BACKSTREET YUK, PAK DOSEN!

BACKSTREET YUK, PAK DOSEN!
Bab 45 - Tekanan Batin


__ADS_3

Tidakkah Tuhan merasa bosan telah membuat pasangan suami istri yang baru saja lepas dari gosip miring, kini kembali mendapat tekanan yang sama?


Bahkan setelahnya keberhasilan Khoirul dalam mendapat sentimen publik tentang saham yang dia tanam, kenyataannya tidak semulus dugaannya.


"Seorang putra konglomerat yang baru-baru ini sedang menjadi trending topik di semua media, ternyata mendapat kabar miring...," Kalimat setelahnya benar-benar membuat Khadijah menghela napas berat. Dia melihat tayangan televisi dan terkejut ketika nama suaminya disebut. Lalu ...


"...,tentang pernikahan yang digelar secara diam-diam. Media mencari bukti yang mengarah pada pemaksaan pernikahan dari pihak istri karena alasan ekonomi. Untuk saat ini, kita sudah terhubung dengan reporter yang bersiaga di depan universitas. Saudari Anis, silahkan laporannya."


Suara dengan nada mengalun merdu itu menghilang, tergantikan dengan suara reporter yang berlatar belakang universitas yang Khadijah datangi hampir tujuh tahun ini. Dia cemas kalau-kalau suaminya keluar dan tiba-tiba mereka memberondongnya dengan banyak pertanyaan.


Khadijah mencari ponselnya yang entah dia letakkan dimana karena dia terlalu fokus pada televisi. Dia menemukan benda itu di antara bantal sofa. Ditekannya benda pintar itu dengan cepat, mencari nomor Khoirul. Pada detik yang hampir berakhir, barulah panggilan itu diterima.


"Kemana saja sih, Mas? Aku menelepon kamu dari tadi," cerca Khadijah kesal. Dia tidak bisa membohongi dirinya kalau dia sedang gemetar saat ini. Bayangan ketakutan yang dulu pernah dia rasakan ketika orangtuanya gagal dalam ekonomi, membuat dia tidak bisa membedakan mana itu bahagia dan sengsara.


"Maaf, Sayang. Aku tadi dari kamar mandi. Ada apa?"


"Kamu belum melihat tv?"


"Belum."


"Jangan berbohong, Mas," desis Khadijah.


"Aku nggak bohong. Aku tadi sibuk jadi belum sempat nonton tv. Lagian kalau lewat streaming, sinyalnya kurang bagus. Ada apa sih?"


"Jangan keluar dulu, Mas!"


"Kenapa memangnya?"


"Urgent. Pokoknya jangan keluar dulu. Kalau perlu sampai malam. Media sedang menyoroti pernikahan kita dan mereka menunggu di depan. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa, Mas. Jadi? Bersembunyilah!"


"Ini tentang kamu?" bisik Khoirul dengan suara tercekat.


"Iya," sahut Khadijah lantang.


"Harusnya kamu memikirkan diri kamu dulu baru aku, Dijah. Aku yakin mereka hanya ingin mengusik keluarga kita. Maafkan aku karena keberhasilanku justru membuat kita semakin terjebak," jelas Khoirul.

__ADS_1


"Nggak masalah, Mas. Semua pernikahan pasti mengalami pasang surut."


"Aku akan pulang sebelum jam tujuh. Kamu diam saja di rumah."


"Iya, Mas."


Klik!


Panggilan tersebut terputus. Khadijah menghembuskan napas berat sekali lagi. Bagaimana ini, Tuhan?


°°°


Ratna terburu-buru keluar dari rumah untuk membuang sampah, tapi langkahnya terkepung oleh beberapa orang yang berjaga di luar rumah. Orangtua Khadijah itu tidak mengerti dengan situasi yang ada karena dia belum mengetahui berita yang sedang memanas.


"Apakah benar pernikahan Khadijah dan Khoirul atas dasar pemaksaan dari pihak perempuan? Apakah pernikahan mereka atas dasar balas budi atau semacamnya? Tolong berikan penjelasan," ucap seorang wanita dengan topi dan jaket dari sebuah media.


Blitz kamera yang berulangkali terpantul, membuat Ratna memicingkan matanya. Dia benar-benar tidak terbiasa dengan benda itu. Raut kecemasannya mulai tampak di permukaan ketika mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu.


Perasannya mengatakan bahwa ada yang tidak beres. Ratna melingkupi wajahnya dengan kantong sampah, lalu menyingkirkan orang-orang itu dari kerumunannya. Dia berlari ke dalam, mengunci gerbang, melempar kantong sampah sembarangan dan masuk ke dalam rumah.


"Ada apa, Ma?"


"Di luar ... adah ... wartawan, Pah."


"Wartawan?" Refleks Burhan membuka tirai jendela. Benar apa kata Ratna. Di luar sana masih banyak wartawan yang mengarahkan kamera pada rumah mereka. Burhan kembali menutup pintu, "kenapa mereka ada di sini?"


"Mama juga nggak tahu, Pa. Tiba-tiba aja mereka datang lalu bertanya pada mama tentang pernikahan Khadijah dan Khoirul yang katanya ada unsur paksaan. Mereka menuduh keluarga kita yang memaksa pernikahan itu. Kita harus gimana ya, Pa? Gimana dengan Dijah? Dia kan sedang hamil," jelas Ratna cemas. Telapak tangannya saling bertautan karena kecemasan sudah bukan lagi hal utama.


"Telpon Dijah, Ma. Tanyakan kondisinya," ucap Burhan. Dia menekan dadanya yang tiba-tiba saja nyeri. Berita itu membuat jantungnya terkejut dan kesakitan.


Ratna tidak melihat kondisi Burhan karena dia buru-buru mengambil ponsel di dalam kamar. Dia keluar dengan benda itu menempel pada telinganya.


"Kok nggak diangkat ya, Pa?" tanya Ratna bingung.


Burhan sudah lebih duduk di sofa ruang keluarga untuk memastikan Ratna menghubungi Khadijah. "Coba lagi, Ma."

__ADS_1


Ratna mengulangi panggilan itu hingga tiga kali dan akhirnya terjawab. "Kamu nggak apa-apa, Dijah? Kemana saja kamu? Kenapa nggak menerima telepon mama dari tadi?"


"Ma, aku harus gimana?" isak Khadijah.


"Tenanglah, Sayang. Semua akan baik-baik saja, Dijah. Maaf karena mama nggak bisa mendatangi kamu. Di depan rumah banyak wartawan. Kamu nggak apa-apa kan? Jangan dipikirkan ya? Mama yakin semua akan baik-baik saja. Jaga kehamilan kamu. Anggap saja ini ujian rumah tangga kalian," jelas Ratna bijak. Dia tidak tega mendengar tangisan Khadijah. Dia ingin sekali menghampiri Khadijah dan memeluknya untuk menenangkan. Tapi kondisinya juga tidak memungkinkan.


"Aku akan berusaha, Ma. Mama dan papa baik-baik saja kan?"


"Baik. Kami selalu baik. Kamu jangan pikirkan kami. Tenanglah bersama suami kamu," pesan Ratna.


"Iya, Ma."


Panggilan itu terputus. Ratna menghampiri suaminya dan berkata, "Papa juga jangan pikirkan yang berat-berat. Mama yakin kejadian ini akan segera berakhir."


"Iya, Ma."


°°°


"Jangan menangis, Dijah. Maafkan aku karena aku nggak bisa menjaga kamu dengan baik," ucap Khoirul ketika melihat istrinya menangis. Di hadapannya wanita itu biasa saja tapi di belakangnya tangisannya keluar. Sebagai pria, dia merasa bodoh karena tidak bisa menjaga perasaan hatinya dengan baik.


"Nggak, Mas. Bukan salah kamu. Aku bukannya menyesal tapi aku hanya ingat orangtuaku. Mereka juga terkena imbasnya," ucap Khadijah.


"Aku akan pastikan mereka baik-baik saja," janji Khoirul.


°°°


Khadijah mengusap perutnya yang kesakitan sejak semalam. Dia tidak tahu kenapa dirinya merasakannya. Padahal dia tidak makan sesuatu yang salah. Dia hanya diam ketika Khoirul menanyakan kondisinya pagi tadi.


Keringat dingin bercucuran. Rasa sakit yang lebih mirip kram namun melebihi kram bulanannya, tidak bisa dianggap remeh. Khadijah menarik napas panjang, berusaha menetralkan sakitnya. Tapi percuma. Wanita itu berjalan ke kamar mandi untuk menyeka wajahnya. Siapa tahu dengan mengguyur wajahnya dengan air dingin, rasa sakit yang menjalar bisa sedikit reda.


Tapi ...


"Ya Tuhan, apa ini?" gumam Khadijah dengan suara parau. Bercak merah yang tampak jelas itu membuat hatinya mencelos.


°°°

__ADS_1


__ADS_2