Balasan Pengkhianatan

Balasan Pengkhianatan
Episode 14


__ADS_3

Sejak pulang dari kantor hingga jam 8 malam, Ari dan Nazwa masih belum terlihat batang hidungnya. Kamar Nazwa masih tertutup rapat sementara Widya berjalan mondar-mandir menunggu Ari keluar.


"Sialan! kenapa sih Mas Ari malah sama dia? Apa yang mereka lakukan sampai jam segini belum juga keluar kamar? " Widya terus mengoceh sendiri di depan kamarnya.


Sementara di dalam kamar, Nazwa tidak dilepaskan oleh Ari. Sejak tadi pria itu terus memeluknya.


"Mas, aku lapar lho! Lepaskan aku, kita makan dulu! " Nazwa merengek pada suaminya.


"Tapi aku masih nyaman seperti ini, Sayang! 5 menit lagi ya, nanti aku bawakan makanan untuk kamu.."


Ari mengeratkan pelukannya pada Nazwa, tapi momen keduanya terganggu saat terdengar suara ketukan pintu.


"Siapa sih? Ganggu saja! " kata Ari kesal.


"Mas, kamu lupa kalau di rumah ini bukan cuma ada kita berdua? Istri muda kamu menunggu lho," sahut Nazwa.


Ari seketika membuka matanya lebar-lebar, ia tahu pasti Widya akan membuat keributan karena Ari sangat lama di kamar Nazwa.


"Kamu mandi dulu saja, Mas! Biar aku yang buka pintu, " ucap Nazwa.


Ari setuju mendengar perkataan Nazwa, buru-buru ia mengenakan handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Nazwa memakai jubah mandi yang tersampir di pinggir ranjang lalu berjalan membuka pintu kamar.


Nazwa sudah menebak jika yang di depan pintu adalah Widya.


"Mana Mas Ari? " tanya Widya.


"Sedang mandi."


"Kali ini apa yang kamu rencanakan? Kamu sengaja kan menahan dia supaya tidak keluar dari kamar ini? " tanya Widya.


"Aku menahannya? Aku? Menahannya? Hahaha yang ada malah dia yang menahanku."


Nazwa sengaja tertawa sambil mendongak supaya bekas kemerahan yang ada di lehernya terlihat oleh Widya. Wanita itu semakin kesal melihatnya, berpikir jika Nazwa sengaja melakukannya.


Ari baru selesai mandi dan Widya masih berdiri di depan pintu kamar, Widya segera masuk melewati Nazwa dan menarik Ari keluar dari kamar.


"Kamu kenapa sih? Kenapa aku di tarik begini? " tanya Ari.


"Kamu habis ngapain sama dia? Kenapa lama banget di kamarnya? " Widya mencecar Ari dengan pertanyaan.


"Tadi aku ketiduran di sana, kamu kenapa harus marah-marah seperti ini? "

__ADS_1


"Wajarlah aku marah, Mas! Kamu tinggalin aku gitu aja sampai jam segini, aku dari tadi nungguin kamu buat makan malam. Kamu malah asik di dalam sana!"


"Iya maaf... Ya sudah aku pakai baju dulu setelah itu kita makan."


"Aku sudah nggak lapar lagi, Mas.. Aku mau kamu," Widya memeluk tubuh Ari yang masih berbalut handuk.


"Besok aja ya, Sayang.. Aku capek banget hari ini," tolak Ari secara halus.


Ari melepaskan pelukan Widya dengan pelan dan segera memakai baju. Widya kesal karena baru kali ini Ari menolak ajakannya.


...****************...


Di meja makan terjadi perang dingin antara Widya dan Nazwa. Kedua wanita itu saling menatap tajam, Ari merasakan hawa dingin mengelilingi mereka. Kedua wanita cantik itu tampak sangat mengerikan saat diam seperti ini.


"Ehem... Sayang, aku mau tambah telur! " ucap Ari.


Sontak Nazwa dan Widya bergerak secara bersamaan mengambil telur goreng. Ari menggaruk kepalanya yang tak gatal melihat kedua istrinya yang berebut telur untuknya.


"Kamu mau diambilkan telur sama siapa, Mas? Sama aku atau sama pelakor itu? " tanya Nazwa.


"Eh siapa yang pelakor? Jaga ya mulut kamu! "


"Heh sudah sudah! Kalian kok jadi ribut seperti ini sih.. Kalau begitu biar aku ambil sendiri saja! "


.


.


"Mas, aku mau ngomong sama kamu.." ucap Nazwa.


"Soal apa, Na? "


"Soal pelakor itu!"


"Kenapa dengan Widya? Apa dia membuat keributan lagi? " tanya Ari.


"Aku mau dia segera pindah dari sini, kamu tahu sendiri kan, Mas, kita berjuang sama-sama untuk membeli rumah ini.. Aku tidak ingin rumah ini dinodai oleh dia!"


"Iya aku tahu, Na. Tapi untuk saat ini Mas belum menemukan rumah yang pas untuk Widya.. Tolong kasih waktu 3 hari lagi y," pinta Ari.


"Dia cuma istri siri, Mas.. sementara carikan kontrakan saja, kenapa harus beli rumah baru? Lagi pula dia juga bekerja, mungkin dia punya tabungan untuk beli rumah. Nggak harus sepenuhnya pakai uang kamu kan, Mas? "

__ADS_1


"Iya, Na.. Nanti coba aku bicarakan hal ini dengan Widya ya, kamu harus mengerti.. Sifat Widya keras kepala sangat berbeda dengan kamu."


"Kenapa harus aku lagi yang mengerti? Kurang mengerti apa aku, Mas? Kalau mau mungkin aku sudah menuntut kalian karena telah berkhianat padaku! " ucap Nazwa kesal.


Nazwa berlalu masuk meninggalkan Ari ke dalam kamar, setiap bicara soal Widya jawaban Ari selalu memintanya untuk mengerti. Entah kapan Ari akan terlepas dari jeratan wanita itu, mungkin jika mereka berpisah Nazwa sudah tidak akan lagi menjadi milik Ari.


...****************...


Keesokan harinya Nazwa berangkat ke kantor lebih awal tanpa sarapan, pagi ini rasanya Nazwa sangat malas melihat kedua pasangan itu. Ari bingung karena sudah 20 menit berlalu tapi Nazwa belum juga keluar dari kamar.


"Bi, coba tolong panggilkan Nazwa! Kenapa dia tidak sarapan? " kata Ari.


"Mbak Nana sudah berangkat sejak tadi, Pak."


"Ya sudah kalau begitu tolong siapkan bekal 1 ya, Bi.. mau saya bawa ke kantor, " titah Ari.


Bi Minah mengangguk dan permisi ke dapur untuk melaksanakan tugas dari Ari.


"Tumben mau bawa bekal, Mas? " tanya Widya.


"Itu untuk Nazwa, dia pasti belum sarapan tadi. Semalam dia marah padaku, " jawab Ari.


Widya yang mendengarnya kesal dan membanting sendok. "Apaan sih, Mas? Kamu sampai segitunya kalau Nazwa yang marah, tapi kalau aku yang marah pasti kamu marahin balik. Kamu nggak adil, Mas!"


"Dia marah karena kesalahanku, wajar jika aku seperti itu. Tapi kalau kamu selalu marah untuk setiap hal kecil, " bantah Ari.


"Terserah, Mas... kamu nggak adil."


Ari merasa pusing melihat kedua istrinya kini sama-sama marah padanya. Sesulit inikah memiliki dua orang istri?


...----------------...


Waktu terasa begitu cepat berlalu, seminggu kemudian tiba-tiba terdengar suara muntah-muntah dari kamar Widya. Ari yang baru saja selesai lari pagi langsung menuju ke sumber suara. Tampak Widya sangat pucat dan masih muntah-muntah di depan wastafel.


"Ada apa, Sayang? Kamu masuk angin? " tanya Ari.


"Nggak tahu ini kenapa, Mas.. Sejak tadi perutku rasanya mual.. "


"Kita ke rumah sakit saja ya, wajah kamu pucat itu, " bujuk Ari.


"Nggak ah,Mas.. Aku istirahat saja sebentar, nanti juga baikan."

__ADS_1


Widya yang lemas langsung merebahkan tubuhnya ke atas ranjang dan tak lama ia pun tertidur lelap.


__ADS_2