BACKSTREET YUK, PAK DOSEN!

BACKSTREET YUK, PAK DOSEN!
Bab 30 - Tangisan Menyebalkan


__ADS_3

"Khadijah?"


Seruan yang tidak ingin didengar Khadijah akhirnya muncul. Suara yang tidak asing karena wanita itu pernah bertemu beberapa kali dengannya. Sial!


"Salah orang," ucap Khadijah dengan suara parau yang dibuat-buat.


Khadijah tidak akan mengiyakan begitu saja ucapan Miranti. Dia mengambil topengnya secepat kilat mirip atlet maraton yang mengambil benda dari tangan temannya, lalu menunduk dalam-dalam agar dosen di depannya itu tidak yakin bahwa yang dia panggil adalah Khadijah.


"Khadijah," seru Miranti lagi.


Khadijah tidak akan mengiyakan. Dia berniat berlari ke arah ruang terbuka di area taman rumah modern yang luasnya minta ampun itu. Dilihatnya kerumunan tamu ada di bagian kiri, jadi pasti ada ruang kosong yang bisa dia gunakan untuk bersembunyi.


Khadijah hampir menginjak gaunnya sendiri karena dia lupa mengangkat tinggi-tinggi gaun panjangnya. Mulutnya sibuk mendesis tidak tentu arah sementara hatinya mengumpat pada kehadiran Miranti.


Bukannya wanita itu baru masuk ke universitas? Dia juga belum dapat undangan kan? Kok tiba-tiba ada di sini? Kayak hantu saja muncul tanpa diundang. Duh, kok apes banget sih malam ini. Padahal niatnya ingin menikmati hidangan yang lezat di meja prasmanan itu. Menyebalkan! Batin Khadijah.


Napas Khadijah tersendat-sendat. Tempat yang digunakan untuk pesta ada di ruang tamu, teras depan bersambung sampai ke halaman. Sementara kamar mandi ada di sisi belakang.


Jadi Khadijah mengambil jalan kanan berniat kabur melalui area teras. Tapi malah dia terjebak di antara orang-orang.


"Dijah," panggil Miranti lagi. Suaranya menggelegar. Bagaimana kalau orang-orang mengetahui keberadaannya?


"Pak Khoirul mana sih?" gumamnya sambil celingukan.


Bodo amatlah! Aku harus pergi dari sini. Berlagak nggak terjadi apa-apa saja, kan aku pakai topeng, batin Khadijah.


Khadijah memasang topengnya baik-baik, lalu keluar dengan langkah normal. Dia mengangguk pada tamu-tamu yang dia lewati, lalu melangkah ke luar pagar. Sampai di sana dia masih belum tenang karena ternyata Miranti mengejarnya.


"Itu orang nggak ada puasnya," gerutu Khadijah. Dia semakin mengangkat tinggi-tinggi gaunnya, lalu berlari ke arah kanan. Perumahan itu hanya terdiri dari empat rumah yang luasnya berbeda-beda. Khadijah hanya perlu melalui satu rumah dan sampai di pintu masuk perumahan.


Perutnya yang belum banyak terisi makanan terpaksa digunakan untuk berolahraga. Asal dia bisa lari dari kejaran Miranti.


Ketika dia menoleh, wanita itu sudah tidak ada di sana lagi. Barulah Khadijah bisa bernapas lega.


"Mahkotaku mana?" gumamnya. Pantas saja kepalanya terasa ringan. Ternyata benda itu terjatuh ketika dia berlari tadi.

__ADS_1


°°°


Khoirul melihat ke arah belakang berulangkali tapi istrinya belum juga muncul. Dia pergi menyapa dosen senior tadi ketika Khadijah pamit ke kamar mandi, tapi dia hanya bicara beberapa menit saja lalu kembali ke tempat semula.


"Cari siapa, Pak Khoirul?" tanya Samsul yang tiba-tiba muncul di belakang Khoirul. Sudah lama mereka tidak saling menyapa karena kesibukan masing-masing.


"Nggak ada yang dicari, Pak Samsul," canda Khoirul dengan suara pelan.


"Sama siapa ke sini?" bisik Samsul karena di depannya ada dua orang yang sedang berbicara mengenai kurikulum yang baru. Mereka sebenarnya ingin mengetahui pendapat Khoirul karena IQ Khoirul di atas rata-rata.


Khoirul mendelik sengit, "Diamlah!"


"Aku lihat ada Miranti tadi."


"Nggak mungkin," elak Khoirul. Dia tidak enak hati dengan dua orang di depannya jadi dia meminta waktu sebentar untuk bicara pada Samsul. "Saya akan kabari nanti kalau saya sudah membaca semua kurikulumnya, Pak. Saya permisi dulu."


Khoirul membawa Samsul ke tempat yang lebih sepi. Dia menginginkan penjelasan atas informasi Samsul yang mengada-ada.


"Dibilangin nggak percaya. Miranti dapat undangan khusus dari Miss Tiara karena ternyata mereka sudah kenal lama. Jadi nggak ada yang mengada-ada," jelas Samsul.


"Kok ditinggal? Eh, itu Miranti," seru Samsul sembari menunjuk arah depan. Dia menyapa Miranti lebih dulu tapi hanya dibalas anggukan karena wanita itu ingin bicara pada Khoirul.


Miranti mengibaskan telapak tangannya dengan topeng miliknya, lalu mulai bicara, "Kamu mengajak Khadijah ke sini?"


Kok dia tahu? Batin Khoirul.


"Siapa yang bilang?" elak Khoirul. Dia mati-matian menyembunyikan keterkejutannya. Wajahnya yang memang datar dipaksa santai, padahal dalam hati dia cemas kalau Khadijah tiba-tiba keluar dari kamar mandi.


"Aku yang bilang. Tadi waktu di kamar mandi, aku melihat Khadijah terjatuh. Topengnya terlepas jadi aku tahu. Kalau kamu nggak membawanya, lalu dengan siapa dia datang? Anehnya dia kabur waktu aku manggil dia," jelas Miranti.


Khoirul terkekeh geli, "Kamu mimpi? Ini pesta khusus dosen. Kenapa bisa ada Khadijah?"


"Lalu kamu sama siapa? Aku mendengar kamu bersama dengan tunangan kamu? Kenapa aku nggak tahu?" cerca Miranti.


"Apa hubungannya sama kamu? Mau aku punya tunangan atau nggak juga bukan urusan kamu," tukas Khoirul tajam. Dia membiarkan Miranti memikirkan ucapannya sementara dia pamit pada Tiara karena dia harus memburu Khadijah. Kasihan istrinya!

__ADS_1


°°°


Khadijah melepas heelsnya dan topeng sialan yang tidak berguna itu. Rambutnya sedikit acak-acakan karena pelariannya tadi. Bola matanya memanas karena asap motor yang terus-menerus menghujani wajahnya.


Dia berjalan di area trotoar, melewati pepohonan tinggi. Di sana tidak ada pedagang kaki lima karena memang tempat itu dilarang berjualan. Mungkin beberapa kilometer lagi akan tampak keramaian.


"Kenapa sih Pak Khoirul nggak cari aku? Harusnya dia sadar dong kalau aku nggak bisa dihubungi," gerutu Khadijah sambil menendang kerikil di depannya. Tapi kemudian dia memekik karena jari kakinya berdarah. "Sial!"


Wanita itu berhenti, menekuk lutut untuk melihat lukanya. "Nggak parah sih tapi kok sakit." Dia menangis dalam diam. Harusnya dia membawa dompetnya bukan hanya ponsel yang baterainya tinggal dua puluh persen. Dia tidak bisa naik taksi atau kendaraan lain.


Khadijah memutuskan untuk berdiam diri di sana. Gaun mahalnya menjadi alas duduk sementara kakinya terjuntai ke jalan raya. Dia yakin orang-orang yang melewati tempat itu menertawakan dirinya.


"Aku yang minta backstreet, tapi aku juga yang kesal," gumam Khadijah. Dipandanginya langit malam yang tidak ada bintang sama sekali. "Kalau sampai hitungan ke seratus Pak Khoirul belum juga muncul, awas ya?"


°°°


"Tiga puluh tiga, tiga puluh..," Khadijah berhenti menghitung ketika sebuah mobil berhenti di depannya. "Akhirnya datang juga."


Khoirul turun dengan tergesa-gesa, menghampiri istrinya, "Kemana ponsel kamu? Kenapa nggak bisa dihubungi?"


"Lowbath, Pak."


"Kamu nggak apa-apa? Habis menangis ya?" tebak Khoirul sembari meneliti setiap lekuk tubuh istrinya, "berdarah, Sayang."


"Biarin," ketus Khadijah. Mendadak dia ingin menangis histeris. Air bening itu sudah menggunung di pelupuk mata, siap terjun bebas. "Huaaaaa."


"Lho kok malah kenceng?" pekik Khoirul panik. Dia berusaha menenangkan istrinya, tapi tidak dihiraukan sama sekali. "Pulang dulu ya? Nangisnya dilanjut nanti."


Tangisan itu telah terganti dengan isakan. Khadijah melihat suaminya tajam, "Mana ada menangis ditunda, Pak?"


Khoirul menghela napas perlahan. Syukurlah Khadijah sudah lebih baik, batinnya senang. Kalau sudah mengomel pasti suasana hati istrinya tidak lagi murung.


"Bisa. Ditunda dulu. Saya obati kamu dulu di rumah, lalu kamu siap-siap tidur tapi sebelum tidur menangislah dulu," jelas Khoirul. Dia membawa istrinya masuk ke dalam mobil beserta sepatu dan juga tas. Pria itu juga yang menyilangkan sabuk pengaman untuk Khadijah. Ditatapnya istrinya yang terlihat mengenaskan. "Apa kita umumkan saja pernikahan kita?"


°°°

__ADS_1


__ADS_2