
Setelah ribut di kantor tadi pagi, Ari berniat akan pulang ke rumah Nazwa. Ia ingin bicara empat mata dengannya, Nazwa tipikal perempuan yang tidak pernah marah apalagi meninggikan suara. Tapi hari ini wanita itu terlihat sangat marah, Ari menyesal karena telah menyakiti Nazwa.
Saat tiba di rumah ternyata Nazwa belum sampai di rumah, hanya ada Bi Minah yang menjaga rumah. Setengah jam Ari menunggu akhirnya Nazwa tiba di rumah tepat pukul 18.00 WIB.
"Dari mana saja? Kenapa jam segini baru pulang? Bukannya kamu pulang lebih awal tadi?" tanya Ari namun Nazwa tidak menjawabnya.
"Na, aku sedang bertanya padamu!" Ari menahan tangan Nazwa.
"Kenapa kamu peduli, Mas? Lebih baik kamu urus saja istri muda kamu yang lagi hamil itu! Sebentar lagi dia pasti akan membuat keributan jika kamu belum pulang ke sana!!"
"Kamu sudah tahu soal kehamilan Widya?"
"Na, sungguh aku benar-benar minta maaf padamu.. Maaf aku sudah banyak menyakiti perasaanmu"
"Sudah kumaafkan, Mas.. Tapi tolong jangan datang lagi! Lepaskan aku secara baik-baik, aku menyerah, Mas.. Hatiku tidak sekuat itu untuk berbagi suami dengan wanita lain!" ujar Nazwa.
"Tapi, Na.. Aku sangat mencintai kamu.. Walaupun ada Widya, tapi rasa cintaku tetap lebih besar padamu! tolong jangan bicara soal perpisahan!" kata Ari.
"Itu bukan cinta, Mas.. melainkan rasa egois kamu! Jika kamu memang lebih mencintaiku, maka kamu tidak akan membawa Widya masuk ke dalam rumah tangga kita! Sekarang pilihlah, aku atau Widya ?!"
"Mana bisa seperti itu, Na? Aku tidak bisa memilih antara kalian berdua, apalagi Widya sedang hamil sekarang. "
"Kalau begitu silakan pergi dari rumah ini dan temuilah dia! Sudah tidak ada lagi tempatmu di rumah ini, Mas.. Aku lelah, aku ingin istirahat!"
Nazwa meninggalkan Ari sendiri di ruang tamu, ia sudah tahu jawaban seperti ini yang akan ia dapatkan dari Ari. Pria itu sangat egois, ingin memiliki keduanya tanpa memikirkan perasaan salah satunya. Melihat reaksi Nazwa yang seperti itu akhirnya Ari memutuskan untuk kembali ke rumah Widya. Nazwa melihat kepergian Ari dari jendela, bahkan setelah semua pembicaraan tadi Ari tetap memilih pergi.
......................
"Dari mana, Mas? Kok telat pulangnya?" tanya Widya yang menyambut kedatangan Ari.
"Lembur, banyak pekerjaan di kantor. "
"Ini pasti karena Nazwa, dia pasti sengaja memberimu pekerjaan yang banyak di kantor!"
"Cukup, Wid! Bisa nggak kamu tidak usah terus menerus menyalahkan Nazwa? Fokus saja sama kehamilan kamu, jangan memikirkan hal lain" nada bicara Ari sedikit meninggi.
"Kenapa sih pulang kok marah-marah? Aneh banget!" ucap Widya melihat Ari yang masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
.
.
Ari mengajak Widya bicara di teras rumah, kali ini Ari ingin meminta Widya mengerti akan posisinya sebagai seorang suami.
"Sayang, mungkin besok aku akan menginap di rumah Nazwa. Sudah seminggu lebih aku di sini, gantian ya!" kata Ari.
"kok gitu sih, Mas? Aku kan lagi hamil muda, masa kamu mau tinggalin aku sendirian. Kalau ada apa-apa denganku bagaimana? "
"Lagi pula Nazwa kan bisa mengurus dirinya sendiri, ada Bi Minah juga yang menemaninya. Bahkan aku berpikir dia tidak membutuhkanmu!" kata Widya.
"Aku hanya ingin bersikap adil, Sayang. Dia juga istriku, kalaupun nanti ada apa-apa kamu bisa menghubungi aku..Jadi tolong mengerti!"
Widya berpikir sejenak, jika ia melarang Ari pergi ke rumah Nazwa maka pasti Ari akan tetap pergi dan marah padanya. Lebih baik jika ia mengizinkan Ari pergi daripada nanti posisinya akan terancam. Yang penting saat ini sudah ada bayi dalam perutnya yang bisa ia gunakan sebagai alasan.
"Baiklah, Mas, aku setuju.. Tapi jika ada apa-apa kamu harus segera datang!"
"Pasti, Sayang! Terima kasih sudah mau mengerti.."
...----------------...
"Sedang apa kamu di sini, Mas?" tanya Nazwa saat pulang dari kantor melihat Ari berada di dapur.
"Malam ini aku akan menginap di sini."
Tanpa menanggapi lagi Nazwa langsung masuk ke dalam kamarnya untuk mandi. Setelah itu Nazwa tidak lagi keluar dari kamar, hal itu membuat Ari sedikit khawatir. Ari pun membawakan makanan untuk Nazwa ke kamarnya.
"Na... Tolong buka pintunya!"
"Ada apa, Mas? Aku mau istirahat.," sahut Nazwa.
"Ini aku bawakan makan malam untuk kamu, sejak pulang tadi kamu tidak keluar dari kamar. "
"Aku tidak lapar, Mas.."
Tanpa izin lagi Ari langsung masuk ke dalam kamar, meletakkan makanan diatas nakas lalu ia duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
"Ayo duduk dan makanlah! Jangan siksa dirimu sendiri, Na!" kata Ari.
Dengan malas Nazwa berjalan mendekat dan duduk di sebelah sang suami. Ari menyuapi Nazwa sampai makanan di piring itu tinggal setengah.
Belum selesai makan tiba-tiba terdengar suara bel terus berbunyi berulang kali. "Lanjutkan makannya, biar aku yang buka pintu. "
Ari membuka pintu utama dan betapa terkejutnya ia melihat Widya datang sambil menangis.
"Widya! Ada apa? Kenapa kamu menangis? " tanya Ari cemas.
"Mas aku takut, tadi di rumah seperti ada seseorang yang mengintip. Aku takut, Mas!" kata Widya sambil menangis memeluk Ari.
"ssttt! Sudah kamu tenang ya.. ayo masuk dulu!" Ari membawa Widya masuk ke dalam rumah.
Nazwa penasaran dengan siapa yang datang, ia pun keluar dari kamar untuk melihat. "Siapa yang datang, Mas?" tanya Nazwa.
Nazwa melihat sudah ada Widya berada dalam pelukan Ari, dan Nazwa juga melihat Widya sedang menangis.
"Hah drama baru apa lagi sekarang? Dasar perempuan licik!" batin Nazwa.
"Kenapa dengan dia? " tanya Nazwa.
"Widya Sedang ketakutan, Na.. Katanya tadi ada orang yang mengintip di rumah. "
"Ya sudah kalau begitu kamu pulang saja, Mas! temani dia," kata Nazwa.
"Na, boleh nggak... izinkan Widya menginap di sini malam ini? Hanya malam ini saja, Na .. Kalau mau pulang ini sudah malam, kasihan Widya sedang hamil.." pinta Ari.
"Dia hanya sedang hamil, Mas, bukan sakit parah! Lagi pula kalian pulang naik mobil kan? Terus kok dia berani datang sendirian ke sini? Nggak khawatir orang yang mengintip tadi mengikuti dia?"
Balasan Nazwa berhasil membuat Widya merasa kikuk. Sebab ia datang kemari membawa mobil sendiri.
"Terus kamu datang ke sini naik apa? Bawa mobil sendiri kan? Jadi kurasa dia sehat kok."
"Kamu masih izinkan dia bawa mobil, Mas? Nggak takut apa yang aku alami dulu terjadi pada dia? " lanjut Nazwa.
Ari terdiam mencerna perkataan Nazwa, ia masih ingat betul kejadian dimana ia mendapat kabar kecelakaan Nazwa.
__ADS_1