
"Dijah bukan?"
Khadijah mendongak. Dia mengangguk spontan. "Kak Richard?"
"Hei, nggak nyangka bisa bertemu di sini. Sedang apa? Kamu bekerja di kantor ini? Sejak kapan?" tanya Richard bertubi-tubi.
Khadijah enggan untuk menjawab satu persatu. Jujur dia malu karena tiba-tiba harus berhadapan dengan orang yang dia kenal. Bukan karena dia menjalani perannya sebagai office girl tapi karena dia tiba-tiba bekerja disaat dia mendapat pembelaan dari suaminya mengenai hubungan mereka. Entah Richard tahu apa yang terjadi padanya atau tidak, yang jelas Khadijah merasa rendah diri.
Richard menyadari keengganan Khadijah. Dia meminta maaf karena menanyakan hal pribadi. "Aku ada rapat di luar kantor. Nanti setelah aku kembali, kita ngobrol lagi ya? Mau kan? Aku bekerja di sini soalnya jadi nggak mungkin kita nggak saling sapa."
Khadijah mengiyakan. Richard pergi dari hadapannya sembari sesekali melihat ke belakang. Pria itu memang tidak terlihat mengejek dirinya tapi status mereka terlihat jomplang.
"Ini masih kotor. Tolong bersihkan ulang ya?" Teguran halus itu terdengar di telinga Khadijah. Khadijah segera tersadar dari lamunannya dan bekerja dengan sungguh-sungguh. Siapa tahu bulan depan dia bisa naik jabatan.
°°°
"Kamu pindah ke sini?" tanya Richard mengawali pembicaraan.
"Iya, Kak. Baru satu minggu mungkin. Aku baru tahu kalau kakak bekerja di kantor ini."
"Aku pernah cerita kan kemarin kalau aku bekerja di sebuah perusahaan. Nah, ini perusahaan kedua yang menaungi bakatku," jelas Richard. Dia memajukan tubuhnya, menggunakan telapak tangannya sebagai penutup mulut lalu berbisik, "di sini gajinya lebih besar dari yang kemarin. Makanya aku mau saja kalau pindah ke kantor ini."
Mau tidak mau Khadijah terkekeh mendengar ucapan Richard. Normal jika orang memilih pekerjaan dengan gaji yang besar ketimbang tempat yang nyaman. "Berarti hari ini kakak yang traktir kan?"
"Boleh. Lain kali kamu ya?"
"Tentu."
"Ngomong-ngomong, kamu sama Pak Khoirul?"
Khadijah tersedak. Dia mengambil minuman dan menyesapnya, "I-iyalah, Kak. Masa istri tinggal terpisah dengan suami."
"Keuangan kalian sedang nggak baik ya?"
"Nggak juga, Kak. Aku hanya mencari kesibukan. Aku ... agak pusing kalau di rumah sepanjang hari."
"Kalau begitu," ucapan Richard menggantung karena dia mengulurkan tangannya, "selamat bekerja, Dijah. Semoga kita bisa akur."
__ADS_1
"Terimakasih, Kak."
Khadijah merasa penolakan dirinya soal perasaannya pada Richard tidak mempengaruhi hubungan mereka. Pa karena Richard lebih dewasa dari dirinya? Mungkin begitu. Berbeda dari Khadijah yang masih kekanak-kanakan.
°°°
Meskipun Khadijah berusaha untuk terlihat baik-baik saja di depan orang-orang, tapi hatinya teriris begitu dia memasuki rumah dalam keadaan kosong melompong. Biasanya akan ada Bik Sani yang menyapanya lalu Khoirul yang dengan senang hati menanyakan kabarnya hari ini. Tapi dia hanya sendirian, tanpa seseorang yang bisa membuat hatinya damai.
Suatu ketika dia merasa kepergiannya tidak sebanding dengan pengorbanan Khoirul untuk membawanya pergi jauh dari masalah mereka. Apalagi panggilan-panggilan suaminya yang tidak pernah berhenti memintanya untuk menerima panggilan tersebut. Pesan ratusan kali yang tidak terbaca memenuhi memori ponselnya.
Khadijah memutuskan untuk mengganti nomor ponselnya karena Khoirul membuat hatinya ragu untuk pergi. Jika mereka masih berjodoh, suatu saat pasti mereka akan bertemu.
°°°
"Masih mencari istri yang tiba-tiba hilang itu?" sindir Marwah. Melihat Khoirul yang sibuk dengan ponselnya hampir melupakan orang-orang di sekitarnya membuat wanita itu kesal. "Kalau dia sudah nggak mau tinggal sama kamu, itu tandanya dia punya pria lain. Sebaiknya kamu jangan terus-terusan menghubungi dia. Bisa-bisa dia besar kepala."
Khoirul membanting ponselnya hingga layar ponselnya terbelah dua. "Sebaiknya mama pergi. Mau berapa lama mama mengusik rumah tanggaku?"
"Nggak sopan! Ini mama kamu loh, Khoirul. Nggak sepantasnya kamu bersikap begini."
"Mama memang orangtuaku tapi aku berhak mengatur rumah tanggaku sendiri. Jangan ikut campur! Paling nggak kalau mama nggak bisa membuatku bahagia, jangan memperburuk keadaan. Biar Bik Sani mengemasi pakaian mama," jelas Khoirul. Dia melihat adiknya dari jauh, "kamu juga ikut mama pulang, Kinan!"
°°°
Khoirul menghubungi pihak bank untuk menanyakan penggunaan kartu hitam miliknya yang dibawa oleh Khadijah. Dia mengingkari janji untuk tidak mencari tahu apa saja yang dibeli oleh istrinya. Hanya inilah satu-satunya cara agar dia bisa tahu dimana istrinya berada.
"Ada sejumlah uang yang dikeluarkan dari kartu hitam anda, Pak Khoirul. Tepatnya pada tanggal dua puluh dua Juli, lokasinya di jalan Pahlawan, mesin ATM di area bank utama. Jumlah yang ditarik sebesar tiga juta rupiah," jelas pegawai bank.
"Terimakasih informasinya."
"Ada lagi yang perlu ditanyakan? Apakah anda ingin menonaktifkan kartu tersebut jika memang telah hilang atau mengalami masalah?"
"Tidak. Tidak perlu sampai seperti itu. Saya hanya butuh informasinya."
"Baiklah. Terimakasih sudah menghubungi customer service kami. Jika ada kendala lain bisa hubungi kami. Selamat siang, selamat beraktifitas."
Khoirul menutup panggilannya. Dia mencari alamat yang ditunjukkan oleh customer service melalui map ponsel. Lokasinya lumayan jauh dari tempat tinggalnya. Bagaimana bisa Khadijah lari sejauh itu dengan uang yang hanya tiga juta rupiah?
__ADS_1
Khoirul mendatangi jalan tersebut setelah yakin dengan keberadaannya. Butuh waktu satu jam untuk sampai ke sana. Dilihatnya tempat itu tidak terlalu padat penduduk, perumahan juga hanya beberapa. Tidak mungkin Khadijah ada di sana.
Tapi Khoirul tetap melakukan pencarian di sana berbekal foto Khadijah. Seorang wanita yang sedang menyiram tanaman terkejut melihat kedatangannya. Khoirul mengutarakan maksudnya tapi si wanita itu tidak pernah melihat Khadijah.
Hampir semua rumah tidak ada yang tahu keberadaan Khadijah. Khoirul berinisiatif untuk mencari di lokasi yang tidak jauh dari sana. Mungkin kontrakan atau semacamnya.
"Mau yang berapa juta perbulan, Pak?" tanya wanita pemilik kontrakan.
"Saya bukannya mau mengontrak, Bu. Saya ingin mencari istri saya. Ibu pernah lihat wanita ini?" tanya Khoirul sambil memperlihatkan foto Khadijah.
Wanita itu menggeleng, "Kayaknya belum pernah lihat, Pak. Coba tanya ke orang lain."
Khoirul menghela napas frustasi. Lelah rasanya. Pria itu beralih pada rumah lain tapi kenyataannya tidak ada satupun yang pernah melihat Khadijah.
"Kemana kamu, Sayang? Tidakkah kamu merindukanku?" gumam Khoirul.
°°°
Khadijah membereskan perlengkapan kerjanya, lalu menenteng tas untuk keluar dari ruang ganti office girl. Ternyata membersihkan gedung perkantoran tidak ubahnya seperti menyapu halaman rumah yang dipenuhi pepohonan rindang.
Ketika wanita itu sedang menunggu taksi, sebuah mobil menghampiri. Richard membuka kaca jendela mobilnya, lalu menyunggingkan senyum tipis pada Khadijah. "Aku antar pulang yuk! Arahnya ke mana?"
"Em, aku naik taksi saja, Kak."
"Kenapa? Takut kalau suami kamu memergoki kita berduaan?"
"Bukan begitu," elak Khadijah.
"Ya sudah kalau begitu masuklah!"
°°°
"Pak Khoirul sedang libur ya?" tanya Richard. Mereka sudah sampai di depan kost Khadijah.
"Dari mana kakak tahu?" Pasalnya Khadijah tidak menceritakan apapun mengenai suaminya.
"Itu!" tunjuk Richard pada seseorang yang berdiri di belakang pagar. Khadijah mengikuti arah pandang Richard dan tubuhnya menegang sesaat.
__ADS_1
°°°