
Sebelum pemanggilan itu berlangsung ...
Khadijah berpikir bahwa gosipnya sudah mereda. Buktinya dalam dua hari, tidak ada orang yang berusaha mengusiknya termasuk Lulu. Entah wanita itu malu atau sudah bosan mencari celah dari pernikahan Khadijah dan Khoirul.
Khadijah menjadi lengah. Dia sudah berani memamerkan hubungannya dengan Khoirul. Khoirul adalah orang pertama yang paling bahagia melihat perubahan hubungan mereka.
"Mau saya antar ke kelas?" tanya Khoirul ketika mereka turun di tempat parkir.
"Bapak mau?"
"Pertanyaan aneh. Kenapa harus nggak mau sih?"
"Yuk!" ajak Khadijah. Dia menautkan jarinya pada jari sang suami.
Lorong-lorong yang penuh dengan mahasiswa sibuk mengamati dua orang yang dimabuk cinta itu. Terlebih gosip hangat yang belum sepenuhnya reda itu. Masih banyak orang yang menyebarkan status pernikahan mereka. Anggap saja undangan online yang tidak perlu repot-repot mencetak lembaran kertas.
"Pak, kita jadi pusat perhatian," bisik Khadijah.
"Biarkan saja," ucap Khoirul.
Dua orang mahasiswi melewati mereka. Mungkin mereka penasaran dengan hubungan Khadijah dan Khoirul, mereka berhenti untuk menyapa. Lalu mempertanyakan pertanyaan spontan yang menggelikan.
"Saya nggak tahu kalau bapak diam-diam suka pada Dijah. Padahal Dijah TTM-nya banyak. Sejak kapan bapak jadi secret admirer Dijah?"
Secret admirer? Khadijah mengiyakan dalam hati.
Khoirul mengangguk dengan senyum misterius, "Saya rasa kapan saya menyukai Khadijah bukan urusan kalian. Kalau kalian punya banyak waktu lebih baik kerjakan tugas dengan benar. Dua hari lagi bertemu saya kan?"
Skakmat!
Ternyata Khoirul tahu siapa mereka. Jangan-jangan Khoirul menghapal di luar kepala siapa saja mahasiswa dan mahasiswi yang pernah menjadi anak-anaknya?
Wanita berambut pendek, lebih pendek dari potongan maksimal wanita, menggaruk tengkuknya malu. Dia pikir sambutannya akan lebih hangat karena tadi Khoirul sempat tersenyum. Tapi kenyataannya sama saja.
Sifat dingin dan kejam seseorang memang tidak bisa diubah dalam hitungan hari.
Khadijah menyenggol perut Khoirul, main-main, "Jangan begitu, Pak!"
"Habis mereka selalu penasaran dengan kita," gumam Khoirul. Sikapnya menjadi lebih manis pada Khadijah. Sontak saja orang-orang itu ternganga. Bukan hanya dua wanita itu tapi mereka semua.
__ADS_1
Khoirul si dosen killer sudah menemukan pawangnya.
Khadijah dan Khoirul kembali berjalan dan berhenti di depan kelas. Seperti pasangan pada umumnya, mereka saling melambai dan membuat janji untuk bertemu nanti.
Khadijah mengulas senyum beberapa kali. Bebannya sedikit berkurang dan dia mempunyai banyak tenaga untuk memulihkan dirinya yang terkena mental sesaat. Kehamilannya juga baik-baik saja. Apapun yang dia inginkan terpenuhi. Lalu ...
Pagi hari yang harusnya menjadi pagi yang indah, Raisa menghubungi Khadijah dengan suara kecemasannya.
"Ada apa? Berantem sama pacar kamu?" tanya Khadijah dengan suara parau karena dia baru saja bangun, lebih tepatnya belum bangun jika tidak ada panggilan dari Raisa.
"Cek link yang aku kirim," desak Raisa.
"Ada apa? Kenapa kamu cemas begitu?"
Raisa menghela napas berat, "Aku nggak bisa menjelaskan. Buka saja link yang aku bagi. Jangan banyak tanya! Aku pusing. Pagi-pagi udah buat masalah. Aku yakin itu pasti Lulu. Nggak ada orang lain lagi yang benci sama hubungan kalian."
Hubungan mereka? Jadi ini ada kaitannya dengan pernikahannya dengan Khoirul. Khadijah memutus panggilan itu dan membuka pesan WhatsApp dari Raisa. Ada sebuah link yang tertuju pada sebuah buletin aduan universitas.
"Astaga," desis Khadijah. Seketika matanya terbuka penuh.
°°°
Ketika kami meminta jawaban, ada sebuah pengakuan dari salah satu dosen yang tidak akan saya sebutkan namanya, bahwa kehamilan itu merupakan hasil dari pernikahan mereka yang diadakan secara diam-diam.
Lalu, pertanyaan selanjutnya yang patut dipertanyakan. Apakah mahasiswi tersebut bisa diakui kredibilitasnya? Pasalnya tidak ada yang bisa meyakini bahwa masuknya mahasiswi tersebut atas dasar kepintaran otaknya. Kenapa saya bisa bicara begitu?
Selama tujuh tahun tidak ada tanda-tanda mahasiswi tersebut berhasil lulus. Saya meyakini bahwa untuk masuk menjadi salah satu penghuni universitas harus memiliki nilai yang mumpuni, tapi ini? Adakah sistem orang dalam?
Pertanyaan kedua, apakah hubungan mereka sudah berlangsung cukup lama misalkan tujuh tahun, namun baru diakui ke publik dalam beberapa hari ini? Saya tidak menuduh tapi rasanya semua itu patut dipertanyakan.
Label universitas unggulan yang memilki kredibilitas tinggi, akan menjadi jelek di mata orang-orang luar jika gosip ini mulai tersebar. Jadi, yang saya harapkan adalah kasus ini diusut tuntas sesuai dengan peraturan universitas. Kalau masalah ini dibiarkan karena status sang suami yang merupakan dosen paling ditakuti di universitas, saya akan mengajukan tuntutan pada dinas terkait. Setelah itu pasti akan ada usaha untuk menertibkan semua peraturan yang ada. Jika tidak ingin hal ini terjadi, saya mohon keadilan yang sejujur-jujurnya.
Terimakasih telah mendengarkan keluh kesah mahasiswa seperti saya. Inisial L --
Ingin marah? Tentu saja. Khadijah berniat membanting ponselnya tapi benda itu sama sekali tidak bersalah. Tarikan napasnya juga tidak berguna. Ketenangan hatinya patut dipertanyakan.
Suara gemericik air dari dalam kamar mandi, membuat Khadijah ingin segera bangkit dan melaporkan apa yang dia temukan pagi ini. Tapi, apakah suaminya akan bertindak? Kalau sampai Khoirul juga mendapat peringatan, apa yang akan mereka lakukan?
Ceklek!
__ADS_1
Pintu kamar mandi terbuka. Khadijah berniat menyembunyikan kegelisahannya namun Khoirul berhasil mengetahuinya. Pria itu menyeka air yang melumuri rambutnya sembari berjalan menghampiri Khadijah.
"Ada apa, Sayang?" tanyanya pelan.
"Nggak ada apa-apa, Pak."
"Mana ponselnya?" Telapak tangan Khoirul terulur. Dia tahu Khadijah menyembunyikan benda itu di dalam selimutnya.
Khadijah menggeleng.
"Kamu mau saya marah, Dijah?" sentak Khoirul.
Khadijah menghela napas panjang. Dia mengulurkan benda itu dan menunggu reaksi Khoirul. Pria itu memicingkan matanya, kilapan emosinya meluap dari bola matanya.
Khoirul meletakkan ponsel Khadijah di atas selimut, lalu berkata, "Saya yang akan turun tangan."
"Jangan, Pak!"
"Kenapa?"
"Karena saya yang perlu mempertanggungjawabkannya," ucap Khadijah.
Khoirul tidak menyahut. Dia bergegas berpakaian dan meminta Khadijah untuk tidak masuk kuliah hari ini. Awalnya Khadijah mengiyakan tapi wanita itu segera bersiap setelah semuanya pergi. Hembusan napasnya yang menandakan dia cemas, mempengaruhinya. Kepalanya agak pusing. Semakin dipikirkan semakin menyesakkan.
°°°
Baru beberapa langkah Khadijah melewati koridor pertama, seseorang menghampiri.
"Khadijah, dipanggil dekan," ucap Deka.
"Iya. Sebentar lagi aku ke sana."
Sebentar lagi bukan hanya satu dua menit tetapi tiga puluh menit dalam diam. Khadijah baru melangkah ke ruangan dekan setelah panggilan kedua.
"Khadijah?"
Ternyata suaminya telah ada di sana, sedang duduk dengan muka tegang.
°°°
__ADS_1