
"Boleh masuk kuliah kan?" tanya Khadijah berulangkali. Seharian ini dia terus mengusik suaminya yang sibuk dengan pekerjaannya.
Khoirul sampai bosan mendengar pertanyaan yang sama berpuluh-puluh kali. Dia memang belum memberikan kepastian pada Khadijah karena dianggap belum saatnya untuk masuk. Tapi sepertinya Khadijah tidak bisa dilarang lagi.
"Tanya dokter dulu. Kalau dokter mengijinkan, kamu boleh masuk kuliah," ucap Khoirul akhirnya.
"Tapi kan nggak adil itu namanya, Mas. Kalau dokter bilang nggak?"
"Ya tunggu sampai bilang iya. Beres kan?" ucap Khoirul enteng.
"Nggak tahulah. Saya marah sama mas."
"Marah saja. Nanti juga kamu cari-cari saya," tukas Khoirul dengan candaannya.
Khadijah pergi untuk menggoyahkan hati Khoirul. Tapi sampai malam, pria itu tidak kunjung mencarinya. Apa sudah tidak sayang lagi? Kenapa tidak menanyakan apakah Khadijah sudah makan atau belum?
Khadijah jelas tersulut kekesalannya. Dia mendatangi suaminya dan menuntut perhatian. "Pak Khoirul ini gimana sih? Istrinya ngambek bukannya dirayu malah semakin acuh. Nanti kalau saya pergi, bapak yang rugi."
Khadijah kalau sudah marah tidak peduli dengan panggilannya. Mau 'Pak' atau 'Mas' juga tidak masalah.
"Nggaklah. Kamu nggak mungkin pergi. Kalau pun pergi, saya bisa menemukan kamu," tukas Khoirul. Dia menutup laptopnya, "sini! Duduk sini!"
Tepukan pada pangkuan Khoirul menggoyahkan hati Khadijah. Khadijah menurut, dia menempatkan pantatnya di pangkuan suaminya. Lalu pelukan itu dirasakan begitu nyaman.
"Kamu mau makan apa?" tanya Khoirul.
"Nasi goreng tapi jangan pakai bawang putih."
"Kalau nggak pakai bawang putih, pakai apa dong? Bisa dimakan? Rasanya gimana?" tanya Khoirul bingung. Setiap masakan pasti membutuhkan segala macam bawang. Bagaimana dia pesan pada penjualnya kalau begini?
"Pak Khoirul yang katanya IQnya di atas rata-rata, ya pakai cabai sama bawang merah ditambah garam dan micin," jelas Khadijah.
"Kalau daun bawang mau?"
"Boleh tapi satu potong aja, Pak."
"Oke. Tunggu di sini!" Khoirul menurunkan Khadijah lalu berniat pergi ke dapur. Tapi Khadijah menahan pergerakannya. "Kenapa?"
"Bapak mau kemana?"
__ADS_1
"Masak."
"Bisa?"
"Duh, kamu menghina saya. Memangnya setiap kamu butuh sesuatu yang aneh-aneh, seperti semalam itu, siapa yang masak? Saya! Bukannya Bik Sani," ucap Khoirul. Dia menyombongkan keahlian memasaknya. Melihat istrinya memicingkan matanya, dia melanjutkan, "pernah nonton drama Korea nggak? Semua pria pintar yang bisa cari duit sendiri pasti bisa masak. Nggak ada kata nggak bisa."
"Yaelah, Pak, kalau cuma nasi goreng sih gampang. Coba ayam rica-rica? Bisa nggak?" tantang Khadijah.
"Wah, kamu menghina saya. Besok saya masakin kamu ayam rica-rica."
Khadijah mengangguk dengan bibir meruncing tanda tidak percaya.
Khoirul turun untuk membuat nasi goreng dibantu Bik Sani, lalu naik kembali ke kamar. Dia menyuguhkan makanan itu pada istrinya. Sayangnya baru tiga suap, Khadijah menolak makanan itu lagi.
"Minum susu ya?" tawar Khoirul.
Khadijah menggeleng, "Es boleh nggak, Pak?"
"Mau apa? Es jeruk?"
"Iya, tapi jeruk nipis jangan yang buah. Yang agak-agak asem," pinta Khadijah. Air liurnya sudah berontak tidak karuan.
"Bik Sani punya stok sepertinya. Tunggu sebentar."
Tapi ...
Tidak semua orang berpikiran begitu. Ketika Khadijah masuk kampus kembali, dia disuguhkan dengan ucapan Lulu yang menusuk hatinya.
Lulu sengaja mencegahnya masuk kelas. Dari tampangnya saja sudah terlihat bahwa dia berniat mencari masalah. "Sudah berani masuk ya?"
"Yang sopan sama senior. Nilai kesopanan kamu ternyata lebih rendah dari yang aku duga," balas Khadijah. Dia sudah berani melawan. Kalau tidak, Lulu dan Lulu-Lulu yang lain akan mengusik dirinya.
Perdebatan itu tentu mengundang kerumunan lagi. Khadijah sudah siap dengan resiko yang akan dia terima.
"Jangan menggunakan strata kelas di sini, Kak Khadijah. Aku memang junior tapi aku bebas berpendapat. Kalau masalah nilai kesopanan, kakak nggak perlu mengajariku. Kakak sendiri nggak punya nilai plus yang bisa kakak banggakan. Kuliah berapa tahun sih belum lulus? Atau jangan-jangan dari awal kakak memang nggak punya kualitas untuk masuk ke kampus bergengsi ini. Pasti ada orang dalam. Contohnya ... tentu aja suami tercinta. Bukan begitu teman-teman?" tanya Lulu pada orang-orang yang mendengarkan dirinya.
Kepalan tangan Khadijah menguat. Dia sudah mengira masalah kelulusannya akan menjadi bumerang baginya. Dia menyeringai, "Em, jadi pengamat juga selama ini? Kenapa? Nggak suka kalau aku pakai orang dalam? Bukannya kamu harus bersyukur karena punya senior yang bersuami dosen sejenius Pak Khoirul?"
"Lucu sekali. Semua orang belum mengakui pernikahan kakak dan Pak Khoirul. Tidak ada bukti kan? Bisa saja, Pak Khoirul hanya membantu kakak karena kasihan. Memangnya ada salah satu orang di sini yang mendengar kabar pernikahan kalian?"
__ADS_1
Mulut kejam Lulu perlu diberi pelajaran. Khadijah mengulurkan tangannya, meraup bibir Lulu yang dipoles lipstik terlalu tebal. Lulu berteriak panik, berniat merangsek ke arah lawan tapi Khadijah berhasil mengelak.
"Ayo, ayo, ayo!" Sorakan itu terdengar nyaring.
Khadijah tidak memiliki niat untuk berkelahi. Dia melepaskan cengkraman tangannya, mengakibatkan lipstik tercoreng kemana-mana. Tawa kerumunan itu pun meledak, termasuk Khadijah.
"Berani kamu menyentuhku, aku nggak akan tinggal diam. Mau bukti? Nanti akan aku tunjukkan, aku kirim ke semua orang foto-foto pernikahan kami. Satu lagi, masalah lulus atau nggak bukan urusan kamu. Duit-duitku kan? Kecuali kamu mau membayar biaya kuliahku, kamu boleh banyak bicara. Ngomong-ngomong lipstik kamu nggak waterproof. Ditekan saja meleyot kemana-mana," tandas Khadijah dengan ejekan halus yang lagi-lagi menimbulkan tawa.
Lulu malu bukan main. Dia menghentakkan kakinya lalu pergi dari sana. Segudang pembalasan sedang dia pikirkan.
°°°
"Ngapain sih kamu, Dijah?" tanya Raisa melihat tingkah Khadijah yang memisahkan daun bawang ke mangkuk yang lain. Dia memesan mie ayam pangsit tapi lupa mengatakan pada penjualnya untuk meniadakan daun bawang.
"Ini si hijau-hijau mengganggu saja," gerutu Khadijah.
"Aku belikan lagi deh. Lama kalau begitu," tukas Raisa. Mereka sedang berada di kantin dan pastinya Khadijah menjadi sorotan. Apalagi perseteruan Khadijah dengan Lulu tadi yang berbuntut headline gosip lipstik lumer. Ada-ada saja ucapan orang-orang itu.
"Nggak usah, Sa. Udah selesai kok."
Raisa kembali duduk. Dia tidak memesan makanan, hanya es teh manis yang manisnya kebangetan. "Kamu berantem sama Lulu nggak ngajak-ngajak."
"Kamu emang dimana?"
"Di rumah sih."
"Makanya itu," ucap Khadijah. Dia memasukkan tiga kali suap mie ayam tersebut dan dia sudah malas menyelesaikannya.
"Kenapa?" tanya Raisa.
"Udah nggak ingin."
Raisa sudah hampir menarik mangkuk tersebut, tapi tiba-tiba sang suami, Khoirul, datang dengan menghabiskan mie tersebut. Sontak saja, mahasiswi yang melihat sikap Khoirul menutup mulutnya karena syok.
"Sweet."
°°°
Di suatu siang ...
__ADS_1
"Khadijah, dipanggil dekan," ucap seseorang.
°°°