
"Begini Pak Khoirul, saya ingin meluruskan masalah yang terjadi akhir-akhir ini. Saya tahu bagaimana anda karena anda telah bergabung di universitas ini tidak hanya satu dua tahun saja. Saya berharap masalah ini tidak berlarut-larut karena menyangkut kredibilitas universitas," jelas Hari, dekan universitas dengan bahasa santun dan tepat sasaran. Pria paruh baya itu menghormati Khoirul sebagai dosen yang cermat dan teliti. Tanggung jawabnya sebagai dosen juga tidak main-main.
Khoirul menggenggam jemari Khadijah di sela-sela kursi yang mereka duduki. Dia ingin memberikan perlindungan bagi istrinya. Permasalahan ini melebar di luar perkiraannya. Dia awalnya hanya menganggap enteng, tapi pemikiran manusia lain tidak semudah itu. Mereka hanya ingin melihat dirinya dan Khadijah tidak beruntung dalam sebuah hubungan.
"Saya ingin menjelaskan bahwa hubungan saya dan Khadijah murni perjodohan dari keluarga, bisa dibilang saya yang lebih dulu memulai hubungan dengan Khadijah. Saya baru mengenalnya dua tahun belakangan ini dan tidak pernah bermain belakang tentang masuknya Khadijah ke dalam universitas. Kalau saya melakukan kecurangan, saya tidak mungkin membiarkan Khadijah lulus terlambat bukan, Pak? Saya sebagai dosen selalu bersikap netral. Baik Khadijah atau siapapun yang melanggar kelas saya, saya akan memberikan sanksi," ucap Khoirul angkat bicara.
"Saya mengerti, Pak. Anda salah satu dosen yang saya sukai dan saya sudah berniat mencalonkan anda menjadi rektor. Tapi gara-gara masalah ini, mohon maaf, saya harus mengurungkan niat saya ini untuk sementara waktu," jelas Hari. Dia mengusap lengannya dengan gusar, "dengan berat hati, saya akan memberikan sanksi pada Pak Khoirul. Skorsing mengajar selama tiga bulan."
"Jangan, Pak!" cegah Khadijah tanpa takut dirinya telah salah bicara.
"Khadijah, diamlah!" desis Khoirul.
Tidak akan! Khadijah tidak akan pernah diam sebelum dia mendapat apa yang dia mau.
"Saya yang akan bertanggungjawab penuh atas masalah ini, Pak Hari. Saya akan menyelesaikan skripsi saya di rumah. Saya harap Pak Khoirul tidak terkena imbasnya. Saya yang bersalah atas masalah ini dan saya akan memperbaikinya," jelas Khadijah. Dia sudah berpikir matang-matang, masalah dikeluarkan dari kampus tidak akan dia pikirkan. Toh, lulus atau tidak, dia masih menjadi istri Khoirul.
Khoirul tidak terima dengan keputusan Khadijah. Dia hendak menolak, tapi dia bungkam ketika Hari memutuskan.
"Saya sudah putuskan jika masalah ini selesai jika Khadijah mau menyelesaikan skripsi di rumah saja. Saya berjanji akan membuat keputusan paling adil untuk masalah sidang akhir. Sidang akhir tidak akan saya hubungkan dengan masalah ini. Jadi? Keputusan telah selesai diambil. Kalian bisa pergi," ucap Hari. Dia lega karena tidak perlu memberikan hukuman pada Khoirul. Lebih baik kehilangan mahasiswi yang tidak berprestasi dari pada kehilangan dosen yang predikatnya jauh di atas rata-rata.
°°°
"Kamu apa-apaan, Dijah? Siapa yang menyuruh kamu membuat keputusan begitu?" sentak Khoirul ketika mereka keluar dari ruang dekan dan berhenti tidak jauh dari sana.
Khadijah berusaha tersenyum bijak. "Nggak apa-apa, Pak. Lagi pula saya sudah malas pergi ke kampus. Kalau bapak kan masih punya banyak kesempatan untuk naik jabatan. Kalau saya? Boro-boro naik jabatan. Bisa lulus saja saya bersyukur."
"Khadijah," gumam Khoirul geram. Dia mengacak-acak rambutnya karena frustasi. "Kenapa kamu pesimis begitu?"
"Bukan pesimis tapi realistis. Saya mau jadi ibu rumah tangga saja, Pak," ucap Khadijah. Dia menyunggingkan senyum lebarnya, menenangkan hati suaminya.
"Kita pulang," putus Khoirul.
__ADS_1
"Iya, Pak."
°°°
Mulut bisa mengingkari isi hati tapi perasaan tidak bisa dibohongi. Khadijah selalu ceria di depan Khoirul tapi ketika dia hanya sendiri, dia tidak bisa menahan air matanya tumpah.
Begitu juga disaat Raisa menghubunginya, wanita itu langsung mencurahkan semua isi hatinya. Khadijah yang dulu tidak mau tahu apa itu sakit hati, mendadak berubah. Dia tidak segan-segan menceritakan pada sahabatnya bahwa membangun rumah tangga tidak seindah khayalan.
"Sabarlah, Dijah. Proses tersulit dalam hidup kamu baru saja dimulai. Aku yakin, Tuhan nggak akan sejahat itu sama kamu," ucap Raisa.
"Benarkah?"
"Benar. Anggap saja kamu diminta untuk lebih perhatian sama suami kamu."
Raisa benar. Khadijah hanya perlu bersabar apalagi kehamilannya harus benar-benar dijaga.
°°°
Semalaman Khoirul meringkas materi-materi itu dan esok paginya dia meminta khadijah untuk membacanya. Pria itu tidak menuntut tapi dia menegaskan bahwa semua keberhasilan akan melalui proses yang panjang.
°°°
"Mas, aku lelah," keluh Khadijah. Untuk pertama kalinya dia menggunakan panggilan yang lebih santai dari pada 'saya' yang terkesan bukan siapa-siapa.
"Mana yang sakit? Biar aku pijit," ucap Khoirul.
"Semuanya." Cengiran wanita itu membuat Khoirul gemas bukan main.
"Sini, Sayang," tukas Khoirul.
Begitulah ketika khadijah sedang ingin bermanja-manja dengan suaminya, dia tidak akan segan-segan meminta. Sebaliknya pun sama. Khoirul juga sering merajuk hanya untuk mendapat kecupan mesra istrinya.
__ADS_1
°°°
Suatu hari ...
Media televisi tiba-tiba menyebutkan nama Khoirul sebagai putra konglomerat yang berhasil memasuki dunia saham dengan keuntungan lebih dari dua milyar dalam satu bulan. Pria itu tampaknya belum tahu apa-apa mengenai saham yang dia tanamkan di perusahaan internasional beberapa bulan yang lalu karena ketika media menggembar-gemborkan namanya, dia hanya acuh.
Kecuali Miranti yang juga sebagai peminat bisnis. Wanita itu mendatangi Khoirul di ruangannya untuk bertanya apa kiat-kiat dari seorang pemain saham sukses.
"Maksud kamu?" tanya Khoirul bingung.
"Oh astaga, anak ini. Sebentar! Aku cari artikelnya dulu," ucap Miranti. Dia mencari-cari artikel online yang dia baca beberapa waktu lalu. Dia saja sampai terkejut ternyata Khoirul tidak hanya fokus mengajar, tapi juga mencakup bisnis yang lain.
Setelah menemukan apa yang dia cari, Miranti memberikan benda itu pada Khoirul. Khoirul membacanya dengan cepat. Betapa terkejutnya pria itu melihat namanya benar-benar masuk dalam jajaran seratus besar penanam saham di dunia.
"Benarkan apa kataku?" tanya Miranti bangga. Dia sudah menangis raung-raung ketika mendengar kabar pernikahan Khoirul tapi dia tidak akan menyerah. Hubungan yang dilandasi kebohongan tidak akan berlangsung lama, begitu pikirnya.
"Terimakasih," ucap Khoirul. Dia membereskan peralatan mengajarnya dan bergegas untuk pulang tanpa menghiraukan Miranti.
"Astaga, Khoirul!" teriak Miranti kesal.
°°°
Khoirul pulang dengan cengiran lebarnya. Melihat istrinya yang sedang mengupas buah, tak urung membuat pria itu berlari dengan langkah riang. Lalu pelukan itu datang setelahnya.
"Sayang, aku berhasil."
°°°
"Seorang putra konglomerat yang baru-baru ini sedang menjadi trending topik di semua media, ternyata mendapat kabar miring...,"
°°°
__ADS_1