Balasan Pengkhianatan

Balasan Pengkhianatan
Episode 32


__ADS_3

Nazwa baru saja pulang dari aktivitasnya sehari-hari, pekerjaan hari ini cukup banyak hingga terasa melelahkan. Saat tiba di rumah Nazwa melihat mobil Iqbal terparkir di halaman rumah ibunya.


"Assalamualaikum, " ucap Nazwa.


"Waalaikumsalam, nah ini anaknya baru pulang.." kata Ibu.


Nazwa menyapa Iqbal sebentar lalu ia pamit untuk mandi terlebih dahulu, setelah itu ia akan lanjut mengobrol dengan Iqbal.


"Apa kabar, Na? Kamu baik-baik saja kan? Nggak ada yang mengganggu kamu selama aku pergi kan?" tanya Iqbal saat Nazwa sudah duduk di ruang tamu.


"Wow, Pak Dokter! Banyak sekali pertanyaanmu, aku baik-baik saja lho. Kamu sih lama banget pulang kampungnya!" sahut Nazwa.


"Hehehe iya, maaf.. Aku kemarin mengurus surat pindah kemari, jadi agak lama.. Maaf sudah buat kamu kangen," kata Iqbal.


Keduanya lanjut mengobrol dan bercerita mengenai Iqbal yang sekarang sudah resmi pindah ke Jakarta. Hal itu ia lakukan semata-mata untuk bisa dekat dengan Nazwa. Iqbal telah memutuskan untuk memperjuangkan perasaannya, jika masih belum bisa diterima oleh Nazwa maka itu sudah resikonya.


"Ada cerita apa selama aku pergi? " tanya Iqbal.


"Tidak ada, semua berjalan dengan lancar.. Tapi beberapa hari yang lalu aku melihat mantan pelakor itu bersama pria lain, " jawab Nazwa.


"Oh ya? Terus apa yang kamu lakukan? Kamu beri tahu Ari soal itu?" tanya Iqbal.


"Ya, aku memberitahunya secara tidak langsung. Dia cukup terkejut dan sepertinya merasa sakit hati melihat itu. Tapi ya sudahlah tidak ada urusannya lagi denganku, toh itu urusan mereka. Kalaupun mereka harus menerima balasan, biar Tuhan yang membalasnya!" ucap Nazwa.


----------------


Keesokan harinya saat Nazwa dan Iqbal sedang menghabiskan waktu di Mall, mereka melihat ada kerumunan orang. Sepertinya telah terjadi keributan, karena Nazwa dan Iqbal penasaran akhirnya mereka mendekati kerumunan tersebut.


Betapa kebetulannya, ternyata orang-orang sedang melihat Widya yang cek-cok dengan beberapa pria bertubuh tambun.

__ADS_1


Jika disimak dari perdebatan mereka, sepertinya tiga orang bertubuh kekar itu adalah debtcolector. Widya terlihat sangat menyedihkan, ia terduduk di lantai sambil memohon dan menangis.


"Saya mohon, beri saya waktu lagi! Uangnya belum bisa dicairkan hari ini, saya janji akan membayar seluruh hutang ibu saya!" ucap Widya.


"Halah tidak usah banyak alasan! Ibu kamu berjanji akan membayarnya hari ini, kalau kamu tidak mau maka kamu harus ikut dengan kami!" kata Pria itu.


Nazwa tiba-tiba mendapatkan sebuah ide, ia memberanikan diri untuk mendekati mereka.


"Tunggu! Berapa hutangnya? " tanya Nazwa  membuat perhatian orang-orang itu beralih padanya..


"Siapa kamu? Kamu mau membayar hutangnya? Punya uang kamu?" tanya pria itu.


"Jangan terlalu menganggap remeh orang lain! Cepat katakan berapa hutangnya, aku akan membayarnya!" kata Nazwa.


"20 juta! Mana cepat bayar! Kalau tidak perempuan ini akan kami bawa sebagai gantinya!" ancam pria itu.


"Apa mau kamu? Kenapa kamu ikut campur urusanku? Kamu pikir sudah berjasa setelah melakukan itu tadi?" tanya Widya masih angkuh.


"Hahaha lucu banget sih kamu, harusnya kamu itu berterimakasih  karena sudah aku bantu.  Tapi tentu saja itu tidak gratis, ada harga yang harus dibayar!" ucap Nazwa.


"Sudah kuduga kamu memang perempuan licik! Aku sama sekali tidak butuh bantuan dari kamu!"


"Hahaha Widya ... Widya .. Masih saja begitu sombong setelah semua ini.. Kalau begitu anggap saja tadi sebagai hutang yang suatu hari nanti harus kau bayar! Di dunia ini tidak ada yang gratis, aku akan mengingatnya sebagai hutang yang suatu hari nanti akan ku tagih!" ucap Nazwa.


Lalu Nazwa pergi bersama Iqbal  meninggalkan Widya sendiri. Widya merasa frustasi, keinginannya untuk berbelanja dirusak oleh debtcolector tadi. Ditambah lagi dengan Nazwa yang sok baik dengan bersedia membayar hutangnya.


.


"Punya rencana apa kamu setelah melakukan itu tadi?" tanya Iqbal penasaran.

__ADS_1


"Ya pasti akan aku pikirkan dulu, suatu hari pasti akan ku tagih! " kata Nazwa.


...****************...


Widya kembali ke rumah membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi, bahkan ia tidak lagi memperhatikan lampu merah. Hal itu ia lakukan karena merasa kesal atas yang terjadi hari ini. Takdir telah mempermainkannya tanpa perduli dengan perasaannya. Saat akan berbelok arah, ban mobilnya slip dan rem nya tidak berfungsi dengan baik. Widya kehilangan kendali atas mobilnya, ia panik dan berusaha menginjak rem berulang kali tapi usahanya gagal. Mobil benar-benar sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Widya panik setengah mati, orang-orang di sekitar melihat kejadian itu namun tidak dapat menolong dan akhirnya.....


Braakk!!


Widya menabrak pembatas jalan dan tiang listrik, mobil depannya remuk parah dan kakinya terjepit. Widya langsung pingsan tak sadarkan diri sebab kepalanya mengeluarkan banyak darah. Warga sekitar segera menghubungi polisi dan memanggil ambulance untuk mengevakuasi Widya dari kecelakaan yang ia sebabkan sendiri.


Widya segera dilarikan ke rumah sakit dan polisi berhasil mendapatkan kontak Ari lalu menghubunginya. Ari yang tadinya sedang fokus bekerja, terkejut mendapatkan kabar jika Widya kecelakaan dan sudah berada di rumah sakit. Ari segera bergegas menuju rumah sakit untuk melihat keadaan Widya.


Setibanya di rumah sakit, Ari melihat beberapa polisi menunggu di depan UGD. Sepertinya polisi itu yang mengurus kecelakaan Widya, Ari pun menghampiri mereka.


"Pak, bagaimana kondisi istri saya?" tanya Ari.


"Istri bapak sedang di rawat oleh dokter di dalam, dan setelah kami selidiki penyebab utama kecelakaan ini karena istri anda sendiri membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Ada beberapa saksi mata juga yang melihat, " jelas polisi tersebut.


"Apa dia sendirian dalam mobil itu?" tanya Ari lagi.


"Iya, dia memang sendirian dan karena rem nya blong jadi membuat mobilnya tidak bisa dikendalikan. "


Ari diam dan mendengar penjelasan dari polisi itu, mendengarnya saja Ari bisa membayangkan betapa kerasnya benturan yang terjadi. Ari juga belum tahu separah apa kondisi Widya di dalam. Mendengar hal itu membuat Ari teringat dengan Nazwa yang juga dulu pernah kecelakaan. Apakah Widya akan bernasib sama dengan Nazwa? Duduk di kursi roda dan tak berdaya.


...----------------...


"Tidak! Ini tidak mungkin ! Aku tidak mau seperti ini! Dokter... Dokter... Tolong kembalikan kaki saya, Dokter! Saya nggak mau seperti ini, kembalikan semua seperti semula!" Widya berteriak histeris setelah sadar dan menangis melihat keadaannya.


Rasanya sulit sekali dipercaya, Widya benar-benar akan mengalami hal yang dulu pernah ditempati oleh Nazwa. Widya tidak terima dengan kondisinya..

__ADS_1


__ADS_2