Balasan Pengkhianatan

Balasan Pengkhianatan
Episode 11


__ADS_3

"Ada apa? Ditinggal ya sama suami saya? " tanya Nazwa yang tiba-tiba muncul di belakang Widya.


Widya tercengang melihat Nazwa berdiri tanpa kursi rodanya, bahkan wanita itu berjalan seperti orang normal.


"Ka... kamu... Kamu bisa berjalan? Ba.. bagaimana mungkin?" tanya Widya.


"Semua itu mungkin, aku sudah sembuh sekarang.. dan bersiaplah menerima pembalasan dariku, Pelakor!!" bisik Nazwa .


Widya bergidik ngeri mendengar bisikan dari Nazwa, wanita yang selama ini ia anggap sepele hari ini mulai menunjukkan taringnya. Bahkan saat ini Nazwa sudah sembuh dan bisa berjalan, tetapi di hadapan Ari Nazwa masih menggunakan kursi rodanya.


"Rupanya kamu mau bermain licik ya? Tunggu saja permainan dariku, tak kalah seru dari sandiwaramu.." batin Widya .


Widya berangkat ke kantor menggunakan taksi online, Ari benar-benar meninggalkannya begitu saja. Sudah beberapa hari ini Nazwa pintar sekali membalikkan keadaan. Otak Widya mulai berpikir keras memikirkan cara agar dapat mengalahkan Nazwa.


"Aku harus segera hamil! Dengan begitu Mas Ari akan lebih menyayangiku daripada wanita lumpuh itu! " ucap Widya.


Bukannya menuju ke kantor, Widya malah memutar arahnya menuju rumah sakit. Ia akan memeriksa kondisi rahimnya dan berencana akan mengikuti program hamil.


"Hanya dengan cara ini aku bisa menyingkirkan wanita itu! " Widya masuk ke rumah sakit dan mendaftar untuk ke bagian dokter obgyn.


...****************...


Nazwa sudah bersiap akan pergi, hari ini ia sudah ada janji bertemu dengan Iqbal yang baru mengabarinya semalam jika ia sedang ada di Jakarta.


"Mbak Nana mau pergi? " tanya Bi Minah.


"Iya, Bi... tolong bantu saya masukkan kursi rodanya ke dalam mobil ya, Bi.. "


Bi Minah dengan patuh membantu Nazwa, sejak kepulangan Nazwa Bi Minah menjadi tenang. Beliau tidak suka diperintah oleh Widya, hanya Nazwa yang ia anggap sebagai majikannya.


Nazwa pamit pada Bi Minah dan pergi menuju restoran tempat ia membuat janji dengan Iqbal.


Sesampainya di restoran, Iqbal tampak sudah menunggunya.


"Maaf ya sudah buat kamu menunggu lama, " Nazwa merasa bersalah karena ia telat beberapa menit.


"Tidak masalah, aku cukup tahu kondisi jalan di Jakarta.. Ayo kita pesan!" sahut Iqbal.

__ADS_1


Mereka berdua pun memesan makanan.


"Oh iya, Na... Bagaimana kaki kamu? Apakah masih terasa nyeri saat berjalan?" tanya Iqbal.


"Sudah tidak lagi, ini semua berkat kamu, Bal.. Terima kasih, " ujar Nazwa dengan senyum tulus.


"Sudah berapa kali kamu mengucapkan terima kasih padaku, Na.. Di rumah sakit kita ini sebagai dokter dan pasien, tapi di luar aku adalah teman kamu. Jadi tidak perlu sungkan."


Mereka berdua pun melanjutkan makan dengan tenang, Iqbal sesekali terus mencuri pandang terhadap Nazwa. Wanita di hadapannya itu selalu berhasil membuat hatinya bergetar.


"Oh iya, Na... Suamimu tidak marah kalau kita bertemu? " tanya Iqbal.


"Untuk apa dia marah, saat aku sakit saja dia tidak perduli.. Kurasa dia lebih menyayangi istri barunya, " jawab Nazwa.


"Maaf, Na... Aku tidak bermaksud mengungkit masalah kamu."


"Tidak apa-apa, Bal.. Lagi pula aku tidak terlalu memikirkannya, " kata Nazwa.


Mereka melanjutkan makan dan mengobrol beberapa hal tentang kesehatan Nazwa. Iqbal memberikan beberapa rekomendasi vitamin yang bagus untuk diminum Nazwa, ia datang ke Jakarta karena akan menghadiri seminar.


"Jadi mau sampai kapan kamu sembunyikan kesehatan kamu darinya? Bukankah dia berhak tahu? " tanya Iqbal.


...----------------...


Setelah tiba di kantor Widya bukannya langsung bekerja tetapi malah mencari keberadaan Ari, Widya begitu Tak sabar ingin memberitahu Aris soal Nazwa dan juga keinginannya untuk memiliki anak bersama Ari.


"Mas, aku ingin bicarakan hal penting! Ini soal Nazwa!" tutur Widya .


Ari yang semula tak tertarik dengan kehadiran Widya langsung menoleh ketika wanita itu menyebut nama istri pertamanya.


"Ada apa? Apakah dia jatuh? Atau kamu cari gara-gara lagi sama dia? " tanya Ari.


"Bukan begitu, Mas.. Tapi Nazwa sudah sembuh, dia sudah bisa berjalan tanpa kursi roda, Aku melihatnya sendiri!"


"Apa? Itu tidak mungkin, kamu pasti salah lihat!"


"Sumpah, Mas.. Aku nggak salah lihat, nanti setelah pulang dari kantor kita akan pancing dia supaya berdiri.."

__ADS_1


Ari sedikit ragu dengan ucapan Widya namun dalam hati kecilnya ia pun juga berharap Nazwa bisa kembali berjalan seperti semula. Tak di pungkiri cinta dalam hatinya untuk Nazwa masih ada.


...****************...


"Na, berhentilah jika kamu merasa lelah. Lepaskan semua yang menjadi penyebab kesakitan kamu, aku tahu kamu tidak sekuat itu.. Tapi ingat satu hal, aku akan selalu ada jika kamu butuhkan. "


"Terima kasih banyak, Iqbal .. Kamu sudah banyak membantuku. Tapi aku belum bisa berhenti untuk saat ini, " jawab Nazwa.


"Berjuanglah sekali lagi jika memang itu diperlukan, aku akan mendukung apapun keputusan kamu. Aku yakin kamu mampu.."


Iqbal sedikit memberikan saran kepada Nazwa, sedikit banyaknya Nazwa telah cerita apa yang terjadi dalam rumah tangganya. Iqbal turut prihatin dengan nasib Nazwa, tetapi Iqbal tahu Nazwa paling tidak suka jika ada yang mengasihaninya. Tugas Iqbal hanya mengarahkan dan memberikan saran sebagai teman, segala keputusan ada di tangan Nazwa.


"Kalau begitu aku pulang duluan ya, Bal.. Terima kasih atas traktirannya. Lain kali aku yang traktir deh," ucap Nazwa.


"Iya, Na... sama-sama. Santai aja."


Nazwa pun pamit pulang dan Iqbal tinggal seorang diri di restoran. Matanya tak pernah lepas dari Nazwa sampai wanita itu menghilang dari pandangannya.


"Kenapa kamu lebih memilih rasa sakit dari pada kebebasan, Na? Apakah pria itu masih pantas mendampingi kamu? Jelas dia tidak bersyukur memiliki kamu! " tutur Iqbal.


..................


Sesampainya di rumah Nazwa langsung kembali ke kamarnya, ia merenungkan kembali perkataan Iqbal tadi. Nazwa sendiri sejujurnya merasa sangat sakit, tetapi tujuannya masih belum tercapai. Bahkan rencananya baru saja akan di mulai.


Nazwa mengganti bajunya dengan gaun tidur yang dulu selalu menjadi favorit Ari, ia sengaja melakukan itu untuk mempermainkan suaminya. Nazwa tahu pasti Widya sudah mengatakan pada Ari jika ia sudah bisa berjalan. Maka dari itu Nazwa akan memberikan kejutan spesial untuk suaminya.


Tok...tok...tok..


"Na, kamu di dalam? " tanya Ari dari luar pintu kamar.


"Iya, Mas... masuk aja pintunya nggak di kunci!"


Ari membuka pintu kamar dan tampak suasana kamar sedikit temaram. Nazwa perlahan berdiri dan berjalan menghampiri Ari yang masih berdiri di dekat pintu.


"Mas.... Aku merindukan mu!" Nazwa memeluk Ari dengan sangat erat.


"Kamu sudah bisa berjalan lagi, Na? " tanya Ari.

__ADS_1


"Iya, Mas... Ini adalah kejutan yang kupersiapkan untukmu, " kata Nazwa.


Ari senang mendengarnya dan memeluk Nazwa dengan erat, malam ini Ari menghabiskan waktu di kamar Nazwa.


__ADS_2