
Seluruh karyawan kantor sedang mempersiapkan acara untuk ulang tahun perusahaan, begitu pula dengan mempersiapkan beberapa rangkaian yang akan diadakan dalam acara tersebut. Besok Nazwa akan membawa Dokter Iqbal untuk menemaninya menghadiri acara kantor.
Sementara Ari sama sekali tidak memberitahu akan diadakan kantor pada Widya, tetapi Widya telah mengetahui hal itu dari sosial media.
"Mas, Aku lihat di feed IG katanya kantor akan mengadakan acara ulang tahun perusahaan.. Kok kamu nggak ada bicara sama aku? Kamu nggak niat ajak aku ke sana?" tanya Widya.
"Untuk apa? Kamu kan sedang hamil sekarang, lebih baik istirahat saja di rumah.." kata Ari.
"Kenapa, Mas? Kamu sengaja nggak mau ajak aku bukan karena ingin mendekati dia kan?" tanya Widya.
"Kamu tuh ngomong apa sih? Kita kan sudah pernah bahas ini, aku cuma mau fokus kerja bukan untuk hal lain.. Udah ya, aku udah terlambat ke kantor."
Tanpa menjawab lagi Widya hanya bisa mengantar hari berangkat ke kantor sampai ke teras rumah. Meski mereka berdua telah berpisah tetap saja di hati Widya masih ada rasa waspada dan curiga, Widya percaya pada Nazwa tetapi tidak pada suaminya.
Widya tahu Nazwa tidak akan ingin dekat lagi dengan Ari, tetapi Ari mungkin sampai saat ini masih menyimpan perasaan pada mantan istrinya itu.
.
Keesokan harinya Ari sudah siap untuk berangkat ke kantor dan hari ini acara ulang tahun kantor akan diadakan, tiba-tiba saja Widya masuk ke kamar dengan setelan gaun dan berkata ingin ikut menghadiri acara tersebut.
"Lho... kamu kok pakai gaun, mau kemana?" tanya Ari.
"Mau ikut kamu lah, Mas.."
"Tapi nanti kalau orang-orang kantor bicara buruk denganmu lagi bagaimana? Aku tidak mau nanti suasananya akan menjadi buruk dan berpengaruh pada kehamilan kamu," ucap Ari.
"Kamu tenang aja, Mas... Aku udah siap untuk hal itu.. lagi pula saat ini kan posisinya kalian telah berpisah jadi istri kamu sekarang hanya aku."
"Hmm... Ya sudahlah Kalau memang begitu maumu, tapi kalau nanti kamu merasa tidak nyaman bilang saja kita akan pulang."
Dengan terpaksa Ari mengajak Widya berangkat ke kantor, saat mereka tiba suasana parkiran kantor telah ramai dipenuhi para karyawan. Beberapa dari mereka masih ada yang terlihat bisik-bisik membicarakan Ari dan Widya. Tetapi keduanya tidak terpengaruh sama sekali.
Di sisi lain ada Nazwa bersama Dokter Iqbal yang baru saja tiba. Keduanya terlihat seperti pasangan yang sangat serasi. Para karyawan menyapa Nazwa dengan sangat ramah.
__ADS_1
Hal itu terlihat oleh mata Ari dan tentu membuat perasaannya menjadi tidak nyaman, Ari cemburu.
...****************...
Acara perayaan Hut pun dimulai, seluruh rangkaian acara terlaksana dengan baik. Nazwa dan Iqbal menjadi sorotan sebab mereka benar-benar terlihat serasi, sementara Ari terus diikuti oleh Widya yang tidak melepaskan genggaman tangannya.
"Kamu kenapa, Mas?" tanya Widya.
"Tidak apa-apa, ayo makan! Setelah itu kita pulang, kasihan si adek kalau kamu kelelahan" kata Ari sambil mengelus perut Widya yang sudah mulai terlihat besar.
Acara terus berlanjut sampai selesai namun Ari tidak tahan terus berada di sana, ia sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk mendekati Nazwa. Akhirnya Ari memutuskan untuk mengajak Widya pulang setelah selesai makan.
"Eh Widya, lama nih nggak ketemu.. Apa kabar? Lagi isi ya?" tanya Dona teman Widya saat di kantor.
"Aku baik, kalian apa kabar?" Widya balik bertanya.
"Ya seperti yang kamu lihat, kami baik. Oh ya, bagaimana rasanya menjadi istri di rumah? Kamu nggak suntuk di rumah terus?" kata Dona.
"Iya nih, ngomong-ngomong pakai pelet apa kamu sampai Pak Ari lebih memilih kamu daripada istrinya yang nyaris sempurna itu?" sambung Lisa.
Ucapan Dona barusan benar-benar mengenai mental Widya, tetapi ia berusaha untuk setenang mungkin.
"Kamu harusnya terima kasih sama Bu Nazwa, kalau bukan karena hatinya yang terlalu baik mungkin sekarang Pak Ari tidak akan kembali bekerja di kantor, " kata Lisa.
"Bu Nazwa tuh emang luar biasa ya, walaupun sudah dikhianati tapi masih tetap baik. Kalau aku ada di posisi dia sih mungkin sudah aku tuntut tuh!" sahut Dona.
Mendengar ucapan Dona membuat hati Widya sedikit tidak nyaman m, sementara Lisa yang melihat ekspresi Widya yang berubah segera menyikut Dona agar menghentikan perkataannya.
"Eh sorry ya, Wid... Aku nggak bermaksud.. Aduh maaf banget aku kelepasan bicara, " ujar Dona merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa, kalau begitu aku pamit dulu ya.. Suamiku sudah ngajak pulang!" kata Widya.
Widya berlalu begitu saja meninggalkan teman-teman lamanya di kantor, sementara mereka hanya saling melirik dan berbisik membiarkan Widya pergi.
__ADS_1
"Kamu tuh kalau punya mulut kenapa sih nggak bisa dijaga banget? Dulu dia teman kita lho.." kata Lisa.
"Iya memang dulu kita teman baik, tapi setelah tahu kelakuannya seperti itu aku merasa kecewa. Aku sengaja Bicara begitu agar hatinya sedikit terbuka," kata Dona.
"Ya sih aku juga kecewa, tapi lihat kondisinya sekarang dia sedang hamil takutnya ucapan kamu tadi mempengaruhi kondisi mentalnya.. "
"Ya biarin aja, itu sudah resikonya atas keputusan yang dia ambil. Lalu Bagaimana dengan mental Bu Nazwa yang suaminya dia rebut? "
"Ya kita doakan semoga Widya segera menyadari kesalahannya dan mau memperbaiki diri. "
...----------------...
Sepanjang perjalanan pulang Widya hanya diam, Ari merasa heran melihat tingkah Widya yang tidak biasa.
"Kamu kenapa? Tumben diam begitu?" tanya Ari.
"Apa kamu tahu, Mas, alasan kenapa kamu bisa dipanggil lagi untuk bekerja?" bukannya menjawab Widya malah bertanya balik.
"Kenapa kamu menanyakan hal ini? Mereka memanggilku kembali karena kinerjaku selama ini cukup bagus, " jawab Ari.
"Kamu salah, Mas! Itu semua karena Nazwa! Dia sengaja melakukan itu supaya membuat kita merasa berhutang budi padanya, Nazwa sengaja supaya membuat kita seolah hidup di bawah belas Kasihannya!" kata Widya.
Ari yang mendengar itu langsung menginjak rem dan menepikan mobilnya.
" Kamu ngomong apa sih? Ini yang aku nggak suka dari kamu! Aku sudah bilang tidak usah ikut tapi kamu masih bersikeras, dan lihat hasilnya sekarang! Omongan kamu ngaco!" kata Ari.
"Aku bicara fakta, Mas! Aku dengar sendiri dari orang kantor, Nazwa dia melakukan itu supaya dia mendapat pujian dari para karyawan. Dia pasti sengaja membuat hidup kita seolah terlihat menyedihkan! Wanita itu licik, Mas!"
"Sudah cukup, Widya! Cukup!"
"Aku sudah memilih kamu, memilih untuk tetap bersama kamu, sekarang setelah kita bersama kamu masih menyeret Nazwa dalam kehidupan kita! Mau kamu tu apa sih?" teriak Ari merasa frustasi.
"Aku mau kau resign dari kantor, Mas! Aku tidak sudi kita hidup di bawah rasa kasihan Nazwa!"
__ADS_1
"Apa-apaan sih kamu? Kamu sadar nggak dengan apa yang kamu ucapkan barusan? Setelah aku resign dari kantor, lalu aku harus kerja di mana?"
"Cari pekerjaan sekarang susah, Wid! Jangan egois, kita butuh biaya banyak untuk anak kita nanti! Tolong jangan bersikap seperti anak kecil!" tegas Ari.