
Sentuhan sedikit maksudnya? Kinan memang tidak terlalu bodoh untuk menafsirkan kalimat itu, tapi dia ragu kalau harus membayangkannya.
Ting!
Interkom berbunyi nyaring. Kinan beranjak dari tempatnya sembari menempelkan ponselnya di telinga. Dia melihat layar interkom yang memperlihatkan seseorang di luar pintu. Gadis itu menutup mulutnya karena terkejut dengan tamu tidak terduga itu.
"Saya tutup dulu, Pak. Ada yang datang," ucap Kinan.
"Siapa yang datang?"
"Nanti saya beritahu, Pak. Saya tutup dulu," desak Kinan. Dia mengantongi benda itu ke dalam saku bajunya kemudian membuka pintu. "Kak Dijah? Ada apa?"
"Boleh masuk? Belum tidur kan?"
"Sudah sih tadi. Tapi kebangun karena telepon."
"Maaf ya kakak ganggu," ucap Khadijah. Dia masuk setelah diberi ruang oleh Kinan. Wanita itu melihat sebentar ke seluruh ruangan yang tidak jauh dari ruangan miliknya. Komposisi perlengkapannya juga sama persis dengan kamarnya.
"Nggak ganggu, Kak. Ada apa? Kakak perlu sesuatu?" tanya Kinan bingung. Beruntung dia belum mengiyakan permintaan Zaki untuk masuk ke dalam kamarnya. Kalau sampai mereka tertangkap basah, habis sudah riwayat hidupnya. Khoirul saja langsung marah-marah begitu melihat dirinya berduaan dengan Zaki di lobby tadi, apalagi sampai melihat mereka berada dalam satu ruangan yang sama.
"Kakak mau menginap di sini. Boleh nggak?" tanya Khadijah.
"Te-tentu saja, Kak. Kak Khoirul yang bayar kamar ini jadi kakak boleh menginap sesuka kakak," jawab Kinan berusaha tenang. Dia pamit ke kamar mandi sebentar untuk memberitahukan Zaki bawa pria itu tidak bisa datang ke kamarnya.
[Maaf, Pak. Kak Dijah tidur bersamaku. Lain kali saja kita bertemu]
Pesan itu telah terkirim pada nomor Zaki. Kinan menghela napas lega. Dia tidak perlu susah payah membayangkan yang bukan-bukan. Dia masih takut terjadi 'sesuatu' yang membuat dia akan menyesal. Cinta memang buta tapi bukan berarti dia buta segalanya.
Setelah mengirim pesan, Kinan keluar dari sana seolah tidak ada yang penting. Melihat Khadijah yang sudah berbaring di tempat tidur, Kinan bergegas menyusul. Khadijah membuka selimutnya dan memberikan ruang pada Kinan untuk masuk ke dalam. Mereka saling pandang dengan senyum dikulum.
"Seperti pajamas party, Kak. Tapi bedanya kita nggak pakai piyama," ucap Kinan.
"Iya, kamu benar. Ini pertama kalinya kita tidur bersama. Maaf ya kalau aku ganggu kamu. Satu lagi, karena kita usianya nggak jauh beda, panggil nama saja, Kinan. Mumpung kakakmu nggak ada di sini."
"Nggak bisa, Kak. Meskipun usia kita hanya terpaut beberapa tahun tapi kakak sudah menikah dengan kakakku. Jadi kakak juga sudah aku anggap sebagai kakakku sendiri. Nggak sopan dong kalau panggil nama doang," elak Kinan.
Benar juga. Aturan pemanggilan nama sudah menjadi hal yang wajar untuk usia muda. Jadi, Kinan harus sopan pada orang yang lebih tua.
"Baiklah. Kamu emang udah dewasa sekarang. Beruntungnya Khoirul memiliki adik seperti kamu, Kinan."
"Aku emang udah dewasa, Kak," puji Kinan.
__ADS_1
Khadijah menggerakkan kepalanya agar bisa melihat wajah Kinan yang berusaha menyombongkan diri. "Lalu, kamu punya kekasih lagi? Katanya yang kemarin putus. Apa sudah punya tambatan hati?"
Kinan ingin menggeleng tapi dia menyukai Zaki. Bagaimana ini? "Belum, Kak."
"Sepertinya Pak Zaki suka sama kamu."
Kinan menegang, "Dari mana kakak bisa menyimpulkan?"
"Matanya. Kamu nggak merasa tadi matanya melirik kamu melulu? Padahal dia sedang bicara dengan kakak kamu. Aneh saja kalau aku nggak tahu, Kinan. Tempat dudukku ada di depan Pak Zaki."
"Em, kebetulan mungkin, Kak," elak Kinan. Dia menolak mengakuinya. Tanpa disadari, jarinya meremas selimut yang melingkupinya.
"Kamu juga suka sama Pak Zaki?"
"Nggak kok, Kak. Berani benar aku suka sama dosen. Apalagi dia dosen yang akan membimbingku."
"Kamu tahu aku dulu juga punya pemikiran begitu. Tapi pada akhirnya aku suka sama Mas Khoirul juga. Awal pernikahan aku memanggilnya 'Pak' karena merasa kami bukan pasangan yang cocok. Sebelum terlambat sebaiknya kamu mengakuinya, Kinan. Kakakmu akan marah kalau dia tahu kamu berbohong," jelas Khadijah bijak. Padahal dia juga tidak tahu pada awalnya, dia hanya mengira-ngira dan Kinan menunjukkan reaksi yang dia duga. Jadi, pancingannya tepat sasaran.
Kinan memikirkan ucapan itu. Bagaimana caranya dia bicara dengan Khoirul? Apa ada cara yang lebih halus yang bisa dia gunakan?
"Aku akan bantu kamu," ucap Khadijah.
"Caranya, Kak?" jawab Kinan spontan. Dia menutup mulutnya karena kelepasan bicara.
Khadijah menguap. Dia mulai mengantuk. Dirapatkannya selimut miliknya lalu memejamkan mata. Dia membiarkan Kinan berpikir dengan argumennya sendiri. Jalan keluar pasti ada. Jadi, biarkan semuanya mengalir.
°°°
Khadijah membuka mata karena suara bising di ruangan itu. Sepertinya ada yang sedang menelpon. Siapa?
Wanita itu membuka mata, menjelajahi pandangan ke sekitarnya. Dilihatnya Kinan sedang menelpon di balkon kamar dengan ekspresi wajah yang tidak terlalu jelas. Khadijah tidak bisa menerka apa yang terjadi, tapi suara Kinan yang agak meninggi membuat Khadijah sadar siapa yang menghubungi gadis itu.
Khadijah pura-pura masih tidur ketika terdengar suara langkah kaki mendekat. Barulah ketika Kinan masuk ke dalam kamar mandi, wanita itu membuka mata. Pikirannya melayang sampai dia tersadar saat Kinan menyapanya.
"Kita pulang sekarang, Kak?" tanya Kinan seolah tidak ada masalah.
Khadijah mengangguk, "Aku ke kamar Mas Khoirul dulu ya? Mau cuci muka sekalian ganti baju."
"Iya, Kak."
Khadijah merapikan selimut lebih dulu, baru keluar dari kamar. Dia terkejut melihat Khoirul sudah ada di sana dengan ekspresi manyun. Bibirnya yang mengatup ke depan menandakan bahwa dia sedang dalam mood kesal.
__ADS_1
"Kenapa, Mas?" tanya Khadijah.
"Masih tanya?"
"Yuk ah, kembali ke kamar. Aku mau mandi dulu," ajak Khadijah mengapit lengan Khoirul untuk segera pergi. Kalau tidak pria itu pasti diam di tempat sampai malam lagi.
Sesampainya mereka di dalam kamar, Khoirul menarik Khadijah untuk dipeluk dengan sekuat tenaga sebagai pembalasan karena semalaman dia dibiarkan begitu saja.
"Duh, Mas, nggak bisa napas," desis Khadijah. Dia mendorong tubuh Khoirul dengan sekuat tenaga, "kenapa tiba-tiba paksa peluk?"
"Kamu ini, kita ke hotel untuk bulan madu, malah kamu tidur sama Kinan. Aku sendirian di kamar, nggak bisa tidur. Kamu ditelepon berkali-kali tapi sengaja ditinggal kan ponselnya?"
"Iya, Mas. Aku tahu kamu pasti rewel makanya aku tinggal."
"Awas ya. Kalau sampai kamu tiba-tiba meminta, aku tinggal pergi," ancam Khoirul. Dia tidak sungguh-sungguh. Hanya sebuah ancaman angin agar Khadijah tidak mengacuhkannya lagi.
Khadijah memberikan kecupan yang cukup panjang untuk menghibur suaminya tapi malah terbawa arus hingga ke awan. Sekitar tiga puluh menit kemudian, mereka baru keluar dari kamar dengan senyum sumringah. Itu tandanya hasrat terpendam semalam sudah tersalurkan dengan benar.
Mereka mendatangi kamar Kinan. Ketukan tidak sabaran terdengar sejak beberapa menit yang lalu. Bunyi interkom juga sudah pasti memekakkan telinga tapi yang mendiami kamar itu belum juga keluar.
"Kemana sih, Kinan?" dengus Khoirul.
°°°
Sementara di dalam sana ...
Kinan menarik ujung bajunya dengan sekuat tenaga. Dia tidak menyangka Zaki berniat membuang semua pakaian yang melekat di tubuhnya secara paksa.
"Cobalah! Kamu pasti akan suka, Kinan. Saya janji akan menikahi kamu. Kamu nggak percaya sama saya?" pinta Zaki frustasi.
Kinan menggeleng. Dia belum bisa melakukannya. "Tunggu ijin dari Kak Khoirul dulu, Pak. Lalu kita bisa menikah. Setelahnya baru saya menyerahkan keperawanan saya."
Ting!
Ting!
Tok!
Tok!
Tok!
__ADS_1
Dua orang itu saling pandang.
°°°