
Selamat?
Khoirul menatap sang dokter dengan ekspresi heran, "Selamat untuk apa ya, Dok?"
"Istri anda positif hamil. Baru awal trimester pertama. Sebaiknya jangan sering bepergian karena kondisi istri anda tidak terlalu fit. Untuk saat ini, saya akan meresepkan vitamin untuk penguat kandungan dan juga obat untuk mual," jelas dokter.
Apakah ini nyata? Khoirul terdiam cukup lama hingga dia tidak mengindahkan sapaan suster yang akan memeriksa kondisi Khadijah. Dia terpaku di tempat bak patung selamat datang. Dia baru beralih dari sana ketika Khadijah memanggil.
"Pak," gumam Khadijah. Manik matanya sudah berkaca-kaca, pertanda bahwa dia juga memiliki rasa campur aduk seperti Khoirul.
Khoirul memeluknya, mengucapkan syukur berkali-kali. Dia melepaskan pelukannya ketika Khadijah mengerang, "Mana yang sakit? Perutnya sakit? Saya panggil dokter ya?"
Wanita di depannya harus menarik baju Khoirul agar dia tersadar dari apa yang dia khawatirkan. Khadijah menggeleng, "Saya baik-baik saja, Pak."
"Yakin kamu?"
"Yakin, Pak."
Khoirul menghela napas lega, "Syukurlah."
Kinan mengintip dari luar pintu. Sejak tadi dia di sana untuk mencari tahu apa yang terjadi, tidak berani bergerak. Dia sebenarnya takut kalau masuk tiba-tiba, kakaknya akan marah dan mengusirnya. Semua ini karena insiden yang berulangkali terjadi padanya.
"Selamat, Sayang. Kamu berhasil menjadi istri yang sempurna," ucap Khoirul lembut. Manisnya ucapan itu membuat Khadijah sedikit gugup. Apa yang akan dia lakukan dengan kuliahnya? Lalu apa akan ada banyak perubahan ketika dia mengalami masa-masa kehamilan pada trimester ketiga?
Apa Khoirul akan tetap menyukainya? Secara tidak langsung fisiknya akan berubah. Apakah suaminya akan tetap menyisihkan sikap manisnya untuk Khadijah?
Khadijah meragu. Semu pria pasti akan berubah ketika seorang istri sedang hamil. Kalau perubahan itu ke arah positif, Khadijah tentu akan senang. Bagaimana kalau dia ditinggalkan? Misalnya selingkuh dengan para wanita cantik di luar sana? Contohnya Miranti yang gencar mendekati suaminya.
Duh, pusing, batin Khadijah.
Khoirul mengusap perlahan dahi Khadijah yang mengerut, "Apa yang kamu pikirkan?"
"Bapak tahu kalau saya sedang berpikir?"
"Tentu saja. Muka kamu itu kentara sekali," gerutu Khoirul. Padahal suasana hatinya sedang baik, "kamu harus banyak membaca buku mengenai kehamilan. Sangat tidak dianjurkan untuk banyak berpikir. Cukup buat kamu nyaman dan bahagia itu kuncinya. Kalau yang lain, singkirkan saja."
Khadijah tersenyum misterius, "Jadi, skripsi saya bapak yang mengerjakan ya?"
"Boleh."
__ADS_1
"Boleh?" ulang Khadijah.
Khoirul mengangguk, "Boleh, tapi yang paling banyak mengerjakan harus kamu. Saya hanya membantu sedikit-sedikit."
Wanita yang berusaha untuk merayu suaminya itu merengut, "Ngomong aja pelit, Pak."
"Bagaimana kalau kita nggak perlu bahas masalah skripsi? Kita bahas saja kehamilan kamu. Apa yang kamu rasakan? Ternyata keengganan kamu untuk makan, ini sebabnya?" tanya Khoirul sembari mengelus perut Khadijah. Dia juga menempelkan telinganya di perut Khadijah, "sayangku, calon anakku tersayang, jangan rewel-rewel ya? Nanti mama kamu sakit lagi. Makan yang banyak ya?"
Khadijah tidak tahu harus bereaksi apa. Dia hanya melihat sikap Khoirul yang tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat, menjadi manis dan berkharisma.
Ya Tuhan, apa aku mulai menyukai suamiku? Tapi kalau tidak suka kenapa aku bisa hamil anaknya? Ya Tuhan, apa yang aku rasakan ini? Cinta? Sayang? Harusnya aku mulai memanggilnya sayang atau Mas, tapi aku malu, batin Khadijah.
Khoirul menatap Khadijah dengan senyum dikulumnya, "Terimakasih, Sayang. Kamu hebat."
"Ini belum apa-apa, Mas," ucap Khadijah.
"Mas? Kamu memanggil aku apa, Dijah?" ulang Khoirul terkejut.
"Mas Khoirul. Bukannya bapak, eh, Mas, suka kalau dipanggil begitu?" Khadijah membuang muka karena malu. Khoirul menarik dagunya untuk melihat langsung padanya, "ada apa?"
"Terimakasih," ucap Khoirul lagi.
"Panggil Pak saja juga nggak apa-apa, Dijah. Lebih terkesan istimewa. Kalau kamu mau panggil Mas juga nggak masalah. Apapun yang kamu suka, saya akan mendukung kamu. Tapi kalau di ranjang..," potong Khoirul dengan suara yang lebih kecil, "panggil Sayang saja biar lebih romantis."
"Bapak ini suka asal. Kalau hamil mana boleh begituan?" tuduh Khadijah.
"Boleh. Nanti saya tanyakan dokter."
"Terserahlah."
Tok tok tok!
Dua orang itu menoleh bersamaan. Di balik pintu, Kinan menyunggingkan senyum lebarnya. "Hai, Kakak-kakak semua, maaf mengganggu, tapi apa boleh aku masuk sekarang?"
Khadijah menoleh pada Khoirul, "Bapak melarangnya masuk?"
"Nggak. Dia yang merasa bersalah sendiri," ketus Khoirul, nada bicaranya sudah berubah tajam kembali. Dia menoleh pada adiknya, "masuk!"
"Terimakasih, Kak," ucap Kinan kemudian. Dia masuk dengan perasaan campur aduk, takut jika Khoirul menanyakan hal yang tidak terduga.
__ADS_1
"Kamu benar-benar tidak tahu motor siapa yang tiba-tiba menyela kalian?" tanya Khoirul.
Kinan menggeleng, dia terlalu panik untuk menginterogasi orang-orang. Dia bahkan belum meminta maaf secara sungguh-sungguh dan pribadi pada pemilik mobil di depannya. Khoirul yang mengurus semuanya sebelum datang ke rumah sakit, jadi mungkin setelah ini dia akan mendatangi kamar korban lainnya.
"Biar kakak yang urus. Kamu temani kak Dijah dulu," ucap Khoirul. Dia meminta ijin pada Khadijah untuk pergi sebentar.
"Hati-hati, Mas," kata Khadijah.
"Tentu."
°°°
Satu jam kemudian ...
Disaat Khadijah dan Kinan sedang bercerita panjang lebar mengenai kehamilan Khadijah, Khoirul datang dengan mimik muka yang di luar harapan semua orang. Rahangnya mengeras, matanya menusuk tajam pada dua wanita itu terutama Kinan.
Khoirul menghampiri Kinan, "Jelaskan kenapa kamu masih berhubungan dengan orang brengsek itu?"
"Siapa yang kakak maksud?" tanya Kinan bingung.
"Siapa lagi kalau bukan Angga. Ingat?"
"Angga? Kenapa bisa disangkutpautkan dengan dia?" Kinan melihat Khadijah dengan muka seakan menyiratkan bahwa dia pernah bercerita mengenai mantan toxicnya. Ternyata Angga adalah mantan toxic yang mengganggunya setiap hari. Kenapa bisa?
"Tadi kakak bicara sama pengemudi motor yang menyalip kamu, katanya dia hanya disuruh oleh orang yang namanya Angga lewat telepon. Bukan hanya sekali tapi sudah berulangkali. Apa kamu nggak menyadarinya?" hardik Khoirul. Napasnya memburu, membayangkan betapa kejamnya pria bernama Angga itu. Dia sudah mengetahui bagaimana kelakuan pria itu sejak bertemu pertama kalinya, wajah Angga menyiratkan semuanya.
Khoirul juga sudah mewanti-wanti adiknya untuk berhati-hati dan memutuskan hubungan dengan Angga, tapi Kinan terlalu keras kepala. Kinan mudah dipengaruhi dan membuat para pria itu berani memperlakukannya dengan buruk.
Kinan berpikir. Maksudnya sudah berkali-kali? Jadi waktu di depan gedung pusat perbelanjaan juga ulah Angga?
Khadijah yang sudah mulai memahami apa yang mereka bicarakan, menyela suaminya, "Jangan terlalu keras, Pak! Kinan juga nggak tahu kalau semua itu perbuatan mantan pacarnya."
"Jangan ikut campur, Dijah! Saya nggak mau kamu membela Kinan. Nanti dia bisa seenaknya. Sudah saya peringatkan tapi dia masih ngenyel juga. Kalau sudah begini gimana? Dia juga yang repot. Kalau dia bisa mendengar ucapan saya dulu, dia nggak akan kena imbasnya begitu juga dengan kamu. Kamu nggak akan masuk rumah sakit!" hardik Khoirul. Merahnya mukanya mampu membuat Kinan tidak berkutik.
Tapi bukan Khadijah kalau dia hanya diam ketika Khoirul membentaknya. "Pak Khoirul yang terhormat, kenapa bapak jadi bentak-bentak saya? Emang salah saya apa? Katanya saya nggak boleh banyak berpikir tapi bapak malah membuat saya emosi. Kalau marah, bisa nggak tahu tempat? Ini rumah sakit! Lagian Kinan juga nggak salah. Kalau mau menyalahkan, salahkan saya saja. Saya siap bertanggung."
Bak dicucuk hidungnya, Khoirul terdiam. Dia tidak berani melawan istrinya.
°°°
__ADS_1