Balasan Pengkhianatan

Balasan Pengkhianatan
Bab 18


__ADS_3

Ari dan Nazwa masih berdebat di ruang tamu, suasana rumah mendadak jadi panas. Nazwa tetap pada keinginannya untuk berpisah sementara Ari tidak ingin bercerai.


"Apa yang membuat kamu bersikeras untuk cerai? Apa karena pria itu?" tanya Ari.


"Kamu sungguh berpikir seperti itu? Baiklah kalau itu mau mu, akan ku buat jadi kenyataan!"


"Maksudnya apa, Na? Nazwa, aku belum selesai bicara!! Na!" Ari ditinggal begitu saja oleh Nazwa yang masuk ke dalam kamar.


Nazwa menangis tersedu-sedu meluapkan emosinya, sudah berusaha terlihat tegar namun nyatanya hati tak bisa dibohongi. Nazwa benar-benar merasa sesak dan tidak bisa menahan semua rasa sakit itu lagi.


Nazwa mengurung diri sampai malam hari, Bi Minah yang sejak tadi mau berpamitan pulang pun merasa khawatir. Sementara Ari langsung pergi setelah tidak dibukakan pintu oleh Nazwa.


"Mbak... Mbak Nana... Mbak baik-baik saja? Ini bibi, Mbak. " Bi Minah Sejak tadi mengetuk pintu tapi tidak kunjung mendapatkan jawaban.


"Mbak, ayo makan malam! Ini sudah bibi bawakan."


20 menit menunggu di depan pintu kamar, Bi Minah masih belum mendapatkan jawaban dari pemilik kamar. Bi Minah cemas takut sesuatu terjadi pada Nazwa. Akhirnya beliau mencoba mencari kunci cadangan untuk membuka pintu kamar. Setelah pintu kamar terbuka dugaan Bi Minah benar, rupanya Nazwa tergeletak pingsan di lantai.


"Ya Ampun, Mbak... kenapa ini? Aku harus telepon Pak Ari ini!" Bi Minah segera merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel miliknya untuk menghubungi Ari.


Ari yang mendengarnya langsung panik dan segera menuju rumah Nazwa. "Apa yang terjadi, Bi? Kenapa dengan Nazwa? " tanya Ari.


"Saya juga tidak tahu, Pak.. Kita bawa Mbak Nana ke rumah sakit dulu saja, saya takut ada apa-apa sama Mbak Nana. "


Ari dengan di bantu oleh Bi Minah membawa Nazwa ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit Nazwa langsung segera ditangani oleh dokter.


"Apa yang terjadi setelah aku pergi, Bi?" tanya Ari.


"Saya niatnya tadi mau pamit pulang, tapi dari tadi saya panggil nggak ada jawaban makanya saya buka pintu dengan kunci cadangan, saya langsung lihat Mbak Nana sudah pingsan. "


Ari mengepalkan tangannya dan merasa menyesal. Andai saja ia tidak pergi, andai saja tadi ia tidak bertengkar dengan Nazwa, pasti Nazwa tidak akan seperti itu.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Ari.


"Istri anda mengalami dehidrasi, sepertinya ia kelelahan dan stress. Saya sudah memberikan vitamin melalui cairan infus, setelah habis sudah boleh pulang, " jawab dokter.

__ADS_1


Saat akan masuk ke dalam ruang UGD langkah Ari terhenti ketika terdengar suara ibu mertuanya. "Tunggu!"


"Kamu apakan putri saya sampai dia terbaring di rumah sakit seperti ini?" tanya Ibu Nazwa.


"Saya...."


"Sudah cukup! Kamu sudah tidak bisa lagi menjaga anak saya, lebih baik kembalikan dia pada saya lagi!"


"Tapi saya mencintai Nazwa, Bu."


"Mencintai dengan cara menyakiti, begitu maksud kamu? Sejak awal saya sudah tahu soal perselingkuhan kamu, tapi saya tetap diam karena Nazwa yang memintanya. Coba sebutkan apa kekurangan anak saya hingga kamu tega mengkhianatinya?"


"Maafkan Ari, Bu.. Ari khilaf.."


"Ucapan basi! Begitulah jika orang bersalah, mengatakan dirinya khilaf tapi tetap tidak mau menyadari kesalahan.. Saya mau masuk, awas!" ucap ibu Nazwa.


Ibu Nazwa masuk ke dalam untuk melihat keadaan putrinya, sementara Ari menunggu di luar sampai ibu mertuanya pulang. Tak lama kemudian Widya datang menghampiri Ari.


"Mas!"


"Widya, ngapain kamu ke sini? Ayo ikut aku!"


"Kenapa sih, Mas? Tanganku sakit ditarik begini!" keluh Widya.


"Kamu ngapain datang ke sini? Di dalam ada mertuaku!"


"Ya aku cuma mau lihat keadaan kamu, Mas.. kamu tiba-tiba pergi gitu aja," kata Widya.


"Aku baik-baik saja, mending kamu pulang deh sekarang!"


"Kenapa dia disuruh pulang?" pertanyaan itu berasal dari ibu Nazwa.


"Ibu..."


"Ada apa? Lanjutkan saja! Putriku sebentar lagi pulang, jadi kamu tidak perlu repot. Urus aja istri mu ini!"

__ADS_1


"Tapi, Bu...aku.."


"Kamu dengar sendiri kan, Mas.. Nazwa baik-baik saja, sudah ada ibunya dan Bi Minah yang menjaga. Anak kita butuh kamu, Ayo!"


Widya menggeret Ari meninggalkan rumah sakit begitu saja tanpa berpamitan lagi. Ibu Nazwa hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan menantunya.


...****************...


Keesokan paginya Ari datang ke rumah Nazwa dengan membawa buah dan bubur untuk sarapan Nazwa. Tetapi saat tiba di rumah Nazwa, suasana rumah tampak sepi dan pintu terkunci. Ari tahu betul Nazwa selalu bangun pagi dan lari pagi, tapi hari ini sudah pukul 7 dan pintu masih terkunci.


"Pasti ibu membawa Nazwa ke rumahnya... Jika aku ke sana pasti ibu akan mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan..." tutur Ari.


Akhirnya Ari mengurungkan niatnya untuk menjenguk Nazwa, ia pun kembali ke rumah Widya.


.


.


Sementara itu Nazwa sedang duduk di halaman belakang bersama sang ibu sambil menikmati secangkir teh hangat, ada pula Bi Minah yang sedang melipat pakaian.


"Suasana di sini masih sama ya, Bu.. Sudah lama rasanya aku tidak duduk di sini," ucap Nazwa.


"Tidak ada yang berubah di sini, Na... Jika kamu mau kembali, pintu rumah ini selalu terbuka untuk kamu."


"Untuk sekarang belum bisa, Bu.. Aku masih berstatus istri.. "


"Tapi mau sampai kapan kamu terus menyiksa diri kamu sendiri, sebagai seorang ibu, Ibu tidak rela melihat kamu hidup seperti ini, Nak.." kata Ibu.


"Nana janji, Bu, secepatnya Nana akan lepas dari penderitaan ini.. Tapi untuk saat ini Nana harus menyelesaikan semua tujuan Nana.. Ibu mengerti kan? "


"Baiklah jika memang begitu, doa Ibu akan selalu menyertai kamu.. Berhati-hatilah dalam setiap langkah, " pesan ibu.


Nazwa memeluk sang ibu dengan erat, ia tahu ibunya sangat khawatir. Kemarin saat ia akan pulang, Ibu langsung mengajak ke rumah beliau. Itupun ibu memaksa Nazwa, jika tidak Nazwa pasti akan pulang ke rumahnya sendiri.


Tidak ada seorang ibu yang mau melihat anaknya menderita, begitu pun dengan ibunya Nazwa. Sejak pertama kali tahu perselingkuhan menantunya, sang ibu ingin segera Nazwa berpisah. Tetapi Nazwa memang sedikit keras kepala dan sempat tak mempercayai apa yang telah diperbuat oleh suaminya.

__ADS_1


Nazwa melamun melihat langit, ia masih memikirkan Ari. Terakhir kali ia ingat sebelum pingsan bertengkar dengan Ari. "*Bahkan sampai sekarang kamu sama sekali tidak menanyakan kabar ku lagi, Mas.."


"Aku terlalu naif, terlalu mengharapkan hal yang sudah pasti tidak akan pernah bisa terjadi*!"


__ADS_2