BACKSTREET YUK, PAK DOSEN!

BACKSTREET YUK, PAK DOSEN!
Bab 59 - Salah Sangka


__ADS_3

"Nanti aku jemput jam lima ya?" ucap Khoirul ketika mengantarkan istrinya untuk pergi bekerja. Sejujurnya dia tidak rela jika Khadijah mencari uang padahal dia mampu membiayai semua kebutuhan istrinya. Tapi dia tidak ingin terlalu memaksakan kehendaknya karena Khadijah pasti sudah bisa mengira apa yang menjadi kewajibannya.


Khadijah mengangguk cepat, "Siap, Bos."


"Ingat pesanku kan?"


"Ingat. Jangan main mata dengan pria lain terutama Kak Richard! Kerja yang benar dan pulang tepat waktu. Kalau ada apa-apa hubungi suami tercinta," jelas Khadijah, seperti sedang mengulang pelajaran dari dosennya.


"Bagus. Mana kecupannya?"


Khadijah melepaskan seat belt lalu mencondongkan tubuhnya hingga dia bisa menggapai pipi sang suami. Kecupan yang hanya sepersekian detik akhirnya berhasil membuat sang suami tenang. Tidak lupa wanita itu juga mengecup telapak tangan suaminya dan pamit untuk bekerja.


"Hati-hati di jalan, Mas," ucap Khadijah sembari melambai.


"Iya, Sayang."


Khadijah masuk begitu kendaraan Khoirul tidak lagi terlihat. Wanita itu berpapasan dengan orang-orang yang juga bekerja di gedung yang sama. Dengan sifat Khadijah yang mudah bergaul, membuat dirinya mudah untuk beradaptasi.


Sesampainya di loker karyawan, Khadijah tertegun melihat sesuatu di balik ruangan yang hanya satu meter panjangnya. "Punya siapa?"


Seseorang melewati tempatnya. Wanita yang usianya terpaut tidak jauh dari Khadijah melongokkan kepalanya karena penasaran. "Oh, itu tadi dari Pak satpam, Khadijah."


Khadijah menoleh, "Pak satpam? Kamu juga dapat?"


"Ya nggaklah. Yang bawa emang Pak satpam tapi yang ngasih kayaknya Pak Richard deh. Soalnya aku sempat lihat tadi Pak Richard ngasih ini ke pak satpam. Waktu aku masuk ke sini, pak satpam nongol dan memberikan ini. Aku yang masukin ke dalam loker kamu," jelas Rini dengan rinci.


Khadijah mengangguk tanda dia paham dengan penjelasan Rini. Dia membuka kotak tersebut dan ternyata nasi kuning lengkap dengan lauknya. Khadijah tidak mungkin makan lagi karena dia sudah mengisi perutnya tadi. Dia menoleh pada Rini, "Kamu mau nggak?"


"Boleh buatku?" tanya Rini sekali lagi.


"Boleh. Aku sudah sarapan soalnya."


"Asyik," pekik Rini. Dia mengambil kotak tersebut. Lidahnya bergoyang menginginkan makanan itu masuk ke dalam mulutnya.


"Tapi kalau misalkan ada yang tanya, jawab saja aku yang makan ya? Nggak enak kalau aku menolak pemberian orang," ucap Khadijah.


Rini mengacungkan jempolnya, "Sip. Tapi ngomong-ngomong kamu kenal sama Pak Richard?"

__ADS_1


"Pak Richard seniorku di kampus. Dibilang kenal ya kenal tapi nggak sedekat itu."


"Yakin nggak dekat? Kalau emang hanya sebatas junior senior nggak mungkin ngasih makanan. Kecuali ... kalau dia suka sama kamu."


Ya, Rini memang tidak salah. Richard menaruh hati pada Khadijah dan Khadijah sudah berusaha menolaknya. Anggap saja perhatian Richard hanya sebatas teman. Menjaga tali persaudaraan bukannya tidak masalah?


"Ngaco kamu. Mana ada sih yang suka sama mahasiswi belum lulus?" elak Khadijah.


"Loh kamu belum lulus? Kok sama? Tapi aku emang menunda untuk lulus karena harus cari uang dulu. Kalau kamu?"


"Aku emang agak males masuk kelas. Tapi jngn salah, aku termasuk berotak cerdas. Hanya saja kecerdasanku kalah dari kemalasanku," elak Khadijah.


"Ish, bisa saja kalau menyombongkan diri. Sudah ya? Aku mau makan dulu. Sebentar lagi kita absen lagi," ujar Rini.


Khadijah mengangguk.


°°°


"Nih!" ucap Richard pelan ketika berpapasan dengan Khadijah. Dia menyodorkan minuman dingin pada Khadijah, lalu pergi. Seolah tidak terjadi apa-apa diantara mereka. Mungkin pria itu takut ketahuan kalau perhatian pada office girl.


Khadijah melongo sesaat tapi dia meneguk minuman itu juga. "Hem, lumayan." Rasa jeruknya terasa dan tidak terlalu manis. Wanita itu termenung sesaat lalu kembali bekerja.


"Duh, kiriman lagi," seloroh Rini.


Khadijah kesal kalau Richard terus menerus memanjakan dirinya. Bisa-bisa timbul gosip. Dia tergiur untuk menikmati makanan itu tapi Rini terlalu ingin menikmatinya. Jadi dia memberikannya lagi pada Rini, "Tolong jangan sebar gosip ya? Aku sudah punya suami, takut kalau suamiku tahu."


"Lebih baik kamu jangan bicara padaku, Dijah. Bicara saja pada Pak Richard. Nanti hubungan kamu dengan suami kamu jadi renggang kalau tiba-tiba kamu ketahuan dekat dengan pria lain," jelas Rini. Mulutnya sibuk mengunyah sembari berkomentar.


Benar juga. Khadijah mencari tahu dimana ruangan Richard tapi dia menilik dulu apakah ada tamu atau tidak. Ruangan Richard memang tersendiri agar tidak tercampur dengan meja-meja bawahannya. Khadijah berjalan pelan ke arah ruangan Richard, sembari menoleh ke sana kemari takut jika kedatangannya ditolak.


Ruangan itu tidak terlalu banyak orang karena sebagian sudah keluar untuk makan siang. Khadijah mengetuk pintu, lalu masuk setelah dipersilahkan.


"Ada apa, Khadijah? Tumben menghampiriku dulu?" tanya Richard.


"Maaf sebelumnya Pak Richard. Saya ingin mengajukan keluhan."


"Tentang apa?"

__ADS_1


Richard menyudahi pekerjaan untuk mendengarkan ucapan Khadijah. Dua telapak tangannya terlipat di atas meja, persis seperti orang penting.


"Makanan."


"Makanan?"


"Iya."


"Bicaralah!"


Khadijah menarik napas panjang, lalu, "Saya suka makan, Pak. Apapun itu saya suka. Tapi kalau bapak sering-sering memberikan saya makanan, saya bisa terkena gosip miring. Pagi, bapak sudah memberikan makanan. Siangnya, bapak memberikan minuman kaleng, lalu makan siang bapak juga memberikan makanan lagi. Kenapa rutinitas bapak hanya sebatas memberi makan saya? Bapak tidak punya pekerjaan lain?"


Richard terkekeh mendengar ungkapan Khadijah, "Memberi makan kamu? Emang kamu ayam?"


"Saya tidak bercanda, Pak. Saya serius."


"Oke, saya perjelas lagi. Tadi pagi saya memang memberikan kamu kotak makanan, tapi bukan karena saya sengaja, Khadijah. Saya beli untuk Pak satpam juga dan secara kebetulan masih sisa satu. Dari pada saya berikan ke orang yang tidak saya kenal, lebih baik saya berikan pada orang yang saya tahu kalau dia suka makan. Untuk minuman kaleng tadi, saya juga tidak sengaja beli. Minuman itu dari seseorang dan saya emang kurang suka jeruk. Kalau kopi saya pasti meminumnya sendiri," jelas Richard.


Khadijah mengkerut. Jadi dia salah sangka? Tapi masih ada satu alasan lagi yang perlu diperjelas. "Kalau makan siang, bapak juga tidak sengaja beli atau belinya kelebihan?"


"Bukan. Kalau makan siang bukan saya. Saya saja belum makan. Emang isinya apa?"


"Nasi padang."


"Bukan saya. Cek aja cctv pasti bukan saya yang masukin ke loker kamu," jelas Richard. Dia tersenyum simpul, "jangan-jangan ada pria lain yang suka sama kamu."


"Ngaco bapak," keluh Khadijah tanpa melihat ke arah Richard. Dia malu bukan main. Dikiranya Richard memang peduli padanya dan berniat mencari perhatian. Tapi ternyata bukan. Kalau tahu dia salah sasaran, lebih baik dia tidak perlu bertanya tadi. Sudah terlanjur.


"Dijah, Dijah. Aku senang kalau kamu bisa bicara begini sama aku. Aku tegang waktu ketahuan suami kamu kemarin. Sebenarnya aku penasaran kenapa kamu tinggal di kost? Apa kalian nggak punya rumah? Atau mau aku sewakan rumah?"


"Terimakasih atas kebaikan hati bapak tapi saya dan suami saya sudah punya tempat tinggal yang sangat nyaman. Karena saya sudah sangat malu, lebih baik saya permisi dulu."


Richard tidak bisa menyembunyikan tawanya. Benar-benar menggemaskan.


°°°


"Nasi padangnya enak kan?" tanya Khoirul ketika dia dan Khadijah berhasil membelah jalanan macet.

__ADS_1


Khadijah menoleh sengit, "Jadi nasi padang itu dari kamu, Mas? Duh, aku pikir dari siapa. Kenapa kamu nggak bicara sih, Mas? Sudah terlanjur malu aku."


°°°


__ADS_2