
"Nyonya, saya mau ke supermarket sebentar ya. Bawang putih habis," lapor Bik Sani.
"Bawa supir saja, Bik, biar nggak perlu nyari taksi."
"Nyonya nggak pergi?"
Khadijah menggeleng, "Lelah, Bik. Mau nyantai dulu."
"Nitip sesuatu nggak, Nyonya?"
"Kangkung, Bik. Enak kayaknya dimasak cah kangkung di hotplate begitu. Sama seafood ya? Biar mewah," ucap Khadijah dengan senyum sumringah. Tiba-tiba saja dia menginginkan makanan itu. Dalam benaknya rasanya sungguh istimewa.
Bik Sani mengangguk. Dia sudah siap dengan tas belanja dan uang yang diberikan oleh Khoirul satu minggu yang lalu. Jatah bulanannya terlalu banyak sampai bik Sani kebingungan membuat jadwal makanan.
"Saya berangkat dulu ya, Nyonya," ucap Bik Sani.
"Hati-hati, Bik."
Bik Sani keluar rumah, sementara Khadijah sibuk berleha-leha sambil menonton televisi. Dia sudah berniat tidak melakukan apapun makanya pakaian yang dia kenakan hanya t-shirt longgar yang panjangnya seperut dan celana bahan pendek yang memperlihatkan bentuk tubuhnya.
Terakhir kali dia hamil, tubuhnya sedikit menggemuk. Tapi beberapa Minggu ini, porsi tubuhnya kembali seperti semula.
Khadijah tidak sadar ketika kelopak matanya terpejam. Dia agak terkejut mendengar bel rumahnya berbunyi. Wanita itu bangkit, membuka pintu.
"Pak Zaki?" ucap Khadijah bingung.
"Saya mau bertemu Pak Khoirul. Di rumah?"
"Sedang mengajar, Pak. Em, masuk dulu, Pak. Saya hubungi Mas Khoirul dulu," balas Khadijah. Dia mempersilahkan Zaki untuk masuk. Pria itu duduk di sofa ruang tamu dengan pandangan yang tidak lepas dari Khadijah. Pakaian wanita itu sangat menggoda imannya.
Bagaimana tidak? Perut rata Khadijah tampak menggila di bawah baju yang tidak seberapa panjang ditambah celana pendek ketat yang memperlihatkan pantat berisi wanita itu.
Zaki menelan ludah. Dia datang dengan tujuan untuk meminta ijin dari Khoirul untuk menikahi adiknya tapi melihat wanita yang lebih menggoda tentu saja Zaki memiliki niat lain.
Khadijah kembali ke ruang tamu setelah menelpon Khoirul, "Nggak dijawab, Pak. Nanti saya coba hubungi lagi ya? Bapak mau minum apa? Selagi menunggu mas Khoirul menjawab panggilan saya, saya buatkan minuman."
__ADS_1
"Kopi boleh?" tanya Zaki dengan mata menembus ke arah yang tidak semestinya.
"Boleh, Pak. Tunggu sebentar!"
Khadijah berniat mengganti pakaiannya sebelum membuat kopi. Dia risih jika harus berhadapan dengan pria lain selain Khoirul. Wanita itu menaiki tangga menuju kamarnya sendiri. Pintu kamarnya sedikit terbuka karena dia buru-buru masuk.
Khadijah memilih baju yang lebih sopan dan sudah bersiap untuk menarik ujung bajunya ke atas tapi suara pintu terbuka membuat dirinya berhenti.
Khadijah membalikkan tubuhnya, matanya mendelik sempurna ketika melihat Zaki berdiri di ambang pintu. "Apa yang bapak lakukan di sini?"
"Eh, itu, saya mau ke kamar mandi tapi malah nyasar ke sini," ucap Zaki berusaha terdengar menyesal tapi matanya tidak bisa berbohong. Apalagi helaan napasnya yang memburu memberi tanda peringatan pada Khadijah untuk hati-hati.
"Kamar mandi di bawah ada, Pak. Tolong kembali ke bawah!" desak Khadijah. Dia menutupi tubuhnya dengan pakaian yang hendak dia pakai tadi.
Zaki bukannya mengindahkan peringatannya tapi malah pura-pura melihat isi kamar itu. "Kamarnya bagus. Cocok untuk melakukan hubungan suami istri. Saya yakin kalian pasti ngebut kan untuk punya anak?"
"Tolong keluar, Pak!" desis Khadijah.
"Nanti dulu, Khadijah. Saya hanya ingin melihat kamar kalian. Siapa tahu hari ini kita bisa menikmati siang hari yang terik ini dengan berpelukan berdua," ejek Zaki. Seringaiannya sedingin es.
"Bapak sudah kurang ajar pada saya. Saya akan teriak kalau bapak masih melanjutkan langkah," ancam Khadijah.
"STOP!"
"Ayolah, Dijah! Kenapa kamu jual mahal? Di sini nggak ada orang lain. Lagi pula saya tahu kamu sukanya sama dosen seperti saya ini kan? Tunggu apalagi? Sentuhan sedikit saja, saya nggak akan macam-macam lagi. Bukalah pakaian kamu! Kita bermain sebentar sebelum Kinan datang. Sepertinya kamu lebih menggoda dari pada Kinan," desis Zaki.
"Bapak nggak mikir apa yang bapak ucapkan itu? Padahal Kinan percaya sama bapak tapi bapak malah punya pikiran buruk. Saya akan bicarakan ini pada Kinan agar dia menolak lamaran bapak," hardik Khadijah. Dia melihat sekitar dan menemukan sesuatu yang bisa dia gunakan untuk melukai lawannya.
"Alah, ngaku saja kamu. Kamu sebenarnya mau mencoba sesuatu yang baru dengan saya tapi kamu malu. Bagaimana kalau saya yang coba lebih dulu? Nanti kita lakukan bergantian. Gimana? Setuju?"
Tawaran gila. Khadijah tidak pernah menyangka Zaki akan segila itu. Kenapa dia bisa meminta Kinan untuk mengatakan yang sejujurnya pada kakaknya bukannya malah melarang gadis itu?
Melihat tatapan Zaki yang mirip psikopat menambah beban ketakutan Khadijah, tapi Khadijah tidak boleh menerima dengan pasrah. Ketika Zaki menarik pakaiannya naik, wanita itu mengambil botol parfum miliknya yang ukurannya besar, lalu ...
Bugh!
__ADS_1
"Awww," pekik Zaki sembari menyapu telapak tangannya pada dahinya. Dia menatap tajam Khadijah, "berani kamu? Tapi akan saya ampuni kalau kamu mau buka baju kamu!"
"NGGAK AKAN! DASAR MANUSIA JAHAT!"
Khadijah melempar barang-barang lainnya dengan bermacam-macam bentuk hingga salah satunya mengenai dahi dan membuat darah segar mengalir. Di saat Zaki kelimpungan, Khadijah menggunakan kesempatan untuk kabur. Dia mengunci kamarnya karena takut Zaki akan menyusulnya.
"Buka, Dijah! Buka saya bilang!" perintah Zaki.
"BUKA! KITA BERMAIN CANTIK SAJA DARI PADA PETAK UMPET! RANJANG KAMU MENUNGGU KITA!" teriak Zaki tanpa malu.
"Dasar manusia sampah," gerutu Khadijah. Dia berlari ke ruang tamu untuk mengambil ponselnya. Dia menghubungi Khoirul sekali lagi dan berhasil. Wanita itu menangis sesenggukan sembari menceritakan apa yang dilakukan Zaki padanya. Saat itulah, Kinan muncul. Gadis itu mendengar ucapan Khadijah dan luruh begitu saja.
"Cepat datang, Mas! Kinan juga ada di sini!" ucap Khadijah. Dia memutuskan panggilan dan menghampiri Kinan. "Kamu nggak apa-apa, Ki?"
"Apa benar Pak Zaki mau berbuat macam-macam dengan kakak?" lirih Kinan. Mulutnya harusnya terkunci karena keterkejutannya tapi dia merasa bersalah karena telah mempercayai ucapan pria itu.
"Benar. Aku menguncinya di kamar."
"Kakak nggak apa-apa?" Kinan tersadar dia tidak bisa lemah. Menghadapi mantan kekasih yang toxic saja dia bisa.
Khadijah menggeleng, "Nggak apa-apa. Aku berhasil melarikan diri. Maaf ya, Kinan. Aku malah membuat kamu harus menikah dengan pria seperti itu. Harusnya aku selidiki dulu gimana Pak Zaki sebenarnya. Beruntung kamu nggak diapa-apain sama dia kalau nggak, aku nggak tahu lagi kamu akan jadi seperti apa."
Kinan yang harusnya merasa bersalah. Dia sudah tahu bagaimana sifat Zaki tapi angkuh untuk mengatakannya. Dia akan bicara jujur pada kakaknya nanti. Biarlah dia dihajar habis-habisan asal rasa bersalahnya berkurang.
Tiga puluh menit kemudian ...
Khoirul datang bersama dua orang berseragam. Mereka membawa Zaki yang masih terkunci di dalam. Tentu saja Zaki takut untuk melompat. Bisa-bisa dia tidak lagi menginjakkan kaki di dunia ini.
"Kamu nggak apa-apa, Sayang?" tanya Khoirul pada istrinya.
Khadijah menggeleng, "Nggak apa-apa, Mas." Niat hati ingin tetap tegar tapi wanita itu malah kembali menangis. Melihat bahu Khoirul, air matanya tiba-tiba tumpah.
"Sudah, sudah. Sudah selesai," ucap Khoirul. Dia melempar pandangan pada Kinan yang diam di sofa. "Kinan, kamu nggak apa-apa?"
Kinan terkejut, dia menggeleng lesu, "Semua ini karena aku, Kak. Aku tahu kalau Pak Zaki hanya menginginkan keperawananku tapi aku pura-pura nggak peduli. Waktu di hotel sebenarnya aku dan Pak Zaki hampir melakukannya tapi aku menolak. Pak Zaki tetap memaksa. Beruntung kalian datang tepat waktu jadi aku bisa menghindar."
__ADS_1
Plakk!
°°°