
"Semua ini gara-gara kamu! Kinan punya imajinasi untuk menikah dengan dosen karena kamu menikah dengan putra saya. Kalau kamu nggak begitu, anak saya nggak mungkin punya insiatif untuk jatuh cinta pada Zaki. Dasar wanita nggak berguna!"
"Kalau kamu hanya mengincar uang, cari saja sugar daddy. Jangan anak saya!" lanjut Marwah geram.
Khadijah sakit hati. Lebih sakit kala semua orang menatap dirinya dengan tatapan bertanya. Entah mereka mendukung ucapan Marwah atau mereka tidak peduli. Yang jelas Khadijah tidak terima. Dia menyingkirkan tangan Marwah untuk lepas dari rambutnya, lalu dia berjalan pergi. Dia hanya bisa berharap jika Kinan baik-baik saja.
°°°
Khadijah mengemasi barang-barangnya ketika Bik Sani sedang bersih-bersih dapur. Wanita itu pergi tanpa sepatah katapun. Bik Sani tidak menyadari jika Khadijah membawa tas besar bersamanya. Setelah wanita itu cukup jauh, barulah Bik Sani mendatangi Khadijah di kamarnya. Sayangnya Khadijah tidak ada di sana.
"Nyonya," gumam Bik Sani speechless ketika dia melihat almari pakaian di depannya berantakan. Salah satu pakaian Khadijah tertinggal di antara pintu. Perasannya mulai tidak karuan. Dia menghubungi Khoirul untuk melaporkan apa yang dia lihat.
"Bukannya Dijah ada di rumah sakit, Bik?" tanya Khoirul. Pasalnya dia sedang menuju ke rumah sakit setelah urusannya selesai.
"Saya tidak tahu kalau Nyonya pulang sebentar, Tuan. Saya baru tahu waktu saya naik ke atas dan Nyonya sudah tidak ada. Pakaiannya juga tidak ada," jelas Bik Sani.
Di seberang, Khoirul menghela napas kasar, "Kalau Dijah pulang, hubungi saya ya, Bik?"
"Iya, Tuan."
°°°
"Sudah ada kabar, Bik?" tanya Khoirul ketika dia pulang.
Bik Sani menggeleng, "Belum, Tuan."
"Saya cari dulu. Dijah nggak punya tempat tujuan kecuali di sini. Saya yakin dia belum pergi jauh," ucap Khoirul.
"Iya, Tuan. Tolong cari Nyonya sampai ketemu, Tuan. Kasihan Nyonya."
Khoirul hanya mengangguk. Dia berlari ke luar dan kembali masuk mobil. Sewaktu dia di rumah sakit tadi, Marwah juga tidak bicara apa-apa kecuali mengenai kondisi Kinan. Makanya Khoirul segera pulang untuk mencari tahu.
Kompleks perumahan yang ditinggali oleh Khoirul dan Khadijah tidak terlalu padat jadi dia tidak terlalu kesulitan bertanya pada mereka dimana Khadijah berada atau mungkin wanita itu berpapasan dengan mereka.
Salah satu tetangga mengaku melihat Khadijah membawa tas besar. "Tapi saya nggak tanya mau kemana karena saya pikir mau ke rumah sakit, soalnya saya lihat tadi ada ambulans ke rumah."
"Arahnya ke luar kompleks, Bu?"
"Benar. Sepertinya naik taksi."
__ADS_1
"Terimakasih, Bu. Saya coba hubungi lagi," ucap Khoirul. Dia mengendarai mobilnya kembali sembari menghubungi nomor Khadijah. Sengaja atau tidak tapi panggilannya tidak ada yang terjawab.
"Kemana kamu, Sayang?"
°°°
"Buka mulut!" pinta Marwah. Wanita itu menyuapi Kinan sejak beberapa menit yang lalu. Putrinya sudah boleh pulang tanpa harus menginap di rumah sakit. Kinan dengan patuh mengikuti perintah Marwah.
"Mama, aku ingin bicara!" ucap Khoirul yang tergopoh-gopoh datang dari arah depan. Pria itu baru pulang setelah seharian mencari Khadijah. Pikirannya terus tertuju pada orangtuanya yang pagi tadi berinteraksi dengan istrinya.
Dengan acuh Marwah mengiyakan, "Bicaralah!"
"Mama bertengkar dengan Khadijah tadi pagi?"
"Nggak," jawab Marwah singkat, padat dan jelas.
Kinan yang tidak tahu apa-apa hanya mendengarkan.
"Jawab jujur, Ma! Kalau kalian nggak bertengkar kenapa Khadijah bisa pergi?"
"Kak Dijah pergi?" sahut Kinan terkejut.
Kinan tidak mengindahkan peringatan Marwah. Dia juga ingin tahu apakah Marwah adalah penyebab Khadijah kabur dari rumah. Tatapan menusuk Kinan tampaknya mengganggu Marwah. Apalagi Khoirul juga tidak mau beranjak dari sana sebelum wanita itu membuka mulut.
Marwah meletakkan piring ke atas meja dengan gebrakan cukup keras. Dia menelisik ke arah anak-anaknya yang berusaha mencerca dirinya. "Kalian ini sadar nggak? Hanya karena wanita asing yang tiba-tiba menjadi keluarga kita, kalian menghakimi mama? Ingat nggak kalau sembilan bulan lebih mama mengandung kalian? Kalau begini caranya kalian sudah durhaka sama mama."
"Ma, jangan mengalihkan pembicaraan. Kami hanya ingin tahu apa yang mama katakan pada Khadijah," sela Khoirul. Dia tidak terpengaruh karena Marwah sudah pernah bersikap egois.
"Memangnya kenapa kalau mama mengatakan sesuatu? Bukan berarti apa yang mama katakan membuat dia kabur kan?" kata Marwah santai.
"Jadi mama yang membuat Khadijah kabur?"
"Mama nggak bilang begitu," elak Marwah.
"Kalau sampai aku nggak bisa menemukan Khadijah, mama nggak akan pernah lagi punya anak laki-laki bernama Khoirul. Aku pergi dari keluarga mama!" ancam Khoirul, lalu dia pergi.
"Berani kamu? Khoirul! Jangan kabur! Berani kamu mengancam mama? Ingat kamu bisa sampai di sini karena siapa? Mama, Khoirul! Mama!" hardik Marwah.
Kinan menghela napas panjang, "Aku juga kecewa sama mama. Kalau kak Dijah sampai nggak bisa ditemukan, aku juga akan keluar dari keluarga ini." Gadis itu juga melarikan diri meninggalkan Marwah.
__ADS_1
"Kinan! Beraninya kamu ikut-ikutan! KINAN!"
Marwah menggebrak meja. Benar-benar Keterlaluan.
°°°
"Aku akan coba cari di Jakarta, Kak. Siapa tahu Kak Dijah pulang ke sana," ucap Kinan. Dia menghampiri kakaknya di kamar untuk mengutarakan pendapatnya.
Khoirul sedang merenung. Dia menghela napas berat. "Nggak perlu. Kamu di sini saja dulu. Kondisi kamu juga sedang nggak baik. Biar kakak saja yang mencarinya." Jari-jari besar dan tangkas itu menarik rambut kepalanya sendiri. Antara bingung dan tidak tahu harus kemana. Kepala Khoirul tiba-tiba kosong.
"Tapi, Kak?"
Khoirul menghembuskan napas kasar, "Istirahatlah! Kakak nggak ingin berdebat."
Kinan terpaksa keluar dari ruangan itu karena suasana hati Khoirul semakin memburuk.
°°°
Di suatu tempat, di kota yang sama namun berbeda letak jalan.
Khadijah sudah menemukan tempat tinggal untuk sementara waktu. Wanita itu terpaksa mengambil uang dari kartu hitam Khoirul dan berjanji akan mengembalikannya jika dia memiliki pekerjaan. Untuk saat ini, dia hanya berpikir untuk bertahan hidup. Entah dengan bekerja paruh waktu atau full time.
Di dalam kost khusus wanita, Khadijah meletakkan tas miliknya. Dia tidak berkeinginan untuk membongkar isinya. Dia hanya ingin tidur dan mengistirahatkan kepalanya.
°°°
Setelah berputar mencari tempat yang mau menerima mahasiswi abadi seperti dirinya, akhirnya Khadijah menemukan satu tempat. Sebuah kantor yang tidak jauh dari lokasi kostnya. Dia diterima sebagai office girl karena dia belum punya pengalaman kerja.
Tidak masalah. Khadijah bisa menerima pekerjaan apapun. Wanita itu mengecek seragam office girl miliknya, lalu menutup loker. Dia siap menghadapi hari pertamanya tanpa suaminya.
Kantor cabang yang beroperasi dalam bidang properti tampaknya tidak pernah tidur. Khadijah melihat banyak orang yang ke sana kemari sibuk membawa berkas ini itu. Suatu saat Khadijah ingin menjadi salah satu bagian dari mereka. Minimal managerlah. Dia pasti terlihat menawan jika mengenakan jas.
Khadijah membuyarkan lamunannya. Telapak tangannya yang lumayan besar menggerakkan alat pel dengan satu arah berurutan. Tapi ketika dia hendak menarik alat tersebut seseorang menahannya dengan kakinya.
"Maaf kakinya bisa tolong diangkat?" tanya Khadijah sopan. Maklumlah dia anak baru, kalau langsung menghardik bisa-bisa dia diusir tanpa pesangon.
"Dijah bukan?"
°°°
__ADS_1