
Khadijah duduk berjarak dengan suaminya. Dia merapatkan dua telapak tangannya di atas pangkuan sembari melihat isi ruangan itu. Dia pernah masuk ke dalam sana beberapa kali, tapi hanya iseng melihat. Baru kali ini dia benar-benar mengamati.
"Sudah makan?" tanya Khoirul. Dia menutup laptopnya membuat cahaya yang berpendar ke segala arah menghilang.
"Sudah, Mas."
"Berapa suap?"
"Em, dua suap."
"Kenapa? Nggak suka buburnya?" tanya Khoirul lagi. Dia mencoba mencairkan suasana yang terasa kaku.
"Suka tapi ..,"
"Tapi?"
"Nggak apa-apa, Mas. Aku hanya malas makan."
"Makanlah yang banyak. Beberapa hari nggak makan teratur, tubuh kamu terlihat kurus. Lain kali kalau nggak suka makanannya, kamu bilang sama Bik Sani untuk membuatkan makanan lain. Kalau mau delivery juga boleh. Kartu hitam yang aku berikan masih kan? Atau sudah habis?"
Khadijah saja sampai lupa kalau dia punya kartu itu. Dia terlalu fokus pada berita tentang dirinya. Jangankan menghabiskan uang yang ada di dalam kartu tersebut, ingin membeli sesuatu saja tidak.
"Iya, Mas," ucap Khadijah pelan. Dia seperti orang bodoh yang terus menjawab dengan kata singkat.
"Kamu mau ngapain ke sini? Mencariku?" tanya Khoirul ingin tahu. Dia sedang menerka apa yang ingin dikatakan Khadijah tapi dia kesulitan menerka.
"Em, mungkin," gumam Khadijah. Dia menggenggam jari-jarinya dengan kikuk. Ingin sekali dia marah pada dirinya karena tidak bisa bicara dengan benar. Padahal dalam hatinya dia ingin menanyakan apakah Khoirul sudah makan atau belum, apakah Khoirul bisa tidur dengan nyenyak di dalam kamar tamu sendirian dan masih banyak lagi yang ingin dia katakan. Tapi hasilnya ... nihil!
"Mendekatilah, Dijah," pinta Khoirul.
Khadijah menggeser duduknya, masih dengan kebingungan. Ketika Khoirul menarik pergelangan tangannya, dia hanya diam. Baru setelah suaminya menanyakan apa dia mau tidur bersamanya atau tidak, Khadijah merespon dengan gelengan.
Duh, padahal aku tadi mau mengangguk, batin Khadijah kesal.
"Kenapa?" tanya Khoirul penasaran. Dia agak gemas melihat reaksi Khadijah. Kalau mata Khadijah bergerak kebingungan, itu tandanya istrinya tidak sepenuhnya mengatakan tidak.
"Ya nggak apa-apa, Mas."
"Aku suamimu kan?"
__ADS_1
Khadijah mengangguk.
"Kita seperti pertama kali kenal kalau kamu merasakannya. Pembicaraan yang aneh, sikap yang kikuk dan juga jawaban kamu yang nggak mirip kamu, Dijah. Tapi aku senang karena kamu mau melihat keadaanku. Em, apa kamu mau makan mie instan rebus?"
Khadijah berpikir, apa dia mau makan mie atau tidak. Tapi pemikirannya kalah cepat dari suara perutnya. Dia menyeringai malu.
"Pedas atau nggak?" tanya Khoirul lagi.
"Terserah kamu saja, Mas."
"Kalau begitu, tunggu di sini. Aku siapkan dulu."
"Iya."
Pelukan jari itu terlepas. Hati Khadijah mencelos tapi sayangnya dia tidak mau menunjukkannya.
°°°
Khoirul masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan berisi dua mangkuk mie rebus yang dia racik sendiri. Pandangan matanya terarah pada tempat tidur yang telah ditempati istrinya. Rupanya Khadijah tertidur ketika menunggunya selesai.
Khoirul menaruh nampan tersebut di atas meja setelah membereskan lembaran kertas itu. Dia duduk di samping Khadijah, memandang istrinya dengan rasa sayang. Sungguh malam ini rasanya dia tidak ingin terlelap begitu saja.
Pulang dari kampus dia masuk kamarnya sendiri, tapi hanya menyapa Khadijah sekilas lalu berganti baju. Dia juga tidak bicara apapun tentang pindah kamar karena pastinya Khadijah tidak mempedulikannya.
Berjam-jam pikirannya melayang kemana-mana, namun tidak ada satupun yang mendapat jawaban. Dia terjaga hingga tengah malam dan keluar untuk mengambil kopi. Hanya cairan pekat itu yang mampu masuk ke dalam tenggorokannya dari pada makanan berat.
Lalu, Khadijah muncul dengan tatapan rindunya pada Khoirul. Sekarang, wanita itu sedang menikmati mimpi karena tarikan dahinya membuat Khoirul yakin bahwa istrinya tidak bermimpi indah.
Perlahan pria itu mengusap dahi Khadijah, berharap dia bisa memberikan kenyamanan pada Khadijah. Selama beberapa menit dia melakukan hal itu, lalu tanpa sadar dia ikut terlelap. Mie yang sudah mengembang tidak tersentuh hingga pagi.
°°°
Khadijah terbangun ketika hidungnya membaui aroma makanan yang lezat. Wanita itu membuka mata. Seingatnya dia menunggu Khoirul semalam, tapi tiba-tiba matahari sudah muncul saja di celah jendelanya.
"Sudah bangun?" sambut Khoirul dengan aroma shampo yang menguar. Dia baru saja mandi dan membasahi rambutnya hingg beberapa kali akibat pusing yang menyerangnya pagi ini.
"Sudah, Mas," ucap Khadijah malu.
"Cantiknya kalau lagi malu begitu. Sarapan yuk! Mama Ratna buat nasi goreng dengan sayuran agak banyak. Katanya kamu suka sayuran," jelas Khoirul.
__ADS_1
"Semalam maaf ya, Mas. Aku nggak sengaja ketiduran."
"Yang namanya ketiduran pasti nggak sengaja, Dijah. Kalau sengaja ya tidur," balas Khoirul jenaka. Dia membantu istrinya menarik selimut, lalu membawanya ke kamar mandi. Dengan telaten dia membantu menggosok wajah Khadijah meskipun wanita itu agak malu.
"Sudah?" tanya Khoirul.
"Sudah, Mas. Terimakasih."
"Yuk, makan!" Lagi-lagi Khoirul mengapit lengan Khadijah untuk keluar. Ternyata pria itu sudah menyusun rapi sarapan mereka di atas meja. Lembaran kertas itu entah diselipkan dimana karena pagi ini keadaan meja sudah bersih.
"Makanlah!" pinta Khoirul. Dia sudah menaruh tiga sendok besar nasi goreng beserta suwiran ayam dan mentimun ke atas piring Khadijah. Lalu, dia sendiri juga mengisi piringnya dengan makanan yang sama.
Belum ada percakapan hingga tiga menit lamanya, sampai Khadijah menyuarakan isi hatinya. "Semalam mienya nggak jadi buat, Mas?"
"Nggak. Aku lihat kamu sudah tidur jadi aku mengurungkan niatku," alibi Khoirul. Dia berbohong hanya untuk mengurangi rasa bersalah Khadijah karena ketiduran.
"Em, begitu ya?"
"Iya."
"Mas pergi ke kampus hari ini?"
"Nggak. Aku udah ijin kemarin makanya aku bawa tugas untuk dikerjakan hari ini. Sekalian aku mau memberitahukan sama kamu rencana kepindahan kita," ucap Khoirul.
Kunyahan Khadijah terhenti. "Kepindahan, Mas?"
"Iya. Kalau kamu bersedia, gimana kalau kita pindah ke kota lain? Kota kecil yang nggak padat penghuninya. Aku ingin suasana baru apalagi dengan kondisi kamu yang masih belum stabil."
Khadijah tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Kabar itu terlalu mendadak. "Bagaimana dengan pekerjaan kamu, Mas?"
"Gampang. Sisa tugas akan aku urus lewat online saja. Untuk pengajuan pengunduran diri sudah aku serahkan kemarin."
"Tapi kan keputusan kita untuk pindah belum final, Mas? Kenapa Mas udah mengundurkan diri saja?"
Khoirul mengerti kekhawatiran Khadijah. Awalnya keputusan itu dia buat ketika melihat istrinya terpuruk karena berita yang tidak jelas di luar sana. Lalu dia meyakini keputusannya benar setelah insiden yang dialami Khadijah. Dia bertekad akan menyingkirkan semua keburukan yang pernah membuat istrinya mengalami trauma.
"Karena aku ingin yang terbaik untuk kamu, Dijah. Apapun itu, selama kamu bisa bahagia, aku nggak akan memikirkannya dua kali," ucap Khoirul.
°°°
__ADS_1