BACKSTREET YUK, PAK DOSEN!

BACKSTREET YUK, PAK DOSEN!
Bab 29 - Oh, Tidak!


__ADS_3

Khoirul mendesah pelan, lalu menghampiri istrinya, "Kenapa harus malu? Apa yang kamu pikirkan tentang saya? Saya suka barang-barang mewah? Begitu?"


Khadijah menggeleng, "Bukan, Pak."


"Lalu?"


"Ya saya malu aja, Pak. Bapak kan memberikan saya ponsel terbaru, saya hanya punya ide untuk membelikan bapak jam tangan. Rasanya saya ingin menenggelamkan muka saya, Pak."


Khoirul tahu apa yang dipikirkan istrinya. Dia memeluk Khadijah dengan sayang, "Ditenggelamkan kemana? Ke bathtub?" Pria itu bercanda agar Khadijah tidak terlalu tegang.


"Nggak bisa napas dong, Pak," gumam Khadijah kesal.


"Ya kan kamu sendiri yang ambil pusing hanya karena kado," ucap Khoirul sembari merenggangkan pelukan mereka. Dia meminta Khadijah memasangkan jam tangan itu di pergelangan tangannya.


Khadijah dengan enggan mengikuti perintah suaminya. Khoirul menilik benda mengkilap di tangannya, "Harganya mahal ya?"


"Bapak nggak dapat notifikasi pembelian barang-barang dari kartu hitam bapak?" tanya Khadijah bingung.


Khoirul menghendikkan bahu, "Saya nggak mau mencampuri urusan kamu. Saya memberikan kartu itu untuk uang belanja kamu, kebutuhan kamu, jadi kamu mau pakai untuk apapun saya nggak akan melarang kecuali untuk selingkuh. Nah, itu saya pasti marah besar."


"Bapak kok tahu niat saya sih? Saya memang ingin selingkuh. Soalnya banyak banget laki-laki tampan di luar sana," ucap Khadijah asal.


Khoirul menarik ujung hidung istrinya, "Mulai nakal ya?"


"Duh, sakit, Pak," pekik Khadijah.


"Habisnya kamu begitu. Jangan pernah punya pemikiran seperti itu. Bisa-bisa suatu saat nanti terjadi juga. Kita berumahtangga bukan untuk setahun dua tahun, Dijah. Tapi untuk selamanya, sampai maut memisahkan."


Sweet! Khadijah merasakan manik matanya memanas. Dia tidak ingin menangis. Dia hanya ingin berbahagia atas kepercayaan Khoirul pada rumah tangga mereka.


"Bunyi apa itu?" goda Khoirul ketika mendengar perut Khadijah berbunyi nyaring.


"Duh, lapar lagi." Khadijah terkekeh.


"Kalau begitu, buat mie rebus mau?"


Khadijah mengangguk cepat, ide brilian muncul di kepalanya. "Bapak punya kompor portabel nggak?"


"Ada. Kenapa memangnya?"


"Makan di balkon yuk!"


Khoirul selalu tidak habis pikir dengan ide-ide Khadijah yang terkadang nyeleneh. Tapi dia bersyukur karena mood istrinya kembali naik.


°°°


Segala persiapan telah selesai. Khadijah yang menyiapkan semuanya termasuk bahan-bahan untuk merebus mie. Dia pernah menggunakan kompor portabel sebelumnya ketika acara camping sekolah menengah pertama dulu. Semua anak diwajibkan bisa melakukan semuanya sendiri termasuk memasak.


Khoirul berniat membantu tapi Khadijah menolak dengan tegas. Dia yang memasukkan semua bahan-bahan sesuai kelunakannya, lalu menunggu hingga matang sempurna. Tidak terlalu lembek juga tidak terlalu keras.


"Siap, Pak," ucap Khadijah. Lidahnya sudah bergoyang, menginginkan makanan tersebut masuk ke dalam mulutnya.


Khoirul hanya menunggu. Dia ingin tahu apa Khadijah berinisiatif mengambilkan makanan untuknya atau dia hanya memikirkan dirinya sendiri.


Khadijah mengambil mangkuk kecil, sekecil genggaman tangan, lalu mengambil mie yang masih separuh keriting. Dia tersenyum simpul sebelum akhirnya memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya.

__ADS_1


Apa yang saya harapkan dari istri yang lebih suka makanan dari pada suaminya sendiri. Khoirul, Khoirul, batin Khoirul gemas.


"Bapak kok nggak makan?" tanya Khadijah bingung. Dia saja sudah ingin mengambil satu sendok lagi.


"Saya kira kamu mau makan sendiri." Khoirul mulai mengambil makanannya sendiri sebelum dia kelaparan menunggu Khadijah sadar diri.


"Nggaklah, Pak. Dua bungkus mie terlalu banyak untuk saya."


"Dijah, Dijah, dimana-mana suami dulu dilayani baru istri. Kamu kok makan untuk perut kamu sendiri," gerutu Khoirul.


"Pak Khoirul, jaman sekarang nggak ada yang namanya suami dilayani pertama kali. Jaman sudah berubah. Istri juga mau dilayani bukan hanya suami saja," celoteh Khadijah. Mulutnya tidak henti-hentinya menggiling mie rebus itu.


"Sepertinya kamu saja yang berpikir begitu," ucap Khoirul. Dia mengambil mangkuk Khadijah, "saya suapin."


Khadijah tidak berniat menolak. Wanita itu membuka mulutnya. Begitu makanan itu sampai ke dalam mulutnya, tiba-tiba Khoirul mengecup bibirnya sebelum dia bisa mengunyah.


Kedua mata Khadijah mendelik, lalu dia terbatuk-batuk. Khoirul mengulurkan minuman dengan senyum geli. Dia sengaja melakukannya agar Khadijah tahu dirinya kesal.


"Pak Khoirul," sentak Khadijah.


Khoirul tidak menjawab, dia mengambil tisu dan meraup bibir Khadijah yang belepotan air. "Hm."


"Bahaya kalau mencium orang posisinya begitu," gerutu Khadijah.


"Kalau sekarang?" goda Khoirul.


"Nggak! Selesaikan makan dulu, Pak. Nanti lembek mie-nya," elak Khadijah.


Khoirul pura-pura mengangguk mengerti, "Baiklah. Nanti setelah makan jangan harap kamu bisa pergi dari saya."


Bulu kuduk Khadijah meremang. Benar-benar menyeramkan, persis seperti film-film horor.


°°°


Khadijah berada dalam pelukan lengan Khoirul, sementara Khoirul mengusap rambut istrinya dengan sayang. Pria itu mendesis, dia melupakan sesuatu.


"Kenapa, Pak? Lelah?" tanya Khadijah.


"Tentu saja nggak. Kenapa? Mau lagi?" canda Khoirul.


Khadijah menggeleng cepat, "Lelah, Pak."


Khoirul terkekeh, "Saya lupa kalau besok malam acara pernikahan Miss Tiara."


"Miss Tiara?"


"Hm. Saya kira masih lama. Besok tanggal dua puluh tujuh kan?"


Khadijah mengangguk, "Betul."


"Mau temani saya?"


Khadijah mendelik, "Nggak mau, Pak. Nanti saya ditanya-tanya lagi."


"Jawab saja saudara jauh saya," sindir Khoirul. Dia mengingatkan Khadijah kalau ucapannya waktu itu sangat mengganggu.

__ADS_1


"Balas dendam ini ceritanya."


"Salah sendiri kamu begitu. Nggak akan ketahuan kok. Tamunya pakai dress code hitam dengan topeng-topeng Cinderella. Jadi semuanya pasti pakai topeng. Anggap saja kamu melakukan riset gimana pesta dosen-dosen kamu," jelas Khoirul.


Khadijah berpikir sesaat. Tidak ada salahnya juga. Apalagi dia tidak memperlihatkan wajahnya secara langsung. "Yakin bapak mau mengajak saya?"


"Yakin, Sayang."


"Jangan panggil sayang, Pak. Geli."


"Kenapa sih, Sayang?" goda Khoirul.


"Ish, Pak Khoirul."


"Apa, Sayang?"


"Nggak taulah. Saya mau tidur. Mana baju saya tadi?" tanya Khadijah sembari menilik pakaiannya yang berceceran di bawah.


"Nggak usah pakai. Begini saja sudah nyaman."


Duh, jantung wanita itu berlomba kembali.


°°°


Malam berikutnya ...


Khadijah melihat gaun yang dia kenakan dengan sumringah. Cantik sekali dirinya, begitu pemikirannya. Apalagi ditambah mahkota mungil di atas gelungan rambutnya yang dipaksa naik. Tinggal memakai topeng berwarna sama seperti Khoirul dan dia selesai bersiap.


Ketika dia turun, Khoirul mengagumi kecantikan istrinya melalui tatapan mata. Tidak ada pujian sama sekali. Pria itu mengulum senyum melihat Khadijah merengut sebelum mereka berangkat.


"Kenapa?"


"Nggak ada pujian, Pak?"


"Cantik," puji Khoirul.


"Apanya?"


"Gaunnya."


"Ish," desis Khadijah.


"Kamu yang paling cantik di pesta nanti. Tapi akan lebih cantik lagi kalau kamu panggil saya 'Mas' atau 'Sayang'. Jangan 'Pak'! Nanti dosen yang lain curiga sama kamu," pinta Khoirul.


"Saya juga tahu itu, Pak, eh, Mas."


"Nah, itu baru pintar."


°°°


Satu jam berlalu ...


Khadijah menguap berulangkali. Ternyata membosankan menghadiri pesta pernikahan seorang dosen yang kebanyakan menceritakan pengalaman mengajar di universitas negeri ternama.


Dia pamit ke kamar mandi, namun dia tidak sengaja menabrak seseorang di pintu keluar. Oh, tidak! Topengnya terlepas.

__ADS_1


"Khadijah?"


°°°


__ADS_2