
Ari dan Widya terdiam di dalam mobil, keduanya hanyut dalam pikirannya masing-masing. Widya tetap pada pendiriannya yang ingin Ari berhenti kerja di kantor karena tidak ingin dikasihani oleh Nazwa. Sementara Ari tidak bisa berhenti begitu saja mengingat posisi yang ia duduki saat ini ia raih dengan bersusah payah.
"Aku tidak mungkin meninggalkan posisiku sekarang, aku harus berjuang keras untuk bisa berada di titik ini. Dan Nazwa, dia..."
"Nazwa lagi Nazwa lagi... kenapa sih Mas kamu tuh nggak pernah berhenti untuk menyebut namanya? Kamu lupa sama janji kamu?" tanya Widya.
"Bukan begitu, Sayang. Untuk sementara abaikan dulu soal omongan orang yang kamu dengar tadi, aku janji akan segera mencari pekerjaan lain.. Tapi untuk saat ini kita butuh," bujuk Ari.
Akhirnya Widya memilih untuk mengalah, meskipun ia berteriak sekeras mungkin tidak akan bisa membuat Ari menurutinya.
......................
Nazwa melihat kepergian Ari dan Widya, sejak awal dia melihat mereka tetapi ia memilih untuk tidak saling bersinggungan. Sebelum acara ini dimulai pun ia sudah memberikan peringatan pada para karyawan untuk tidak lagi membahas permasalahan mereka yang telah berlalu.
"Kamu terlihat sangat cantik hari ini, Bu Direktur!" kata Iqbal.
"Hei, Pak Dokter! Berhentilah mengganggu atau aku akan memukulmu!" balas Nazwa.
Iqbal dan Nazwa terlihat seperti sepasang kekasih yang sangat serasi, tetapi kenyataannya tidak ada hubungan spesial di antara mereka berdua. Nazwa masih tetap menganggap Iqbal sebagai seorang teman dan malam ini ia mengajak Iqbal sebagai partner untuk hadir di acara ulang tahun perusahaan.
"Tumben dia nggak dekat-dekat? " tanya Iqbal.
"Memangnya kenapa dia mau mendekat? Kamu tidak lihat siapa yang terus memegangi tangannya sejak tadi?" tanya Nazwa.
Iqbal hanya tertawa menanggapi Nazwa, Iqbal adalah saksi bagaimana Nazwa mencoba untuk melupakan Ari. Bahkan Iqbal sendiri juga menyaksikan air mata Nazwa yang jatuh menangisi pria yang tidak dapat bersyukur memiliki Nazwa.
Proses melupakan seseorang yang sejak lama bersama dengan kita memang tidak mudah, mungkin butuh beberapa waktu, beberapa bulan, atau beberapa tahun agar luka yang disebabkan oleh Masa lalu itu akan sembuh. Begitu pula dengan Nazwa yang sekarang sedang berusaha menata hatinya kembali.
Nazwa menepi dari keramaian, ia berdiri di balkon gedung untuk menghirup udara di luar. Meskipun di tengah keramaian, Nazwa merasa tetap sepi. Raganya ada tetapi jiwanya kosong, saat ini dia hanya sedang berusaha menutupi luka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Lambat laun Nazwa mulai terbiasa dengan keadaan, setiap hari dia berpapasan dengan Ari. Hatinya sudah tidak lagi merasa sakit, dia sudah terbiasa. Sedangkan Ari masih belum bisa melupakan Nazwa, hatinya masih menyimpan rasa. Tiap kali ia masuk ke ruangan Nazwa, sikap Najwa terasa sangat dingin dan kaku sangat jauh berbeda dengan Nazwa yang dulu saat menjadi miliknya. Ari merasa saat ini Nazwa sudah terlalu jauh untuk ia gapai.
"Na, kita perlu bicara!" kata Ari saat berada di ruang kerja Nazwa.
"Bicara saja!" sahut Nazwa tanpa menatap Ari.
"Aku rindu denganmu, Na.. Aku ingin kita kembali seperti dulu, " ucap Ari.
Mendengar hal itu Nazwa pun menghentikan kegiatannya dan beralih menatap Ari, setelah sekian lama kata-kata itu baru terucap dari mulut Ari.
"Maksudnya apa? Kita sudah selesai, tidak ada lagi yang perlu diulangi. Aku bukan orang yang sama seperti pertama kamu kenal, aku sudah bahagia hidup sendiri. "
"Ingat batasanmu! Ini kantor, bersikaplah profesional! Tidak perlu membahas masalah pribadi!" ucap Nazwa lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Ari mencelos mendengar jawaban Nazwa, bukan perkataan itu yang ia harapkan.
Setelah Ari keluar dari ruangan itu, Nazwa menatap pintu yang baru saja tertutup. Nazwa sudah berhasil menolong dirinya sendiri untuk keluar dari Lembah yang memberinya luka, ia tidak ingin kembali mengulanginya.
"Ada apa?" tanya Nazwa.
"Na, aku mau izin pulang. Widya tadi menelepon sambil kesakitan, mungkin dia akan melahirkan. " kata Ari.
"Oh ya sudah kalau begitu, nanti kalau ada apa-apa jangan lupa kabarin aku!" kata Nazwa.
Ari mengangguk dan permisi untuk pulang, dilihat dari raut wajahnya Ari terlihat sangat mengkhawatirkan Widya.
.
Widya terus memegangi perutnya, tadi ia sedang mandi tapi tidak disangka ia terpeleset saatakan keluar. Widya mengerang kesakitan dan merangkak keluar dari kamar mandi untuk mencari ponselnya dan menghubungi Ari.
Setelah sampai di rumah Ari langsung masuk dan segera membawa Widya ke rumah sakit. Wanita itu kesakitan dan memegangi perutnya.
__ADS_1
"Aduh, Mas... sakit..." ujar Widya.
"Tahan sebentar ya, sayang! Sebentar lagi kita akan tiba di rumah sakit.." kata Ari sambil mengelus kepala Widya yang terus mengerang kesakitan.
Widya langsung ditindaklanjuti oleh dokter dan dibawa menuju ruang bersalin. Usia kandungannya masih 8 bulan, kemungkinan anak itu akan lahir prematur. Ari ikut masuk ke dalam ruang bersalin, ia melihat bagaimana proses Widya melahirkan buah hati mereka. Tak henti hentinya Ari merapalkan doa untuk keselamatan istri dan anaknya. Air matanya juga tidak berhenti menetes, tangannya terus menggenggam tangan Widya menyalurkan kekuatan.
"Tarik nafas, Sayang... Kamu pasti bisa!" ucap Ari.
"Sakit, Mas! Aku nggak tahan... " Widya mengejan sekali lagi dan akhirnya bayi mereka pun lahir.
Suster membersihkan bayi mereka, sementara dokter masih memberikan penanganan untuk Widya. Seperti perkiraan dokter, anak mereka lahir prematur dan harus menggunakan alat bantu nafas.
"Mas, anak kita baik-baik saja kan? Dimana dia? Aku mau gendong, " tanya Widya.
"Dia baik-baik saja, Sayang.. Kamu tidak perlu khawatir, dia sedang tidur sekarang.."
Ari mengecup kening Widya berkali-kali mengucapkan rasa syukur, buah hati yang ia idamkan lahir dari Widya bukan dari wanita yang dulu sangat dicintainya. Jika sudah begitu tidak ada lagi yang perlu disesali, yang dapat Ari lakukan hanyalah menerima takdir.
"Aku keluar sebentar ya, mau telpon Nazwa. "
Seketika raut wajah Widya berubah menjadi marah, baru saja ia berjuang antara hidup dan mati tapi tanpa perasaan Ari malah ingin menelepon wanita lain.
"Buat apa kamu mau telpon dia? Apa itu jauh lebih penting daripada aku yang barusan melahirkan anakmu?" tanya Widya dengan suara marah.
"Bukan begitu, Sayang.. Dia atasanku, tadi aku pulang terburu-buru jadi aku harus memberikan kabar bahagia ini. Sebentar saja kok," kata Ari.
"Terserah kamu, Mas.. Kalaupun aku larang kamu juga akan tetap menghubungi dia!" balas Widya membuang muka.
Bukannya peka terhadap perasaan sang istri, Ari malah keluar dan meninggalkan Widya. Pria itu mengeluarkan ponsel miliknya untuk menghubungi Nazwa.
"Iiih kenapa sih selalu dia yang kamu cari!"
__ADS_1