
Acara pertunangan Nazwa dan Iqbal diadakan dengan cara sederhana sesuai dengan permintaan Nazwa, wanita itu hanya ingin menjadikan momen bahagianya terkesan seumur hidupnya. Para tamu undangan telah hadir dan turut dalam kegembiraan kedua pasangan yang baru saja bertukar cincin itu.
Tetapi ada satu orang yang melihat mereka dengan tatapan cemburu, yaitu Ari. Ia cemburu melihat Nazwa bertunangan dengan Iqbal.
Tanggal pernikahan telah diumumkan, acara akan diselenggarakan 2 bulan lagi terhitung mulai hari ini. Ari yang tidak diundang segera pergi dari sana sebab hatinya tidak sanggup lagi melihat Nazwa bersanding dengan orang lain.
.
Saat sore hari, Bi Minah menghampiri Nazwa yang sedang mengobrol dengan Iqbal dan kedua orang tuanya. Bi Minah mengatakan jika ada seseorang yang ingin bertemu dengan Nazwa, yakni Widya. Nazwa permisi sebentar untuk menemuinya.
"Kenapa hanya di luar? Ayo masuk ke dalam!" kalimat itu keluar dari mulut Nazwa.
"Tidak usah, aku tidak akan lama. Sebelumnya aku ucapkan selamat atas pertunanganmu, dan kedatanganku kemari untuk membicarakan soal penawaran kamu kemarin, " kata Widya.
"Terima kasih, jadi bagaimana? Kamu siap untuk membalas perlakuan suamimu?" tanya Nazwa.
"Sebenarnya aku masih ragu, tapi aku terpaksa karena memikirkan nasib Abizar.. Aku tidak siap jika dia akan hidup kekurangan, " kata Widya.
"Kalau kamu tidak siap untuk apa repot-repot datang ke sini? Begini saja, aku akan cari bukti lagi agar kamu lebih yakin.. Setelah itu keputusan ada di tangan kamu," kata Nazwa.
"Baiklah kalau begitu, aku permisi dulu.."
Widya terlihat kesusahan bergerak dengan kursi rodanya, Nazwa yang melihat itu sedikit kasihan. Ia pun meminta sopirnya untuk mengantarkan Widya pulang, meskipun awalnya Widya menolak tetapi Nazwa memaksanya untuk diantar oleh sopir.
"Kenapa Mbak Nana harus suruh sopir untuk antar dia? Harusnya biarkan saja tadi," kata Bi Minah.
"Tidak boleh berkata seperti itu, Bi.. Aku kasihan melihatnya karena dulu aku pernah ada di posisinya, ya meskipun dia dulu adalah sumber dari kesakitanku. Beruntung aku masih bisa sembuh, " jawab Nazwa.
Bi Minah hanya heran melihat sisi baik majikannya itu. Nazwa terlalu baik terhadap orang yang jelas dulu menjadi penghancur rumah tangganya. Bi Minah juga tadi melihat Ari datang, tetapi Bi Minah tidak akan memberitahukan hal itu pada Nazwa. Beliau tidak ingin kebahagiaan Nazwa terganggu karena hal itu.
__ADS_1
...----------------...
Ari pulang ke rumah dengan wajah kusut, dan sedikit ada bau alkohol dari mulutnya. Entah sejak kapan pria itu melampiaskan amarahnya dengan meminum minuman keras begitu. Widya yang baru saja tiba di rumah melihat Ari berbaring di atas sofa.
"Dari mana kamu? " tanya Ari.
"Dari luar bertemu teman," jawab Widya.
"Teman yang mana? Memangnya kamu masih punya teman? Teman mana yang mengantarmu dengan mobil mewah begitu?" cecar Ari.
Widya terhenyak dengan perkataan dari mulut Ari, pria itu secara langsung menghinanya.
"Apa-apaan sih kamu, Mas? Sembarangan menuduhku seperti itu, harusnya aku yang tanya. Kenapa sore begini mulut kamu sudah bau alkohol?" sahut Widya.
"Bukan urusan kamu!"
Ari berjalan sempoyongan masuk ke dalam kamar. Widya hanya bisa miris melihat takdir yang dijalaninya saat ini.
...----------------...
Hari itu Widya berencana untuk mengikuti Ari, ia ingin melihat sendiri apa yang sedang Ari perbuat di luar rumah selain ke kantor. Sejak melihat rekaman yang Nazwa tunjukkan kemarin, membuat Widya ingin membuktikannya sendiri.
Pagi itu semuanya masih terlihat normal, Ari bekerja di kantor seperti biasa. Akan tetapi saat pukul 9 tiba-tiba Ari terlihat sedang terburu-buru keluar dari kantor. Ari pergi meninggalkan kantor entah kemana, dan Widya pun segera mengikutinya dari belakang.
Setelah 20 menit akhirnya mobil Ari berhenti di sebuah butik, tiba-tiba saja seorang wanita keluar dari butik dengan beberapa barang belanjaan dan memeluk serta mencium pipi Ari. Widya syok melihat hal itu, ternyata apa yang dikatakan Nazwa memang benar.
Widya mencoba menghubungi Ari untuk memastikan apakah pria itu akan jujur atau tidak, ternyata Ari tidak menjawab teleponnya.
Tak berhenti sampai di situ, Widya mengirim pesan pada Ari dan menyuruhnya pulang dengan alasan Abizar sakit. Namun pesan itu tak kunjung dibalas apalagi dibaca, Widya kesal akhirnya ia memutuskan untuk pulang dan membiarkan Ari begitu saja.
__ADS_1
...****************...
"Aku sudah dapatkan semua data wanita itu, sekarang giliran kamu.. Terserah kamu mau bergerak atau tidak, " kata Nazwa.
Widya menatap map yang baru saja diserahkan oleh Nazwa, dan membaca biodata wanita yang ia lihat kemarin bersama suaminya. ia membacanya secara detail dan mendapatkan fakta jika wanita itu bekerja di sebuah club malam.
"Sainganku ternyata pelacur?" tanya Widya.
"Jangan sombong terlebih dahulu, tidak ingat dulu kamu menggunakan cara yang sama waktu menggoda Ari?" tegur Nazwa membuat Widya diam seketika.
"Aku rasa kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan, besok temui dia di Cafe Zamrud jika kamu memang serius!" Nazwa berlalu pergi begitu saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di Caffe.
"Kamu yang bernama Monica?" tanya Widya saat menghampiri meja yang sudah ada wanita lain yang duduk di sana.
"Iya, kamu ada perlu apa mencari saya?" tanya Monica.
"Langsung saja ke intinya, aku mau minta kamu jauhi suami saya! Dia punya anak yang masih kecil, dan kamu tidak seharusnya mendekati pria yang sudah bersuami," kata Widya sambil menunjukkan foto Ari bersama Monika.
"Oh dia ternyata suami kamu?" Monika tersenyum sinis.
"Kalau aku tidak mau menjauhinya bagaimana? Apa yang bisa kamu lakukan? Kamu pikir aku benar-benar ingin merebut suami kamu? Tenang saja, aku hanya butuh uangnya. Setelah aku puas nanti aku kembalikan lagi padamu!" ujar Widya.
Widya kesal mendengar perkataan Monika. "Dasar pelacur! Sadar diri dong jadi orang, dia sudah punya istri dan anak. Kalau kamu masih punya rasa hormat Seharusnya kamu malu mau merebut suami orang, apalagi hanya mengincar hartanya saja."
"Terserah kamu mau bilang apa, aku sama sekali tidak perduli! Selagi dia lancar memberiku uang maka aku akan terus berada di sisinya, lagi pula jika dia disuruh memilih pasti akan lebih memilihku daripada wanita lumpuh sepertimu! Tolong berkaca!" ujar Monika.
__ADS_1
"Aku tidak punya banyak waktu lagi untuk meladeni istri yang tidak berdaya seperti kamu, kalau kamu punya keluhan maka silakan bicara dengan suami kamu yang payah itu! Buang-buang waktu saja!"