BACKSTREET YUK, PAK DOSEN!

BACKSTREET YUK, PAK DOSEN!
Bab 53 - Kenapa Kamu Nggak Cari Pria Lain Saja


__ADS_3

Beberapa menit sebelumnya...


"Saya masuk ya?" tanya Zaki di ujung telepon. Pria itu ternyata menginap di hotel hanya untuk mencari kesempatan menemui Kinan tapi sampai pagi dia belum juga mendapatkannya. Akhirnya, ketika pagi tadi dia menelpon Kinan, dia tahu nomor kamar Kinan namun belum bisa masuk karena masih ada Khadijah.


Selang beberapa menit setelah Khadijah pergi, Zaki muncul dengan senyum manisnya. Dia masuk dan melihat seisi ruangan. Dalam hatinya dia sudah mempunyai rencana untuk membuktikan kehebatannya di atas ranjang pada Kinan. Dia memang sudah punya calon istri tapi entah kenapa dia lebih suka pada Kinan ketimbang wanita yang menemaninya dari nol itu.


Fisik Kinan lebih menjanjikan dari pada calon istrinya. Apalagi Kinan masih muda dan setidaknya dia yakin bahwa Kinan belum tersentuh. Berbeda dengan calon istrinya yang sudah beberapa 'bermain' dengannya di atas ranjang. Tidak ada kepuasan lagi kecuali hanya sekedar hobi yang tersalurkan.


Tapi Kinan masih terlalu kolot untuk mengetahui betapa nikmatnya sebuah hubungan sebelum pernikahan. Kalau sudah menikah justru rasanya akan berbeda. Tantangannya tidak akan seindah sebelum menikah.


Zaki memberanikan diri untuk menyentuh bahu Kinan dengan sentuhan selembut sutera. Lalu dia mengecup bibir Kinan dengan sangat mesra hingga gadis itu tidak mampu melawan rasa yang manis dalam dirinya. Ketika Zaki berniat menyudahi acara kecupan itu dengan menanggalkan pakaian Kinan, gadis itu menolak.


Belum juga dia berhasil melakukannya, ketukan pada pintu menggagalkan semuanya. Zaki tetap memaksa, berharap Kinan mau setidaknya memperlihatkan beberapa bagian yang dimilikinya. Anggap saja sentuhan pembuka agar gadis itu mau melakukan lebih. Sayang sekali, niat busuk Zaki kalah dari suara interkom itu.


"Cobalah! Kamu pasti akan suka, Kinan. Saya janji akan menikahi kamu. Kamu nggak percaya sama saya?" pinta Zaki frustasi.


Kinan menggeleng. "Tunggu ijin dari Kak Khoirul dulu, Pak. Lalu kita bisa menikah. Setelahnya baru saya menyerahkan keperawanan saya."


"Kinan, saya mohon," pinta Zaki.


"Pak, kita menikah bukan karena nafsu semata tapi karena saya memang suka sama bapak. Tapi kalau bapak memaksa saya, sebaiknya kita sudahi saja. Bapak juga masih memiliki calon istri kan? Apa bapak yakin kalau calon istri bapak sudah bisa menerima perpisahan? Saya takut malah nanti dia datang pada saya dan memaki saya," jelas Kinan. Dia melirik ke arah pintu, "saya harus membuka pintu. Bapak diam saja di sini. Saya takut kak Khoirul tahu dan malah membuat bapak dalam masalah."


"Saya benar-benar kecewa sama kamu, Kinan," sungut Zaki. Dia melangkah ke arah kamar mandi dan bersembunyi di sana. Begitu Kinan membuka pintu dan keluar, dia juga akan pergi.


"Kemana saja?" hardik Khoirul.


"Kamar mandi, Kak. Biasa, mengeluarkan sesuatu yang mendesak," ucap Kinan berusaha menyembunyikan kegugupannya. Dia menyeka keringat yang menandakan bahwa dia sedang dalam keadaan darurat.


Khoirul tidak bisa bicara banyak karena urusan Kinan pasti lebih mendesak. Khadijah melihat ekspresi Kinan yang terasa aneh. Dia berpikir yang bukan-bukan tapi berusaha tidak berargumen apa-apa.


"Ya sudah, ayo pulang!" ucap Khoirul.


"Iya, Kak."

__ADS_1


Mereka bertiga berjalan ke arah lift. Kinan berulangkali melirik ke belakang, meyakini bahwa Zaki tidak membuntuti mereka. Barulah ketika mereka sudah masuk mobil, gadis itu baru bisa bernapas lega.


°°°


"Kinan, menurut kamu Pak Zaki gimana?" tanya Khadijah sembari membuka pembicaraan. Dia sudah berjanji akan memudahkan jalan Kinan untuk menceritakan kisahnya pada Khoirul. Wanita itu melirik Kinan dari kaca spion tengah supaya Kinan paham dengan pancingannya.


"Kenapa tiba-tiba bicara soal Pak Zaki?" tanya Khoirul bingung.


"Ya siapa tahu mereka cocok seperti kita, Mas," jawab Khadijah santai.


"Ah, kamu memberi contoh pada Kinan ini ceritanya?" sindir Khoirul. Dia sudah bisa menetralkan nada bicaranya yang kebingungan.


Khadijah terkekeh geli. Dia melanjutkan pertanyaannya berharap Kinan segera menjawab.


Kinan tersenyum miris. Dia kebingungan dengan jawabannya. Dia sekarang ragu mengenai masalah Zaki, apakah dia perlu bicara pada Khoirul atau tidak. Kenapa Zaki bisa berubah? Padahal kemarin-kemarin Zaki sifatnya baik dan tidak pernah menyinggung masalah pribadi. Tapi semakin beberapa kali bertemu, sifat Zaki berubah.


Zaki mulai menjurus ke arah yang dalam tanda kutip terlalu pribadi. Padahal Kinan bukan tipe barat yang sangat suka membuka diri. Kinan tetap ngotot dalam pendiriannya tapi Zaki memaksa. Puncaknya adalah hari ini.


"Iya, Kak," jawab Kinan.


"Tadi kak Dijah tanya kan? Kok belum dijawab?"


"Em, soal Pak Zaki ya? Baik kok, Kak. Kenapa emangnya?"


"Kalian dekat?" tembak Khoirul langsung.


"Suka, Kak," jawab Kinan jujur.


"Kamu tahu kalau Pak Zaki sudah punya calon istri?"


"Sudah, Kak. Pak Zaki sendiri yang bicara tapi katanya Pak Zaki sudah memutuskan untuk nggak melanjutkan hubungan. Aku juga sadar diri, Kak. Anehnya Pak Zaki terang-terangan bilang kalau dia suka sama aku."


Khoirul menghela napas. Dua wanita di dalam mobil itu cemas kalau sudah mendengar helaan napas Khoirul. Setelahnya, Khoirul mulai menjelaskan bahwa tidak baik memulai sebuah hubungan sebelum hubungan yang lalu diselesaikan dengan benar. Kalau misalkan pihak calon istri marah pada Kinan karena dianggap sebagai perebutan calon suami orang, apa Kinan sanggup bertahan?

__ADS_1


"Kenapa kamu nggak cari pria lain saja? Bukannya yang masih muda banyak? Teman kuliah atau teman main?" tanya Khoirul.


"Lalu kenapa kakak nggak pilih calon istri dari sesama dosen?" tembak Kinan. Dia yang awalnya meremehkan hubungannya dengan Zaki tiba-tiba berubah haluan. Rasanya kesal kalau perasannya dianggap hanya angin lalu. Kinan sudah banyak menemukan pria yang usianya tidak juga berbeda darinya tapi kecocokan itu selalu hilang setelah mereka memulai hubungan. Bahkan ada yang sampai menjadi penguntit hanya karena diputuskan sepihak.


Kinan trauma, jujur saja. Hubungannya yang terakhir sebelum Zaki yang dia pikirkan bisa diselamatkan hingga bertahun-tahun lamanya, kenyataannya dia tidak sanggup. Pria itu menjadi suka mengatur, membuat dirinya terkekang dan bahkan keinginannya untuk kuliah dia luar negeri ditolak karena tidak ingin memulai hubungan jarak jauh. Akhirnya Kinan memutuskannya sepihak.


Hingga Zaki muncul dan memberikan warna lain. Kedewasaan Zaki memunculkan getar-getar suka. Kinan tidak menolak. Dia bahkan membuka diri.


"Itu lain ceritanya, Kinan," tandas Khoirul.


"Sama sajalah, Kak. Kak Dijah juga masih kuliah sama sepertiku. Lalu kakak juga sama seperti Pak Zaki bahkan seusia. Bedanya apa?"


"Oke, kita skip masalah usia. Masalah hubungan Pak Zaki dengan calon istrinya? Sudah siap menanggung resiko?" tanya Khoirul.


Khadijah diam mendengarkan. Dia ingin menyela tapi rasanya takut. Dia akan menjadi pendengar yang baik untuk saat ini.


"Sudah," jawab Kinan mantap.


"Oke. Bawa Pak Zaki ke rumah kakak dulu biar kakak bisa bicara empat mata. Soal kebohongan kamu di hotel, kakak tetap nggak suka. Kakak akan mencari hukuman yang tepat untuk kamu," jelas Khoirul akhirnya.


Kinan mengangguk pelan. Sementara Khadijah menghela napas lega. Akhirnya selesai juga.


°°°


Hari Kamis, pukul dua belas siang, di rumah Khoirul yang baru ....


Tidak ada angin tidak ada hujan, tapi kedatangan Zaki membuat suasana rumah menjadi lebih sensitif. Terlebih Khadijah hanya seorang diri di rumah itu.


"STOP!" teriak Khadijah.


"Ayolah, Dijah! Kenapa kamu jual mahal? Di sini nggak ada orang lain. Lagi pula saya tahu kamu sukanya sama dosen seperti saya ini kan?" desis Zaki.


°°°

__ADS_1


__ADS_2