BACKSTREET YUK, PAK DOSEN!

BACKSTREET YUK, PAK DOSEN!
Bab 24 - Bapak Suka Gajah?


__ADS_3

"Ada apa kok teriak-teriak?" tanya Ratna memburu dua orang yang terduduk di area kitchen set. Reaksinya sama seperti Khadijah. Wanita itu menjerit dan memaksa Khadijah untuk mengobati suaminya.


Khadijah membawa Khoirul naik ke kamar. Wanita itu mencari kotak obat di lantai bawah tapi Ratna sudah lebih dulu membawakannya. Tidak lupa banyak wejangan diucapkan oleh mamanya agar Khadijah bersikap lebih baik pada Khoirul.


"Emangnya mama pikir aku mau mencelakai suamiku?" gumam Khadijah kesal. Dia juga bukan orang jahat yang keluar masuk tempat terlarang.


"Ya siapa tahu kamu tiba-tiba punya pikiran buruk."


"Kalau mama bicara terus kapan aku masuk?" gerutu Khadijah.


"Ya sudah, masuk sana!"


Khadijah melangkah masuk. Kotak obat tersebut diletakkan di tepi ranjang sementara Khadijah duduk di samping suaminya. Telapak tangannya menahan darah yang mengalir sembari melihat istrinya sibuk melakukan pengobatan ala-ala dokter.


"Yakin paham kamu?" tanya Khoirul curiga.


Pasalnya Khadijah menatap lama benda-benda farmasi tersebut seperti berpikir apa yang harus dia gunakan pertama kalinya. Padahal tanpa berpikir pun harusnya dia tahu.


"Paham dong, Pak," sungut Khadijah.


"Alkohol dulu," instruksi Khoirul.


"Saya juga tahu, Pak. Bisa diam nggak sih?" Khadijah geram kalau harus disetir orang lain dalam melakukan sesuatu.


"Ini saya diam," goda Khoirul.


Khadijah membuka tutup botol alkohol tanpa membawa kapas. Dia berniat menuangnya langsung, tapi lagi-lagi Khoirul menahan pergerakannya.


"Pakai kapas, Dijah. Nanti banyak yang tumpah kalau langsung dituang," komentar Khoirul.


"Saya tahu, Pak. Astaga bapak ini kenapa berisik sekali? Mengganggu konsentrasi."


Meskipun Khadijah mengomel tapi dia tetap melakukan apa yang dikatakan Khoirul. Dia menuang alkohol ke permukaan kapas lalu mengoleskannya pada luka suaminya.


Rasakan ini, batin Khadijah jahil.


Jari-jari Khadijah menekan terlalu kuat hingga suaminya menjerit, tapi hanya sepelan gumaman Khadijah. Pria itu menatap istrinya kesal.


"Kurang keras, Dijah," ucap Khoirul.


"Oh, kurang ya, Pak?" Khadijah menyeringai kecil. Dia berhasil membuat suaminya mengerang kesakitan. Padahal harusnya dia bersikap lebih dewasa karena kalau Khoirul tidak menyelamatkannya, sudah pasti dia yang akan terkena goresan tajam itu.


"Lembut, Sayang," goda Khoirul.


"Hm, mulai lagi," sungut Khadijah. Dia melanjutkan step selanjutnya, mengoles obat merah lalu plester. Bukan Khadijah namanya kalau dia bertindak normal. Wanita itu memilih plester berwarna cerah dengan gambar gajah, plester yang sering dia gunakan.


Pasti besok di kampus bakalan gempar, batin Khadijah.


"Beres, Pak," ucap Khadijah. Senyum ejekannya tidak ditunjukkan secara terang-terangan. Dalam hati dia tertawa puas.


"Sudah?" tanya Khoirul.


"Sudah."


"Terimakasih."

__ADS_1


"Welcome, Pak. Terimakasih juga sudah menolong saya," ucap Khadijah.


"Kenapa kamu berbohong pada saya?"


"Soal apa? Masakan?"


Khoirul mengangguk, "Apa lagi?"


"Em, ya karena saya takut bapak sakit perut. Ceritanya itu, tadi saya mau buat ayam ungkep goreng. Udah saya ungkep itu ayam, saya mau goreng. Ee, kok ayamnya nggak mau diem. Meledak-ledak. Saya takutlah. Saya menjauh, tapi malah keterusan sampai gosong. Saya mau kasih bapak awalnya tapi saya ragu. Lalu saya belilah di Mbok Endut masakan rumahan. Eh, taunya bapak pernah beli di sana," jelas Khadijah.


Khoirul bisa memahami apa yang dijelaskan Khadijah. Seorang istri pasti memiliki keinginan untuk membuat suaminya senang. Khoirul tidak marah, dia malah senang karena Khadijah memikirkan kesehatannya.


Usapan lembut pada rambut Khadijah membuat wanita itu tegang. Terlihat sekali jika wajahnya menyiratkan kebingungan. Khoirul memberikan anggukan singkat pada istrinya, "Terimakasih."


"Bapak masih lapar nggak? Saya lapar soalnya," ucap Khadijah.


"Masih. Kamu mau makan lagi?"


Khadijah mengangguk cepat, "Kita habiskan makanannya. Udah capek-capek beli masa dibuang. Yuk, Pak!"


Refleks Khadijah menarik pergelangan tangan Khoirul. Mereka turun bersama dengan suasana hati yang jauh lebih baik.


°°°


Esok harinya ...


Tidak biasanya hujan turun deras. Padahal Khadijah dan Khoirul sudah siap berangkat ke kampus. Rencananya Khadijah akan turun di perempatan dengan menggunakan taksi, tapi sepertinya cuaca terlalu mendukung untuk mereka berduaan di dalam kamar.


Lagi-lagi Khadijah harus menahan detak jantungnya ketika Khoirul memeluknya dari belakang. Khadijah sedang memoles lipstik nude ke area bibirnya tapi tercoreng hingga ke samping.


"Apa sih, Sayang?"


"Sayang, sayang. Tumben banget. Minggir dulu dong, Pak!" Khadijah berusaha menyingkirkan kepala suaminya dari bahunya tapi tidak berhasil. "Pak Khoirul yang terhormat, bisa tolong menyingkir?"


"Kiss dulu."


Khoirul menaikkan sisi kanan wajahnya, "Bagian ini."


"Nggak mau. Nanti kena lipstik."


"Hapus dulu lipstik kamu, nanti oles lagi," pinta Khoirul.


"Nggak bisa. Lipstik ini mahal, Pak. Sayang kalau dibuang-buang."


"Berapa harganya?" tanya Khoirul kesal. Harga kecupan Khadijah terdengar lebih murah dari pada harga lipstik itu.


"Seratus lima puluh ribu," ucap Khadijah.


"Saya belikan lima," sahut Khoirul. Dia meminta Khadijah untuk membuka dompetnya yang tergeletak di atas meja rias, "ambil kartu yang mana saja sesuka hati kamu."


"Kartu hitam boleh?" Mata Khadijah berbinar ketika melihat deretan kartu yang dia perkiraan isinya memiliki nol yang tidak sedikit.


"Boleh. Unlimited semua itu."


"Asyik," sorak Khadijah. Dia mengambil kartu yang berkilau menurutnya. Tapi kemudian dia meletakkan kembali benda itu, "nggak jadi, Pak. Terimakasih tawarannya."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Saya menikah dengan bapak bukan karena saya ingin kekayaan bapak. Saya bisa cari sendiri nanti."


Khoirul mengambil kartunya kembali dan menyisipkannya pada telapak tangan Khadijah, "Ini untuk uang bulanan kamu sama uang belanja kamu selama sebulan. Nanti kalau kamu butuh untuk belanja keperluan lain, pakai saja. Biaya kuliah kamu sudah saya lunasi. Tinggal menunggu kamu selesai skripsi."


Khadijah merasa dirinya terbang karena kalimat Khoirul. Kenapa sikap Khoirul berbanding terbalik dengan apa yang mereka lalui dari awal. Andai saja semuanya berjalan dengan baik dulu, mungkin dia tidak akan sebodoh itu untuk menolak perjodohan.


"Kenapa bapak baik pada saya?"


"Kok baik sih? Bukan baik, Dijah. Bertanggung jawab. Kamu istri saya. Sudah sepantasnya saya bersikap begini. Bukannya kamu senang kalau diperhatikan suami?" tanya Khoirul balik.


Khadijah menggeleng ragu, "Entahlah, Pak."


"Biarlah semua mengalir apa adanya. Saya yakin hati kamu juga akan tertuju pada saya."


"Bapak kayak cenayang saja bisa tahu masa depan."


"Kalau urusan kamu, saya pasti tahu. Ngomong-ngomong ini masih hujan. Gimana kalau kita..,"


"Nggak, Pak. Saya sudah dandan rapi-rapi. Saya nggak mau berbaring lagi di tempat tidur. Ini juga masih sakit, eh, Pak Khoirul, ampun," pekik Khadijah. Penolakannya tampaknya sia-sia.


Biarlah hujan menjadi saksi bagaimana dua insan itu menjalin cinta sekuat tenaga. Siapa tahu Tuhan memberikan amunisi cinta tambahan agar sang wanita tidak lagi merasa canggung untuk mengatakan sayangnya.


°°°


Di balik meja-meja di belakang Khoirul, ada bisik-bisik tetangga. Mereka melihat plester gajah di lengan Khoirul. Acara belajar yang biasanya serius mendadak berubah cengengesan karena plester secerah matahari itu.


Khoirul membalikkan tubuhnya, menatap tajam pada deretan meja yang terisi oleh mahasiswa-mahasiswinya. "Ada yang mau kalian tanyakan? Pelajaran saya seperempat berjalan saja belum tapi kalian sibuk bergosip."


Salah satu mahasiswa memberanikan diri untuk mengangkat tangannya. "Saya boleh bertanya, Pak?"


"Ada apa?"


"Bapak suka gajah?"


Kening Khoirul berkerut, "Tidak."


"Kok plesternya bergambar gajah, Pak?"


Khoirul menilik plester di lengannya. Dia mengira Khadijah menempelkan plester yang normal digunakan orang lain, tapi ternyata motifnya agak berbeda. Dalam hati dia berdecak sebal.


Awas ya kamu, Khadijah, batinnya geram.


"Kalau kalian cukup banyak waktu untuk mengomentari plester saya, saya akan memberikan tambahan tugas yang harus dikumpulkan Minggu depan."


"Huuu," sorak semua orang.


°°°


Sepulangnya dari kampus ...


"Sini kamu! Saya berikan hukuman karena telah mengerjai saya," ucap Khoirul pada Khadijah. Wanita itu langsung lari terbirit-birit mendengar ancaman Khoirul.


Mampus aku, batin Khadijah.

__ADS_1


°°°


__ADS_2