
Keesokan paginya Nazwa telah bersiap untuk pergi ke rumah sakit, namun kali ini wajahnya terlihat murung sebab setelah mengantarnya kembali ke apartemen Ari langsung pamit pergi. Bahkan ia tidak pulang semalam, entah kemana dia pergi yang jelas raut kekecewaan tergambar jelas di wajahnya. Beberapa kali ia telepon tapi tidak dijawab olehnya.
"Sebenarnya kamu di mana sih, Mas? Apa salahnya kasih kabar kalau tidak pulang... Untuk apa ke sini kalau masih sibuk sendiri, " ucap Nazwa di depan cermin.
Tak lama asisten masuk ke dalam kamar dan membantu Nazwa untuk turun menuju mobil.
"Yakin tidak mau ditemani, Mbak? tanya asisten.
"Yakin, Sus.. Bukan pertama kalinya aku pergi sendiri ke rumah sakit kan? " ucap Nazwa dengan senyuman terpaksa.
"Ya sudah kalau begitu, Mbak hati-hati ya!"
Nazwa berangkat ke rumah sakit seorang diri dan sampai ia tiba di rumah sakit pun Ari masih belum ada kabar.
.
.
Sementara di hotel sana Widya sengaja mengheningkan dering ponsel milik Ari, ia tahu jika hari ini Ari akan pergi menemani istrinya. Widya egois, ia ingin menguasai Ari seorang diri.
20 menit kemudian Ari terlihat mengerjapkan matanya, aktivitasnya semalam bersama Widya membuat tenaganya terkuras habis. Ia melihat jam di ponsel dan teringat sesuatu.
"Astaga! Kok aku bisa kesiangan sih? Sayang... bangun! " pekik Ari lalu membangunkan Widya yang berpura-pura tidur.
"Emh... ada apa, Mas? Aku masih ngantuk... " sahut Widya dengan nada dibuat-buat.
"Kenapa tidak bangunin aku? Semalam kan aku sudah bilang mau ke rumah sakit hari ini, " tanya Ari.
"Maaf,Mas... aku juga kesiangan ini. Jadi bagaimana ini? "
"Aku mau mandi dulu, semoga saja Nazwa belum pergi. "
Ari terlihat buru-buru ke kamar mandi dan Widya kesal melihat hal itu. "Huh, katanya sudah tidak peduli. Tapi kenapa sepanik itu?!" rutuk Widya .
Ari pamit dan segera menuju ke Apartemen Nazwa, namun sang asisten menjawab jika Nazwa telah berangkat sejak tadi. Ari langsung memutar arah menuju ke rumah sakit menyusul Nazwa.
Setibanya Ari di rumah sakit ia melihat sebuah pemandangan yang sedikit menggores hatinya. Nazwa keluar dari rumah sakit bersama seorang dokter laki-laki muda yang mendorong kursi rodanya.
__ADS_1
"Nazwa! " panggil Ari.
Dokter Iqbal dan Nazwa menoleh berbarengan, melihat ke arah Ari yang melihat mereka.
"Mas Ari..."
"Siapa, Na? " tanya Iqbal.
Ari mendekat ke arah Nazwa dan Iqbal, raut wajahnya sedikit marah melihat kedekatan keduanya.
"Kamu sudah selesai, Na? tanya Ari.
"Sudah, Mas. Oh iya kenalin, Mas. Ini Dokter Iqbal yang merawatku. Iqbal, kenalin ini suamiku, Mas Ari. "
Nazwa memperkenalkan Ari dan Iqbal, kedua laki-laki itu saling menatap tajam terutama Ari.
"Kita pulang sekarang! Terima kasih, Dokter, sudah membantu istri saya.." ucap Ari penuh penekanan.
"Oh iya sama-sama. "
"Kenapa tidak bilang kalau dokternya laki-laki ? " tanya Ari saat di perjalanan.
"Kamu tidak bertanya," sahut Nazwa singkat.
Wanita itu sedikit kecewa dengan Ari yang tidak menepati janjinya.
"Kamu marah?"
"Tidak. "
"Lalu kenapa jawaban kamu sejak tadi singkat begitu?" tanya Ari.
"Kamu masih tanya kenapa? Kemarin kamu langsung pergi gitu aja, malam tidak pulang dan sekarang malah tidak menepati janji. Wajar kalau aku marah, Mas!"
"Sejak kecelakaan itu kamu mendiamkan aku, sikap mu dingin, bahkan aku merasa hubungan kita sangat renggang.. Apa kamu masih menyalahkan aku atas musibah itu? Aku juga sedih, Mas. Aku juga kehilangan, tapi kamu sedikitpun tidak memikirkan perasaanku. "
"Na, kamu tahu sendiri itu adalah anak pertama kita. Wajar kalau aku marah sama kamu, kamu itu keras kepala! "
__ADS_1
"Tapi seharusnya kamu mendukung aku, Mas. Aku yang hamil dan aku yang paling merasa kehilangan.. Sekalipun kamu tidak peduli terhadapku," Nazwa menangis tersedu-sedu mengungkapkan isi hatinya.
Ari menepikan mobilnya dan langsung memeluk Nazwa, melihat wanitanya menangis seperti itu membuat hati Ari menjadi sakit. Setelah 6 bulan berlalu baru kali ini Ari melihat Nazwa menangis. Hatinya merasa bersalah melihat Nazwa.
"Aku ibunya, Mas... Aku yang pertama kali tahu dia tumbuh dalam perutku, aku juga sedih.."
"Maaf, Na.. maafin aku.. Aku terlalu buta oleh amarahku hingga tidak melihat kerapuhanmu, maaf... " Ari mengecup kening Nazwa berkali-kali.
Saat ini hatinya benar-benar merasa bersalah pada Nazwa, ia merasa benar-benar telah menyakiti hati perempuan yang dulu bagitu ia perjuangkan. Jika diingat lagi dulu mereka berdua sama-sama berjuang, Nazwa selalu mendukungnya dalam kondisi apapun. Bahkan saat Ari jatuh terpuruk pun Nazwa masih bersedia menemaninya. Sementara ia, mencari kenyamanan lain pada wanita lain dan mengabaikan Nazwa.
"Aku minta maaf atas segalanya, untuk menebus kesalahanku hari ini kita akan menghabiskan waktu berdua. Aku janji tidak akan meninggalkan kamu lagi seperti semalam, " ujar Ari sambil mengusap air mata Nazwa yang jatuh.
Mereka pun kembali ke apartemen sebentar untuk mengambil pakaian, lalu melanjutkan perjalanan menuju ke tempat wisata dan berencana menginap di sana.
...****************...
Nazwa Pov.
Jawaban dari pertanyaanku sama sekali tidak diberikan oleh Mas Ari membuatku kecewa, dia hanya meminta maaf atas sikapnya padaku tapi tidak berniat menjelaskan kemana dia pergi kemarin dan menginap di mana. Aku yakin dia kemari bukan seorang diri, pasti wanita itu ikut bersamanya. Aku tidak ingin menuduh sembarangan tapi dari percakapan yang kemarin kudengar sudah pasti wanita itu juga ada di sini. Tapi di mana dia menginap?
"Mas, kamu yakin ini kita mau liburan? " tanyaku kembali memastikan.
"Yakin, Sayang... kenapa memang? Apa kamu mengkhawatirkan sesuatu?"
"Aku hanya takut nanti rekan kerjamu menelepon. "
"Tidak, kali ini aku hanya milikmu. "
Hanya milikku? Artinya ada orang lain yang selama ini juga memilikimu. Entah kesalahan apa yang kuperbuat dulu hingga suamiku menyakitiku seperti ini. Aku hanya berharap diberikan kekuatan untuk menghadapi ujian kali ini.
"Kita sudah sampai, tunggu di sini aku akan membantu kamu. "
Aku digendong oleh Mas Ari turun dari mobil. Aku rasa saat ini aku sedang bermimpi, dia yang selama ini bersikap dingin tiba-tiba menggendong ku seperti rasanya sedikit canggung.
Jika sebelumnya aku senang jika dia memeluk tubuhku, namun saat ini terasa biasa saja. Bayangan kotor selalu terlintas dalam benakku, apakah dia sudah melakukan hal sejauh itu bersama wanita lain?
Ketakutan itu seakan terus saja menghantui pikiranku.
__ADS_1