah.
"Aku juga begitu. Tapi jangan cerita pada kak Khoirul ya, Kak? Nanti dia cemas. Dia terlalu overprotektif dengan hubungan asmaraku. Aku juga dulu dilarang pacaran sama mantan toxicku ini tapi aku ngenyel. Setelah putus aku baru sadar bahwa kak Khoirul benar."
Khadijah mengurungkan niatnya untuk melaporkan apa yang dia dengar dari Kinan. Sejenak dia lupa dengan permalasahan itu karena Kinan melihat sepatu cantik menurut versinya.
Mereka berbelanja hampir dua jam, lalu memutuskan untuk pulang. Ketika mereka sampai di depan pelataran gedung berlantai lima itu dan berniat membeli bakso pinggir jalan sebelum pulang, sebuah motor tiba-tiba oleng ke arah mereka.
"Kak Dijah," teriak Kinan panik.
°°°
__ADS_1