
"Na, apa luka di hatimu sudah sembuh?" tanya Iqbal saat mereka berdua sedang duduk di taman.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Jika boleh, izinkan aku untuk menyembuhkan sisa luka yang ada di hatimu.. Kamu tahu, sudah sejak lama aku memendam perasaan ini terhadapmu. Dan hari ini aku memberanikan diri untuk mengungkapkannya secara langsung," kata Iqbal.
Nazwa terdiam menatap Iqbal sejenak, ia tahu arti dari segala bentuk perhatian yang Iqbal curahkan padanya selama ini. Tetapi Nazwa tidak ingin merespon lebih jauh karena saat itu ia masih terikat dengan Ari, tetapi kali ini Akankah Nazwa membuka hatinya dan memberi Iqbal kesempatan?
"Aku tidak melarang kamu untuk menyukaiku, aku tahu bagaimana perasaanmu.. Tapi aku belum bisa membuka hati secepat itu, dan soal luka di hatiku Aku tidak mau membebanimu sebagai penyembuhku.. Tunggu aku sebentar, jika aku sudah siap Maka aku akan datang padamu."
Nazwa berbicara sambil menggenggam tangan Iqbal dan menatap kedua matanya. Nazwa dapat melihat sebuah ketulusan dari pancaran mata Iqbal.
"Kamu tidak perlu khawatir, aku bersedia menunggu kamu sampai kapanpun.. "
"Terima kasih banyak, Bal.. Tapi jika dalam proses menungguku kamu menemui perempuan yang lebih baik dariku, dan kamu merasa dengan menungguku terlalu lama maka kamu boleh melamarnya terlebih dahulu.. Aku ingin kamu juga mendapatkan kebahagiaan yang pantas kamu dapatkan!" ucap Nazwa.
"Dan kebahagiaanku itu adalah kamu! Tidak akan kutemukan kesempurnaan lain selain di dirimu," sahut Iqbal.
Nazwa tersenyum mendengar perkataan Iqbal. Ia senang karena ternyata masih ada laki-laki yang siap menerima dirinya, apa salahnya mencoba membuka hati kembali. Sebab Nazwa tidak ingin terus menerus sedih.
Setelah mengungkapkan perasaannya tiba-tiba Iqbal mendapat telepon dari rumah sakit, Iya diminta untuk segera datang karena ada kondisi darurat di rumah sakit.
...----------------...
Saat Ari masih berbincang dengan polisi tiba-tiba dokter yang menangani Widya keluar dan memerintahkan beberapa dokter untuk menyiapkan ruang operasi. Ari tidak tahu separah apa Kondisi Widya hingga mengharuskan dia untuk masuk ke dalam ruang operasi. Beberapa dokter dan suster tampak sibuk, bahkan saat Ari mencoba bertanya tidak ada satupun dari mereka yang menjawab.
"Apa Widya terluka parah?" Ari bertanya-tanya sendiri.
Setelah beberapa waktu menunggu akhirnya dokter telah selesai mengoperasi Widya. Ari segera bergegas menghampiri dokter untuk menanyakan keadaannya.
__ADS_1
"Istri saya bagaimana, Dok?" tanya Ari.
"Anda harus memberikan kekuatan untuk istri anda, kerusakan pada saraf motorik dan cedera saraf tulang belakang kemungkinan akan menyebabkan dia lumpuh.. Kami sudah melakukan penanganan terhadapnya dan beliau berhasil melewati masa kritisnya, " jelas Dokter.
"Lumpuh, Dok?" tanya Ari sekali lagi.
"Iya, Pak.."
Dokter menepuk pundak Ari agar pria itu bisa tabah dan memberikan dukungan terhadap istrinya. Ari terduduk lemas di kursi mendengar keadaan Widya saat ini.
Widya langsung dipindahkan ke ruang rawat inap dan sudah boleh dijenguk. Ari masuk ke dalam ruangan itu dan melihat Bella yang masih belum sadarkan diri, wajahnya tampak pucat dan tidak berdaya.
"Sebenarnya apa yang membuat kamu sampai harus berakhir seperti ini?" tanya Ari.
...****************...
Widya baru saja membuka matanya, kepalanya terasa berat dan pusing namun saat ia akan bangun tubuhnya terasa sangat sakit dan kakinya sulit untuk digerakkan. Widya tidak menyerah, ia terus mencoba bangkit dan menggerakkan tubuhnya tetapi hasilnya masih tetap tidak bisa. Widya mulai panik, dia mengingat kejadian yang baru saja ia alami.
"Suster, saya mau duduk.. Kenapa tubuh saya terasa sakit sekali dan kaki saya tidak bisa digerakkan?" tanya Widya.
"Ibu tenang dulu, biar saya bantu.."
Suster itu membantu Widya untuk duduk dan bersandar pada tempat tidur, namun suster tidak berani untuk memberitahukan kondisinya pada Widya.
"Saya akan panggil Dokter dulu, biar nanti Dokter yang menjelaskan,," kata suster itu lalu pamit keluar untuk memanggil dokter.
"Ibu yang tabah, saat ini Ibu mengalami kelumpuhan karena cedera pada saraf kaki dan pinggul.." kata Dokter pada Widya.
Sepersekian detik Widya terdiam mencerna kalimat yang barusan Dokter katakan.
__ADS_1
"Tidak! Ini tidak mungkin ! Aku tidak mau seperti ini! Dokter... Dokter... Tolong kembalikan kaki saya, Dokter! Saya nggak mau seperti ini, kembalikan semua seperti semula!" Widya berteriak histeris setelah sadar dan menangis melihat keadaannya.
Rasanya sulit sekali dipercaya, Widya benar-benar akan mengalami hal yang dulu pernah ditempati oleh Nazwa. Widya tidak terima dengan kondisinya..
Widya menangis meraung-raung dan memukuli kakinya, dokter dan suster yang merawatnya mencoba untuk menenangkannya. Tak lama kemudian Ari masuk ke dalam ruang perawatan Widya dan melihat keadaan sudah kacau.
"Widya, tenanglah! Ada aku di sini.." ucap Ari.
"Aku lumpuh, Mas! Aku lumpuh! Aku nggak mau duduk di kursi roda sialan itu.. Aku nggak mau seperti ini!!" teriak Widya.
"Maaf, Pak... kami akan menyuntikkan obat penenang pada istri anda, Sepertinya dia masih merasa syok dengan keadaannya saat ini," kata Dokter.
Widya mulai tenang setelah disuntik, perlahan tubuhnya kembali lemas dan Ari membaringkannya Kembali ke tempat tidur. Melihat keadaan Widya yang seperti itu tiba-tiba ingatannya kembali saat Nazwa dulu mengalami hal yang sama. Melihat respon Widya seperti itu saat mengetahui dirinya lumpuh, Ari membayangkan bagaimana dulu Nazwa yang harus menerima kenyataan ia lumpuh dan kehilangan calon anak mereka.
Sungguh Ari benar-benar merasa seperti seorang pria bajingan yang saat itu langsung pergi begitu saja meninggalkan Nazwa, dan tanpa memikirkan perasaan Nazwa ia pun malah menyalahkannya.
...----------------...
"Na, kemarin aku mendapat pasien darurat.. Dia mengalami kecelakaan dan sekarang kakinya lumpuh. Tapi kurasa dia memang pantas mendapatkannya!" kata Iqbal.
"Eh tumben kamu tidak bersimpati dengan keadaan pasien.. Memang kenapa dengan pasien itu sampai kamu bilang dia pantas mendapatkan musibah seperti itu?" tanya Nazwa heran.
"Dia adalah Widya. Sebenarnya aku tidak mau membantu menanganinya kemarin, tapi karena tidak ada dokter lain jadi terpaksa ku bantu."
"Sebentar, Widya...? Maksud kamu Widya kecelakaan?" tanya Nazwa dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Iqbal.
"Keadaannya cukup parah, tapi mengingat perlakuan dia dulu ke kamu... Aku jadi tidak bersimpati melihat keadaannya.."
"Secepat itu Tuhan membalasnya.. Semoga saja dia bisa mengambil pelajaran dari kejadian ini, " kata Nazwa.
__ADS_1
"Sepertinya tidak, kemarin orang-orang bilang jika dia mengamuk saat mengetahui jika dia lumpuh. Orang seperti Widya tidak akan pernah bisa menerima kenyataan begitu saja, pasti dia akan menyalahkan takdir atas kondisinya sekarang, " kata Iqbal.