
"Ampun, Pak," keluh Khadijah. Dia yakin telinganya pasti sudah memerah karena tekanan dari jari-jari Khoirul.
"Salah sendiri. Plester polos banyak kenapa pakai yang bermotif? Sengaja ya membuat saya malu di depan mahasiswa?"
"Ya biar imut, Pak. Muka bapak terlalu killer jadi biar ada efek-efek imut sedikit," elak Khadijah. Dia mencoba memberikan senyum seputih salju agar suaminya mau melepaskan tarikannya. Tidak sesakit itu memang, tapi dilihat oleh Bik Sani tentu saja membuatnya malu.
"Masuk kamar!"
"Nggak," tolak Khadijah. Jangan-jangan mereka akan menghabiskan waktu semalaman di atas ranjang. Oh tidak.
"Masuk kamar kata saya!" tegas Khoirul.
"Nggak, Pak."
"Mau saya jewer lagi di sini?"
Khadijah menggeleng cepat, "Ampun, Pak. Oke, oke, saya masuk kamar." Wanita itu berlari naik ke kamarnya, mengunci pintu sebanyak dua kali.
Khoirul membuntuti, pria itu mengetuk pintu berulangkali tapi dasarnya sifat Khadijah yang slengean, membuat emosi Khoirul semakin memuncak. "Saya hitung sampai tiga kalau nggak dibuka juga, awas kamu! Nilai kamu akan saya berikan D minus semua."
Di dalam sana, Khadijah mengerang, "Sial!"
"Satu."
Khoirul memberi jeda.
"Dua."
"Ti..,"
Ceklek!
Khadijah membuka pintu namun wajahnya tersembunyi di baliknya, "Janji dulu kalau bapak nggak mau ngapa-ngapain."
"Siapa yang mau berjanji? Saya memang mau ngapa-ngapain kamu," jawab Khoirul santai. Dia mendorong pintu dengan tenaga yang lumayan ekstra, memaksa Khadijah mundur hingga mencapai batas maksimal. Dia terjebak di antara Khoirul, pintu dan dinding.
"Ingat umur, Pak. Kalau usia lebih dari tiga puluh tahun jangan banyak emosi. Nanti darah tingginya kumat, kolesterol naik sama mukanya cepet tua," pinta Khadijah dengan penjelasan konyol. Cengiran wanita itu jelas terlihat mengejek.
"Em, masa? Kalau begitu..," Khoirul menutup pintu dalam hitungan detik, lalu membawa Khadijah ke pelukannya dan membawanya terbang menuju tempat terindah mereka. Khoirul mengeluarkan jurus gelitikan, sementara dia sendiri tertawa kecil melihat rona indah pada wajah istrinya. Sungguh cantik!
Keduanya saling adu gelitikan hingga mereka lelah. Tetes air mata tiba-tiba turun, memberi tanda bahwa mereka telah diambang batas kebahagiaan. Khoirul memusatkan seluruh perhatiannya pada Khadijah, lalu...
"Pak," gumam Khadijah dengan wajah merah padam.
"Hm, apa?"
"Stop! Saya lapar." Khadijah harus mengakhiri sesuatu yang telah muncul itu sebelum terlambat. Khoirul menatapnya lama, tapi kemudian mengangguk. "Bibik masak apa ya?"
"Kamu mau makan apa?"
"Em, telur orak-arik, Pak."
__ADS_1
"Saya buatkan," putus Khoirul. Dia mengulum senyum penuh arti, "tapi cium saya dulu."
Cup!
Tidak biasanya Khadijah melakukannya tanpa banyak protes. "Sudah."
"Lagi."
Cup!
"Sudah dong, Pak. Bapak bau matahari," sungut Khadijah.
Cup!
Bukan Khadijah melainkan Khoirul yang membalas kecupan istrinya. "Terimakasih. Tuan putri mandi dulu saja. Saya akan mempersiapkan malam malam romantis berdua di balkon."
"Balkon, Pak? Asyik," sorak Khadijah. Dia melangkah pergi tanpa mengusik suaminya. Di dalam kamar mandi, wanita itu menyenandungkan lagu romantis tanpa judul. Perasaannya sedang membaik dan dia berharap begitu.
°°°
Ketika makan malam itu berjalan baru beberapa menit, suara nada dering Khadijah mengganggu kekhidmatan keduanya. Khadijah melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Siapa?" tanya Khoirul.
"Bukan siapa-siapa, Pak."
"Sini saya lihat!"
"Aku di luar rumah kamu. Tadinya nggak ada niat mau mampir tapi tiba-tiba aku ingin melihat kamu," ucap Richard.
"Rumah yang mana, Kak?"
Richard tertawa, "Emangnya kamu punya berapa rumah sih? Aku bukannya pernah mengantar kamu ke rumah waktu itu?"
Duh, aku kok lupa ya? Aku membawa kak Richard kemana? Rumah mama atau rumah ini? Batin Khadijah bingung.
Khadijah berusaha mengingat kemana arah pembicaraan mereka. Waktu itu, dia dan Khoirul sempat saling bersitegang karena acara makan malam. Itu berarti Richard mengantarnya pulang ke rumah Khoirul.
Duh, bodoh banget sih aku. Kenapa malah memperjelas? Batin Khadijah kesal.
Harusnya Khadijah memberitahu alamat orangtuanya bukan alamat Khoirul.
"Khadijah," panggil Richard tidak sabar.
"Eh, iya, Kak," ucap Khadijah.
"Di rumah kan?"
"Iy, eh, nggak, Kak. Aku sedang keluar," elak Khadijah.
"Bohong kamu terlihat jelas, Dijah. Aku masuk ya sekalian mau kenalan sama orang rumah."
__ADS_1
Klik!
"Gawat!" pekik Khadijah. Dia menghampiri Khoirul, "Pak, gawat!"
"Kenapa?"
"Kak Richard datang ke rumah ini. Dia sudah ada di luar dan dalam perjalanan masuk. Duh, kalau ketahuan bisa gawat!" ucap Khadijah.
Khoirul tetap makan dengan lahap meskipun wajah di depannya tegang luar biasa, "Kamu memberitahukan alamat rumah ini?"
"Sebenarnya waktu itu saya pernah diantar pulang, Pak. Penjelasannya nanti saja, Pak. Saya panik ini. Saya mau ke bawah dulu. Tolong bapak jangan keluar kamar ya?" pinta Khadijah memelas.
"Suka-suka saya dong. Ini rumah saya," jawab Khoirul enteng. Dia menatap Khadijah dengan semburat kebencian, "bilang saja kalau kamu sedang keluar."
"Sudah. Tapi kak Richard nggak percaya."
"Urusan kamu kalau begitu. Pokoknya saya mau melakukan apapun yang saya mau. Ini rumah saya, bukan rumah dia. Suka-suka saya mau ngapain."
Kekesalan Khadijah semakin tidak terkendali. Dia menunjuk Khoirul geram, "Kalau bapak nggak mau bantu ya sudah tapi jangan menambah kepanikan saya. Apa susahnya sih diam? Nggak akan lama. Menyebalkan sekali." Wanita itu menghentakkan kakinya lumayan keras, lalu berbalik pergi.
Bunyi bel rumahnya terdengar berulangkali. Ketika Khadijah turun, Bik Sani sudah berjalan ke arah pintu. Khadijah mempercepat langkahnya sembari berteriak, "STOP, BIK!"
Bik Sani menoleh, "Kenapa, Nyonya?" Gerakan tangannya terhalangi oleh teriakan Khadijah.
Khadijah mengatur napasnya yang tidak karuan, "Bih ... biar sayah yang ... bukah. Bibik ... masuk saja."
"Baik."
Khadijah menetralkan debaran jantungnya lebih dulu sebelum membuka pintu.
Ceklek!
"Hai, Kak," sapanya dengan senyum lebar yang dibuat-buat. Dia membuka pintu tapi menutupnya kembali, takut kalau Richard melihat foto pernikahan dirinya.
Richard memasang wajah bingung, "Kamu nggak sabar buat melihatku ya? Sampai berkeringat begini." Jika hanya sekedar ucapan saja tidak masalah tapi tangan pria itu sudah berpindah ke wajah Khadijah. Mengusap keringat yang tidak disadari Khadijah.
Khadijah menegang. Dia ingin menolak tapi Richard memaksanya.
"Nah, begini lebih baik. Ngapain berdiri aja?" tanya Richard bingung. Dia melongokkan ke belakang Khadijah, "kok ditutup pintunya?"
"Mama papa sedang pergi. Aku nggak terbiasa menerima tamu kalau hanya sendiri di rumah. Duduk aja di sini, Kak," ucap Khadijah menunjuk meja kursi di teras depan.
Richard mengerti, dia mengikuti permintaan Khadijah. Pria itu memulai pembicaraan yang tidak ada habisnya. Bahkan candaan meminta minum pun dilontarkan agar Khadijah tidak hanya diam.
"Aku ambilkan dulu ya? Tunggu sebentar, Kak," ucap Khadijah.
Khadijah membuka pintu dan menutupnya kembali. Tapi dia dibuat terkejut dengan keberadaan Khoirul di sana. Pria itu menatapnya tajam, persis ketika seorang dosen memergoki mahasiswinya terlambat datang ke kelasnya.
"Kamu usir dia atau saya yang usir?" bisik Khoirul.
°°°
__ADS_1