BACKSTREET YUK, PAK DOSEN!

BACKSTREET YUK, PAK DOSEN!
Bab 26 - Terserah Apa Yang Mau Kamu Lakukan


__ADS_3

Khadijah menarik Khoirul menjauh dari sana. Bisa gawat kalau Richard mendengar pembicaraan mereka. Wanita itu berhenti di ruang keluarga, menatap malas pada suaminya, "Bapak ngapain sih? Main usir-usir aja. Anak orang itu."


"Dia sudah mengganggu kenyamanan saya," sengit Khoirul.


"Bapak jangan seperti anak kecil. Setelah kak Richard saya kasih minum, saya bakalan minta dia pergi. Jadi bapak jangan main usir," jelas Khadijah.


Khoirul tidak terima. Panggilan kakak yang ditujukan Khadijah terlalu manis untuk seorang Richard. Dia yang suaminya saja masih dipanggil bapak. Sebutan macam apa itu?


"Panggil saya Mas dulu," paksa Khoirul.


"Hah? Di saat begini bapak masih aja ngurusin panggilan?"


"Kenapa? Bagi saya ini saat yang penting," ucap Khoirul tidak mau kalah.


"Pak Khoirul yang paling ngotot sedunia, bisa tolong jangan permasalahin masalah ini dulu? Saya mau buat minum," tukas Khadijah. Dia hendak memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat tapi pergelangan tangannya dicekal, "ada apa, Pak?"


"Apa susahnya memanggil saya dengan sebutan yang lebih baik? Yang membuat kita terlihat lebih dekat? Kenapa kamu selalu mengecewakan saya? Semua orang yang dekat dengan kamu saja berpendapat kamu orang yang hangat dan bisa bersosialisasi dengan baik. Tapi kenapa dengan saya kamu begitu? Sudahlah. Saya lelah. Lakukan saja apa yang kamu mau. Kamu mau berduaan selama apapun terserah kamu," putus Khoirul.


Khoirul melangkah pergi. Dia benar-benar lelah bermain rumah-rumahan dengan Khadijah. Sementara wanita itu berjalan ke arah lain, membuka almari pendingin dan menuang orange jus.


"Kenapa sih tiba-tiba uring-uringan? Padahal biasanya juga kalau ngomel nggak pernah marah. Aneh,* gerutu Khadijah.


"Itu karena Tuan menyukai anda, Nyonya. Tuan juga cemburu melihat Nyonya dekat dengan pria lain," sela Bik Sani yang tiba-tiba muncul dari arah belakang.


Khadijah mengelus dadanya saking terkejutnya, "Astaga, Bik."


Bik Sani menyunggingkan senyum malunya, "Habis saya lihat Nyonya bergumam sendiri. Saya takut kalau Nyonya kesambet. Saya saja yang buat Nyonya."


"Nggak perlu, Bik. Sudah selesai ini. Saya ke luar dulu ya?"


Bik Sani mengangguk.


Khadijah kembali bergumam seorang diri, "Apa benar Pak Khoirul cemburu? Ya wajar sih namanya juga suami. Ah, sudahlah. Nanti saja aku pikirkan lagi." Dia menyapa Richard, lalu memberikan minumannya.


Setelah tiga puluh menit akhirnya Khadijah berhasil mengusir Richard secara halus. Dia kemudian naik ke kamarnya berharap masih ada makanan di balkon. Tapi Khoirul sudah membereskan peralatan makan mereka.


"Padahal belum makan," gumam Khadijah sembari mengelus perutnya.


Khadijah melihat sekeliling. Tidak ada penampakan Khoirul di manapun. "Kemana ya?"


Wanita itu melihat pintu yang mengarah pada meja kerja Khoirul. Mungkin suaminya ada di sana. Dia membuka pintu, memastikan apa benar dugaannya.


Ruangan itu gelap, hanya mengandalkan cahaya dari luar jendela yang tidak terlalu benderang. Khadijah melihat sosok suaminya sedang duduk membelakanginya, tepat di sisi lain jendela yang setengah terbuka.


"Pak," panggil Khadijah. Dia berjalan mendekat.


Khoirul hanya diam. Helaan napasnya terdengar frustasi. Entah kenapa Khadijah merasa bersalah.

__ADS_1


"Pak," panggil Khadijah sekali lagi. Dia berdiri di belakang suaminya, "bapak kalau ngambek lucu deh."


"Siapa yang ngambek?"


"Tuh, suaranya aja kedengeran begitu. Maafkan saya, Pak," ucap khadijah.


Khoirul tidak sekalipun melirik ke arahnya. Apa yang sedang dipikirkan oleh pria itu? Pemandangan di luar sana tidak terlalu bagus untuk dilihat. Hanya ada daun-daun yang bergoyang diterpa angin dan suara berisik burung di ranting pohon.


"Bapak kok diam saja sih? Saya banyak salah ya?" ucap Khadijah lagi.


"Terserah apa yang kamu pikirkan," gumam Khoirul.


"Saya kan udah minta maaf, Pak."


"Tidurlah dulu. Saya masih ingin di sini," usir Khoirul secara halus.


Hati Khadijah tertohok mendengarnya. Tidak biasanya Khoirul bersikap begitu. Dia tetap diam di tempat, tidak ingin meninggalkan Khoirul. Apa yang harus dilakukan oleh Khadijah? Memberikan ciuman bertubi-tubi agar dimaafkan? Tapi kesalahannya juga tidak terlalu berat.


Khadijah hanya memberitahukan alamat rumah Khoirul pada Richard, itupun tidak sengaja. Seharusnya Khoirul tidak perlu mendramatisir keadaan. Bagaimana juga Khadijah dalam posisi yang sulit.


"Saya juga masih ingin di sini," ucap Khadijah. Dia melirik pria yang duduk di depannya, "kenapa bapak ngambek? Hanya karena saya memberitahukan alamat ini pada kak Richard, bukan berarti bapak bisa marah pada saya. Saya juga nggak tahu kalau tiba-tiba kak Richard datang."


Khoirul diam.


"Atau karena panggilan yang bapak maksud tadi? Saya punya pembelaan, Pak. Saya terbiasa memanggil bapak begitu di kampus, kalau tiba-tiba saya memanggil bapak dengan panggilan lain, lalu keceplosan di kampus gimana? Bapak pasti malu ketahuan menikah," jelas Khadijah.


Khoirul bereaksi, dia memiringkan kepalanya, "Siapa bilang saya malu? Dari awal saya nggak pernah menyarankan hubungan backstreet kita. Saya tegaskan kalau saya nggak pernah malu menikah sama kamu. Saya bersyukur memiliki kamu sebagai istri saya."


"Nggak ada yang aneh. Kamu saja yang berpikiran begitu."


"Kalau bapak dikira yang bukan-bukan gimana?" elak Khadijah masih belum puas dengan jawaban Khoirul.


"Itu urusan saya bukan kamu," tegas Khoirul.


"Nggak tahu lah, Pak. Saya nggak mau lagi bahas ini."


"Tidurlah!"


"Saya belum mau tidur, Pak. Kenapa sih bapak nyuruh-nyuruh saya tidur terus?" sentak Khadijah. Suka-suka dialah mau tidur kapan.


"Oke, saya nggak akan menyuruh kamu lagi. Terserah apa yang mau kamu lakukan," ucap Khoirul yang kemudian berdiri. Dia melewati Khadijah begitu saja.


Khadijah mengepalkan jarinya. Merasa diacuhkan membuat Khadijah kesal. Dia berteriak, "STOP DI SANA, PAK KHOIRUL!"


Khoirul tidak berhenti, pria itu tetap berjalan.


"SAYA BILANG STOP, PAK. DENGAR NGGAK SIH?" teriak Khadijah geram. Melihat suaminya masih berjalan, Khadijah berlari ke arahnya, lalu menarik bagian belakang baju suaminya. "Bapak kok tega begitu sama saya?"

__ADS_1


"Tega gimana? Bukannya kamu nggak suka diatur?"


"Saya emang nggak suka diatur tapi saya juga nggak suka diacuhkan, Pak. Kenapa sih bapak nggak paham-paham juga?" gerutu Khadijah. Suasana hatinya menjadi buruk. Matanya memanas dan tiba-tiba mengeluarkan embun. Dalam hitungan detik, air matanya keluar. Dia menangis dalam diam.


Khoirul bisa merasakan jika ada yang tidak beres dari istrinya. Dia membalikkan tubuhnya. Samar-samar dia mendengar isakan pelan dari bibir istrinya. Seketika hatinya luluh. Dia tidak bisa membiarkan amarahnya membuat istrinya tersakiti.


Perlahan usapan itu terarah pada wajah Khadijah, "Maafkan saya."


"Bapak jahat. Bapak marah-marah pada saya. Saya kan nggak tahu kalau tiba-tiba ada tamu. Saya juga nggak bicara lama-lama, hanya seperlunya saja," isak Khadijah.


"Iya. Saya tahu. Maaf ya."


"Yang tulus minta maafnya, Pak," paksa Khadijah.


"Iya, istriku yang cantik. Saya minta maaf ya kalau tadi ngambek. Sudah ya nangisnya. Nanti mukanya bengkak jadi jelek," ucap Khoirul.


Khadijah memukul dada suaminya pelan, "Bapak, ih, masih aja mengejek saya. Saya emang jelek. Kenapa? Nggak suka?"


"Nggak dong. Siapa bilang kalau kamu jelek. Kamu kan manis. Udah ya, jangan nangis lagi." Khoirul mencoba bersabar menghadapi sikap Khadijah yang berubah-ubah. Dia mengelus rambut Khadijah, "udah dong. Duh, makin kenceng."


Entah perasaan apa yang melingkupi Khadijah sekarang. Yang jelas wanita itu tiba-tiba memeluk suaminya, menyandarkan kepalanya pada dada bidang Khoirul. Perlahan air matanya menghilang entah kemana.


Khoirul membalas pelukan itu dengan erat, "Udah belum?"


"Apanya, Pak?"


"Nangisnya."


Khadijah mengangguk, "Udah, Pak."


"Lapar nggak?"


Khadijah mengangguk lagi, "Lapar, Pak."


"Makan di mana?"


"Di cafe yuk! Saya ingin steak."


Khoirul mengurai pelukan mereka, "Oke. Siap-siap dulu sana!"


"Iya." Khadijah melangkah pergi, tapi kemudian dia kembali lagi dengan satu kecupan mesra di bibir suaminya. Setelah terlepas, wanita itu mengulum senyum, "terimakasih, Mas."


Kabur ah, batin Khadijah.


Tinggal Khoirul yang senyum-senyum sendiri melihat tingkah istrinya.


Akhirnya dia mengerti juga, batin Khoirul.

__ADS_1


"KAMU PANGGIL AKU APA TADI, SAYANG?"


°°°


__ADS_2