BACKSTREET YUK, PAK DOSEN!

BACKSTREET YUK, PAK DOSEN!
Bab 50 - Bukannya Itu Kinan?


__ADS_3

Bukan sebuah kebetulan dibalik pertemuan antara Miranti dan Khoirul. Pasalnya Miranti sengaja pindah ke kota dimana Khoirul berada dari informasi yang dia dapatkan. Seorang teman sesama dosen bertemu dengan Khoirul, lalu teman tersebut tidak sengaja berbagi kisahnya dengan Miranti. Mereka sama-sama tidak setuju dengan pernikahan antara dosen dan mahasiswi atas dasar apapun itu. Jadi, tersenyumlah Miranti ketika dia bisa pindah tugas.


Miranti bukan orang sembarangan jadi dia bisa dengan mudah hengkang dari universitasnya yang lama.


Lalu, Miranti mengadakan pesta kecil-kecilan untuk menyambut kedatangannya. Khoirul mendapat undangan dan dipaksa ikut demi menjaga solidaritas antara dosen.


Foto yang terlihat oleh Khadijah adalah foto grup yang dikirim pada Khoirul dan sialnya Khadijah yang melihatnya lebih dulu.


"Mas, ini kenapa kok ada Bu Miranti di sini? Mas bertemu sama dia lagi?" tanya Khadijah dengan ekspresi kesal. Wanita itu tentu saja marah karena wajah Miranti seperti sedang mengejeknya apalagi dia dan Khoirul duduk berdampingan.


Ish, dasar wanita nggak tahu tata krama. Haram hukumnya mendekati pria yang bukan suaminya apalagi suami orang. Mau jadi pelakor? Sini hadapi Khadijah kalau mau main-main, batin Khadijah.


"Iya. Aku baru mau bicara tapi kamu sudah melihat foto itu duluan," ucap Khoirul santai.


"Yakin mau bicara, Mas? Apa mau umpet-umpetan?" sungut Khadijah.


"Duh, Dijah, kenapa sih kamu negatif thinking melulu? Buat aku gunanya apa kalau membohongi kamu? Jauh-jauh aku bawa kamu ke sini biar nggak menuduhku yang bukan-bukan. Tapi kamu malah memojokkanku," balas Khoirul. Nadanya memang rendah tapi tekanannya itu yang membuat Khadijah merasa tertohok. Dia terdiam. Kesempatan bagi Khoirul untuk kembali bicara, "aku nggak tahu kalau dia pindah ke universitas yang aku masuki. Tiba-tiba saja kami bertemu dan begitulah."


Berarti memang wanita itu yang mencari masalah, pikir Khadijah. Dia menghapus foto itu tanpa persetujuan Khoirul dan mengembalikan benda itu pada pemiliknya.


"Kalau dia macam-macam sama kamu, Mas, bilang sama aku. Aku akan hadapi dia!" tegas Khadijah. Kepalan tangannya memberi tanda bahwa dia serius dengan ucapannya.


Khoirul justru mengacak-acak rambut Khadijah, gemas. "Nah, gitu doang. Yang kamu salahkan jangan suamimu ini, Sayang. Tapi wanita itu. Begini juga aku tipe pria setia."


"Asal jangan setiap tikungan ada saja, Mas," canda Khadijah.


"Enak saja."


°°°


"Mas, pakai ini," paksa Khadijah. Dia menyemprotkan parfum miliknya agar wanita lain berpikir ulang untuk mendekati suaminya.


Khoirul mengangguk pasrah. Lagi pula parfum Khadijah juga tidak kalah harum dari parfum miliknya. Melihat istrinya super protektif, itu tandanya Khadijah sungguh-sungguh mencintainya.


"Sudah?" tanya Khoirul.


"Sudah, Mas. Silahkan berangkat." Khadijah menyunggingkan senyum lebarnya.

__ADS_1


"Kamu mau dibawakan sesuatu?"


"Burger, Mas."


"Tripel daging?" tanya Khoirul lagi. Apapun yang komposisinya banyak pasti Khadijah suka.


Khadijah mengangguk cepat, "Harus."


"Hati-hati di rumah ya? Jangan keluyuran! Uang bulanan kamu masih ada kan?"


"Mas, bukannya aku sudah bilang berulang kali sama kamu kalau aku jarang pakai uang dari kamu. Semua kebutuhan rumah kamu kan yang penuhi? Jadi untuk apa aku keluarkan uang lagi," jelas Khadijah.


Antara bersyukur atau tidak senang karena Khadijah lebih memilih untuk tidak memakai uangnya. Khoirul seperti suami yang tidak bertanggung jawab. "Tolonglah, Sayang! Pakailah uang itu untuk beli makanan atau barang-barang apapun yang kamu inginkan meskipun kamu nggak benar-benar butuh."


Baru kali ini ada pria yang memaksa seorang wanita untuk boros. Khadijah belum terbiasa menghamburkan banyak uang. "Nanti, Mas. Kalau aku butuh sesuatu pasti aku akan membelinya. Jangan paksa aku!"


"Baiklah."


°°°


Tidak ada yang spesial beberapa hari ini, malah terkesan membosankan. Khadijah menguap berulangkali, kakinya berselonjor ke sofa tapi kembali menekuk lagi. Dia mengeluh karena tidak ada pekerjaan.


"Khadijah, aku pulang," teriak Khoirul dari arah depan.


Khadijah segera bangkit dan memburu suaminya. Dia memeluk Khoirul sembari bercerita bahwa dia bosan di rumah. "Yuk, jalan-jalan, Mas."


"Menginap di hotel mau?"


Anggukan kepala Khadijah memperlihatkan bahwa dia tidak akan berpikir dua kali untuk mengiyakan. "Aku siap-siap dulu ya?"


"Tiga puluh menit ya?"


"Iya, Mas. Lima belas menit pun jadi," sahut Khadijah semangat. Dia bahkan belum mandi tapi besar mulut. Dia berjalan ke kamar, masuk kamar mandi dan keluar dalam sepuluh menit dengan pakaian lengkap. Lalu dia memasukkan dua setel pakaian untuk dirinya dan Khoirul. Selebihnya hanya peralatan make up dan alat mandi. Ketika Khoirul masuk ke dalam kamar, persiapan itu telah selesai.


"Yuk, Mas!" ucap Khadijah. Dia sudah menenteng tas, "kamu mau ngapain, Mas?"


"Mandi dulu," jawab Khoirul santai.

__ADS_1


"Loh, Mas, tadi ngapain aja sih? Katanya tiga puluh menit selesai. Kok malah aku nunggu kamu lagi. Duh, ngeselin sekali kamu, Mas," ketus Khadijah.


Khoirul menghampiri istrinya dan mencubit pipi Khadijah, "Ngambek lagi. Aku hanya bercanda. Nanti mandinya di hotel saja habis ehem ehem."


"Mas, ish, ngomongnya disaring dong," keluh Khadijah.


"Kenapa? Malu? Berulangkali sudah melakukan tapi kamu masih saja malu. Heran deh," ucap Khoirul. Dia mengapit lengan istrinya, "berangkat yuk! Ijin sama Bik Sani dulu biar nggak dicariin."


"Iya, Mas."


Begitu mereka meminta ijin, Bik Sani langsung bertepuk tangan. "Selamat membuat calon dede bayi. Kalau bisa pulangnya besok-besok saja, Tuan, Nyonya."


"Tenang, Bik. Kita buat selusin kalau perlu," canda Khoirul.


"Bik Sani sama Mas Khoirul klop kalau soal beginian."


Bik Sani tertawa kecil.


°°°


"Silahkan, Pak, ini kunci kamar nomor dua ratus dua. Kalau ada keluhan silakan hubungi customer service kami," ucap sang resepsionis. Wanita itu terang-terangan memandang Khoirul. Mungkin ketampanan Khoirul membuat dia silau.


"Terimakasih, Mbak." Khoirul membawa tas mereka sampai ke kamar. Di dalam ruangan besar itu, Khadijah lupa kalau dirinya seorang istri. Dia ingat pertama kali dia memberikan kehormatannya untuk Khoirul, dia terlihat tidak berpengalaman dan gugup. Wajar karena untuk pertama kalinya, Khadijah berhadapan dengan pria.


"Mas, aku ke bawah dulu ya? Mau cari makan," ucap Khadijah membiarkan suaminya menunggu ketidakpastian.


"Loh kok malah pergi. Aku gimana? Aku sudah siap, Dijah. Makannya nanti saja habis ehem ehem biar aku juga fresh kalau keluar kamar. Belum mandi loh suamimu ini," gerutu Khoirul.


"Jangan lama-lama ya, Mas? Nanti keburu habis makanannya," ucap Khadijah. Dia melepaskan apa yang dia kenakan lalu berjalan ke arah suaminya.


"Nggak akan habis. Kalau habis aku minta refill lagi," tukas Khoirul sembari menelan ludah. Pelukan dingin itu perlahan menghangatkan. Khoirul membawa istrinya masuk ke dalam keindahan yang tidak ada duanya.


°°°


Tiga puluh menit kemudian ...


"Mas, itu siapa? Sepertinya aku pernah melihatnya tapi tidak yakin," gumam Khadijah sembari menunjuk orang yang sedang duduk di lobby hotel.

__ADS_1


"Bukannya itu Kinan? Ngapain dia di tempat seperti ini?"


°°°


__ADS_2