Balasan Pengkhianatan

Balasan Pengkhianatan
Episode 10


__ADS_3

Ari keluar dari kamar Nazwa dengan wajah kusut, hal itu membangkitkan rasa penasaran dalam diri Widya. Entah apa yang terjadi tadi di dalam kamar antara Ari dan Nazwa, tak ingin penasaran sendiri akhirnya Widya memutuskan untuk bertanya.


"Ada apa, Sayang? Apa yang terjadi? " bukannya mendapatkan jawaban Widya hanya didiamkan oleh Ari.


"Sayang, aku lagi tanya lho... Kok nggak jawab, ada apa? " tanya Widya sekali lagi.


"Sayang, bisakah kita bicarakan hal ini di kamar saja! " pinta Ari.


Widya sedikit heran melihat wajah Ari yang sepertinya sangat serius. Mereka berdua pun masuk ke dalam kamar untuk bicara.


"Ada apa sih, Mas? " tanya Widya.


"Sayang, sepertinya kamu harus pindah dari sini... Nazwa tidak mau menerima kehadiran kamu, " jawab Ari.


"Pindah? Tapi aku juga kan istri kamu, Mas.. Aku juga berhak tinggal di sini, lumpuh itu sepertinya mulai berani ya!! " tangan Widya terkepal menahan kesal.


"Tolong jangan lakukan apapun, Wid! Aku tidak mau ada keributan di rumah.."


"Kenapa, Mas? Kenapa aku tidak boleh melakukan apapun? Atau jangan jangan kamu tidak rela jika istri lumpuhmu itu disakiti? "


"Bukan begitu, Sayang.. lagi pula dia tidak akan bisa berbuat apapun, untuk apa kamu buang tenaga? Lebih baik kamu sabar dulu, sementara itu aku akan cari rumah kontrakan untuk kamu!"


Widya benar-benar kesal mendengar ucapan Ari, kenapa ia harus mengontrak sementara Nazwa bisa tinggal di rumah ini seperti ratu? Keserakahan membuat Widya mulai berpikir untuk menyingkirkan Nazwa dari rumah itu.


.


.


"Eh Mbak Nazwa, sedang apa di dapur?" tanya Widya saat melihat Nazwa sedang berada di dapur .


Nazwa hanya diam tanpa ingin menjawab pertanyaan dari Widya.


"Selain lumpuh ternyata Mbak Nazwa juga tuli ya? Pantas saja Mas Ari memilihku," sindir Widya.


Nazwa menghentikan kegiatannya membuat teh dan memutar kursi rodanya menghadap Widya yang berdiri di belakangnya.


"Memilihmu? Seyakin itu kamu? Tapi menurutku Mas Ari tidak akan bersama kamu jika kamu tidak menggodanya terlebih dulu, " ucap Nazwa.


"Maksud Mbak apa ngomong seperti itu? Mbak mengejek saya? Menuduh saya menggoda Mas Ari?"


"Lalu apa? Coba kamu bayangkan, jika sekarang aku tidak lumpuh itu artinya Mas Ari tidak akan tergoda dengan wanita seperti kamu!"

__ADS_1


"Eh, Mbak! Jaga ya mulutnya! Jangan macam-macam sama aku atau..."


"Atau apa? Kamu mau apa? Mengancam saya? Silahkan saja, saya tidak akan takut dengan ancaman kamu! " ujar Nazwa.


Tak lama kemudian terdengar suara pintu kamar di buka, dan Nazwa yakin itu suaminya. Seketika di dalam otaknya muncul sebuah ide.


Pyar!


Gelas teh yang tadi Nazwa buat tiba-tiba jatuh ke lantai.


"Aduh! Panas!" teriak Nazwa.


Ari yang baru keluar dari kamar mendengar suara teriakan Nazwa segera berlari menuju dapur. " Ada apa ini? Kamu kenapa, Na?" tanya Ari.


Widya bingung dengan situasi yang baru saja ia saksikan, ia pun terkejut dengan gelas yang tiba-tiba pecah dan Nazwa yang teriak.


"Mas, kaki aku panas! " kata Nazwa sambil meringis.


"Apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini? " tanya Ari panik.


Nazwa tidak menjawab namun matanya melirik ke arah Widya yang sejak tadi bengong melihatnya. Ari mengikuti pandangan mata Nazwa dan melihat Widya.


"Kok aku? Dia jatuhkan sendiri gelas itu, Mas.. Kenapa aku yang disalahkan? "


"Sudahlah... Tunggu aku di kamar, kita perlu bicara! "


Ari mendorong kursi roda Nazwa dan meninggalkan Widya di dapur seorang diri. Nazwa tersenyum penuh kemenangan melihat Ari memarahi Widya barusan.


"Ini baru permulaan, aku akan membalas setiap tetes air mataku yang jatuh kemarin!" batin Nazwa .


"Perempuan lumpuh itu!! Dia sengaja bersandiwara di depan Mas Ari.. Akan ku balas kamu, tunggu saja!! " Widya merasa kesal dan ia pun berlalu masuk ke kamarnya.


...****************...


Masalah tidak hanya berhenti sampai di situ, Widya selalu berusaha untuk membuat Nazwa kesulitan. Namun semua hal yang Widya lakukan tidak berpengaruh apapun terhadap Nazwa, justru yang ada senjata makan tuan.


Seperti pagi ini, Bi Minah telah menyiapkan sarapan pagi untuk semua majikannya. Bi Minah membuat nasi goreng terpisah untuk Nazwa dengan rasa tidak pedas. Widya yang mengetahui hal itu secara diam-diam menyelinap ke dapur saat Bi Minah memanggil Nazwa untuk sarapan. Nasi goreng untuk Nazwa ia tambahkan bubuk cabai pedas, setelah berhasil Widya tersenyum puas dan berpikir jika rencananya akan berhasil.


saat Nazwa, Ari, dan Widya sudah duduk di kursi masing-masing, Bi Minah mulai menyajikan makanan. Widya melihat ke arah Nazwa dan saat Nazwa melahap suapan pertama, Widya menghitung dalam hati.


1...2....

__ADS_1


"Lah kok... dia tidak kepedasan? Ini nggak mungkin! Jelas jelas tadi aku sendiri yang menuang bubuk cabainya!" batin Widya.


"Widya ... kenapa tidak dimakan? Nanti telat lho ke kantornya.." ucap Nazwa.


Dengan wajah kesal Widya memakan nasi goreng di hadapannya. Dan....


"Huuwwaaa... pedas sekali!! Ya Ampun... kenapa nasi goreng ini sangat pedas?? " teriak Widya lalu ia berlalu ke kamar mandi.


Ari bingung melihat Widya yang kepedasan sementara ia dan Nazwa sejak tadi makan seperti biasa.


"Nasi goreng punyaku tidak pedas... " tutur Ari.


"Itu namanya senjata makan tuan, Mas!" sahut Nazwa.


"Maksud kamu?"


"Ini kamu lihat sendiri saja!"


Nazwa menunjukkan ponselnya yang berisi rekaman cctv, di sana terlihat apa yang telah Widya lakukan.


"Bi Minah membuat nasi goreng terpisah untukku, Mas.. Tapi dia malah berusaha meracuniku, kamu lihat sendiri kan kelakuan istri baru kamu!" tambah Nazwa.


"Sejak kapan kamu pasang cctv di dapur? tanya Ari.


"Baru kok, untung saja ketahuan.. kalau tidak mungkin lambungku akan sakit, " ujar Nazwa.


"Maaf, Na.. aku tidak tahu kalau Widya akan seperti itu. "


"Tidak apa-apa, Mas... yang pasti perlahan kamu akan tahu sifat asli wanita itu! "


Nazwa mendorong kursi rodanya meninggalkan Ari seorang diri di meja makan. Perkataan Nazwa sangat menusuk di telinga Ari, rasa bersalah mulai muncul di dalam hatinya. Ari sendiri mulai bingung dengan situasi yang saat ini ia jalani. Ari lelah, di satu sisi ada Nazwa yang sejak dulu selalu menjadi pendukungnya dalam keadaan sulitnya, di sisi lain ada Widya wanita yang berhasil menerobos dinding kesetiaannya.


"Mas, dimana wanita lumpuh itu? Dia sengaja melakukan itu tadi, pasti dia yang menaruh bubuk cabai di nasi gorengnya! "


"Cukup, Widya! Mau sampai kapan kamu akan seperti ini? Kamu melakukan kesalahan lalu melimpahkannya pada orang lain, apa begini sifat asli kamu?"


"Mas..."


"Sudah cukup! Aku mau berangkat, kamu naik taksi saja!"


Ari pun meninggalkan Widya begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2