BACKSTREET YUK, PAK DOSEN!

BACKSTREET YUK, PAK DOSEN!
Bab 22 - Siapa Nama Suami Kamu?


__ADS_3

Satu menit sebelum sapaan itu terdengar, manik mata Khadijah menangkap sosok yang dia kenal sedang berjalan mendekat. Khoirul yang berada di sampingnya, tidak sengaja didorong agak menjauh supaya mereka tidak terlihat bersama. Bukan lagi agak menjauh tapi sangat jauh. Wanita itu benar-benar tidak sopan.


"Dijah, sedang apa di sini? Sama siapa?" tanya Richard.


Khoirul yang belum siap akan gerakan istrinya, harus rela tubuhnya mengecup lantai lobby. Semua orang yang berlalu di area itu, melihat Khoirul dengan tawa tipisnya.


Apa-apaan sih, Dijah? Kenapa nggak sekalian dibanting? Batin Khoirul kesal.


Khoirul melihat Khadijah memberikan tanda padanya untuk diam di tempat, tapi beberapa detik kemudian berubah menjadi usiran telapak tangan. Pria itu jelas geram.


"Hai, Kak. Ada apa ke sini? Em, maksudnya ada urusan apa di sini?" tanya Khadijah gugup.


"Aku kan tanya dulu tadi. Tapi nggak apa-apa deh aku jawab. Aku ada acara seminar di ballroom. Masih jam lima tapi aku sengaja datang lebih awal. Kamu sendiri?"


"Em, aku ... aku ... aku menunggu mama papa turun."


"Menginap di sini?" tanya Richard. Pandangan matanya tidak lepas dari Khadijah. Seakan setiap pergerakan Khadijah menjadi kesenangan tersendiri baginya.


"Em, iya. Sesekali," cengir Khadijah.


"Oh. Aku sekalian mau menyapa ya? Udah hampir sampai kan?"


Mata Khadijah mendelik, "No, eh, maksudnya mereka nggak suka diganggu kalau liburan. Lain kali saja, Kak."


Richard mengerutkan keningnya, "Oke deh. Tapi ngomong-ngomong kamu udah makan?"


"Udah," alibi Khadijah. Tapi perutnya malah berbunyi nyaring. Wanita itu memukul perutnya, "berisik sekali."


Richard terkekeh geli, "Makan malam sama aku mau nggak? Mumpung aku belum masuk seminar. Tapi kalau terlambat juga nggak apa-apa. Eh, tunggu, Dijah, aku sepertinya melihat seseorang yang aku kenal. Tunggu sebentar. Jangan kemana-mana."


Richard berlari ke arah Khoirul. Dia menyapa pria di hadapannya, "Pak Khoirul kan? Masih ingat dengan saya?"


"Richard. Tentu saja saya ingat. Mahasiswa paling bisa diandalkan waktu itu hanya kamu. Sekarang kamu terlihat lebih mapan," ucap Khoirul. Dia berusaha menekan ketidaksukaannya melihat Richard yang terlalu akrab dengan Khadijah.


"Berjuang untuk mapan, Pak. Bapak sedang apa di sini? Menginap di hotel ini?"


Tentu saja Richard berpikir begitu karena cara berpakaian Khoirul terlalu santai.


Khoirul melirik Khadijah. Wanita itu menggeleng, memberikan instruksi secara paksa. Tapi Khoirul tidak akan semudah itu mengiyakan. "Em, iya. Mumpung ingin menginap. Kamu sendiri?"


"Ada seminar, Pak. Bapak sudah makan malam belum?"

__ADS_1


"Saya baru berniat untuk makan," jawab Khoirul santai.


Khadijah mendengus kesal. Bagaimana kodenya tidak bisa terlihat oleh suaminya? Harusnya Khoirul menolak ajakan Richard. Mana mungkin mereka bertiga makan malam bersama?


Richard tersenyum simpul, "Baguslah kalau begitu. Saya juga punya satu teman lagi. Siapa tahu bapak mengenalnya." Dia menoleh pada Khadijah dan membawa Khoirul ikut serta.


Sebelum Richard memperkenalkan dirinya pada Khoirul, wanita itu lebih dulu menyapa dosennya. Berpura-pura bertemu tidak sengaja.


"Pak Khoirul? Wah, kebetulan sekali bisa ada di sini," ucap Khadijah sumringah. Khoirul hanya mengangguk singkat.


"Ah, iya, saya lupa kalau Khadijah dan saya satu fakultas. Bapak juga kan yang mengajar. Kebetulan sekali," ucap Richard senang.


Khadijah dan Khoirul menyeringai malas. Mereka bertiga berjalan beriringan menuju tempat makan. Menu yang disediakan belum begitu lengkap karena memang belum waktunya makan malam.


Khadijah, Khoirul dan Richard masing-masing membawa nampan untuk memilih makanan mereka. Khadijah tidak bisa diam jika menyangkut makanan. Dia memilih lebih dari lima makanan sekaligus belum termasuk makanan penutup.


Sementara Khoirul hanya memilih dua menu saja karena nafsu makannya turun melihat kedekatan Richard dengan istrinya. Richard seolah ingin menunjukkan pada dosennya bahwa mereka akan menjadi calon pasangan yang romantis.


Ketika Khadijah tersedak, Richard yang lebih dulu memberikan minum. Tapi apa yang dilakukan Khoirul? Pria itu kalah telak. Dia memegang gelas miliknya dengan geram tanpa berniat memberikannya.


Khadijah bukannya tidak menyadari kekesalan Khoirul tapi dia berharap Khoirul tahu diri bahwa mereka sedang menjalani hubungan backstreet. Richard tidak boleh sampai tahu dan jangan sampai tahu.


Lagi-lagi Khadijah tersedak. Kali ini dia mengambil gelasnya sendiri.


"Tentu. Seusia saya mana mungkin saya belum punya calon istri," ucap Khoirul sembari melirik Khadijah. Posisi istrinya diapit oleh dua pria tampan dengan pesona masing-masing.


"Siapa, Pak? Apa saya mengenalnya?"


"Tentu saja .... tidak." Lagi-lagi Khoirul melirik Khadijah.


"Apa dia cantik?"


"Tidak juga. Hanya saja ... manis," jawab Khoirul skeptis.


Khadijah merasa tidak nyaman dengan pembicaraan dua pria itu. Dia berdehem, "Kak Richard jangan suka penasaran dengan kehidupan orang lain. Pak Khoirul pasti merasa nggak nyaman dengan pertanyaan-pertanyaan kamu."


Richard menepuk dahinya seakan menyadari kebodohannya, "Maaf ya, Pak. Saya terlalu bersemangat."


"Tidak masalah. Sebagai gantinya saya juga ingin bertanya sama kamu. Apa kamu sudah punya calon istri?"


Richard tersenyum simpul, isyarat matanya jelas tertuju pada Khadijah. "Ada, Pak. Tapi belum terkonfirmasi. Si wanita belum mengiyakan. Saya sedang berjuang. Kalau bapak tidak keberatan, bapak juga bisa bantu saya untuk mendapatkan kepercayaannya."

__ADS_1


"Siapa orangnya?" tanya Khoirul tanpa minat. Siapapun bisa menebak wanita yang dituju Richard.


"Ada di samping bapak," ucap Richard sambil berkedip mesra pada Khadijah.


Khadijah menghela napas lelah. Lagi-lagi dia akan menjadi bulan-bulanan bercandaan Khoirul. Dilihatnya Khoirul menatapnya sinis tanpa terekam oleh Richard.


"Oh, Khadijah. Kenapa kamu nggak menerima Richard, Dijah? Pria di samping kamu ini sangat bisa diandalkan. Dia bahkan sudah bekerja di tempat yang layak. Kamu bisa hidup lebih baik," jelas Khoirul.


"Saya masih ingin kuliah, Pak. Saya bahkan belum lulus," tukas Khadijah.


"Oh ya? Dengar sendiri kan, Richard? Khadijah masih ingin kuliah. Jadi, kamu tunggu saja beberapa tahun lagi. Siapa tahu Dijah mau menikah dengan kamu. Itupun kalau dia belum menikah dengan pria lain," cerocos Khoirul. Dia meletakkan cangkir kopinya, "saya permisi dulu. Terimakasih sudah mentraktir saya makan malam. Semoga kamu beruntung dengan kisah cinta kamu. Kalau belum beruntung ya bersabarlah. Saya juga permisi, Dijah. Jangan makan terlalu banyak. Nanti perut kamu meledak."


Kalimat sindiran itu memiliki makna bahwa Khadijah harus segera beranjak dari sana. Begitu Khoirul tidak terlihat lagi, Khadijah memutuskan untuk pergi. Sejujurnya Richard menghalangi tapi karena Khadijah bersikeras, pria itu tidak bisa apa-apa.


°°°


"Ehem, senangnya habis berduaan dengan calon suami," sambut Khoirul ketika Khadijah masuk ke dalam kamar.


"Apa sih, Pak? Saya sudah punya suami juga," ketus Khadijah. Dia membobol pertahanan Khoirul yang enggan beranjak dari sana.


"Siapa suami kamu?" desak Khoirul. Dia mengekori langkah Khadijah.


"Bapak," jawab Khadijah. Dia menyisir rambutnya dengan jari-jarinya. Langkahnya terhenti tiba-tiba membuat Khoirul leluasa memeluknya dari belakang. "Apa sih, Pak?"


"Siapa nama suami kamu?"


"Pak Khoirul."


"Siapa?"


"K-H-O-I-R-U-L!!" ulang Khadijah penuh penekanan.


Kecupan mesra mendarat di lekukan leher Khadijah. Bulu kuduk Khadijah meremang. Sentuhan tiba-tiba itu membuat hatinya berdesir. Oh, Tuhan, rasanya terlampau indah. Khadijah merasa dirinya terbang, menembus batas awan.


"Terimakasih," bisik Khoirul. Dia memutar tubuh istrinya, "masih sakit?"


Entah kenapa Khadijah tiba-tiba menggeleng, "Nggak, Pak."


"Ayo, kita mulai bulan madunya, Sayang."


°°°

__ADS_1


__ADS_2