
Khoirul menghampiri Khadijah, memeluk istrinya sebagai tanda bahwa mereka tidak memiliki masalah apapun. Padahal Khadijah mati-matian menyembunyikan kebingungannya. Dari mana suaminya tahu tempat tinggalnya?
"Terimakasih sudah mengantar istri saya tapi lain kali tidak perlu melakukannya karena saya bisa mengantar jemputnya," ucap Khoirul.
"Em, maaf, Pak. Tadi kami tidak sengaja bertemu karena kantor kami sama, harusnya bapak tahu itu. Saya juga senang mengantar Khadijah. Kalau begitu saya permisi dulu, Pak. Senang bertemu anda lagi," sahut Richard panjang lebar. Dia melipir pergi.
Khadijah diam. Dia tidak menyangka Khoirul bisa menemukan dirinya. Apakah dia perlu memeluk suaminya? Seolah sedang bernostalgia karena tiga hari tidak bertemu. Tapi Khadijah tidak berniat melakukannya.
Sementara Khoirul memburu Khadijah dengan pelukan hangat yang sangat dia rindukan. Terkadang semua masalah malah menjadikan mereka semakin dekat. Kalau saja dia tidak bertemu dengan wanita pemilik kost wanita yang ditinggali Khadijah, dia mungkin tidak akan bertemu istrinya.
Khoirul sudah memutari jalan itu berulangkali dan membuat pemilik kost bertanya-tanya, apa yang diinginkan Khoirul sampai pria itu sibuk menelisik kostnya. Awalnya dia pikir Khoirul orang jahat yang berniat mengincar anak kostnya tapi setelah Khoirul memberikan bukti foto pernikahan yang menjadi wallpaper ponselnya, akhirnya si pemilik kost memberikan petunjuk.
"Kamu kenapa hanya mengambil uang tiga juta? Memangnya cukup untuk makan tiga hari ini?" bisik Khoirul. Dia hanya bercanda agar Khadijah tidak tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dia mengerti kenapa Khadijah belum ingin bersuara makanya dia yang lebih dulu mengambil alih.
Khoirul melihat pekarangan kost yang tidak terlalu besar namun lumayan nyaman untuk dijadikan tempat nge-teh di sore hari. Untunglah Khadijah memilih kost khusus wanita, jadi tidak mungkin ada yang berani masuk kecuali yang sudah muhrim dengannya.
Entah berapa harga perbulannya, yang jelas Khoirul merasa uang tiga juta tidaklah cukup.
"Kamu bisa menarik semua uang yang ada di sana untuk tinggal di hotel, Dijah. Apa kamu nyaman berada di sini?" tanya Khoirul lagi.
Khadijah menghela napas gugup, tidak biasanya dia begini. "Sayang uangnya, Mas."
Khoirul mengurai pelukannya, "Kalau begitu, kita kembali ke rumah ya? Nanti kita buat pesta kecil-kecilan untuk menyambut kepulangan kamu. Kamu boleh ambil berapapun uang di kartu itu."
"Tapi, Mas, aku nggak mau pesta. Aku pergi juga karena kabur dari rumah, bukannya diculik," gumam Khadijah. Moodnya sudah kembali baik.
"Mau kabur atau nggak, tetap harus dirayakan. Pesta barbeque ya?"
"Tapi, Mas, untuk sementara ini aku mau tinggal di sini saja," tolak Khadijah.
"Mama, papa dan Kinan sudah pulang hari ini. Jadi di rumah hanya ada Bik Sani. Bik Sani cemas mencari kamu, Dijah. Seenggaknya kalau kamu nggak mau pesta untuk diri kamu sendiri, biarlah Bik Sani yang menikmatinya."
__ADS_1
Khadijah merasa memiliki orangtua lain di kota asing ini. Terlebih Bik Sani tulus membantu semua kebutuhannya. Tidak apa-apalah sekali-kali mengadakan jamuan makan untuk orang paling berjasa di rumah. Khadijah akhirnya setuju.
°°°
"Nyonya, kemana saja? Saya takut Nyonya kenapa-kenapa karena tiga hari tidak muncul. Aduh, Nyonya, lihat muka Nyonya yang kusut begini. Makin kurus juga. Pasti makannya tidak teratur ya? Nanti Bibik masakin spesial untuk Nyonya," ucap Bik Sani dengan mata berkaca-kaca. Dia memeluk Khadijah tanpa sungkan sama sekali, diusapnya punggung wanita yang telah menjadi bagian dari hidupnya itu. Dia hampir menangis ketika menatap mata kelam Khadijah. "Kasihan sekali, Nyonya. Pasti takut ya sendirian di luar sana? Tapi jangan salahkan Tuan ya? Tuan juga tidak tidur beberapa hari ini karena mencari Nyonya. Muka Tuan juga sama kusutnya seperti Nyonya."
"Makin tua ya, Bik?" canda Khadijah.
Bik Sani mengangguk malu, "Benar."
"Baru kali ini saya diejek pas di depan muka," gurau Khoirul. Dia berdecak sebal dengan dibuat-buat.
"Maaf, Tuan. Saya hanya bicara kenyataan."
"Dari pada Bibik mencela saya lagi, lebih baik bibik menyiapkan bahan-bahan untuk pesta barbeque. Nanti malam kita pesta bertiga," ucap Khoirul.
"Siap laksanakan!"
°°°
Setelah makanan siap, barulah Khadijah diperbolehkan untuk menyiapkan minuman. Bik Sani ingin menyingkir dari sana tapi Khadijah memaksa agar asisten rumah tangga mereka duduk di antara mereka.
"Tapi, Nyonya," tolak Bik Sani ragu.
"Ayolah, Bik. Kita keluarga kan?"
"Iya, Nyonya, tapi..,"
Khadijah menarik lengan Bik Sani dengan tidak sabaran. Dia juga menyiapkan piring untuk wanita itu tanpa sungkan sama sekali. Berbeda dengan Bik Sani yang menolak untuk dilayani.
Ketiga orang itu menikmati pesta sederhana hingga larut malam. Pembicaraan yang menjadi perdebatan hanyalah pembahasan sederhana. Hingga Khadijah menguap dan pesta itupun usai.
__ADS_1
°°°
Sebuah pembicaraan yang santai antara sepasang suami istri di atas ranjang berujung pada kekesalan sang suami karena sang istri tidak mau mengalah.
"Kenapa sih kamu harus kerja di sana? Masih banyak tempat lain yang mau menerima kamu," sungut Khoirul. Dia baru mengetahui jalan cerita kenapa Khadijah bisa diterima bekerja sebagai office girl di perusahaan properti.
"Pilihan emang banyak, Mas, tapi kan aku perlu pekerjaan segera. Lagi pula aku juga nggak tahu kalau kak Richard ada di sana. Dunia yang terlalu sempit untuk kita berdua, bukannya pikiranku yang terlalu sempit," jelas Khadijah. Dia mengotak-atik ponselnya yang telah diubah kembali nomor ponselnya ke nomor semula.
"Alah, sudah tahu kalau kalian berdua satu pekerjaan tapi kenapa kamu nggak resign?"
"Duh, kalau aku resign, aku akan terlihat buruk, Mas. Kenapa kalau kita satu kantor? Kan profesi kita beda. Aku office girl, kak Richard manager. Bukannya seribu satu alasan untuk kita saling bertemu secara sengaja?"
Khoirul mendengus sebal. Kenapa Khadijah tidak bisa mengikuti keinginannya tanpa harus banyak berdebat? "Terserahlah."
"Loh kok terserah sih, Mas?"
"Kamu ini gimana? Aku menyerah, kamu bingung. Aku berdebat kamu makin ngotot. Duh, Khadijah, aku pusing. Jadi sekarang kamu maunya gimana? Tetap bekerja atau resign?"
"Kalau tetap bekerja apa boleh, Mas?"
"Boleh. Asal kuliah kamu sudah selesai dan kamu nggak main mata dengan pria lain apalagi diantar pulang. Kecuali kalau urgent, baru boleh diantar," jelas Khoirul.
Khadijah merengut, "Sidang kuliah saja belum, Mas. Gimana mau selesai kuliahnya?"
"Aku nggak peduli. Yang penting kamu harus lulus kuliah dulu."
"Tapi, Mas," desak Khadijah sembari memasang tampang memelas. "Kalau aku di rumah terus, aku bisa stress. Biarkan aku bekerja ya? Paling nggak aku bisa terbebas dari pikiran buruk, selain itu aku juga bisa jadi istri yang berbakti karena bisa menangani kebutuhan kamu padahal lelah bekerja. Ya ya ya?"
"Oh, jadi kamu mau membanggakan diri sendiri?" goda Khoirul.
"Ya dibilang begitu nggak apa-apa, Mas." Khadijah nyengir kuda. Giliran Khoirul mengacak-acak rambut Khadijah hingga wanita itu meraung kesal.
__ADS_1
"Yuk, kita progam lagi, Sayang. Mumpung malam-malam kemarin kita belum melakukan apa-apa," goda Khoirul sambil berkedip mesra.
°°°