BACKSTREET YUK, PAK DOSEN!

BACKSTREET YUK, PAK DOSEN!
Bab 33 - Dasar Nenek Lampir


__ADS_3

Dia sudah gila? Kenapa tiba-tiba membahas masalah hubungan? Apa urusannya kalau aku bersikap kurang ajar? Dia siapa? Sok banget jadi dosen. Emangnya dia pikir aku mahasiswi yang bisa seenaknya dimarahi? Oh, nggak bisa. Aku Khadijah. Mana mungkin bisa diam begitu saja kalau diinjak-injak begitu? Batin Khadijah geram.


"Siapa bilang ibu berhak ada di sini? Ibu tunangannya Pak Khoirul? Apa ibu juga calon istrinya? Oh, sama aja ya antara tunangan dan calon istri. Saya ke sini karena saya dengar Pak Khoirul pingsan. Nggak boleh saya perhatian sama dosen saya sendiri? Terlebih Pak Khoirul saudara saya. Apa hak ibu melarang saya?" sentak Khadijah dalam satu tarikan napas panjang.


"Kamu berani sama saya?"


"Ya kalau saya benar kenapa harus takut sih, Bu?" jelas Khadijah. Dia menghampiri Khoirul yang belum juga bangun meskipun ada dua wanita yang sedang berkonfrontasi.


Miranti meradang. Dia menarik napas panjang siap untuk membalas namun ponselnya berdering. Dia melihat nama peneleponnya, lalu menerima panggilan itu.


"Iya, Miss," ucapnya dengan bola mata yang mengarah pada Khadijah. Tatapannya sangat tidak bersahabat. "Saya ke sana sekarang."


Miranti terpaksa bangun dari tempat duduknya. Sebenarnya dia tidak rela meninggalkan Khoirul bersama Khadijah. "Kita belum selesai."


"Mau lanjut lagi nih, Bu? Saya nggak takut."


Miranti bungkam. Wanita itu pergi dengan sentakan keras pada sepatu heelsnya.


Khadijah melirik sinis pada Miranti meskipun wanita itu sudah tidak lagi dalam pandangannya. Dia kemudian duduk di samping suaminya. Tidak ada kata yang terucap. Usapan telapak tangannya memperlihatkan jika dia enggan berkata-kata.


Ruang kesehatan itu tidak berpenghuni kecuali Khadijah dan Khoirul. Jadi Khadijah leluasa menunggu suaminya bangun.


"Kamu berani sekali," suara parau Khoirul menyambut kediaman Khadijah.


Khadijah mengelus dadanya karena terkejut dengan ucapan pria itu. "Sudah bangun?"


Khoirul membuka mata, dia mengulum senyum melihat wajah Khadijah. "Sudah."


"Sejak kapan?"


"Sejak kamu teriak-teriak."


"Ish, kok nggak membela saya sih, Pak?" desis Khadijah.


"Saya sudah ingin membela tapi kamu tiba-tiba saja bicara begitu. Saya terkejut kamu berani melawan Miranti."


Khadijah menghendikkan bahunya, "Emangnya saya harus takut? Ibu Miranti yang pertama kali membuat saya jengkel. Seenaknya saja membuat saya malu. Kalau dia tahu saya ini siapa, dia pasti nggak berani banyak komentar."


Bibir Khoirul semakin melebar, manisnya istrinya. "Emangnya kamu siapa?"


"Istri bapak lah," tukas Khadijah bangga.


"Nggak takut didengar orang?"


"Nggak. Di sini nggak ada orang lain selain kita, Pak. Oh, ya, Pak. Bapak kenapa pingsan? Pusing? Atau demam lagi?" tanya Khadijah sembari menempelkan telapak tangan pada dahi Khoirul. "Nggak demam kok."


"Saya juga bingung kenapa pingsan. Yang jelas waktu saya mengulas pelajaran di depan, kepala saya tiba-tiba berputar. Semacam sakit kepala tapi terlalu nyeri," jelas Khoirul.


"Lalu sekarang gimana?"


"Masih sakit."


"Saya ambilkan obat ya?"

__ADS_1


"Kamu tahu obatnya?"


Khadijah mengangguk yakin, tapi Khoirul tidak percaya dengan istrinya. Dia memberi instruksi untuk memanggil dokter jaga agar diberikan obat yang tepat.


"Bapak kenapa sih sama istri sendiri nggak percaya?" sungut Khadijah.


"Ambil jurusan kedokteran dulu baru saya percaya sama kamu."


"Dasar. Sakit aja masih menyebalkan." Khadijah kembali duduk. Dia tidak tahu siapa dokter jaga hari ini, jadi dia memilih menunggu.


Beberapa saat kemudian, seorang wanita datang dengan membawa bungkusan kecil di tangannya. Dia baru saja keluar untuk membeli makan siang ketika Khoirul dibawa ke ruang kesehatan.


"Pak Khoirul? Bapak bisa tumbang juga?" tanya wanita itu dengan gurauan yang tidak biasa. Dia memeriksa keadaan Khoirul termasuk tekanan darah dan sebagainya. Lalu dia memberikan obat sesuai kondisi Khoirul. Ketika dia melihat Khadijah, rasa penasarannya muncul, "Khadijah bukan?"


"Iya, Bu."


"Kenapa bisa ada di sini? Kamu yang membawa Pak Khoirul?"


Khadijah berniat menggeleng tapi Khoirul menyela, "Iya, Bu. Kalau bukan karena Khadijah, mungkin kondisi saya semakin memburuk."


"Terimakasih ya, Dijah. Kamu baik sekali," ucap wanita itu. Dia meminta Khoirul istirahat setidaknya satu jam karena efek obat. Setelah itu Khoirul bisa pulang.


"Kalau kamu lelah, pulang saja dulu," ucap Khoirul pada Khadijah. Suaranya sengaja direndahkan agar dokter jaga itu tidak mendengar pembicaraan mereka.


"Saya tunggu bapak sampai bapak bisa bangun sendiri. Lalu kita pulang sama-sama," tukas Khadijah.


"Baiklah."


°°°


Setelah mereka masuk ke dalam mobil, barulah Khadijah meminta Khoirul untuk berbaring di pangkuannya. Perlakuan sederhana seperti itulah yang membuat Khoirul merasa beruntung memiliki istri seorang Khadijah.


"Pak, itu Ibu Miranti kenapa berdiri di sana?" tanya Khadijah bingung.


Kendaraan roda empat mereka belum mencapai gerbang universitas karena padatnya kendaraan yang akan keluar. Di sisi kiri jalan, Miranti berdiri di sana dengan kepala celingukan ke arah mobil Khoirul. Setelah jarak mereka lumayan dekat, barulah wanita itu mengulurkan lengannya persis seperti menyetop taksi.


"Sembunyi, Dijah," pinta Khoirul.


"Dimana, Pak?"


Khoirul menunjuk bagian bawah jok mobil, tempat paling aman. Ketika Khadijah protes, Khoirul menambahkan, "Sementara saja. Cepatlah!"


"Dasar nenek lampir," gerutu Khadijah. Dia menjejalkan tubuhnya ke arah bawah tapi hanya sebagian yang bisa masuk. Selebihnya dia tidak bisa berbuat apa-apa. Tas hitam Khoirul dia gunakan untuk menutupi bagian wajahnya.


Khoirul berpindah ke bagian kiri tepat ketika Miranti mengetuk jendela mobilnya. Pria itu membuka jendela dengan celah yang hanya beberapa sentimeter. "Ada apa?"


"Aku ikut kamu ya?"


"Nggak bisa, Mir," tolak Khoirul. Dia memasang badan agar Miranti tidak melihat ke bawah sana. Pria itu ketar-ketir karena cuaca sedang tidak mendukung. Sinar matahari yang masih separuh ada, berhasil masuk ke dalam mobil. Kalau sedikit saja pandangan Miranti tertuju pada bawah kakinya, tamatlah riwayat hubungan pernikahan diam-diam mereka.


"Kenapa?"


"Aku harus ke rumah sakit."

__ADS_1


"Makanya aku ikut. Aku mau mendengar penjelasan dokter tentang penyakit kamu," paksa Miranti.


"Sorry, Mir. Aku nggak mau merepotkan. Sorry banget," tukas Khoirul yang secara paksa menutup jendela mobilnya. Setelah beberapa meter, dia membantu istrinya untuk kembali duduk.


"Sakit tahu, Pak," sungut Khadijah sembari membersihkan debu yang menempel pada lengannya.


"Mana yang sakit?"


"Ini," tunjuk Khadijah pada lengan dan kakinya.


"Nanti sampai rumah saya pijat ya?"


Khadijah menyenggol lengan Khoirul untuk diam. Ada supir di antara mereka. "Hush!"


"Kenapa? Namanya juga suami istri. Nggak apa-apa dong."


"Tapi kan malu, Pak."


Khoirul mengacak-acak rambut istrinya, "Manisnya."


"Memang saya manis."


"Saya kira narsis dan manis beda tipis," canda Khoirul.


°°°


Keesokan harinya ...


"Kak Khoirul, bangun!" teriak seseorang dari depan pintu kamar Khoirul.


Padahal pria itu masih meringkuk di pelukan Khadijah, tapi suara menggelegar itu membuat dirinya harus membuka mata secara tiba-tiba.


"Siapa sih, Pak?" gumam Khadijah.


"Kinan."


"Siapa lagi dia? Saya masih mengantuk, Pak. Bisa tolong bapak singkirkan pengganggu itu?" gerutu Khadijah.


Khoirul juga memiliki keinginan begitu tapi dia tidak bisa. "Andai saja aku bisa membuangnya dari kartu keluarga saya, Dijah. Cepat pakai pakaian kamu. Saya ingin mengomeli dia dulu."


Khoirul bangun dengan santainya. Padahal kondisinya juga sama seperti Khadijah.


"Pak, bajunya belum dipakai. Itu kelihatan!" pekik Khadijah.


"Astaga, saya lupa." Khoirul lari terbirit-birit mencari pakaiannya.


Benar-benar pagi hari yang menyenangkan.


Setelah Khadijah selesai memakai pakaiannya, barulah Khoirul membuka pintu. Dia mendelik pada adiknya itu, "Nggak punya sopan santun?"


"Jalan-jalan yuk, Kak, mumpung aku masih free," ucap wanita berpakaian casual dengan rambut pendeknya.


"Kamu potong rambut lagi? Ya Tuhan, Kinan, rambut kamu jadi jelek begini. Kali ini siapa yang kamu pacari?"

__ADS_1


°°°


__ADS_2