
Andai saja bisa semudah itu. Khadijah menggeleng cepat, "Nggak mau, Pak. Saya masih belum siap. Nanti kalau saya sudah siap lahir batin, saya pasti akan mengakui pernikahan kita, Pak."
"Kamu mau kucing-kucingan terus?"
"Saya masih bisa bertahan, Pak," tekad Khadijah.
Khoirul tidak bisa berbuat banyak. Dia mengangguk lelah, "Baik kalau kamu masih ngotot juga. Kita pulang sekarang."
°°°
Malam harinya, tidak ada interaksi berlebihan di antara Khadijah dan Khoirul. Mereka terlalu lelah untuk sekedar berdebat. Khoirul bahkan tidak mengomentari apa yang dilakukan istrinya. Sejujurnya dia sudah ingin memperkenalkan Khadijah pada semua orang termasuk kenalan dosennya yang sudah menikah.
Khoirul yang terkenal dingin ingin punya image lain. Dia ingin semua orang tahu bahwa dia bisa punya istri juga, tapi apa buat. Dia tetap akan mempertahankan hubungan diam-diam tersebut.
°°°
Siang hari yang sangat terik. Khadijah menyapu keringatnya yang membanjiri tubuhnya. Setengah lelah dia melewati lorong gedung. Dia sudah menyelesaikan kelas dan berniat untuk makan di kantin sebentar sebelum pulang.
Lagi-lagi dia sendirian. Raisa entah pergi kemana. Belum sempat dia memesan makanan, seseorang menepuk bahunya.
"Hai," sapa Miranti ramah. Dia juga menyapa ibu-ibu penjual.
Duh, mau apa sih? Batin Khadijah.
"Hai, Bu. Mau makan juga?"
"Nggak. Saya hanya ingin bertanya sama kamu. Semalam kamu kemana?" selidik Miranti.
"Main sama Raisa, Bu. Kenapa? Ibu datang ke rumah saya?" tanya Khadijah berpura-pura tidak tahu apa yang dimaksud Miranti.
Miranti mengerutkan keningnya, "Bukan begitu. Saya sepertinya melihat kamu di pesta."
Kini Khadijah yang memasang wajah bingung, "Pesta apa, Bu?"
"Pesta pernikahan Miss Tiara. Saya yakin melihat kamu di sana. Benar kan?"
Khadijah tersenyum geli, "Ibu ada-ada saja. Saya saja nggak dapat undangan dari Miss Tiara. Lagi pula yang diundang pasti para dosen. Saya cuma mahasiswi yang kebetulan tidak satu jurusan dengan beliau. Seratus persen ibu salah orang."
"Masa sih? Tapi benar juga. Kamu kan bukan orang dewasa. Harusnya aku percaya pada Khoirul," gumam Miranti.
"Memangnya Pak Khoirul bilang apa, Bu?"
"Ya nggak mungkin kamu ikut."
Khadijah mengangguk mengerti, "Saya makan dulu ya?"
__ADS_1
Miranti pamit pergi ketika melihat Khadijah menerima piring berisi makanan yang dipesan dari penjual. Khadijah duduk dengan muka yang masih tegang. Beruntung dia bisa memutarbalikkan fakta, kalau tidak penyamarannya akan terbongkar.
°°°
Beberapa hari kemudian ...
Khadijah dikejutkan dengan kehadiran Marwah di rumahnya. Mama mertuanya tiba-tiba memintanya untuk bersiap.
"Untuk apa, Ma?" tanya Khadijah bingung.
"Ikut saja! Jangan banyak tanya," ketus Marwah.
Khadijah tidak membantah lagi. Dia naik ke kamarnya, mengganti pakaiannya dengan lebih santai seperti biasa -tshirt dan celana pendek- lalu mengambil tas selempangnya.
"Apa-apaan ini?" teriak Marwah ketika melihat penampilan Khadijah. Apa menantunya tidak bisa mengerti bahwa dia harus menyamakan penampilan dengan mertuanya?
"Kenapa, Ma?"
"Khoirul nggak membelikan kamu dress? Ini pakaian apa? Anak SMA? Ganti! Pakai dress saja," titah Marwah.
Khadijah memutar bola matanya, kesal, "Ma, Dijah ini terbiasa pakai pakaian begini. Nggak nyaman kalau pakai dress."
"Bisa nggak kamu jangan banyak membantah?"
"Aku hanya mengutarakan pendapatku, Ma," elak Khadijah.
Marwah naik ke kamar Khadijah, sebelum membuka almari kaca tersebut, dia lebih dulu melihat-lihat keadaan kamar yang rapi namun tidak terlalu bersih. Lalu petuah dan perintah terdengar menyiksa mulai berkumandang.
Tiga puluh menit kemudian, barulah mereka selesai. Khadijah menarik kerah dress-nya dengan kesal. Kenapa juga dia harus mengikuti semua aturan dari Marwah? Hidupnya bukan sekedar mengikuti kemauan orang lain apalagi mertua yang tidak suka padanya.
Marwah meminta supir untuk segera berangkat karena mereka sudah terlambat. "Gara-gara kamu."
Gara-gara kamulah, balas Khadijah dalam hati.
Kendaraan roda empat itu melaju ke arah jalan raya. Tidak perlu mendeskripsikan terlalu banyak karena setiap jalanan di siang hari selalu ramai. Masih beruntung mereka tidak terkena macet.
Kendaraan baru berhenti di depan sebuah hotel bintang lima yang dulu pernah Khadijah datangi bersama Khoirul. Wanita itu menerka apa yang akan dilakukan Marwah di sana. Pesta? Bukan. Pakaian mereka terlalu santai. Makan siang? Sama siapa? Kejutan kah? Apa jangan-jangan Khoirul juga ada di sana bersama Papanya?
Membayangkan mama mertuanya telah berubah menjadi mertua baik hati membuat Khadijah senang. Tapi dugaannya seratus persen meleset. Mereka mendatangi salah satu pusat menicure pedicure dan juga pijat relaksasi untuk wanita.
"Mama mau ke sini?" tanya Khadijah bingung. Lalu kenapa dia harus pakai dress?
"Kenapa? Belum pernah?" sindir Marwah. Dia sudah membuat janji untuk pijat relaksasi dan juga menicure pedicure yang harganya puluhan juta rupiah.
"Kenapa harus pakai pakaian begini sih?" tanya Khadijah.
__ADS_1
"Biar kamu nggak terlihat kampungan. Oh, ya, tolong jangan panggil mama. Panggil Tante saja. Saya nggak suka orang lain tahu kamu ini siapa."
Kenapa aku dibawa ke sini kalau emang mama nggak mau mengakuiku? Pergi sendiri saja kan bisa. Dasar ibu-ibu tua, batin Khadijah.
Seseorang mendatangi mereka, "Semuanya ikut pijat, Bu?"
"Tidak! Hanya saya. Dia hanya menunggu saja," ketus Marwah.
Hah? Khadijah sukses melongo. Dia jadi obat nyamuk? Sial!
Marwah tersenyum miring sebelum dia masuk ke dalam. Sementara Khadijah digiring untuk duduk di bagian depan khusus tamu. Dalam hati dia terus mengumpat. Kalau tahu begini, dia tidak akan ikut. Dia tahu pijat relaksasi itu berapa jam, belum lagi menicure pedicure.
Muka ditekuk wanita itu tidak bisa disembunyikan. Dia mendelik pada setiap orang yang menyapanya. Dongkol rasanya kalau dipermainkan. Tapi bukan Khadijah kalau dia hanya diam. Dia bangkit ke bagian pendaftaran lalu menginformasikan bahwa dia ingin dipijat.
"Tagihannya berapa, Mbak?" tanya Khadijah penasaran.
"Tiga puluh juta, Bu."
Bola mata wanita itu langsung membulat. Mahal sekali. Tapi Khadijah tetap pada keinginannya untuk menaklukkan wanita yang melahirkan suaminya. "Biar mama mertua saya yang membayar tagihannya, Mbak. Nanti minta bill sama dia saja ya? Saya harus kemana ini?"
Meskipun bingung wanita itu mengantarkan Khadijah ke ruang ganti. Kalaupun Marwah menolak membayar, dia bawa kartu hitam Khoirul. Isinya jauh lebih dari cukup untuk membayar pijatannya.
Ketika Khadijah masuk, Marwah protes, "Kenapa kamu ada di sini?"
"Mama mertua yang baik, terimakasih ya traktirannya. Berkat mama, menantumu ini bisa menikmati pijat relaksasi mahal. Oh, ya, sekalian saja bayar untuk menicure pedicure Dijah ya, Ma? Terimakasih," ucap Khadijah sumringah yang dibuat-buat. Volume bicaranya yang keras membuat para wanita yang sibuk dengan pekerjaannya terkekeh geli tanpa suara.
°°°
"Kenapa kamu senyum-senyum begitu? Habis dari mana?" tanya Khoirul ketika melihat istrinya pulang dengan senyum lebarnya.
Khadijah menggerakkan tubuhnya dengan nyaman, "Dari tempat pijat. Ditraktir mama."
"Yakin ditraktir?"
Khadijah mengulum senyum misterius, "Terpaksa." Kalau dia ingat apa yang dia lakukan ketika Marwah menolak membayar tagihannya, dia bisa tertawa semalaman. Muka Marwah tidak lagi seperti mertua yang bisa seenaknya dengan menantunya.
"Kamu apakan mama sih? Saya jadi penasaran," cerca Khoirul.
"Rahasia."
"Dijah!"
Khadijah hanya tertawa kecil sembari naik ke kamarnya. Ah, senangnya hari ini. Ternyata memanjakan diri untuk nikmat.
"Oh, ya, Pak. Bapak mau pijat?" teriak Khadijah dari pintu kamar mereka.
__ADS_1
°°°