
"Oh, ya, Pak. Bapak mau pijat?"
Pertanyaan itu bagikan angin dingin di musim kemarau panjang. Khoirul tentu saja tidak akan menolak. Dia berlari cepat ke kamar mereka, menyambut pertanyaan yang tidak akan dua kali dia pikirkan lagi.
Khadijah masih ada di ambang pintu. Wanita itu mengerutkan keningnya ketika Khoirul membawa masuk ke dalam kamar dengan terburu-buru. "Bapak mau ngapain?"
"Katanya pijat. Yuk!"
Khoirul membuka t-shirt polosnya, hampir terjun ke atas ranjang mereka tapi Khadijah kembali berucap. "Maksudnya kalau bapak mau pijat, saya punya rekomendasi tempat pijat yang bagus. Eh, tapi yang tadi khusus wanita sih, Pak. Jangan deh! Nanti dimarahi mbak-mbaknya. Saya cari di tempat lain saja."
Seketika angin dingin yang sudah menyegarkan Khoirul berubah menjadi angin panas yang menyengat permukaan kulitnya. Pria itu menatap istrinya, tidak percaya dengan lelucon yang telah menaruh harapan palsu di dalamnya itu.
"Kenapa melihat saya begitu?" tanya Khadijah bingung. Dia adu tatapan dengan suaminya dan baru menyadari apa yang dipikirkan pria itu. "Astaga, jadi bapak mengira saya yang memijat bapak? Ooo, pantas saja bapak buka baju. Kenapa sih, Pak? Setiap kali saya bisa selalu disalahartikan."
Khoirul memakai kembali t-shirt miliknya dengan wajah manyun. "Kamu sengaja kan? Sudah membangkitkan tapi nggak mau melanjutkan. Fantasi saya kemana-mana ini tapi kamu malah membicarakan tempat pijat? Kamu mau saya pijat di sana? Dijamah wanita-wanita yang banyak pelanggannya itu?"
"Loh kok sampai sana sih, Pak? Saya kan bilangnya tukang pijatnya laki-laki. Berarti bapak nih yang kepalanya kemana-mana. Heran saya," elak Khadijah. Dia merengut, "lagian siapa yang mau suaminya dipegang-pegang orang lain? Kalau saya boleh, tapi jangan wanita lain."
Mau tidak mau Khoirul tersenyum miring. Dia kembali mendapatkan angin segar itu, "Makanya, ayo pijat! Saya sudah siap."
"Nanti saja, Pak. Saya mau mandi dulu."
Khoirul menarik pergelangan tangan Khadijah, "Saya ikut!"
"Nggak bisa, Pak. Saya nggak konsen nanti kalau bapak ikut," elak Khadijah. Yang ada mereka akan lama di kamar mandi. Tapi kali ini suaminya tidak mengindahkan. Dia melangkah ke kamar mandi lebih dulu sebelum istrinya mengomel lebih jauh lagi.
°°°
Pagi yang cerah ...
Tidak ada awan gelap yang berarak di atas langit, yang ada hanya sinar matahari menembus celah jendela kaca. Khadijah bangun lebih awal, berniat mengejutkan suaminya karena dia bisa bangun pagi.
Ada yang aneh dengan Khoirul. Sudah hampir pukul enam tapi dia belum membuka mata juga. Tidak biasanya pria itu terlambat bangun.
Khadijah menghampiri suaminya, setengah berteriak dia memanggil nama Khoirul. Tidak ada respon. Khoirul hanya menggumam tidak jelas. Penasaran Khadijah menempelkan telapak tangannya di kening Khoirul.
"Astaga, bapak demam," pekik Khadijah. Dia berusaha membangunkan Khoirul agar dia tahu seberapa parah kondisi suaminya, "Mas, bangun!"
Bibir yang semula terkatup mendadak melebar mendengar ucapan Khadijah. "Saya sakit saja kamu baru manggil saya begitu. Coba panggil lagi."
__ADS_1
Khadijah memukul perut Khoirul dengan kesal. Dia benar-benar cemas tapi Khoirul malah bercanda.
"Sakit, Dijah," keluh Khoirul.
"Bodo amat. Saya nggak peduli lagi bapak mau sakit atau nggak." Khadijah berniat pergi tapi suaminya menghalangi.
"Ambilkan saya obat demam di kotak obat ya?" pinta Khoirul.
"Ditaruh dimana, Pak?"
"Di bawah."
"Tunggu sebentar."
Meskipun Khadijah dongkol, dia tetap mengikuti arahan Khoirul. Dia bertanya pada Bik Sani dimana kotak obatnya, lalu mengambil segelas air putih. Dia baru ingat jika Khoirul belum sarapan. Dia menilik makanan yang telah disiapkan Bik Sani dan membawa sepiring porsi lengkap.
Ketika dia sampai di kamar, Khoirul sudah menegakkan tubuhnya. Punggungnya bersandar pada kepala ranjang. Khadijah duduk di samping Khoirul, menyuapinya makan lalu membuka tablet obat untuk suaminya.
"Gara-gara semalam bapak ikut mandi kan? Makanya jangan suka ikut-ikutan. Jadi demam kan?" omel Khadijah.
"Bukan salah saya tapi salah kamu. Kamu malah menggoda saya."
"Habis makan harus tunggu tiga puluh menit baru tidur lagi."
"Ya udah kalau begitu bapak diam saja begini. Nggak perlu ke kampus. Bisa ijin kan? Mahasiswa-mahasiswa juga nggak bakalan protes kalau bapak absen. Ya iyalah. Dosen killer yang suka sekali memberikan nilai D minus mana dikangenin sih?" gerutu Khadijah tanpa sadar.
"Kamu mengejek saya?"
"Sedikit."
"Tapi saya nggak bisa absen, Dijah. Ada kelas penting. Mungkin saya berangkat agak siangan setelah kondisi saya jauh lebih baik."
Khadijah gemas setiap kali suaminya lebih mementingkan orang lain ketimbang dirinya sendiri. "Terserah bapak saja. Saya pusing lama-lama dengar bapak protes melulu."
"Kamu berangkat jam berapa?"
"Sembilan," ketus Khadijah.
"Kalau begitu berangkat sama saya ya? Mau nggak?"
__ADS_1
"Nggak. Saya berangkat sendiri saja. Ngapain ikut bapak yang nggak bisa dibilangin. Saya mau mandi," geram Khadijah. Dia berlalu dari sana. Khoirul masih bisa tersenyum melihat kekesalan istrinya. Dia sangat yakin jika Khadijah tidak mungkin menelantarkannya begitu saja.
Benar saja pemikiran Khoirul. Istrinya terus membuntutinya dan memintanya untuk berhati-hati. Dia juga ikut masuk ke dalam mobil yang sama meskipun omelannya tidak juga berhenti.
Ketika mereka sampai di perempatan jalan yang sering digunakan untuk menurunkan Khadijah, wanita itu tidak menghentikan kendaraan.
"Kenapa kamu nggak turun? Nggak biasanya," tukas Khoirul.
"Oh, bapak mengusir saya?"
"Ya kamu kan nggak mau ketahuan satu mobil dengan saya."
"Ya memang begitu, Pak. Saya nanti turun setelah bapak turun. Parkir di tempat yang agak sepi saja jadi nggak akan ada yang tahu," ucap Khadijah. Dia mengarahkan supir untuk mencari tempat parkir yang tidak strategis.
Khadijah yang menunggu Khoirul turun tetap waspada melihat suaminya. Gerakan Khoirul yang terkadang tidak seimbang membuat dirinya cemas. Beruntung demamnya sudah turun dan tinggal mengatasi rasa pusing yang tiba-tiba muncul.
Semoga kelas hari ini berjalan dengan baik. Jadi tidak ada alasan bagi Khoirul untuk berada di kampus terlalu lama.
°°°
Satu jam kemudian ...
Sepanjang perjalanan Khadijah merasakan jantungnya berdetak kencang. Dia mendapat pesan dari Raisa kalau tiba-tiba Khoirul pingsan di tengah-tengah kelas.
Khadijah yang sedang duduk di taman kampus secepatnya berlari ke arah ruang kesehatan. Dia tidak lagi memperhatikan jalanan ramai di depannya. Entah berapa kali dia menubruk orang-orang.
Ya Tuhan, selamatkanlah suamiku, batin Khadijah.
Dia berbelok ke arah kanan, lalu melanjutkan langkah beberapa meter dan akhirnya dia sampai di ruang kesehatan. Tertera nama ruangan di permukaan pintu. Tanpa basa-basi wanita itu membuka pintu, tidak peduli dengan suara gebrakan pintu yang terpantul ke dinding.
"Pak Khoirul," ucapnya dengan napas tersengal-sengal. Khadijah tidak memperkirakan bahwa di sana akan ada orang yang menunggu suaminya.
Miranti menatap dirinya dengan bingung, "Khadijah? Kenapa ada di sini?"
"Ibu juga kenapa bisa ada di sini?" ketus Khadijah. Dia menghampiri suaminya yang masih belum membuka mata.
Miranti tampak tersinggung dengan pertanyaan Khadijah. Dia membalas dengan ucapan tajamnya, "Kamu yang sopan ya dengan saya. Meskipun saya teman saudara kamu, tapi saya dosen di sini. Saya berhak ada di sini karena saya dekat dengan Khoirul. Kamu sendiri kenapa tiba-tiba muncul? Kalau sekedar saudara, bukan berarti kamu bisa seenaknya begitu. Apa jangan-jangan kamu berbohong soal hubungan kalian?"
°°°
__ADS_1