BACKSTREET YUK, PAK DOSEN!

BACKSTREET YUK, PAK DOSEN!
Bab 51 - Kalau Sedikit Sentuhan Nggak Masalah kan?


__ADS_3

Khoirul menghampiri Kinan, kemarahannya tersulut ketika melihat adiknya yang dia tahu tidak mungkin sampai ke hotel hanya untuk menemuinya.


Beberapa langkah Khoirul kalah cepat dari seorang pria yang usianya terpaut jauh dari Kinan. Lebih tepatnya seusia Khoirul dilihat dari perawakannya.


Khadijah menarik lengan Khoirul. Dia menggeleng, "Jangan emosi, Mas!"


"Nggak bisa. Seenaknya saja dia bertemu pria di hotel. Mau apa dia? Kamu jangan ikut campur, Dijah. Sebagai kakak aku harus mencegahnya berbuat buruk," tegas Khoirul.


Khadijah bungkam. Khoirul ada benarnya. Tapi kalau marah-marah di tempat umum, bukannya malah mempermalukan diri sendiri? Wanita itu memburu suaminya dengan cepat.


"KINAN!" teriak Khoirul tidak sabaran.


Kinan menoleh, begitu juga dengan pria asing itu. Kinan mendelik melihat kakaknya ada di sana. Refleks dia meminta pria itu untuk mundur. Kinan menghampiri kakaknya, memaksa untuk berhenti. "Aku bisa jelaskan, Kak!"


"Dia siapa?" tanya Khoirul emosi. Rahangnya mengeras, mukanya memerah melebihi saus sambal yang ada di supermarket.


"Hanya guru konseling, Kak," ucap Kinan. Dia menarik Khoirul agar tetap bersamanya. Begitu Khadijah berhenti di antara mereka, Kinan meminta bantuan. Khadijah berniat mencegah tapi Khoirul tidak bisa dipaksa jika ingin melakukan sesuatu.


Khoirul menghampiri pria yang saat ini sedang melihat ke arahnya. Tanpa ba-bi-bu, Khoirul melayangkan pukulan pada wajah pria itu. Lawannya tidak ambruk tapi hanya limbung beberapa saat.


"Siapa kamu? Ada hubungan apa dengan Kinan? Kamu mau macam-macam dengan adik saya?" hardik Khoirul. Dia tidak peduli dengan orang-orang yang mulai memperhatikan mereka.


Pria itu membuka mulut dengan sedikit ringisan, "Saya Zaki, dosen yang akan membimbing Kinan untuk menambah wawasannya mengenai pengambilan S2 di London. Anda salah sangka, Pak Khoirul. Anda lupa pernah bertemu saya waktu seminar di kota ini?"


Khoirul memutar memori otaknya. Dia sama sekali tidak ingat mengenai Zaki. Apa mungkin memorinya sudah banyak yang memudar? Tapi dia tidak mau begitu saja mengakui pernyataan Zaki. "Sebelumnya saya lupa pernah bertemu dengan anda. Anda dari universitas mana?"


Zaki menyebutkan nama universitasnya. Lalu Khoirul menghubungi temannya yang juga mengajar di universitas tersebut. Kinan dan Khadijah menunggu Khoirul dengan tegang. Khadijah yakin Kinan bukan tipe gadis yang suka bermain dengan om-om. Pasti Khoirul salah.


Tidak berselang lama, Khoirul kembali pada mereka. Raut wajahnya sudah lebih tenang. "Ternyata anda benar dosen di universitas itu. Maafkan saya. Saya kira anda sedang memanfaatkan kepolosan adik saya. Tapi ngomong-ngomong, tempat untuk bertemu masih banyak kenapa malah di tempat seperti ini? Lalu kamu Kinan? Kenapa kamu bisa ada di sini?"


Kinan menghela napas karena kesalahpahaman itu sudah berakhir. Dia meminta maaf berulangkali pada Zaki dan berjanji akan menjelaskan semuanya pada Khoirul. "Bagaimana kalau kita makan malam dulu, Kak?"


Tanpa pertimbangan Khoirul langsung mengiyakan.


°°°

__ADS_1


Kinan menjelaskan bahwa dia mengenal Zaki dari dosennya yang dulu pernah mengajarnya. Menurut cerita, Zaki salah satu lulusan S2 di universitas bergengsi London. Kinan sebenarnya ingin menanyakan seluk beluk S2 pada Khoirul tapi dia takut Khoirul terbebani karena masalah rumah tangga mereka.


Kinan dan Zaki membuat janji untuk bertemu di Jakarta tapi Zaki sibuk dengan kegiatannya di kota itu. Selagi Kinan bertemu dengan Zaki, dia juga sudah punya rencana untuk tinggal di rumah kakaknya.


Sayangnya pertemuan pertama mereka malah di tempat yang tidak terduga karena Zaki punya beberapa alasan kenapa dia bisa ada di hotel itu.


Singkat cerita, Kinan ingin menyapa Zaki sebentar lalu ke rumah Khoirul. Kenyataannya mereka malah dipergoki oleh kakaknya.


"Begitu ceritanya, Kak," jelas Kinan panjang lebar.


Khoirul mendadak diam. Dia malu telah salah terka, tapi dia siap untuk meminta maaf. "Sekali lagi maafkan saya karena telah salah sangka, Pak Zaki. Saya sangat takut Kinan salah arah apalagi dia masih muda. Saya harap anda maklum dengan sikap saya tadi. Soal pukulan, saya akan bertanggung jawab. Jika ada masalah, saya siap membiayai pengobatan anda."


Zaki tidak mempermasalahkannya. Dia juga tidak akan meminta pertanggungjawaban. "Seharusnya saya memberikan penjelasan lebih cepat. Anggap saja masalah ini impas."


"Terimakasih sekali lagi. Sebaiknya kita mulai makan," ucap Khoirul akhirnya.


Khadijah dan Kinan tersenyum lega melihat keadaan menjadi lebih baik.


°°°


"Kita beda kamar kan?" tanya Kinan memastikan. Dia tidak mau mengganggu keromantisan di antara pasangan itu.


"Terserah kamu, mau satu kamar atau beda kamar," ucap Khoirul.


"Kalau begitu, kita beda kamar saja, Kak. Nanti aku malah mengganggu kakak lagi," sungut Kinan.


"Oke. Usul diterima. Masuklah!" Khoirul mendahului mereka untuk memesan satu kamar lagi. Lalu Kinan masuk ke dalam kamarnya setelah mengucapkan selamat malam.


Setelah Khoirul dan Khadijah hanya berdua, Khadijah menyuarakan apa yang tidak sengaja dia lihat tadi. "Apa mungkin Pak Zaki menyukai Kinan, Mas?"


"Nggak mungkin. Kenapa dia harus suka dengan Kinan?"


"Siapa tahu benar. Soalnya aku lihat dari waktu Kinan menjelaskan, pandangannya nggak mau lepas dari Kinan. Aku pikir karena mereka memang dekat karena guru dan murid, tapi kok beda," tukas Khadijah.


Khoirul bukannya percaya, dia malah mengacak-acak rambut Istrinya, "Nggak mungkin. Aku sudah tanya sama temanku kalau Zaki sudah punya calon istri. Nggak mungkin dia suka sama Kinan yang usianya jauh di bawahnya."

__ADS_1


Khadijah ber-oh ria. Dia akhirnya percaya jika asumsinya salah. Kalau sudah punya calon istri berarti ikatan hubungan mereka sudah lebih dari cukup untuk saling percaya. Tapi bukannya masih banyak orang yang berselingkuh meskipun statusnya calon istri? Ah, sudahlah. Khadijah tidak mau menerka yang bukan-bukan.


"Dari mana memikirkan hal lain, kita pikirkan saja rencana kita malam ini. Kamu mau berapa step?" bisik Khoirul manja.


"Dasar suamiku!"


°°°


Kinan sudah terlelap tapi tiba-tiba ponselnya berdering. Panggilan masuk dari seseorang. Gadis itu ingin mengacuhkan tapi dia penasaran. Ternyata ...


"Iya, Pak," jawab Kinan dengan suara seraknya.


"Kamu ada di kamar berapa?"


"Em, dua ratus sepuluh, Pak. Kenapa?" tanya Kinan ragu.


"Boleh saya masuk?"


"Jangan, Pak! Nanti kak Khoirul tahu hubungan kita. Saya sudah merancang seribu alasan agar kak Khoirul percaya pada saya. Kalau sampai kita ketahuan, saya nggak bisa jamin bapak akan selamat."


"Tenanglah. Mereka ke hotel juga untuk senang-senang. Ingat saya pernah bilang apa?" tanya Zaki penuh ambisi.


"Em, apapun yang terjadi bapak akan melamar saya."


"Makanya itu kamu jangan takut. Anggap saja kita hanya menyembunyikan hubungan ini untuk sementara. Setelah itu, saya akan mengatakan yang sebenarnya. Jadi, boleh saya mampir? Saya masih ada di depan hotel."


Kinan meragu. Dia memang menyukai Zaki sejak pertama kali mereka bertemu. Dia menganut sistem pernikahan kakaknya yang menikah dengan mahasiswinya sendiri. Secara kebetulan dia bertemu Zaki dan akhirnya obrolan mereka tersambung dengan baik.


Alasannya tadi sebenarnya tidak seratus persen salah. Dia memang mengenal Zaki dari dosennya. Lalu mereka bertemu di Jakarta beberapa kali dan timbul perasaan suka. Kinan nekat datang ke kota yang kakaknya tuju, berharap bisa mengobati rasa rindunya pada Zaki. Tapi takdir seakan memperburuknya.


"Tapi kita nggak melakukan apa-apa kan, Pak?" tanya Kinan.


"Kalau sentuhan sedikit nggak masalah kan?"


°°°

__ADS_1


__ADS_2