
Kinan melirik Khadijah, dia lega karena kakak iparnya membantunya. Dia sebenarnya tidak tahu jika Angga bisa senekat itu. Bagaimana dia bisa tahu kalau pemotor itu suruhan Angga kalau setiap orangnya beda?
"Kinan nggak pernah berhubungan dengan Angga lagi. Saya saksinya. Iya kn, Kin?" tanya Khadijah.
Kinan mengangguk cepat, "Selama ini dia memang masih menghubungiku tapi aku nggak menggubrisnya. Aku juga nggak tahu dia bisa senekat itu, Kak. Kalau aku tahu, aku pasti melaporkannya ke polisi."
Khoirul mencerna setiap ucapan adiknya dengan kepala dingin. Dia harus membuat keputusan yang bijak. "Baiklah, kakak mencoba percaya sama kamu. Sebaiknya kamu kirim semua screenshot pesan dan telepon dari Angga, biar kakak yang laporkan dia ke polisi."
"Iya, Kak," jawab Kinan. Dia buru-buru melakukan perintah Khoirul.
Khadijah bisa bernapas lega karena Khoirul tidak lagi memburu adiknya. Dia saling lempar tatapan dengan suaminya, memintanya untuk lebih bersabar. Ketika Kinan memutuskan untuk pulang, Khadijah memuji suaminya.
"Kalau bicara baik-baik kan adem, Mas. Kenapa sih pakai emosi?"
"Ya saya benci saja kalau mendengar nama Angga. Dari awal saya sudah memperingatkan dia untuk hati-hati memilih pacar. Jangan karena dia suka, langsung main serobot. Harus diselidiki dulu gimana orangnya, latar belakangnya dan juga sifatnya."
"Berarti Kinan harus pilih-pilih teman?"
"Bukan begitu," elak Khoirul.
"Jadi kalau dari awal kita nggak dijodohkan, bapak juga nggak akan melirik saya?" ketus Khadijah. Dia jadi berpikir yang bukan mengingat Khoirul seprotektif itu pada Kinan.
"Siapa bilang kita dijodohkan? Saya yang meminang kamu pada orangtua kamu," tukas Khoirul. Satu hal yang belum dia ceritakan pada Kinan, alasan di balik pernikahan tiba-tiba itu.
Khadijah tampak syok. Benarkah apa yang dia dengar? "Bapak bergurau kan?"
"Saya nggak pernah bergurau jika menyangkut soal kamu. Kalau kamu nggak percaya, tanyakan pada orangtua kamu. Mereka akan menceritakan semuanya. Bagaimana saya bisa berhubungan dengan ayah kamu dan juga bagaimana saya mencoba meminang kamu," jelas Khoirul.
Khadijah belum sepenuhnya memahami apa yang dia dengar. Jadi dari awal tidak ada perjodohan? Apakah Khoirul sudah menyukainya sejak dulu? Wanita itu ingin memaksa Khoirul menceritakan semuanya tapi di tidak tahu apakah dia mampu mendengarkan.
Sejujurnya dia bahagia ketika dirinya disukai pria yang telah memutuskan untuk berumahtangga. Pria yang mempunyai kelebihan yang lebih dari dirinya. Pria yang bahkan mengamatinya dalam diam. Rasa haru itu tidak sanggup pergi dari hatinya.
Khadijah menatap suaminya dengan ekspresi sulit diartikan. Gerakan kelopak matanya yang tidak tentu arah, memaksa Khoirul untuk mendekat. Ketika suaminya menunduk, kedua lengan Khadijah merangkul bahu suaminya. Wanita itu menangis dalam diam, tanpa isakan dan juga teriakan.
"Kenapa?" tanya Khoirul pelan.
"Terimakasih, Mas. Terimakasih mau bersabar menghadapi saya," bisik Khadijah.
Telapak tangan Khoirul mengusap kepala istrinya dengan sayang, "Iya. Kalau nggak bisa sabar sudah saya minta kamu tidur di kamar tamu."
Seketika Khadijah mengurai pelukan mereka. Matanya yang sembab mendelik tajam, "Maksudnya? Bapak mau saya tidur di kamar tamu?"
"Loh bukannya dulu kamu pernah meminta kamar lain?"
__ADS_1
"Kapan saya pernah bicara begitu?" elak Khadijah. Dia tentu sudah lupa pada ucapannya dulu.
"Dulu sekali. Waktu pertama kali kita menjadi suami istri. Kamu takut saya melakukan sesuatu yang buruk sama kamu makanya kamu minta kamar lain. Kalau dipikir-pikir, wanita seberani kamu kok malu berhadapan dengan saya," jelas Khoirul, sedikit menggoda istrinya.
Khadijah melempar pukulan pada perut suaminya, lalu mencubitnya karena kesal digoda. "Awas ya, Pak! Saya usir bapak ke kamar tamu kalau saya sudah pulang dari rumah sakit."
"Jangan dong, Sayang. Kasihanilah aku," rengek Khoirul.
"Bodo amat. Saya marah."
Di luar dugaan, Khoirul malah melancarkan kecupan mesra pada bibir istrinya. "Coba gimana marahnya?"
"Pak Khoirul!"
"Apa, Sayang?"
"Saya mual," keluh Khadijah.
Barulah Khoirul bereaksi berlebihan dengan membawa istrinya untuk ke kamar mandi. Tapi sampai di dalam sana, Khadijah malah tertawa terbahak-bahak. Dia berhasil mengelabui suaminya dan menggodanya.
Khoirul menyadari apa yang dilakukan istrinya. Dia mencubit kedua pipi Khadijah, gemas. "Kamu berani menggoda saya ya?"
"Salah sendiri begitu."
"Meskipun kamu jahil, saya tetap cinta sama kamu."
Khoirul tidak lagi memaksa kalau memang Khadijah belum ingin mengutarakan isi hatinya. Yang terpenting sekarang, hubungan mereka jauh lebih baik karena kehamilan Khadijah.
°°°
Khadijah diperbolehkan pulang keesokan harinya. Dia dipaksa diam di rumah oleh Khoirul seharian dengan dalih pemulihan kesehatannya.
Barulah dua hari kemudian, dia berangkat ke kampus.
"Kamu yakin bisa masuk kuliah?" tanya Khoirul untuk kesekian kalinya. Sejak semalam pria itu tidak henti-hentinya bertanya apakah istrinya baik-baik saja.
Khadijah yang sedang menyisir rambut setengah keringnya menoleh, "Yakin, Pak. Saya sudah sehat sepenuhnya."
"Perut kamu gimana?"
"Baik-baik saja." Ketika Khadijah berniat menghidupkan hairdryer, Khoirul menahannya. Pria itu melakukan pekerjaan tersebut sembari menyisir rambut istrinya.
"Nanti saya antar sampai tempat parkir," ucap Khoirul disela-sela kesibukannya.
__ADS_1
"Jangan, Pak! Saya sama supir saja," sela Khadijah.
"Nggak bisa. Harus sama saya. Kalau kenapa-kenapa di jalan gimana?"
"Ya bapak jangan berpikir begitu dong," keluh Khadijah. Suara dengungan hairdryer membuat mereka harus saling adu kekuatan mulut.
"Iya, iya, maaf. Begini saja, kita berangkatnya beriringan. Kamu dulu di depan lalu saya membuntuti. Biar saya bisa tenang. Satu hal lagi, jangan pergi keluyuran dengan Fattan ataupun Richard. Ingat itu!" pesan Khoirul.
"Iya, Pak."
Pengeringan itu selesai. Mereka bersiap untuk berangkat ke kampus. Khoirul sudah membungkus beberapa roti bakar untuk Khadijah. Siapa tahu wanita itu lapar kalau sedang berjalan-jalan di kampus.
Khoirul melihat kendaraan Khadijah berhenti di tempat parkir mahasiswa, lalu dia sendiri beralih ke tempat parkir khusus dosen setelah mengawasi istrinya masuk ke dalam gedung.
°°°
Khadijah duduk termenung sendirian sembari membuka bekalnya. Melihat tumpukan roti dengan selai, dia tidak berminat untuk menikmatinya. Dia membungkusnya kembali dan memainkan ponselnya.
Baru beberapa menit, Khadijah merasakan cacing di dalam perutnya berkonfrontasi. Dia akhirnya bangkit untuk membeli makanan di kantin. Entah apa yang terjadi, pada jarak beberapa meter sebelum menuju pintu masuk kantin, perutnya bergejolak. Indra penciumannya menolak untuk menghirup aroma berbagai masakan.
Khadijah akhirnya berlari ke koridor, mencari toilet untuk memuntahkan isi perutnya. Dia mencari bilik yang kosong dan ...
"Hoek!"
Padahal ketika mengunyah masakan Bik Sani dia tidak mual sama sekali tapi kenapa mencium aroma kantin dia tidak bisa menahan diri.
"Hoek!"
"Hoek!"
"Hoek!"
°°°
Beberapa hari setelahnya ...
"Eh, katanya Khadijah hamil di luar nikah ya?"
"Sama siapa?"
"Oh, si Fattan mungkin. Kan dia lagi dekat sama Fattan."
Desas-desus itu terdengar riuh ketika Khadijah melewati koridor kampus. Wanita itu kebingungan karena ditatap tajam apalagi dengan mulut-mulut penuh gosip tidak jelas.
__ADS_1
Bagaimana ini? Batin Khadijah.
°°°