
Tidak ada yang bisa mengalahkan senyum Khoirul ketika mereka memasuki area cafe yang letaknya tidak jauh dari rumah. Pria itu selalu terbayang-bayang ucapan Khadijah yang membuat dirinya melayang ke langit. Andai saja malam ini tidak ada bintang pasti senyum Khoirul bisa merubah langit gelap menjadi cerah.
Biarlah orang lain menganggapnya berlebihan tapi Khoirul merasa dirinya pria paling beruntung di dunia.
Khadijah tidak berniat menggelayut di lengan suaminya meskipun banyak orang yang menyipitkan mata melihat kedatangan mereka. Mungkin mereka berpikir bahwa Khadijah adalah adik Khoirul. Penampilan Khadijah yang serba santai yang berbanding terbalik dengan Khoirul. Tidak ada yang mengira mereka pasangan suami istri.
"Steak aja?" tanya Khoirul memastikan.
"Hm, boleh yang lain?"
"Tentu saja."
Khadijah melihat daftar menu dan berpikir. Dia menunjuk tiga menu utama sekaligus, dessert dan minuman. Khoirul tidak mempermasalahkan apa yang dipesan karena apapun yang membuat Khadijah senang, dia juga akan ikut senang.
Makan malam kali ini berjalan dengan baik. Tidak ada yang membuat mereka harus saling melempar candaan menyakitkan. Khadijah juga tidak berekspresi terlalu berlebihan. Ah, senangnya jika dua orang itu saling berdamai.
Sayangnya Tuhan selalu berkehendak lain. Ketika mereka keluar dari cafe, seseorang menghampiri. Wanita berpakaian feminim dengan dandanan menor tapi enak dipandang itu menyapa Khoirul dengan ramah.
Khadijah yang berjalan tepat di belakang Khoirul berhenti tiba-tiba. Dia memasang telinga baik-baik sembari berpura-pura tidak saling mengenal.
"Hai. Kebetulan banget ketemu di sini, Khoirul," ucap wanita itu. Ramah memang, tapi dari nada bicaranya seakan menunjukkan bahwa mereka memiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman.
"Eh, Miranti, sedang apa di sini?" tanya Khoirul gugup. Dia melirik Khadijah yang masih diam di sana.
Khadijah memproses nama itu dalam memori otaknya tapi tidak menemukan satu nama pun yang bisa dia ingat. Siapa?
"Mau makan. Nyobain steak di sini katanya enak. Kamu juga sama?"
"Iya."
Khoirul pamit, tapi Miranti menariknya untuk tetap di sana. Pria itu bersikap canggung, takut kalau Khadijah berpikir yang bukan-bukan. "Aku lelah sebenarnya. Kita bisa ngobrol lain kali."
"Kamu ini sama teman kuliah sendiri begitu. Kenapa dingin sekali sih? Harusnya kamu senang dong bisa bertemu denganku. Oh, ya, aku ada berita penting. Aku diterima mengajar di universitas yang sama seperti kamu. Besok mulai mengajar. Aku mengambil jurusan pertanian," jelas Miranti sumringah. Dia mengira kabar baiknya bisa membuat Khoirul menyukainya. Pasalnya dia tahu kalau Khoirul tipe yang sulit ditaklukkan.
Khadijah berdehem lumayan keras. Miranti menoleh padanya, "Siapa?" Maksud pertanyaan itu ditujukan pada Khoirul karena matanya tertuju pada pria itu.
"Saudara jauh," sela Khadijah. Dia berubah pikiran soal tidak saling mengenal. Dia ingin tahu apa yang mereka bicarakan selanjutnya. Sementara Khoirul menggerutu dalam hati karena tidak suka dengan jawaban itu.
"Oh, saudara kamu? Hei, saya Miranti. Teman kuliah kakak ipar kamu dulu. Sekaligus..," ucapan Miranti terhenti. Dia berbisik tapi dengan nada normal, "hampir jadi TTM."
"Oh, TTM? Cocok kok," jawab Khadijah kesal. Dia melirik Khoirul, "saya ke mobil dulu, Kak. Ngobrolnya lama juga nggak apa-apa."
"Dasar wanita kurang kerjaan. Orang Pak Khoirul aja biasa gitu. Tau diri kenapa sih? Suka heran sama wanita jaman sekarang," gerutu Khadijah. Entah pelan atau sengaja disuarakan dengan keras, tapi Khoirul sempat menyunggingkan senyum geli.
"Kok senyum-senyum? Kamu suka ya kalau kita satu universitas?" tanya Miranti percaya diri.
__ADS_1
"Karena kabar baik, jadi aku pasti ikut senang. Tapi maaf sekali, Mir, aku harus pulang. Saudaraku kalau nunggu kelamaan bisa marah. Nanti aku yang kena omel orangtuaku. Maaf ya," ucap Khoirul.
"Nggak masalah. Besok juga kita bertemu."
Khoirul mengangguk tidak yakin. Dia lebih suka menghindar. Ketika dia sampai di dalam mobil, Khadijah mulai memberikan komentar pedasnya.
"Ah, hampir jadi TTM? Pantes akrab begitu," ucap Khadijah.
"Dia yang mengira begitu tapi saya nggak pernah punya pikiran mengarah ke sana," jawab Khoirul santai.
"Em, begitu? Makanya jangan suka sok cari perhatian," sungut Khadijah.
Kendaraan roda empat itu mulai berjalan keluar dari tempat parkir cafe. Jalanan selalu ramai jika pada jam-jam seperti ini. Apalagi banyak pasangan yang hobi bergandengan tangan di tepi jalan.
"Katanya tadi saya biasa saja? Siapa yang cari perhatian?"
"Siapa yang bilang?" elak Khadijah.
"Itu tadi kamu ngomel-ngomel sendiri."
"Ih, saya nggak pernah ngomel, Pak. Kalau bicara langsung iya." Khadijah menarik satu garis senyum penuh ejekan.
"Dijah, Dijah, kamu ini kok sukanya mengelak," ucap Khoirul. Tangannya terulur ke arah kepala Khadijah, mengelusnya penuh sayang. "Kamu cemburu nggak sih?"
"Oke kalau begitu. Malah bagus karena saya bisa leluasa bertemu Miranti."
"Saya aja nggak boleh bertemu Kak Richard tapi Bapak sendiri senang bertemu wanita lain. Ih, mulut lelaki kayak buaya darat," gerutu Khadijah.
"Nggak apa-apa sekali-kali seperti buaya darat yang penting kalau di rumah saya hanya suka sama satu wanita."
"Siapa?"
"Khadijah."
Khadijah tersenyum malu. Tanpa bicara pun dia sudah memperlihatkan bahwa dia sangat suka mendapat pujian. Sementara Khoirul juga ikut melebarkan senyumnya.
°°°
Pagi hari yang dipenuhi mendung. Sebelum berangkat ke kampus, Khoirul membawa satu payung lipat ke dalam tas kerjanya dan satu lagi ke dalam mobil, lalu meminta Khadijah untuk bergegas. Dia ada seminar pagi ini di hotel tapi dia ingin mengantar Khadijah lebih dulu.
"Pak, turunkan di perempatan jalan ya?" pinta Khadijah.
"Iya. Seperti biasa."
"Bapak pulang jam berapa?" tanya Khadijah lagi. Dia melihat ponselnya dengan serius tanpa memperdulikan Khoirul.
__ADS_1
"Jam dua belas. Kenapa? Mau dijemput?"
"Nggak deh, Pak. Saya mau ke perpustakaan sama Raisa." Khadijah tersenyum sendiri membaca pesan dari Raisa.
"Sama Raisa aja?"
"Hm," gumam Khadijah tanpa minat.
Khoirul merasa tersingkir kalau wanita itu sudah sibuk dengan ponselnya. Dengan kesal dia menarik benda itu dari tangan Khadijah, lalu mendelik ketika istrinya menatapnya tidak terima. "Kalau diajak bicara itu didengar, dicermati dan dihayati. Bukannya diacuhkan. Katanya nggak suka diacuhkan? Kok kamu sendiri begitu? Selama sama saya, kamu nggak boleh banyak pegang ponsel."
Khadijah menghela napas kesal, "Mengganggu saja."
"Coba jawab lagi. Kamu pergi sama Raisa aja atau sama Richard dan Fattan?"
"Raisa doang, Pak. Ya Tuhan, nggak percaya sekali. Saya juga baru kirim pesan sama Raisa itu. Bapak sih pakai ambil ponsel saya segala."
Khoirul melihat ke arah layar ponsel Khadijah dengan satu tangan. Betapa terkejutnya dia setelah melihat satu pesan suara terkirim pada Raisa. "Gawat, Dijah."
"Ada apa, Pak?"
"Saya kira kamu perlu konfirmasi pada Raisa mengenai hubungan kita," ucap Khoirul tanpa dosa.
"Oh, God!" pekik Khadijah. Dia mengambil ponselnya kembali dan melihat isi percakapannya dengan Raisa. Memang benar ada satu pesan suara. Ketika wanita itu menekan tanda on, suaranya dan suara Khoirul terdengar. "Bapak gimana ini?"
Khoirul menghendikkan bahu, "Katakan saja yang sebenarnya. Raisa kan sahabat kamu, pasti dia mau jaga rahasia."
"Ah, bapak ini. Pasti tadi kepencet waktu bapak ambil ponsel saya. Awas ya kalau sampai Raisa memberondong saya dengan, tuh kan, apa kata saya," ucap Khadijah kesal.
Belum sempat Khadijah menghapus pesan itu, Raisa sudah lebih dulu membalas pesan.
[Oh, Tuhan, apa yang aku dengar ini, Dijah? Kalian, eh, maksudku, kamu dan Pak Khoirul pacaran? Oh, Tuhan!!!!]
Pesan tersebut menghantui Khadijah. Bagaimana ini?
°°°
Setelah melewati berjam-jam penuh cerita, akhirnya Khadijah menyelesaikan cerita hidupnya. Raisa tetap tidak bisa mengerti alur kehidupan Khadijah begitu sulit. Dia sempat merasa bersalah tapi dia ikut senang dengan pernikahan sahabatnya.
"Kalau tahu kalian sudah menikah, aku pasti memberikan kado," sesal Raisa.
"Siapa yang menikah? Khadijah sudah menikah?" Suara itu tiba-tiba terdengar dari arah belakang. Dua wanita yang sibuk berbicara menoleh dengan mata membulat penuh.
Apalagi ini?
°°°
__ADS_1