BACKSTREET YUK, PAK DOSEN!

BACKSTREET YUK, PAK DOSEN!
Bab 38 - Mereka Tahu


__ADS_3

"Hoek."


"Hoek."


"Hoek."


Khadijah berpikir tidak ada orang di dalam toilet, ternyata ada seseorang yang masih berada di dalam bilik kamar mandi karena tidak kunjung berhasil mengatasi sakit perutnya.


Wanita dengan pakaian serba hitam putih itu melebarkan telinganya. Dia memicingkan mata ketika mendengar suara dari samping biliknya.


Ada yang hamil? Batinnya.


Wanita itu yakin jika muntahan yang tidak mengeluarkan apapun itu adalah muntahan seorang wanita hamil. Dia memicingkan matanya, mencari jika tembok bercat putih itu memiliki lubang, tapi dia tidak menemukan apapun. Dia memutar otak agar dia bisa membuat gosip heboh di kampus dengan berita kehamilan yang tiba-tiba itu.


Dia mengambil ponsel, lalu mengarahkan benda itu ke atas. Dia lebih dulu melepaskan sepatu ketsnya dan berdiri di atas kloset. Kepalanya tidak sampai untuk melihat tapi dia bisa mengarahkan benda itu ke bilik samping dengan lengannya yang terjulur.


Sepersekian menit dia tetap pada posisinya.


Wanita berambut panjang itu hampir keluar dari bilik untuk mencari tahu siapa pemilik suara ketika Khadijah keluar dari sana. Wanita itu refleks membuka pintu dengan celah yang hanya beberapa sentimeter agar dia tidak ketahuan, setelah memastikan keadaan aman.


Mata nyalang wanita itu mengamati langkah Khadijah dari belakang, lalu buru-buru mengarahkan ponselnya pada Khadijah. Postur tubuh yang teramat tidak asing membuat dia yakin siapa wanita yang dia duga hamil.


"Kena kamu," gumamnya senang.


°°°


Khadijah berjalan ke koridor gedung dengan perasaan tidak enak. Sejak dia turun dari mobil, dia mendapati orang-orang melihatnya dengan tatapan yang tidak biasa. Bahkan para pria juga menatapnya dengan sinis. Ada apa? Biasanya mereka semua menyapa Khadijah dengan lambaian tangan.


Khadijah mengkerut, apalagi setelah mendengar ucapan yang terang-terangan dikatakan dengan volume keras.


"Eh, katanya Khadijah hamil di luar nikah ya?"


"Sama siapa?"


"Oh, si Fattan mungkin. Kan dia lagi dekat sama Fattan."

__ADS_1


Astaga, bagaimana ini? Kenapa mereka menggunjingkan soal kehamilanku? Dari mana mereka tahu? Aku bahkan belum membagikan kabar baik ini pada Raisa, batin Khadijah.


Wanita berambut panjang yang Khadijah tahu adalah juniornya, menghampirinya dengan lagak berkuasa. "Hamil sama siapa kamu? Fattan? Aku pikir kamu emang nggak suka sama Fattan tapi ternyata jual mahal kamu hanyalah kedok. Sudah berapa bulan?"


Sindiran pedas yang didengar hampir semua orang memanas di telinga Khadijah. Dia tidak bisa berkutik.


"Nggak bisa bicara ya? Kalau kita tanya Fattan saja gimana teman-teman? Soalnya aku penasaran kenapa bisa cewek yang nggak pernah mau punya pacar tiba-tiba hamil," seru wanita itu, Lulu, dengan mendengus penuh ejekan.


"Iya, tanya saja sama Fattan," sambung yang lain. Bak orang yang terpengaruh dengan gosip murahan, mereka semua setuju.


"Diam kalian! Siapa yang kalian bilang hamil?" tanya Khadijah. Dia mencoba untuk berani karena Lulu tidak mungkin berhasil memberikan bukti pada orang-orang. "Kalian punya bukti?"


Seseorang menyikut Lulu, "Lu, ada bukti nggak?"


"Nggak," alibi Lulu diselingi suara tidak puas yang lain. Wanita itu menyunggingkan senyum tipis, "tapi aku bisa menawarkan bukti yang nggak bisa disangkal."


Lulu mengeluarkan alat tes kehamilan yang dia beli dari apotik, dia memang sudah merencanakan dari awal untuk membuat Khadijah mengaku. "Kita minta dia tes saja. Alat ini nggak mungkin salah."


Khadijah membeku. Sekarang dia tidak bisa lari dari kenyataan. Tubuhnya mulai memanas, lalu mendingin seiring dengan paksaan dari orang-orang. Kenapa mereka harus mencampuri urusan orang lain? Padahal Khadijah tidak peduli bagaimana dengan kehidupan mereka.


Raisa melirik Khadijah yang seakan meminta pertolongan.


Dijah pasti nggak mau orang-orang tahu siapa ayah dari anak yang dikandungnya, batin Raisa.


"Huu," seru orang-orang. Tampang-tampang yang seakan tidak punya dosa itu menyoraki Raisa.


"Kami hanya minta bukti. Kalau emang dia nggak hamil, berani dong harusnya dites," sela Lulu.


"Iya, benar."


"Masa begitu saja takut."


"Lulu, kalau kamu emang nggak suka sama Dijah jangan menggiring opini dong. Aku juga tahu kalau kamu benci sama Dijah karena pernah ditolak Fattan kan?" sindir Raisa.


Lulu tidak ambil pusing dengan sindiran itu. Dia memang suka dengan Fattan tapi tidak ada urusannya. Dia mengambil ponsel, lalu mengirimkan video amatir yang tanpa editan pada semua grup di kampus. Tidak hanya orang-orang yang meminta jawaban dari Khadijah, tapi semua orang di beberapa jurusan.

__ADS_1


Tidak terkecuali Khadijah dan Raisa. Raisa membuka pesan tersebut dan melihat Khadijah di dalam video itu. Dia memegang pergelangan tangan Khadijah, merasa kasihan karena dia harus mengorbankan kerahasiaan pernikahannya.


Khadijah menarik napas dalam-dalam lalu melangkah pergi tanpa mengatakan apapun. Dia bertekad tidak akan bicara pada semua orang atau mengakui kehamilannya meskipun video itu sudah menjelaskan semuanya. Rambut berantakannya karena dia berusaha mengeluarkan apa yang mendesak dari dalam perutnya dan juga pakaiannya, sudah membenarkan bahwa itu dirinya.


Raisa mengejar Khadijah, meminta wanita itu untuk berhenti. Khadijah seakan tuli. Dia berjalan cepat ke arah tempat parkir dan mencari mobilnya. Di tengah kekalutannya dan kebingungannya, kendaraan roda empat itu tidak bisa terlihat oleh matanya.


Khadijah frustasi. Dia berjongkok di tengah jalan sambil menutup matanya. Dia menangis dalam diam sampai akhirnya supir Khoirul melihat Khadijah dan membawa majikannya itu masuk ke dalam mobil.


°°°


Khoirul menggeser kursi yang dia duduki tadi ketika Miranti mendatanginya. Ruangan yang khusus untuk acara seminar ataupun pertemuan antar dosen itu hanya ada Khoirul di sana. Sebelumnya memang ada pertemuan singkat mengenai masalah anak-anak kampus dan hanya beberapa yang diminta untuk datang, termasuk Khoirul.


"Kamu sudah dengar?" tanya Miranti. Terlihat dari wajahnya dia mengabarkan berita penting.


"Dengar apa?"


"Gosip soal Dijah. Em, maksudnya bukan gosip karena ada bukti kuat. Coba kamu lihat dulu," pinta Miranti. Dia memperlihatkan sebuah video dari ponselnya. Lalu dia berucap, "Dijah ketahuan hamil. Aku benar-benar nggak menyangka anak kurang ajar itu hamil di luar nikah. Kamu tahu betapa kurang ajarnya dia waktu aku menunggu kamu di ruang kesehatan? Dia benar-benar tidak punya etika."


Khoirul menatap Miranti tajam. Dia tidak suka Khadijah dijelek-jelekkan begitu. Fokusnya teralihkan pada video yang jelas-jelas menampilkan Khadijah dari atas dan juga samping.


"Dari mana kamu dapat ini?" sentak Khoirul tidak terima.


"Seluruh anak-anak kampus punya videonya. Tadi ada ribut-ribut juga di koridor. Masa kamu nggak dengar?"


Khoirul memang tidak keluar ruangannya tadi karena jadwal mengajarnya baru malam hari. Dia jug baru keluar untuk menghadiri pertemuan.


Pria itu menahan geram. Pasti Khadijah tidak bisa berbuat apa-apa. Kenapa istrinya tidak mau menghubunginya? Haruskah Khoirul tahu dari orang lain?


Tanpa basa-basi Khoirul memotong ucapan Miranti dan dia pergi dari sana. Dia tidak peduli dengan tas yang dia tinggalkan di dalam ruangan, dia ingin menemui istrinya. Kondisinya sedang tidak stabil kalau ditambah masalah ini, bisa-bisa semakin parah. Langkahnya semakin cepat hingga terlihat seperti berlari.


Ditekannya nomor telepon Khadijah, tapi tidak ada jawaban. Khoirul lalu menghubungi supir pribadinya.


"Nyonya ada bersama saya, Pak. Kami dalam perjalanan ke rumah."


Khoirul berhenti berlari. Dia mengusap wajahnya serampangan. Dalam hati dia akan membuat perhitungan pada orang yang membuat istrinya bersedih.

__ADS_1


°°°


__ADS_2