
Khoirul menggaruk tengkuknya dengan malu, "Em, saya mau bubur ayam, Bu. Sudah dibuat belum ya?"
Henny yang belum sepenuhnya sadar akan keterkejutannya, hanya mengangguk pelan.
"Saya mau pesan satu untuk dibawa pulang. Paket komplit, Bu," ucap Khoirul.
Lagi-lagi Henny mengangguk linglung. Dia masuk ke dalam rumah, tapi dia sadar telah melupakan sesuatu. Dia kembali ke luar menemui Khoirul. "Silahkan duduk, Pak. Saya hampir lupa."
"Terimakasih, Bu."
Khoirul melihat rumah sederhana yang dihuni oleh Henny. Tidak besar namun cukup nyaman untuk ditinggali. Terlebih ada tanaman di depan rumah yang membuat suasana rumah menjadi lebih hidup.
Andai saja dia tidak menanyakan alamat Henny, mungkin dia tidak akan pernah sampai di sana. Khoirul menelepon Samsul untuk bertanya, tapi dia malah ditertawakan karena menurut pada istri.
"Suami takut istri?" sindir Samsul dengan tawanya yang menyebalkan.
"Aku bukannya takut istri, tapi Dijah sedang mengidam. Jadi aku perlu menenangkan rasa keinginannya itu. Jawab saja kalau kamu tahu. Jangan bawel," keluh Khoirul. Dia tidak punya banyak waktu.
"Pasti tahu. Sebentar, aku kirim alamatnya," ucap Samsul yang kemudian menutup panggilannya.
Khoirul harus mencari tempat tinggal sejauh itu hanya demi bubur ayam. Awas saja kalau Khadijah masih sibuk berkomentar tentang tindakannya.
Sepuluh menit kemudian, Henny datang dengan satu kantong plastik yang di dalamnya terdapat bubur ayam komplit buatannya. Dia memberikannya pada Khoirul. "Ini, Pak."
"Berapa, Bu?" tanya Khoirul.
"Untuk mbak Khadijah ya, Pak?"
Khoirul mengangguk, "Benar, Bu."
"Jadi hebat Mbak Khadijah sedang hamil? Saya sampai terkejut mendengar berita kalau ternyata bapak adalah suami mbak Khadijah. Kok bisa bertemu? Bertemu di mana?"
Khoirul merasa tidak perlu menjawab. Tapi setelah dipikirkan tidak masalah kalau dia bercerita. Dari mulut Henny akan menjalar ke mulut yang lain. Dengan begitu gosip tentang Khadijah akan semakin mereda.
"Dari ... sebentar ya, Bu. Ada telepon," ucap Khoirul. Dari Khadijah. Wanita itu memintanya untuk segera pulang. Dengan berat hati, Khoirul tidak melanjutkan ucapannya.
°°°
"Kenyang, Pak," ucap Khadijah. Dia menyingkirkan bubur ayam itu dari hadapannya sembari memandang suaminya.
"Kamu hanya makan tiga suap saja, Dijah. Yakin sudah?" tanya Khoirul tidak percaya. Kesusahannya tidak berarti untuk Khadijah. Paling tidak harusnya habis separuh lebih.
__ADS_1
Khadijah mengangguk cepat, "Yakin, Pak. Saya sudah merasakannya jadi ngidam saya sudah terpuaskan."
"Lalu siapa yang menghabiskan ini?"
Khadijah hanya menatap suaminya dengan senyum miring. Khoirul sudah tahu kalau dia yang akan menjadi sasaran empuk Khadijah. Tidak masalah. Yang terpenting Khadijah tidak mengomel.
"Saya boleh ke kampus kan, Pak?" tanya Khadijah disela-sela kunyahan Khoirul.
Khoirul menggeleng, "Dua hari lagi. Kamu tinggal di rumah saja sementara waktu. Jangan terima tamu dari kampus termasuk Fattan. Ingat? Fattan dan Richard."
"Iya," gumam Khadijah malas.
"Saya nggak dengar."
"Iya, Pak Khoirul," jawab Khadijah dengan suara lantang.
"Anak pintar."
"Saya istri, Pak, bukan anak," koreksi Khadijah.
"Baiklah kalau begitu. Istri saya yang pintar."
°°°
Tidak ada yang spesial dari hari-hari Khadijah ketika dia berdiam diri di rumah. Yang dia lakukan hanya mencari bukti kekejaman dari gosip yang beredar. Tapi dia tidak ingin membacanya lebih lanjut lagi. Hatinya sakit bukan main.
Khadijah membanting ponselnya di atas ranjang. Dia ingin tidur saja selagi menunggu Khoirul pulang. Jendela balkon terbuka. Angin panas masuk ke dalam kamarnya. Dia bangkit untuk menutupnya.
Pandangannya teralihkan pada seseorang yang membuat keributan di bawah sana. Khadijah kesulitan melihat karena orang tersebut bersitegang dengan satpam rumah. Baru-baru ini Khoirul mempekerjakan beberapa orang untuk menjaga rumahnya dari gangguan orang-orang.
Khadijah penasaran. Siapa yang berbuat onar di rumah dosen? Di balik punggung itu, dia akhirnya bisa melihat wajah Fattan.
"Ngapain dia ke sini?" gumam Khadijah seorang diri. Wanita itu ingat pesan Khoirul untuk tidak membuka pintu bagi anak-anak kampus, tapi Khadijah tidak pernah menurut pada peringatan suaminya.
Dengan langkah bergegas, Khadijah turun dari kamarnya. Dia tidak peduli dengan peringatan Bik Sani untuk tidak keluar dari rumah. Dia membuka pintu depan dan mendengar suara gaduh yang semakin jelas.
Khadijah melangkah ke pagar, membukanya dengan sentakan keras. "Stop!"
Tiga orang itu menoleh. Fattan menghentakkan tangannya dari cengkraman satpam itu. Lalu dia menghampiri Khadijah.
"Bisa kita bicara?" pinta Fattan.
__ADS_1
Khadijah tidak memikirkan akibat yang dia timbulkan. Dia mengangguk tanpa berpikir, kemudian mendahului langkahnya. Fattan memburunya dan terduduk lemas ketika melihat foto pernikahan Khadijah dan Khoirul yang terpajang di dinding ruang tamu.
"Kenapa kamu nggak bicara dari awal?" desak Fattan. Semburat kekesalan itu tidak bisa dimusnahkan karena dia kesal dengan kebohongan Khadijah. Dia sudah lama mengincar Khadijah, mendekati wanita itu dengan susah payah. Bahkan dia dicap sebagai pria tidak tahu malu.
Semua itu dia lakukan demi cinta Khadijah. Tapi apa yang dia dapatkan? Gosip yang mengatakan bahwa Khadijah hamil di luar pernikahan, lalu pengakuan dosen killer yang menyentak hatinya.
"Aku nggak merasa perlu bicara sama kamu atau sama orang lain. Bagiku kehidupanku jauh lebih penting dari pada omongan orang lain," tandas Khadijah. Lidahnya benar-benar hebat jika harus berbohong. Padahal dia malu mengakui bahwa dia telah menikah dengan dosennya sendiri.
"Oh, jadi selagi kamu memegang prinsip itu, kamu menertawakanku?"
"Siapa yang menertawakan kamu? Bukannya aku sudah menolak kamu, Fattan? Kamu sendiri yang nggak mau pergi. Jadi bukan salahku," tukas Khadijah.
Fattan mendesis, "Tentu saja bukan salah kamu tapi salahku. Aku yang bodoh." Dia bangkit dengan tatapan menusuk tajam. Sejatinya dia tidak terima dibohongi.
"Maaf," ucap Khadijah akhirnya. Dia tidak mau menyebabkan masalah lain lagi.
"Sorry, Dijah. Permintaan maaf kamu nggak berguna," ucap Fattan. Dia melangkah pergi tanpa pamit. Masih bagus dia tidak melakukan tindakan buruk. Kalau sampai dia terbawa suasana dan mengacau di rumah Khoirul, Khadijah tidak akan tahu harus bagaimana.
°°°
"Bukannya saya udah bilang jangan menerima tamu dari anak-anak kampus? Kenapa kamu melanggarnya? Saya nggak paham lagi apa yang harus saya lakukan agar kamu mau mendengarkan saya," keluh Khoirul. Makanan yang dia beli tersingkirkan ketika Bik Sani menceritakan tentang keributan yang terjadi sore tadi.
"Kamu masih mau mengomel, Pak? Saya lapar ini, menunggu bapak pulang dari tadi," sahut Khadijah tidak ambil pusing.
Khoirul tidak tega melihat istrinya kelaparan. Dia akhirnya mengalah dengan tidak mendumel lebih lama lagi. Ditatanya piring di atas meja makan, lalu dia menaruh makanan yang dia bawa tadi. Ayam kremes dengan sambal terasi beserta lalapan. Khadijah memang tidak memintanya tapi dia yang berinisiatif membelinya. Siapa tahu Khadijah mau menerima makanan itu.
"Terimakasih, Mas," goda Khadijah sembari tersenyum geli.
Khoirul duduk di sampingnya, melihat Istrinya makan. Sesekali dia melepas tulang-tulang ayam itu dari tempatnya agar Khadijah tidak kesulitan mengunyah.
"Pak, saya butuh liburan. Hari weekend besok, kita jalan-jalan ya?" pinta Khadijah tiba-tiba.
°°°
Tidak ada waktu untuk liburan karena Khoirul sibuk dalam beberapa hari ke depan. Di rumah pun dia sibuk mengetik sesuatu dalam laptopnya. Khadijah hampir teracuhkan tapi berkat ide Raisa, dia memiliki niat untuk menggoyahkan tujuan Khoirul.
"Pak, lihat saya!" pinta Khadijah dengan suara mendayu.
Khoirul mendongak, bola matanya mendelik, "Astaga, Dijah. Apa-apaan ini?"
°°°
__ADS_1