
"Baiklah, karena aku sedang baik hati maka aku izinkan dia menginap di sini malam ini. Besok pagi setahuku dia harus pergi!" kata Nazwa.
Nazwa benar-benar tidak habis pikir, Ari tidak lagi berpikir saat Widya yang tiba-tiba datang saat. Padahal ia bisa saja menelepon Ari terlebih dahulu dan memintanya untuk pulang, kenapa ia harus jauh-jauh datang membahayakan keselamatan diri sendiri dengan menyusul kemari, begitu pikir Nazwa.
Ari pergi ke dapur untuk mengambil air minum, sehingga di ruang tamu hanya ada Nazwa dan Widya.
"Kamu lihat ' kan? Mas Ari langsung meninggalkan kamu dan memilih aku," ujar Widya.
"Sudah ku duga kamu hanya pura-pura, dalam kondisi seperti ini kamu masih mau sombong? Hati-hati dengan ucapanmu, mungkin hari ini kamu masih bisa mengendalikan dia tapi setelah ini mungkin saja Mas Ari akan mencari wanita lain yang lebih cantik dari kamu!" balas Nazwa.
"Itu tidak akan terjadi, dia hanya mencintaiku.. Lebih baik kamu terima kekalahan dan pergilah dari kehidupan kami."
"Oh ya? Aku kalah? Sejak awal aku tidak pernah menganggap ini sebuah pertarungan, kalaupun nanti hubungan kami berakhir bukan berarti aku kalah, tapi waktuku bersama Mas Ari memang harus berakhir. "
"Dan ingat satu hal lagi! Aku masih istri pertama Mas Ari yang sah secara hukum dan agama. Sementara kamu, hanya istri siri yang bisa dibuang begitu saja!" kata Nazwa.
Nazwa kembali ke kamarnya untuk istirahat, sementara kedua pasangan itu masuk ke kamar tamu.
...----------------...
"Bi, makanan apa ini? Kok rasanya aneh begini, aku tuh lagi gamis, Bi.. nggak bisa sembarangan makan!" ucap Widya sambil membanting sendok.
Mendengar suara keributan membuat Nazwa keluar dari kamar.
"Ada apa ini? Kenapa, Bi? " tanya Nazwa pada Bi Minah.
"Ini, Mbak... Saya sudah buat sarapan tapi Mbak Widya nggak suka sama rasanya..." jawab Bi Minah.
"Sarapan apa rasanya aneh seperti itu? Aku tuh lagi hamil, nggak bisa makan sembarangan!" teriak Widya.
"Heh, jaga sikap kamu ya! Bi Minah itu bekerja denganku, jadi dia membuatkan sarapan untukku! Kalau kamu mau makan yang enak ya buat sendiri lah! Jangan menyuruh Bi Minah!" sahut Nazwa.
"Tapi aku lagi hamil!"
"Sudah ku bilang kamu cuma hamil, bukan sekarat! Tanganmu masih bisa berfungsi, kaki mu juga masih bisa berjalan. Ini rumahku, segala hal harus mengikuti peraturanku, jika tidak suka maka silahkan pergi!" tegas Nazwa.
Tak lama kemudian Ari muncul setelah selesai bersiap, ia sedikit mendengar suara keributan tadi.
"Ada apa ini?" tanya Ari.
__ADS_1
"Mas, aku sudah cukup sabar... Aku minta sekarang kamu bawa istri muda kamu ini pergi dari sini sekarang juga! Dia kurang ajar pada Bi Minah."
"Widya, apa yang kamu lakukan? " tanya Ari pada Bi Minah.
"Aku tidak suka dengan sarapannya, Mas.. Rasanya aneh" kata Widya.
"Kamu kan bisa minta secara baik-baik, kenapa harus membuat keributan seperti ini? Kamu lagi hamil, bersikaplah dengan baik. Sebentar lagi kamu akan jadi seorang ibu, aku tidak mau anakku tumbuh menjadi anak yang kurang ajar."
"Iya, Mas, maaf... moodku tadi kurang baik."
Karena Nazwa sudah marah akhirnya Ari tak ad pilihan lain selain membawa Widya pergi. Ari tidak ingin masalah menjadi panjang dan Nazwa akan semakin menjauhinya.
...****************...
"Huh...." Nazwa menghela napas panjang.
"Kenapa, Na? Sepertinya sedang ada beban?" tanya Iqbal.
"Biasa... perempuan itu berulah lagi. Aku lelah, Bal" ucap Nazwa.
"Lalu apa mau kamu sekarang?"
"Pikirkan dengan baik, Na... tapi kalau memang itu sudah jadi keputusan terakhir kamu, maka aku akan berdoa semoga itu yang terbaik buat kamu," kata dokter Iqbal.
Saat ini Nazwa dan Iqbal sedang berada di restoran untuk makan siang kebetulan tadi Nazwa menghubungi Iqbal untuk bertemu.
"Terima kasih banyak ya, Bal... Maaf sampai hari ini aku masih merepotkan kamu," kata Nazwa.
"Tidak perlu berterimakasih, Na... Kamu sahabatku, sudah seharusnya aku membantu kamu."
"Sedang apa kamu di sini, Na?" terdengar suara Ari dari arah belakang Nazwa.
Nazwa berdiri dan melihat Ari di belakangnya. " Aku lagi makan siang, Mas."
"Kamu kan sudah sembuh, kenapa masih bertemu dengan dokter ini lagi?" tanya Ari.
"Kami bertemu sebagai seorang teman, lagi pula dia teman lamaku,Mas. "
"Tapi kamu tidak minta izin denganku kalau mau ketemu dia?"
__ADS_1
"Sama, Mas.. Kamu juga tidak minta izin denganku kalau kamu mau menikah lagi!" balas Nazwa.
"Nazwa!" Ari marah mendengar jawaban Nazwa.
"Kenapa marah, Mas? Benar kan apa yang aku omongin barusan?" tanya Nazwa.
"Tapi kamu istri aku, istri tidak boleh keluar rumah tanpa izin dari suami. Apalagi menemui pria lain."
"Begitu juga suami, Mas... Tidak boleh menikah lagi tanpa izin dari istri, lagi pula kami bertemu di tempat ramai dan hubungan kami hanya sekedar teman. Sementara kamu, selingkuh dengan sekretaris kamu sendiri!"
"Nazwa!" Ari mengangkat tangan hendak menampar Nazwa namun Iqbal dengan sigap menahan tangan itu.
"Jangan kasar sama perempuan, Bro!" ucap Iqbal.
"Tidak usah ikut campur! Ini urusan rumah tangga saya dan istri saya!"
"Kalau begitu selesaikan masalah itu di rumah! Jangan pakai kekerasan, " kata Iqbal.
Ari menyeret tangan Nazwa sedikit kasar membuat Nazwa meringis kesakitan, tangannya terlihat memerah karena genggaman Ari yang terlalu kuat.
"Mas lepasin tangan aku! Sakit.."
Ari membuka pintu mobil dan menyuruh Nazwa masuk. Lalu ia membawa Nazwa pulang ke rumah. Saat ini Ari sedang merasa cemburu, saat Widya mengirim foto Nazwa bersama Iqbal, tanpa pikir panjang Ari langsung pergi ke lokasi yang Widya kirimkan.
"Sejak kapan kamu sedekaini dengan dokter itu?" tanya Ari.
"Kami berteman sejak lama, Mas.. Kebetulan dia dokter yang merawatku, tidak lebih!"
"Tapi kenapa kamu tidak bilang? Harusnya kamu ngomong sama aku, atau kamu sengaja mau main-main dengan dia?"
"Kenapa kamu marah, Mas? Cemburu? Sakit kan ketika melihat orang yang kita cintai berduaan dengan orang lain? Lalu bagaimana dengan aku, Mas? "
"Jangan membalikkan pertanyaan, Nazwa! Aku memang bersalah tapi aku sudah minta maaf.."
"Minta maaf tidak akan bisa membuat hatiku sembuh, Mas.. Semua keutuhan dalam rumah tangga kita sudah hancur, kamu mengkhianati aku dan sekarang kamu marah saat aku hanya makan siang bersama Iqbal. "
"Jangan sebut nama pria lain di hadapanku, Na! Lalu sekarang kamu mau apa?"
"Aku mau kita pisah, Mas.. Biarkan aku melanjutkan hidupku dan kamu bisa fokus dengan istri dan anakmu!"
__ADS_1