
"Nyonya Dijah kembali ke setelan awal, Tuan," canda Bik Sani ketika melihat tingkah Khadijah.
Khoirul membernarkan, "Lebih baik begini kan, Bik? Dari pada kemarin waktu dia murung nggak mau makan."
Bik Sani mengiyakan. Perubahan sikap Khadijah membuat semua orang merasakan kenyamanan. Persis perumpamaan, suasana rumah tergantung suasana hati istri.
"Iya, Tuan. Semoga dengan pindah ke tempat baru, keadaan menjadi lebih baik. Akan lebih indah lagi kalau Nyonya segera diberi lagi kepercayaan. Supaya Nyonya lebih ceria lagi," ucap Bik Sani tulus.
Khoirul mengamini dalam hati. Dia juga berharap yang sama tapi Tuhan yang menentukan. Perjalanan hidup mereka sudah dilalui hampir seperempat jalan. Tinggal bagaimana mereka mencoba bertahan.
°°°
"Mas, sudah dapat tempat kerja baru?" tanya Khadijah sembari menelan pisang goreng buatan Bik Sani.
Khoirul yang mendaratkan kepalanya di pangkuan istrinya membuka mulut, menginginkan potongan pisang goreng itu. "Mau dong, Sayang."
Khadijah memasukkan satu potongan paling kecil membuat Khoirul merengut.
"Kecil banget, Sayang?" protes Khoirul.
"Nanti lagi, Mas. Pertanyaan tadi belum dijawab loh, Mas. Mas udah tahu mau mengajar dimana?"
Khoirul mengangguk disela-sela kunyahannya, "Tentu saja. Universitas negeri yang paling bergengsi. Aku digaji lumayan besar, Sayang. Apalagi waktu mengajarnya nggak sepadat kemarin. Kamu jangan lupa skripsi kamu, Sayang. Jangan sampai tahun ini berlalu kamu masih begini-begini saja."
Mendengar kata mutiara yang satu itu, membuat Khadijah merengut. Dia mengambil alih piring berisi pisang goreng dan memakan satu-satunya potongan ke dalam mulutnya. Melihat hal itu, Khoirul meringis pelan. Dia tidak marah, malah dia tertawa lebar.
"Di dapur masih banyak kan?" tanya Khoirul.
"Habis," sungut Khadijah. Dia menggerakkan kakinya seolah enggan menampung kepala suaminya, "bisa tolong berdiri, Mas? Aku capek."
"Duh, yang ngambek gara-gara skripsi," canda Khoirul. Dia bangkit sembari memeluk istrinya. "Tenanglah, nanti aku bantu. Tinggal sedikit kan?"
"Udah tahu kok masih tanya sih, Mas?"
"Duh, kok begitu bicaranya? Sama suami sendiri loh ini," ucap Khoirul manis.
Khadijah melebarkan garis bibirnya dengan terpaksa. "Maaf, Mas."
"Aku janji bantu kamu. Tenanglah!"
"Janji lolos sampai sidang ya, Mas?" canda Khadijah.
Khoirul mencubit hidung istrinya, "Itu namanya nepotisme. Nggak boleh."
__ADS_1
"Alah, Mas menikah denganku juga karena nepotisme. Kalau nggak mana mungkin kita bisa menikah. Lagi pula kita mana saling kenal sih?"
"Kamu lupa? Kita udah sering bertemu, Dijah."
"Ya kalau itu aku tahu, Mas. Di kelas kan?" tebak Khadijah.
"Bukan. Di luar kelas. Aku dan kamu sering berpapasan dan bahkan pernah bertabrakan beberapa kali, tapi sudah lama sekali. Mungkin kamu nggak ingat."
Khadijah memang tidak ingat pernah bertabrakan dengan Khoirul. Mungkin yang dia ingat hanya kekejaman Khoirul dalam memberikan nilai. Biasanya mahasiswi memang begitu ingatannya.
"Aku sedih kalau kamu nggak ingat sama sekali," gumam Khoirul, pura-pura merajuk.
"Masa lalu nggak penting, Mas. Bukannya sekarang sama kamu?" elak Khadijah. Dari pada Khoirul merajuk.
"Mengalihkan pembicaraan," ketus Khoirul.
"Bisa dibilang begitu, Mas," cengir Khadijah.
Percakapan mereka terhenti karena Khadijah mengeluh mengantuk. Mereka kembali ke peraduan, membuat kenangan manis dari awal kembali. Entah itu dari Khadijah atau Khoirul, tidak ada bedanya.
°°°
Pukul 23.59 ...
"Mas, bangun sebentar coba," pinta Khadijah.
Khadijah bersemangat untuk menunjukkan hasil pencariannya. Dia mencari semua sumber di internet tentang cara hamil dalam waktu singkat. Ternyata di balik sikapnya yang kembali ke setelan pabrik, Khadijah berambisi untuk cepat punya anak.
"Sibuk, Mas. Buka mata kamu dulu, Mas! Lihat ini deh!" desak Khadijah. Tubuhnya sepenuhnya menghadap Khoirul agar dia bisa memperlihatkan layar ponselnya.
Khoirul menajamkan penglihatannya karena semut-semut di matanya masih bergerombol di area matanya. Dia melamatkan kalimat yang tercetak bold dan italic tersebut dan menggumam, "Kamu yakin mau lakukan ini?"
"Yakin, Mas," jawab Khadijah cepat.
"Aku yang nggak yakin. Emang kamu bisa minum obat herbal begitu? Yang ada kamu mual, Dijah. Lebih baik ke dokter," ucap Khoirul.
"Mas, kalau ke dokter sudah biasa. Kalau minum ramuan jamu kan aku bisa sharing ke orang lain gimana caranya aku berhasil." Khadijah saja sudah membayangkan yang bukan-bukan. Benar-benar definisi membuat kesulitan yang dibuat-buat.
Bagi Khoirul, apapun yang menjadi keinginan Khadijah bisa dia kabulkan asalkan tidak melebihi batas kemampuannya.
Pria itu mengangguk pelan sembari tersenyum simpul, "Terserah kamu saja, Sayang. Apapun itu yang penting masih dalam logika."
"Terimakasih, Mas. Aku janji akan berjuang melakukan yang terbaik," tekad Khadijah. Dia lega karena ijin dari suaminya telah turun.
__ADS_1
°°°
Tekad bulat itu hanya bertahan hingga dua hari lamanya. Setelahnya, Khadijah menolak untuk meracik ataupun menelan cairan itu. Khoirul yang sudah bisa menebak hanya melontarkan candaan.
"Apa aku bilang? Yang tahu kamu itu suamimu sendiri, Sayang," ucap Khoirul. Ejekan halusnya membuat Khadijah mendumel sepanjang hari.
"Coba saja kamu yang coba, Mas. Mas juga nggak akan tahan dengan baunya," sungut Khadijah. Padahal dia sudah membuat video tutorial meracik jamu tapi malah dia muntah ketika cairan itu masuk ke dalam tenggorokannya.
"Mana coba? Aku nggak mungkin muntah seperti kamu," balas Khoirul bangga.
"Tunggu saja, Mas!" tantang Khadijah. Dia berjalan ke dapur, meracik jamu yang dia minum dua harian ini. Dengan senyum penuh ejekan dia membawa satu gelas cairan berwarna kekuningan pada Khoirul, "nih, Mas!"
"Ini yang kamu maksud baunya nggak enak?"
"Jangan besar mulut, Mas. Coba dulu baru komentar!"
Khoirul menelannya dalam satu tarikan napas tanpa jeda. Pria itu tidak bisa menyembunyikan ejekannya, "Ini yang kamu maksud baunya nggak enak?"
Kalimat pertanyaan itu seperti dejavu. Khadijah memicingkan mata. Heran kenapa suaminya tidak merasakan kegetiran dalam rasa itu. Dia saja tidak bisa menahan diri.
"Mas yakin kalau Mas ini normal? Jangan-jangan lidahnya kebas," ketus Khadijah.
"Enak saja. Yang kamu maksud nggak enak mungkin temulawak. Kalau jeruk nipis sama tomat sih aku doyan sekali, Dijah. Coba deh minum dua kombinasi itu pasti enak," tukas Khoirul.
"Benarkah?" tanya Khadijah lamat-lamat. Dia belum pernah mencobanya dan berniat melakukannya beberapa hari lagi.
"Iya. Coba dulu baru komentar," sindir Khoirul.
Lalu pukulan itu mendarat pada bahu Khoirul membuat dirinya mendesis.
°°°
Hari-hari yang Khadijah dan Khoirul lalui tidak ada yang spesial, kecuali tingkah Khadijah yang terkadang di luar nalar. Tidak masalah. Seberapa banyak ocehan Khadijah mengenai keistimewaan anak yang baru belajar berjalan atau kelucuan anak yang baru lahir, Khoirul masih bisa menanggapi dengan senyum simpulnya.
Anehnya, Khoirul merasa ada yang kurang kalau Khadijah tidak mengoceh sehari saja. Lalu pria itu akan membuat perhatian agar Khadijah mau mengomel panjang lebar.
"Kamu ini, Mas, kalau aku ngomel kamu sibuk ngomel juga. Kalau aku nggak ngomel, kamu malah bikin ulah. Ini kenapa handuk ada di atas sofa? Nggak sekalian saja di teras rumah," gerutu Khadijah.
Lalu suaminya malah tertawa lebar. Senangnya dalam hati.
°°°
Suatu ketika ...
__ADS_1
"Mas, ini kenapa kok ada Bu Miranti di sini? Mas bertemu sama dia lagi?"
°°°