
Sejak seminggu ini Widya sudah tinggal terpisah dari Nazwa, Ari terpaksa mengambil kredit rumah untuk Widya karena sejak malam itu Nazwa tidak bicara dengannya. Dan pagi ini ia dikejutkan dengan Widya yang muntah di kamar mandi.
Widya yang sedang tertidur dengan wajah pucat membuat Ari merasa sangat khawatir. Ari mengambil ponselnya dan menghubungi Nazwa.
"Ada apa? " nada jawaban Nazwa masih terdengar tidak ramah.
"Na, Widya sakit.. Sejak tadi pagi dia muntah dan tidak mau sarapan, apa kamu punya solusinya? " tanya Ari.
Nazwa terdiam sejenak mendengar pertanyaan dari suaminya, perasaannya mulai tidak enak.
"Sejak kapan dia muntah? Apa sudah periksa ke dokter?" tanya Nazwa.
"Sejak dua hari ini, setiap pagi dia muntah dan tidak mau sarapan. " Penjelasan Ari semakin membuat perasaan Nazwa tidak enak.
"Ya sudah kalau begitu aku akan ke sana, siapa tahu aku bisa membantunya. "
Nazwa merasa ia harus memastikan sendiri keadaan Widya, gejala yang Ari sebutkan tadi merujuk ke arah tanda kehamilan. Mungkinkah Widya sedang hamil?
"Jika benar dia hamil, apa Mas Ari akan benar-benar meninggalkan aku?"
...****************...
Nazwa sampai di rumah Widya dan kedatangannya disambut oleh Ari yang menunggunya di depan.
"Dimana dia? " tanya Nazwa.
"Sedang istirahat di kamar. "
Ari mengajak Nazwa menuju kamar Widya, Nazwa melihat Widya tidur dengan wajah pucat. Kemudian Nazwa ke dapur untuk membuatkan sup hangat untuk dimakan oleh Widya nanti. Tak lama kemudian Widya sudah bangun dan merasa kepalanya sangat pusing.
"Pelan-pelan! "
Widya melihat ke arah pintu kamar, di sana ada Nazwa yang berjalan masuk dengan membawa semangkuk sup.
"Ngapain kamu di sini? Ini rumahku, jangan berpikir untuk menguasainya juga!" tanya Widya ketus.
"Aku kemari bukan mau cari ribut, makanlah sup ini supaya perutmu terisi. Kata Mas Ari sejak tadi kamu belum makan apapun, " ucap Nazwa.
"Tidak mau! Lagi pula aku tidak tahu niat kamu memberiku sup ini, mungkin kamu mencampurkan racun ke dalamnya!"
__ADS_1
"Ayolah, Widya! Jangan bersikap seperti anak kecil! Lihat ini!" Nazwa menyendok sup tersebut dan memakannya.
"Kau lihat? " Widya baru mau makan sup tersebut setelah melihat Nazwa memakannya.
"Setelah ini coba pakai test pack ini! " Nazwa menyerahkan alat test kehamilan pada Widya.
"Untuk apa? Aku tidak...." ucapan Widya terhenti saat mengingat sesuatu.
Widya segera mengambil test pack itu dan berlalu ke kamar mandi. Nazwa masih menunggunya di kamar, tak lama Widya keluar dengan senyum yang mengembang sempurna.
"Bagaimana hasilnya? "
"Positif! Aku hamil! " teriak Widya girang.
Nazwa tersenyum kecut mendengarnya.
"Kau lihat, sekarang aku hamil! Aku mengandung anak Mas Ari, artinya dia akan menjadi milikku seutuhnya! " ujar Widya dengan senyum mengejek.
"Selamat atas kehamilannya! Jaga dia dengan baik, karena jika dia hilang maka kau akan dibuang! " sahut Nazwa sambil mengelus perut Widya yang masih datar itu.
Lalu Nazwa langsung pergi tanpa berpamitan pada Ari. Hatinya terasa sakit, istri muda suaminya sedang hamil dan artinya seluruh perhatian Ari hanya akan tertuju pada Widya dan bayi dalam perutnya.
"Kamu sudah baikan? Kenapa berlari seperti itu?" tanya Ari.
"Aku sudah baikan, Sayang.. Bahkan aku sangat baik.. Sebentar lagi... Kamu... akan jadi ayah! "
"Aku hamil, Mas! " ucap Widya sambil menghujani Ari dengan ciuman lalu ia menyerahkan test pack itu pada Ari.
"Ini beneran? Aku akan jadi ayah? " tanya Ari.
"Iya, Sayang.. Dia ada di sini,dalam perutku! " Widya menuntun tangan Ari untuk mengelus perutnya.
"Oh iya, Nazwa dimana? " tanya Ari yang tidak melihat keberadaan Nazwa.
"Dia sudah pulang katanya buru-buru."
"Sudahlah, Mas, tidak usah pikirkan dia.. Sekarang fokus saja sama aku dan bayi kita!" kata Widya .
"Ya sudah kalau begitu besok kita akan periksa ke dokter kandungan ya."
__ADS_1
"Iya, Mas."
...----------------...
Nazwa sudah siap untuk berangkat ke kantor, hari ini rasanya ia kurang semangat. Semenjak pulang dari rumah Widya dan mengetahui bahwa Widya hamil, rasanya Nazwa sedikit kecewa. Seharusnya ia yang berada di posisi itu,seharusnya ia dan Ari hidup bahagia bersama bayi mereka. Tetapi takdir berkata lain,Nazwa telah kehilangan separuh dari jiwanya.
Setibanya di kantor ia melihat ruangan Ari masih tertutup rapat, sepertinya Ari belum datang padahal sebentar lagi jam kerja akan segera dimulai. Sejak seminggu Widya pindah, sejak itu pula Ari tidak pulang ke rumah. Ari banyak menghabiskan waktu di rumah Widya.
"Na, maaf aku terlambat.. Tadi aku habis..."
"Sudah jam berapa ini? Kenapa anda baru masuk ke kantor? Anda pikir kantor ini punya anda, bisa seenaknya datang terlambat begini? Bagaimana perusahaan ini bisa maju jika manager seperti anda telat seperti ini?" Nazwa marah saat Ari baru datang dan menemuinya di ruang kerjanya.
"Na, tadi aku.."
"Sudah telat masih mau beri alasan? Apa anda tidak menyadari kesalahan anda? " tanya Nazwa.
Entah kenapa saat itu tiba-tiba emosi Nazwa memuncak ketika melihat wajah Ari.
"Kalau anda sudah tidak mau bekerja lagi di kantor ini, silakan resign!"
"Kamu kenapa sih, Na? Kenapa kamu marah sama aku? Tadi aku mengantar Widya pergi ke dokter, makanya aku terlambat. "
"Setidaknya kamu bisa beritahu yang lain, atau meminta izin.. Kalu seperti ini kan banyak pekerjaan jadi terbengkalai!" sahut Nazwa.
"Kamu sudah berubah, Na! Semenjak kamu punya jabatan tinggi, nada bicaramu juga tinggi! Kamu tidak lagi menghormati aku sebagai suami!" kata Ari.
"Menghormati suami? Suami yang mana? Suami yang tega meninggalkan istrinya sendiri setelah kecelakaan?Suami yang selingkuh dan menikah diam-diam disaat istrinya sedang berjuang untuk sembuh? " Nazwa meluapkan emosinya.
"Na... Bukannya kamu sudah menerima semuanya?"
"Aku menerima? Kamu sadar nggak sih seberapa dalam luka yang kamu buat dalam hidup aku? Aku memang menerima tapi hatiku tidak ikhlas, Mas! Setelah semua yang kamu lakukan padaku, kamu berharap apa lagi dariku? "
"Kamu mau aku kasih fasilitas untuk selingkuhan kamu? Kasih makan dia? Merawat dan mengurus dia? Atau bila perlu aku menjadi pelayannya?" tutur Nazwa.
"Pelankan nada bicaramu, Nazwa! Aku masih suami kamu! Dan ini di kantor, jangan bawa masalah pribadi kita ke kantor!" bentak Ari.
"Bahkan suami yang dulu selalu bicara penuh kelembutan padaku, hari ini membentakku tanpa menyadari kesalahannya.."
"Aku tidak akan membentak jika kamu tidak keterlaluan! Sudahlah, malu di dengar staff yang lain.. Tenangkan diri kamu, nanti kita bicara lagi."
__ADS_1
Ari keluar dari ruangan Nazwa, terlihat beberapa karyawan ada yang berkumpul dan sepertinya mendengar percakapan antara ia dan Nazwa. Namun Ari tak mau ambil pusing dan langsung masuk ke dalam ruang kerjanya.