
Kecewa! Satu kata yang menggambarkan wajah Khoirul saat ini. Dia hanya menatap Kinan tanpa bicara lagi lalu naik ke kamarnya. Sementara Kinan, menyentuh pipinya yang terasa memanas. Dia memandang kepergian Khoirul dengan hati terluka. Andai saja semuanya bisa diulang kembali.
"Tidurlah!" ucap Khadijah. Dia mengusap punggung Kinan dengan penyesalan, "maafkan aku karena aku yang mendukung kamu untuk bicara dengan kakak kamu, Kinan. Nanti aku coba bicara pada kakak kamu ya?"
Kinan hanya mengangguk. Dia berjalan gontai ke arah kamarnya. Ya Tuhan, dia menyesal. Kekecewaan Khoirul padanya lebih menyesakkan hatinya dari pada mendapat pukulan itu. Belum pernah sekalipun Kinan mengecewakan kakaknya tapi hari ini semua perjuangannya terasa sirna.
°°°
Marwah dan Raden meluncur ke rumah Khoirul setelah Khoirul menceritakan semuanya. Khoirul bertanya apakah mereka mengetahui niat Kinan untuk belajar dari Zaki.
Marwah yang angkat bicara, "Mama tahu. Mama juga setuju karena mama pikir memang Pak Zaki bisa diandalkan. Siapa yang mengira kalau dosen itu punya pikiran negatif. Jangan salahkan mama!" Wanita itu menolak untuk disalahkan karena dia juga tidak tahu apa-apa.
"Kenapa mama nggak bicara pada papa?" tuduh Raden.
"Ya karena papa sibuk. Sudahlah, nggak penting siapa yang tahu dan nggak tahu karena sudah kejadian juga kan? Lagi pula salah Khadijah karena pakaiannya terlalu terbuka sampai Pak Zaki punya niat buruk," sungut Marwah menatap sinis Khadijah.
Banyak orang yang ingin membela Khadijah tapi Khoirul lebih dulu turun bicara. "Asal mama tahu, tanpa Khadijah berpakaian begitu pun niat hati Zaki sudah busuk. Dia pernah memaksa Kinan waktu di hotel. Kalau timingnya nggak pas, mungkin Kinan yang jadi korban."
Fakta tersebut belum diketahui oleh Marwah karena Kinan masih belum bicara apapun.
Raden bahkan berdiri karena terkejut mendengar pengakuan Khoirul. Pria paruh baya itu menghampiri putrinya, "Benar yang dikatakan kakak kamu?"
"Benar, Pa," lirih Kinan.
Plak!
Raden menghembuskan napas kasar, "Papa kecewa sama kamu! Kamu sekolah tinggi-tinggi, lulus dengan nilai cumlaude, tapi nggak bisa membedakan mana yang bisa kamu jadikan contoh untuk belajar. Orang macam itu nggak pantas jadi dosen pembimbing."
"Maafkan Kinan, Pa. Kinan nggak tahu," isak Kinan. Khadijah menghampiri karena tidak tega melihat isakan Kinan.
Sementara Marwah? Wanita itu juga mencak-mencak. Dia malu bukan main. "Mama kira kamu bisa dipercaya tapi malah membodohi kami. Pokoknya sekarang mama larang kamu untuk pacaran dengan siapapun kecuali pilihan mama."
__ADS_1
"Ma," protes Kinan.
"Nggak ada protes. Kamu yang bikin malu orangtua," sengit Marwah.
Khadijah tidak setuju dengan ucapan Marwah. Entah keberanian dari mana, dia menimpali ucapan mertuanya. "Aku tidak setuju kalau mama menyalahkan Kinan sepenuhnya. Yang jadi korban Kinan, nggak seharusnya korban disalahkan. Semua stigma masyarakat tentang korban, yang menganggap korban adalah sumber dari kejahatanlah yang membuat korban-korban nggak ada yang bisa mengakui. Harusnya yang disalahkan pelaku. Dari awal pelaku sudah punya niat jahat apalagi melihat Kinan yang masih polos. Dari niat kecil itulah yang membuat Pak Zaki mengambil kesempatan. Jadi, hujatlah Pak Zaki, Ma. Dia sumber masalah."
"Kamu berani melawan mama?" hardik Marwah.
"Bukan melawan, Ma, tapi meluruskan. Aku nggak bilang mama nggak boleh menyetir kehidupan Kinan setelah masalah ini. Hanya saja aku nggak suka kalau korban disalahkan. Orang-orang di luar sana nggak akan berani speakup kalau banyak yang menggunjingkan mereka."
Marwah meringis, mengejek argumen Khadijah. "Kalau kamu pintar bicara kenapa nggak kamu pakai untuk lulus kuliah?"
"Ini bukan masalah kelulusanku, Ma. Kita sedang membahas masalah lain," elak Khadijah. Emosinya melonjak kalau harus menghadapi mertuanya.
"Pa, lihat itu! Menantu kita berani melawan mama," rengek Marwah pada Raden, berharap pembelaan.
Raden berdehem, "Khadijah benar. Mama yang salah. Menanggapi masalah ini kita nggak bisa menyalahkan anak kita sepenuhnya. Papa setuju kalau korban nggak perlu dipojokkan. Tapi ... Kinan tetap salah di mata papa. Dia yang memasukkan pria ke dalam kamar hotel. Seandainya dia nggak tahu gimana sifat Pak Zaki, dia tetap nggak boleh memasukkan pria ke tempat tidur. Dia juga nggak boleh sembarangan memberikan nomor kamar pada pria yang bukan suaminya. Kamu mengerti kan apa yang papa cemaskan, Kinan?"
"Bagus. Masalah ini kita anggap selesai. Papa dan kakak kamu yang akan mengurus masalah Zaki. Kamu dan Khadijah diamlah di rumah untuk sementara waktu. Setelah proses selesai, kamu ikut kami pulang ke Jakarta!" jelas Raden.
Perdebatan itu selesai. Kecuali Khoirul yang tiba-tiba ingin bicara berdua dengan Khadijah. Mereka berdua duduk di tepi tempat tidur.
"Aku nggak suka kalau kamu membalas ucapan mama setajam itu, Dijah," ucap Khoirul.
Khadijah tersinggung, "Maksudnya, Mas? Aku nggak boleh begitu membela Kinan? Bukan Kinan saja tapi semua wanita yang jadi korban termasuk aku. Apa aku hanya boleh diam?"
"Aku nggak bilang begitu tapi pakailah nada yang lebih sopan, Dijah. Meskipun mama orangnya keras tapi dia nggak punya niat untuk menjatuhkan mental Kinan. Aku harap kamu bisa mengerti, Dijah," jelas Khoirul. Memang dia tidak marah pada Khadijah tapi Khadijah terlanjur salah paham.
"Aku juga nggak punya niat untuk membuat mama tersinggung, Mas. Aku hanya membela Kinan. Ya aku tahu Kinan salah tapi aku yang lebih salah karena mendukung hubungan mereka. Jadi, salahkan saja aku. Semuanya! Salahkan semua yang terjadi padaku!"
Titik!
__ADS_1
Khadijah melenggang pergi. Ucapan Khoirul tidak dia gubris. Sifat Khadijah juga keras. Siapapun yang membuat dirinya marah, tidak akan ada ampun meskipun itu suaminya sendiri.
°°°
"Kinan, keluar sayang! Kita makan dulu," ucap Marwah. Wanita itu cemas karena dari semalam Kinan tidak keluar kamar dan keesokan harinya juga tidak ada pergerakan dari gadis itu.
Khadijah ikut mengetuk pintu kamar Kinan. "Terkunci, Ma."
"Mama tahu kalau pintunya terkunci. Kalau nggak terkunci pasti mama bisa masuk," sengit Marwah.
Khadijah memendam kemarahannya karena mereka tidak dalam keadaan perlu saling adu mulut. Dia tidak sabar untuk menunggu Kinan membuka pintu. Dia mengambil kunci cadangan dan membukanya.
"Astaga, Kinan!" pekik Marwah.
Khadijah menutup mulutnya, dia belum bereaksi. Antara sadar dan tidak, dia mulai bergerak. Dia membawa tubuh lemas Kinan ke atas ranjang lalu mengambil ponsel. Para pria sedang sibuk jadi tidak ada yang bisa membantu.
Marwah menepuk wajah Kinan, tapi belum ada reaksi. Dia menangis melihat wajah Kinan yang pucat. "Sayang, kenapa kamu bisa begini?"
Khadijah muncul dengan Bik Sani. Mereka kesusahan membawa Kinan turun karena posisinya Marwah hanya membuntuti mereka. Sekuat tenaga Khadijah membaringkan Kinan di sofa ruang tamu sembari menunggu ambulans datang.
Ketiga orang itu sibuk dengan pemikirannya sendiri hingga sirine ambulans terdengar.
°°°
"Bagaimana kondisi Kinan, Dok?" tanya Marwah setelah melihat dokter keluar dari ruang pemeriksaan.
"Anak anda mengalami stres, Bu. Pola makannya juga tidak seimbang. Jadi saya sarankan untuk mengistirahatkan pasien dan jangan memberikan kabar buruk. Saya yakin keadaannya akan semakin membaik," jelas dokter.
"Terimakasih, Dokter."
Dokter tidak lagi terlihat dari pandangan mereka. Tanpa diduga, Marwah menarik rambut Khadijah dengan muka garangnya, "Semua ini gara-gara kamu! Kinan punya imajinasi untuk menikah dengan dosen, anak saya nggak mungkin punya insiatif untuk jatuh cinta pada Zaki. Dasar wanita nggak berguna!"
__ADS_1
°°°