
Khoirul ingin memarahi Khadijah karena wanita itu tidak mau repot-repot menghubunginya, tapi dia mengurungkan niatnya ketika melihat istrinya yang duduk termenung di dalam kamar.
Hentakan sepatunya bahkan tidak membuat Khadijah menoleh. Khoirul menghampirinya dan duduk di samping istrinya. "Bagaimana perasaan kamu?"
Khadijah menghela napas berat. Dia teramat lelah seharian ini padahal waktu masih panjang untuk mencapai malam hari. Wanita itu ingin menunjukkan sisi lemahnya tapi dia tidak mau membuat Khoirul cemas. "Saya baik-baik saja, Pak."
Khoirul memeluk Khadijah, memberikan dukungan, "Harusnya kamu bicara sama saya, Dijah. Saya akan membela kamu."
"Kalau saya datang pada bapak, orang-orang akan tahu siapa bapak sebenarnya. Lagi pula sudah ada Raisa yang membantu saya," gumam Khadijah. Suaranya tidak menunjukkan emosi apapun bahkan tidak ad kemarahan di sana.
"Kalau mereka bertanya siapa yang menghamili kamu, katakan saja saya yang membuat kamu begini. Biar bagaimanapun kita nggak bisa sepenuhnya merahasiakannya. Apalagi kuliah kamu tinggal beberapa bulan lagi," ucap Khoirul. Dia melepaskan pelukannya, lalu mengusap kepala istrinya, "apa yang salah kalau kita mengakui hubungan kita?"
Khadijah bereaksi. Manik matanya melebar ditambah dengan ekspresi ketidaksukaan. "Bapak nggak pernah tahu jadi saya gimana kan? Jadi jangan asal enteng menyebut publikasikan saja hubungan kita. Saya nggak pernah pacaran dan sering mendapat banyak tekanan dari orang-orang karena cara berpakaian saya yang terbuka. Lalu kalau saya bicara jujur, apa mereka bukannya malah menghina saya kalau saya ini yang menggoda bapak? Kalau saya nggak melakukannya, kenapa saya bisa hamil?"
"Kamu terlalu banyak berpikir, Dijah. Jalani saja dulu. Kalau memang mereka berpikir begitu, saya akan membela kamu. Gunanya saya apa sih dalam rumah tangga kita?"
Helaan napas panjang kembali terdengar. Khadijah menolak untuk berdebat lebih jauh lagi.
°°°
Malamnya ...
"Gimana? Suasananya masih memanas?" tanya Khadijah.
Raisa datang ke rumahnya untuk memastikan keadaan sahabatnya itu. Melihat bengkak pada bawah mata Khadijah, meyakinkan dia bahwa sahabatnya memikirkan kejadian tadi pagi.
"Masih. Mereka banyak menggunjingkan kamu di grup-grup kampus. Bahkan ada yang membuat kelompok untuk mencari tahu siapa orang yang menghamili kamu," jelas Raisa.
Punggung Khadijah menegang. "Aku harus gimana, Sa?"
"Diamlah dulu di rumah. Tunggu sampai keadaan mereda," usul Raisa. Dia melihat beberapa foto pernikahan Khadijah dan Khoirul di ruang tamu. Terlihat sekali jika dua orang itu hanya menggelar pesta kecil-kecilan. Muka Khadijah yang seakan tidak percaya dia menikah dengan dosennya sendiri terlihat kentara.
Semoga dengan adanya insiden yang menimpa Khadijah, wanita itu bisa mempublikasikan pernikahannya dengan Khoirul. Dengan begitu, Khadijah tidak perlu kucing-kucingan lagi.
"Jangan dipikirkan, Dijah! Aku yakin orang-orang pasti bosan menggosipkan kamu," tukas Raisa.
"Iya kalau mereka bosan, kalau mereka semakin ingin tahu?"
__ADS_1
"Jelaskan saja semuanya. Pak Khoirul juga akan membela kamu," jawab Raisa.
Khadijah lagi-lagi diam. Dia sama sekali tidak suka dengan ucapan itu, tapi dia tidak akan mendebat Raisa.
Ketika belum ada pembicaraan lagi, Khoirul muncul dengan deheman yang khas. Pria itu membalas sapaan Raisa, "Sebaiknya kamu pulang dulu. Biarkan Khadijah istirahat. Dari tadi dia nggak mau tidur."
Raisa tidak enak hati mendapat sindiran halus dari dosennya. Lagi pula dia agak aneh kalau bertemu dengan Khoirul di luar kampus. Apalagi dengan setelan santai yang semakin menambah ketampanan sang dosen.
"Aku pamit ya, Dijah. Saya permisi dulu, Pak Khoirul," ucap Raisa.
Sejujurnya Khadijah masih ingin mengobrol tapi Khoirul benar-benar menyebalkan. Begitu Raisa pulang, dia langsung menyambar pria itu dengan lontaran amukannya.
"Saya juga mau quality time sama teman saya, Pak. Lama-lama saya bisa stress kalau harus diam terus," keluhnya.
"Siapa yang menyuruh kamu diam sih, Dijah? Kamu bisa bicara sama saya, ngobrol apapun sama saya. Saya siap menampung curahan hati kamu," elak Khoirul.
Khadijah melengos, "Terserah." Dia berjalan tergesa-gesa ke kamarnya.
"JANGAN LARI!" teriak Khoirul.
Tapi peringatan itu tidak digubris. Dia melangkah semakin cepat, lalu ketika dia sampai di dalam kamarnya, pintu tersebut buru-buru dikunci.
"TIDUR DI KAMAR LAIN, PAK. SAYA NGGAK MAU SATU RANJANG SAMA BAPAK," teriak Khadijah.
"Nggak baik loh kalau kamu durhaka sama suami."
"BODO AMAT!"
"Khadijah sayang, buka pintunya. Saya nggak mau tidur di luar," pinta Khoirul lagi. Kali ini nada bicaranya dibuat memelas.
"SAYA NGGAK BILANG BAPAK TIDUR DI LUAR. BAPAK TIDUR SAJA DI KAMAR TAMU!"
"Sama aja dong, Sayang. Saya nggak bisa tidur kalau kamu nggak ada di samping saya," rengek Khoirul.
"SAYA NGGAK PEDULI."
Khoirul menghela nafas kasar. Sudahlah, tidak ada gunanya merengek karena Khadijah tidak akan mau mengikuti kemauannya. Khoirul terpaksa tidur di kamar tamu.
__ADS_1
Pukul 23.00 ...
Khoirul merasa ada getaran di samping tempat tidurnya. Pria itu menoleh dan mendapati istrinya sedang menarik selimut yang sama. "Kamu kenapa pindah?"
"Saya nggak bisa tidur, Pak," sungut Khadijah. Dia gengsi kalau harus memeluk Khoirul lebih dulu jadi dia menunggu suaminya mengerti.
Tidak butuh waktu lama untuk Khoirul memahami istrinya. Di balik sikap kasarnya pasti terselip keinginan untuk bersama dirinya. Dengan segenap rasa cinta, Khoirul merengkuh istrinya dan memberikan kecupan selamat malam.
Semoga hari esok, nggak ada lagi orang-orang yang ingin menyakiti kamu, batin Khoirul.
°°°
Pagi hari yang cerah, dengan diselingi suara burung berkicau di dahan pohon. Khoirul bangun lebih dulu, sengaja membiarkan Khadijah terlelap. Dia bersiap untuk pergi ke kampus, ada yang harus dia selesaikan.
"Bik, tolong jaga Khadijah ya? Jangan bolehin dia main ke luar. Perhatikan makanannya agar gizinya seimbang," ucap Khoirul mewanti-wanti Bik Sani.
Bik Sani mengangguk, "Baik, Tuan. Saya akan menjaga Nyonya Khadijah dengan baik."
"Terimakasih, Bik."
Khoirul berangkat ke kampus dengan tekad kuat. Dia akan membuat istrinya menyadari bahwa suaminya bisa meringankan bebannya.
Koridor kampus yang hampir selalu dipenuhi mahasiswa-mahasiswi yang sekedar duduk-duduk di kursi atau berdiri dengan makanan ringan di tangannya, menjadi tempat bagi mereka untuk menggosipkan Khadijah. Bahkan nama Fattan dibawa-bawa. Tidak hanya itu, gosip lain timbul entah dari mana, mengatakan bahwa Khadijah dan Fattan pernah masuk ke dalam hotel yang sama.
Khoirul meradang. Dia menghampiri para mahasiswi itu dan menanyakan dengan nada ketus apakah dia punya bukti tentang gosip tersebut.
Mahasiswi itu jelas ketakutan. Dia juga tidak tahu dari mana asal gosipnya. "Maaf, Pak, saya hanya mendengar dari teman-teman yang lain."
"Beritahu namanya. Saya akan kroscek sendiri," tandas Khoirul.
Tentu saja ucapan itu menimbulkan tanda tanya. Kerumunan tersebut tidak lagi memfokuskan perhatian pada gosip Khadijah, mereka memasang telinga baik-baik. Ada yang terang-terangan mendekat untuk mengetahui apa maksud dari dosen killer itu.
"Maaf, Pak, saya ... saya ... saya," ucap mahasiswi itu gelagapan. Dia menyentil teman sampingnya namun tidak ada bantuan sama sekali.
Khoirul menajamkan penglihatannya dan mengedarkan pandangannya ke semua orang. "Kalau ada yang berani menggosipkan Khadijah lagi, saya tidak akan tinggal diam. Khadijah memang hamil, tapi hamil anak saya."
Oh tidak!
__ADS_1
°°°