
"Kalau ada yang berani menggosipkan Khadijah lagi, saya tidak akan tinggal diam. Khadijah memang hamil, tapi hamil anak saya."
Apa mereka salah dengar? Tidak! Khoirul tidak akan berbohong hanya untuk melindungi mahasiswinya. Pria itu benar-benar yakin dengan ucapan yang dia lontarkan.
Para mahasiswi itu saling pandang. Mereka tidak pernah menyangka jika Khadijah yang selalu memakai pakaian terbuka itu ternyata istri dari dosennya sendiri.
Khoirul sama sekali tidak pusing dengan tudingan orang-orang. Dia pergi dari sana, menunaikan tugasnya seperti biasa dan menulikan pendengaran.
°°°
Pengakuan yang tidak semestinya itu juga terdengar sampai ke telinga Miranti. Wanita itu mendatangi Khoirul untuk mempertanyakannya.
"Kebohongan apa yang sedang kamu buat? Menikah dengan Khadijah? Jangan bercanda, Khoirul! Semua orang termakan gosip itu bahkan para dosen juga menilai kamu dengan sangat buruk akibat dari ucapan kamu sendiri. Lebih baik kamu tegaskan sekali lagi pada mereka kalau kamu bukan suami Khadijah. Kalian saudara jauh," tandas Miranti.
Khoirul mendongak, malas, "Siapa yang saudara? Khadijah istriku. Istri sah yang hanya aku miliki. Kami menikah hampir dua bulan ini. Kenapa kamu yang meributkan masalah kami. Hak kamu apa sebenarnya?"
Sindiran yang jelas-jelas membuat telinga memanas, membuat Miranti tidak terima. "Nggak bisa. Nggak mungkin. Jangan bercanda!" Muka merah padamnya menunjukkan emosinya telah naik. Miranti tidak bisa terima kalau Khoirul dan Khadijah sudah menikah. Dia yang ingin mendekati Khoirul bukannya wanita yang belum jelas kelulusannya itu.
Brakk!
Gebrakan Khoirul pada permukaan meja terdengar menyeramkan. Tatapannya bukan lagi setajam pisau tapi setajam pedang. "Pergilah! Aku nggak mau emosi."
"Nggak. Aku nggak terima," tandas Miranti.
"Terserah kamu."
"Khoirul!"
Khoirul bangkit dan melangkah pergi. Dia menolak membicarakan ketidakmungkinan yang diinginkan Miranti.
°°°
Koridor-koridor itu ramai. Bukan karena pertengkaran antar mahasiswa tapi karena gosip yang merajalela. Khoirul mendengar dengungan namanya di sepanjang jalan. Bahkan mereka yang takut terhadap dirinya, kini berani menatapnya.
Persetan! Aku makan juga bukan minta mereka. Lebih baik melindungi istriku dari pada dia harus menderita sendirian, batin Khoirul.
Sesantai-santainya Khoirul, dia tetap waspada. Jika sampai dia dipecat hanya karena masalah ini, dia akan membuat alibi yang tidak bisa dielakkan lagi.
°°°
"Dijah, gawat!" Suara Raisa terdengar cemas. Dia bahkan tidak menggunakan salam pembuka sama sekali.
Tubuh Khadijah memanas. Dia merasa dia akan mendapat kabar buruk lagi kali ini. Diletakkannya
__ADS_1
"Ada apa?"
"Suami kamu membuat pengakuan."
Dasar Pak Khoirul. Sudah aku bilang jangan asal bicara, keluh Khadijah dalam hati.
Mendengar Khadijah hanya diam, Raisa melanjutkan, "Pak Khoirul berkata bahwa kalian sudah menikah dan kamu hamil anaknya. Gila! Aku benar-benar nggak habis pikir. Suami kamu the best, Dijah. Nggak ada lawan."
"Bisa-bisanya kamu memuji dia?"
"Dia? Hei, suami kamu itu. Yang sopan," protes Raisa.
"Kamu mirip Pak Khoirul kalau bicara begitu."
"Benarkah? Harusnya aku yang jadi jodohnya ya?"
"Enak saja. Yang kamu ajak bicara ini istrinya. Berani benar kamu begitu," tukas Khadijah.
"Yee, begitu saja marah. Udah ya? Aku mau ke kantin dulu isi perut."
"Iya."
Khadijah merengut masam. Sudah dia duga kalau suaminya pasti akan berbuat ulah. Entah dia harus bersyukur atau menyesal telah menerima Khoirul sebagai suaminya.
Wanita itu mengelus perutnya yang tiba-tiba saja bergejolak tidak karuan. Dia melangkah masuk ke dalam kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Butuh waktu yang lebih lama untuk Khadijah selesai. Dia kemudian berjalan kembali ke kamarnya.
Satu jam kemudian ...
Khadijah menekan egonya untuk tidak mengomel pada Khoirul. Dia bersikap wajar seolah tidak tahu apa-apa, berpikir bahwa Khoirul akan menceritakan segalanya. Namun pria itu seperti enggan untuk jujur. Hal itulah yang membuat Khadijah angkat bicara.
"Bapak nggak berniat bicara apapun pada saya?" tanya Khadijah.
"Bicara apa? Oh, iya, saya hampir lupa. Tanggal dua puluh besok jadwal kontrol kamu ke rumah sakit. Saya sudah mencari dokter kandungan yang paling bagus untuk kamu," jelas Khoirul. Dia mengusap rambutnya dengan handuk kering, lalu duduk di dekat Khadijah.
Bukan itu yang ingin aku dengar, Pak Khoirul, batin Khadijah kesal.
"Selain itu?"
"Apa lagi? Saya lupa sesuatu?" tanya Khoirul.
"Soal kampus atau semacamnya mungkin. Bapak nggak ada inisiatif untuk bercerita?"
Khoirul tidak terkejut ketika Khadijah mengetahui aksinya tadi. Dia mengiyakan. "Ada. Saya yakin kmu pasti marah sama saya."
__ADS_1
"Lalu kenapa bapak lakukan?"
"Karena saya ingin kamu terbebas dari gosip miring itu. Lagi pula kita menikah sah di mata hukum dan agama. Lalu kenapa saya harus malu? Kalau perlu, orang-orang yang membuat kamu begini, akan saya laporkan ke polisi. Kalau mereka masih menyebarkan gosip lain, jangan khawatir. Saya ada di pihak kamu," tukas Khoirul mantap.
Perasaan apa ini? Aku terharu melihat suamiku membelaku. Oh, Tuhan yang selalu adil pada hambaNya, aku berterimakasih karena Engkau memberikan pria yang baik untukku. Terimakasih, batin Khadijah terenyuh.
"Terimakasih, Pak," ucap Khadijah. Dia menatap suaminya lekat-lekat. Bukannya ini adalah waktu yang tepat? "Saya cinta sama bapak. I love you Mas Khoirul. Terimakasih sudah memberikan yang terbaik untuk pernikahan kita."
Khoirul seperti orang bodoh yang hanya diam ketika istrinya mengutarakan cintanya. Kalimat yang ditunggu sejak lama akhirnya terucap juga.
"Mas?" panggil Khadijah pelan. Dikibaskan telapak tangannya di udara, "kok melamun?"
"Saya ... speechless, Dijah."
Khadijah tersenyum, "Memang harusnya begitu."
Pelukan hangat itu terjalin seiring dengan suara angin yang menembus celah dedaunan. Tidak lama kemudian, terdengar rintik-rintik hujan yang akan mengguyur sesuai bumi.
°°°
Pagi harinya ...
"Mual nggak?" tanya Khoirul ketika dia membuka mata.
Khadijah yang masih setengah sadar menggeleng, "Kelihatannya nggak, Pak. Tapi saya butuh sesuatu."
"Apa yang kamu butuhkan?"
"Saya mau bubur ayam tapi yang jual Bu Henny, Pak."
"Bu Henny?" tanya Khoirul. Nama itu sepertinya tidak asing. "Penjual di kantin kampus?"
Khadijah mengangguk, "Hm, Pak. Bisa nggak belikan itu?"
"Tapi belum buka jam segini, Dijah. Ini masih jam lima loh," tukas Khoirul.
"Saya nggak mau tahu, Pak. Saya maunya bubur ayam itu. Kalau beda penjual saya pasti langsung tahu," sungut Khadijah.
Khoirul berpikir sejenak. Kalau masalah mengidam pasti tidak akan bisa ditunda. Dia harus mendapatkan apa yang Khadijah mau atau istrinya akan merajuk.
"Baiklah. Saya akan belikan. Tunggu sebentar," ucap Khoirul akhirnya.
°°°
__ADS_1
"Pak Khoirul? Loh, ada keperluan apa ke sini pagi-pagi?" tanya Henny dengan kening mengerut melihat kedatangan tamu tidak terduga.
°°°