Balasan Pengkhianatan

Balasan Pengkhianatan
Episode 9


__ADS_3

Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, 2 bulan sudah Nazwa tinggal di Bandung untuk masa pemulihan. Dan dari hasil kerja kerasnya akhirnya kini ia sudah bisa berjalan lagi seperti dulu walau masih harus perlahan. Nazwa tak sabar ingin segera pulang ke Jakarta untuk bertemu sang suami, tetapi kepulangan Nazwa kali ini akan sangat berbeda.


Nazwa telah mendengar desas desus soal suaminya yang diam-diam sudah menikah lagi dibelakangnya, bahkan ada beberapa bukti foto yang dikirim oleh beberapa orang suruhan Nazwa. Rasanya ia sangat tidak sabar ingin segera memberikan kejutan pada suami dan madunya itu.


Namun sebelum pergi Nazwa menyempatkan diri untuk berpamitan kepada dokter Iqbal yang selama ini juga ikut bekerja keras membantunya.


"Tidak terasa ya waktu begitu cepat berlalu, rasanya baru kemarin kita bertemu.." ucap Dokter Iqbal.


"Iya, aku juga tidak menyangka akan secepat ini pulih.. Kamu benar-benar dokter terhebat, Bal! " sahut Nazwa memuji Iqbal .


"Itu juga karena semangat kamu, Na."


"Oh iya, berangkat jam berapa? Mau ku antar? " tanya Iqbal.


"30 menit lagi, masih bisa sedikit santai kok."


Nazwa tersenyum sambil menikmati ice cream yang ia pesan, Iqbal menatap wajah Nazwa dengan serius. Dalam lubuk hatinya Iqbal merasa sedikit tak rela jika harus kembali berpisah dengan Nazwa. Tapi Iqbal menyadari jika Nazwa memang pulang ke tempat yang seharusnya.


"Terima kasih banyak ya, Bal.. Berkat kamu aku sudah bisa berjalan lagi, aku benar-benar bersyukur atas hal itu. Bahkan kurasa ucapan terima kasih pun tak cukup untuk membalas semua kebaikan kamu, " ucap Nazwa.


"Kamu ngomong apa sih, Na? Kayak sama siapa aja. Lagipula itu memang tugasku, kamu tidak perlu sungkan. "


"Hmm baiklah, sepertinya kapan kapan aku harus mengundang kamu untuk makan masakanku deh..." ujar Nazwa sambil tersenyum.


"Kalau begitu aku tidak akan menolak, aku pasti akan datang untuk makan.. hahaha"


Keduanya lalu berpisah dan kembali pada tempat masing-masing. Nazwa kembali ke rumah bersama suaminya dan Iqbal kembali ke rumah sakit seorang diri dan akan lebih memilih menyibukkan diri.


"Aku terlambat menyatakan perasaan, bahkan terlalu pengecut untuk mengakui. Kalaupun dia tahu, pasti dia tidak akan bisa menerima. Lebih baik begini, mengagumi dalam sepi.."


...****************...


Setelah menempuh beberapa jam perjalanan akhirnya Nazwa sampai di Jakarta. Nazwa naik taksi menuju ke rumahnya. Tidak ada yang tahu tentang kepulangan Nazwa kali ini, hal itu sengaja Nazwa lakukan untuk memberikan sedikit kejutan untuk Ari.


"Sepertinya rumah sedikit berubah sejak kutinggalkan terakhir kali, " gumam Nazwa menatap sekeliling rumah.


Nazwa mengeluarkan kursi rodanya dan mulai mengetuk pintu rumah tentu dengan posisi Nazwa yang sudah duduk di kursi roda.


"Mbak Nana! Masyaallah, ini benar? Tambah cantik sekarang, Mbak.. Bibi sampai pangling, " kata Bi Minah saat membuka pintu.


"Apa kabar, Bi? " Nazwa merentangkan kedua tangan meminta Bi Minah memeluknya.


Nazwa juga sangat merindukan Bi Minah yang selama ini juga menjadi mata-mata di rumah, bahkan beliau rela bersandiwara untuk membantu Nazwa.

__ADS_1


"Mas Ari mana, Bi? " tanya Nazwa.


"Masih di kantor, Mbak.. Tapi itu... " Bi Minah tidak berani melanjutkan perkataannya takut jika Nazwa akan marah atau sakit hati.


"Ada apa, Bi? Katakan saja!" desak Nazwa .


"Anu... itu.. Sebenarnya sejak seminggu yang lalu kamar Mbak dan Pak Ari ditempati oleh pelakor itu.. "


Bagai disambar petir di siang bolong Nazwa benar-benar terkejut, kamarnya bersama Ari dimasuki orang lain.


Selama ini hanya Nazwa, Ari dan Bi Minah saja yang masuk ke dalam kamar mereka. Tetapi kali ini bahkan orang asing sudah menempati kamar mereka berdua.


Nazwa tersenyum saat melihat Bi Minah sedikit tak enakan, ia menggenggam tangan wanita paruh baya itu dan tersenyum tulus..


"Aku tidak apa-apa, Bi.. Justru untuk hal ini aku pulang. Ayo antar aku ke kamar, permainan akan segera dimulai. Bibi doakan Nana supaya kuat menghadapinya, " ujar Nazwa.


"Iya, Mbak.. Bibi pasti selalu doakan yang terbaik untuk Mbak Nana!"


.


.


Nazwa dan Bi Minah telah berada di dalam kamar, Nazwa memperhatikan seisi kamar yang tampak sangat berantakan. Nazwa geli melihat dalaman seorang wanita yang tentu saja bukan miliknya teronggok diatas ranjang.


"Ya ampun, jenis manusia seperti apa yang sudah membuat kamarku berantakan begini? Seumur hidup aku sangat tidak suka jika kamarku berantakan, tapi lihatlah ini! Sangat jorok."


"Oh iya aku lupa memberi tahu bibi, tapi tolong rahasiakan ini dari mereka ya, Bi! " ujar Nazwa.


Dibantu dengan Bi Minah akhirnya Nazwa membereskan kamarnya dan mengumpulkan semua barang yang bukan miliknya. Bahkan ada beberapa barangnya yang sepertinya sudah dipakai. Nazwa sangat kesal melihat hal itu, setelah semua sudah beres ia pun duduk kembali di kursi rodanya menunggu kedatangan Ari dan Widya dari kantor.


.


Tak berapa lama kemudian terdengar suara mobil datang terparkir di depan rumah, Nazwa yakin itu suaminya. Entah seperti apa reaksinya nanti setelah melihatnya telah kembali.


Seperti biasa Ari dan Widya yang belum tahu soal kepulangan Nazwa, berjalan masuk ke dalam rumah dengan saling merangkul.


"Sayang, nanti malam kita dinner di luar ya!" pinta Widya.


"Apapun untukmu, Sayang.." Ari mengecup kening Widya dengan sangat mesra.


Mereka berjalan menuju kamar, dengan tanpa rasa malu Widya mengalungkan tangannya di leher Ari dan mencium bibir pria itu hingga mereka membuka pintu kamar.


"Sudah pulang, Mas? " sebuah pertanyaan yang terdengar membuat Ari dan Widya menghentikan kegiatan mereka.

__ADS_1


Ari terkejut melihat Nazwa sudah berada di dalam kamar dan menunggu kepulangannya.


"Na.. Nazwa! " buru-buru Ari melepaskan rangkulan tangan Widya darinya.


"Ada apa, Mas? Kenapa terkejut seperti itu? Aku sudah pulang lho, kamu tidak merindukan aku? " tanya Nazwa.


"Oh iya aku lupa, kamu pasti selalu sibuk dengan pekerjaanmu ya? Bahkan setelah menjengukku waktu itu kamu tidak menanyakan kabar ku lagi, " lanjut Nazwa.


"Oh iya tadi saat masuk ke sini, kamarnya sangat berantakan. Jadi sudah kusuruh Bi Minah membereskan. Itu semua sampahnya masih di sini, " Nazwa menunjuk ke arah barang milik Widya di sudut kamar.


Widya geram karena barang miliknya disebut sampah oleh Nazwa, dengan penuh kekesalan ia menatap Nazwa dengan sinis.


"Oh iya, siapa dia? Kenapa kamu ajak masuk ke dalam kamar kita? " tanya Nazwa menunjuk Widya di belakang Ari.


"Mbak, kenalin... Aku Widya, istri keduanya Mas Ari. Kedepannya mungkin kita bisa saling mengakrabkan diri," sahut Widya.


Ari tak bisa berbuat apapun lagi, Widya dengan terang terangan mengakui dirinya dihadapan Nazwa.


"Oh rupanya tingkat kepercayaan diri maduku ini sangat tinggi ya," Nazwa tersenyum melihat Widya.


"Kalau begitu ambil semua barang mu itu sebelum aku membakarnya! Atas izin siapa kamu tidur di kamar ini dan naik ke atas ranjangku?"


"Aku juga istri Mas Ari sekarang, jadi aku memiliki hak yang sama di rumah ini! "


"Sudah cukup! Widya, tolong kamu tunggu di luar! Aku mau bicara dengan Nazwa!" tegas Ari.


"Tapi..."


"Keluar!"


Ari membentak Widya hingga pundak wanita itu bergetar ketakutan, Widya memilih keluar dari kamar dan meninggalkan Ari dan Nazwa di dalam kamar.


"Na... Maafin aku..." Ari berjongkok di depan Nazwa.


"Aku tidak perlu kata maafmu, Mas! Yang aku butuhkan adalah penjelasan tanpa kebohongan. "


"Aku terpaksa... Aku melakukan ini karena kamu.. "


"Lumpuh dan tidak berguna? Apakah itu artinya kamu pantas berbuat seperti ini padaku? " ucap Nazwa memotong ucapan Ari.


"Bukan begitu, Na.. Aku benar-benar minta maaf padamu..."


"Aku tidak mau tahu, Mas... Karena kejadiannya sudah seperti ini, maka kamu harus segera bawa dia pergi dari rumah ini! Kamu menikah diam-diam tanpa izin dariku, jadi sebaiknya kamu carikan dia rumah lain!"

__ADS_1


"Tapi, Na... uang tabunganku tidak cukup untuk membeli rumah baru, " kata Ari.


"Ya itu urusan kamu! Aku tidak sudi tinggal satu atap dengan wanita itu, rumah ini kubeli dengan hasil jerih payahku. Jadi kalau memang kamu ingin bersama istri mudamu, maka carilah rumah lain!"


__ADS_2