BACKSTREET YUK, PAK DOSEN!

BACKSTREET YUK, PAK DOSEN!
Bab 23 - Bapak Berdarah


__ADS_3

"Ciee, yang habis menginap di hotel semalaman," sambut Ratna ketika melihat anak dan menantunya mendatanginya.


Khadijah yang punya ide untuk menginap di rumah orangtuanya. Khoirul belum sepenuhnya diakui menantu jika dia belum sesekali tinggal di rumah mertua, begitu sebaliknya.


Malam yang panjang yang mereka habiskan di hotel membuat keduanya semakin dekat. Apalagi Khoirul yang terang-benderang mengakui bahwa dia mulai menyukai Khadijah.


Khoirul tersenyum malu, "Mencoba, Ma."


"Apanya?" sela Khadijah.


"Ya, siapa tahu jadi kan?"


"Hamil maksudnya? Nggak deh, Pak. Saya masih mau cari kerja," ketus Khadijah.


Ratna mencubit pinggang anaknya karena kesal dengan ucapannya yang tidak masuk akal, "Kalau ngomong disaring dulu di kepala, Dijah. Omongan adalah doa. Nanti kalau kamu sulit hamil, kamu sendiri yang susah."


"Tapi kan emang kenyataannya aku masih belum jadi apa-apa," jawab Khadijah.


"Jadi istri yang baik, pengertian dan sayang sama suami itu udah paling baik. Urusan kerja biar urusan suami. Kamu ini kadang-kadang membuat mama pusing," omel Ratna. Dia meminta maaf pada Khoirul karena kebablasan mengomel, "nak Khoirul istirahat saja dulu. Mama siapkan makanan."


"Nggak perlu, Ma. Saya langsung ke kampus soalnya," tolak Khoirul. Dia sudah dua hari absen jadi harus segera menyelesaikan tugas yang tertunda.


"Dijah juga?"


Khadijah menggeleng, "Nggak. Hari ini free. Aku mau main sama Raisa."


"Main? Sudah berumahtangga stop mainnya. Yang perlu kamu pikirkan suami kamu. Kalau diijinkan baru boleh pergi," omel Ratna.


Khadijah merengut, "Mama ini ngomel melulu. Anaknya datang bukannya dibaik-baikin. Tau begitu aku nggak minta Pak Khoirul buat menginap. Pak Khoirul juga pasti pusing kan dengar mama ngomel?" Mata Khadijah memberikan isyarat pada Khoirul untuk membelanya.


Salah alamat. Khoirul justru menggeleng, "Saya bisa mengerti kalau di balik omelan seorang ibu pasti ada kebaikan di dalamnya. Benar begitu kan, Ma?"


Ratna mengangguk cepat, "Benar sekali. Ini baru menantu mama yang bisa mengerti mama."


"Ya udah sana bicara berdua saja. Aku mau ke kamar!" sungut Khadijah.


Dasar dua orang yang nggak punya perikemanusiaan. Itu lagi suami macam apa yang nggak bisa membela istrinya, batin Khadijah geram.


Meskipun mengomel, dia tetap membongkar isi tasnya lalu menata di almari. Suara hak sepatu berdau dengan lantai terdengar dari arah depan. Khadijah tidak ingin peduli siapa itu. Dia hanya peduli pada kekesalannya.


Pintu kamar terbuka pelan, Khoirul muncul dengan senyum dikulumnya.


Belum sepenuhnya Khadijah fokus, dua lengan melingkar di pinggangnya. Wanita itu terpekik nyaring. Merasa ada yang menggantungkan kepala di bahunya, Khadijah melirik, "Ada apa? Mau marahin saya karena nggak bisa sopan pada orang tua? Atau mau menyalahkan saya lagi?"


"Mau memeluk kamu saja untuk bekal berangkat ke kampus. Saya pasti merindukanmu nanti," bisik Khoirul.

__ADS_1


Perlahan rasa kesal itu menghilang. Bibir Khadijah tertarik ke samping, hanya sekilas karena takut ketahuan terpesona oleh suaminya.


"Jawab dong," pinta Khoirul.


"Jawab gimana, Pak?"


"Ya jawab. Kamu merindukanku juga atau nggak?"


Khadijah menggeleng, "Nggak."


"Nggak apa-apa. Seenggaknya saya merindukan kamu. Saya pergi dulu ya? Tapi saya mau request masakan yang harus kamu buat," ucap Khoirul sembari melepas pelukannya.


"Masakan apa, Pak?"


"Yang nggak sulit. Terserah mau apa saja yang penting kamu yang masak."


"Sambal sama kerupuk doang mau?" canda Khadijah.


"Mau. Asal kamu yang buat."


"Saya mana bisa buat kerupuk, Pak? Beli bisanya."


"Maksudnya sambalnya. Kamu ini," omel Khoirul. Dicubitnya pipi Khadijah, "saya pergi dulu ya. Jangan merindukan saya."


Khoirul hanya terkekeh geli mendengar jawaban istrinya. Tinggal Khadijah yang kebingungan harus membuat apa. Dia menuntaskan pekerjaannya lalu mencari informasi melalui internet. Masakan yang paling mudah tentu saja masakan yang digoreng. Tapi apa?


"Ayam ungkep goreng?" gumam Khadijah. Dia menjentikkan jarinya, "ide bagus."


°°°


"Tolong, Mama! Kenapa ayamnya meledak sih? Duh, bisa diam nggak?" pekik Khadijah sembari menutup wajahnya.


Wanita itu mundur lebih dari lima langkah setelah sebelumnya meletakkan benda panjang yang dia gunakan menggoreng tadi ke sembarang tempat. Mulutnya komat-kamit, berharap penggorengan itu segera berhenti meledak.


Ratna menghampiri Khadijah dengan muka masamnya. Wanita paruh baya itu geleng-geleng kepala melihat keadaan dapur yang mirip kapal pecah. "Ada apa sih, Dijah?"


"Itu loh, Ma, meledak. Dia ngamuk kali sama aku," ucap Khadijah.


"Airnya ikut masuk tadi, Dijah. Nggak kamu tiriskan dulu?"


Khadijah menggeleng, dia mana paham begituan? Dia pikir ayam ungkepan tadi bisa langsung masuk minyak goreng.


"Benar saja langsung meledak. Tunggu sajalah. Nanti juga berhenti sendiri. Awas, jangan lama-lama. Kalau gosong nggak bisa dimakan."


"Kalau matang warnanya berubah apa?"

__ADS_1


"Kecoklatan."


"Oke, aku paham."


Khadijah manggut-manggut sok paham. Dia menunggu dengan sabar sampai suaranya menghilang. Tapi justru kesabarannya berbuah pahit. Ketika dilihat ke dalam penggorengan, ayam yang harusnya berwarna coklat keemasan menjadi coklat kehitaman.


"Oh, Tuhan," pekik Khadijah. Dia berusaha mengangkat masakannya lebih cepat beberapa detik tapi tidak ada gunanya. Tidak terselamatkan. "Masih bisa dimakan nggak sih?"


Khadijah menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Apa kata Khoirul kalau melihat penampakan ayam ungkepnya yang bermandikan oli?


"Tapi kan Pak Khoirul minta masakanku? Nggak apa-apalah yang penting kan masakanku. Kalau nggak mau ya sudah, buang saja," gumam Khadijah pada dirinya sendiri.


°°°


"Silahkan, Pak Khoirul. Ini masakan saya," ucap Khadijah pada Khoirul. Dia menyajikan makanan yang dia beli dari restoran tapi mengusung tema masakan rumahan ke atas meja makan. Meskipun dia berpendapat Khoirul harus menelan masakan buatannya, tapi dia tidak enak hati. Perutnya bisa mulas.


Ratna dan Burhan menyingkir begitu tahu pasangan suami istri itu sedang menikmati makan malam.


Khoirul menyunggingkan senyum tipis. Entah kenapa dia mencurigai sikap Khadijah yang terlalu manis untuk dilihat. "Kamu jadi baik sekali."


"Ya saya kan baik. Kalau nggak baik mana mungkin saya masakin buat bapak?" gumam Khadijah. Dia juga ikut duduk dan menikmati makanannya. Tapi sayangnya Khoirul lebih jernih pemikirannya dari pada Khadijah. Pria itu mencicipi rasa yang tidak asing ini.


"Masakan kamu kenapa mirip dengan masakan restoran Mbok Endut ya, Dijah?" gumam Khoirul sembari melirik Khadijah.


Khadijah tersedak, "Masa iya, Pak?"


Kok Pak Khoirul tahu sih? Batin Khadijah.


"Iya. Saya pernah makan di sana soalnya."


"Em, mirip doang, Pak," elak Khadijah.


"Miripnya terlalu kentara kalau ini. Jujur sama saya, kamu membelinya kan?"


"Eng-nggak, Pak," elak Khadijah. Dalam hati dia berharap dirinya tertelan ke muka bumi.


Khoirul meletakkan sendoknya dan berjalan ke arah dapur. Dia meneliti setiap wadah makan yang mungkin menjadi tempat persembunyian Khadijah. Ada satu tempat yang mencurigakan. Di dalam laci kitchen set paling atas.


Khadijah mendesis pelan melihat Khoirul berhasil menemukannya. Dia berlari, berniat menarik piring berisi ayam gosong tersebut tapi malah dia menubruk tubuh Khoirul. Khadijah hampir terjungkal tapi Khoirul menahan tubuh istrinya.


Kejadian tidak terduga terjadi secepat kilat. Pisau yang berada di sisi kanan kompor, tepat di samping Khoirul, tidak sengaja ikut bergerak karena keterkejutan Khoirul tadi. Benda itu hampir terkena Khadijah jika saja Khoirul tidak memutar tubuh istrinya.


"Bapak berdarah," pekik Khadijah melihat darah segar keluar dari sayatan tipis pada area lengan suaminya.


°°°

__ADS_1


__ADS_2