Balasan Pengkhianatan

Balasan Pengkhianatan
Episode 26


__ADS_3

Widya tidak tahu perlakuannya akan mengubah perasaan dalam hati Ari untuknya, semakin hari mereka berdua semakin jauh. Widya sibuk dengan dunianya sendiri, bahkan ia sering mengabaikan anaknya. Widya sering pulang terlambat bahkan suatu hari ia pernah tidak pulang ke rumah dengan alasan pekerjaan. Hanya Bella yang mengurus segala urusan bayinya.


Saat akan diadakan acara syukuran, semua staf kantor bersiap untuk pergi ke rumah Ari. Mereka semua diundang termasuk juga Nazwa.


Iqbal yang berencana akan mengajak Nazwa makan siang, mengurungkan niatnya karena bertemu Nazwa di lobby perusahaan saat mereka akan berangkat ke rumah Ari.


"Lho, Na.. Kamu mau pergi? Mau rapat atau ada pekerjaan di luar?" tanya Iqbal.


"Eh, Iqbal .. Kebetulan kamu datang disaat yang tepat, ikut aku yuk! Kami diundang ke acara syukuran anaknya Ari, kamu mau kan temani aku? " tanya Nazwa.


"Eh tapi kan aku nggak diundang, nanti dia marah kalau aku hadir di sana?" kata Iqbal ragu.


"Kan aku yang ajak, lagipula aku malas kalau di sana terlalu lama. Setelah 10 menit, kita akan pamit pulang. "


Iqbal yang awalnya merasa ragu untuk ikut akhirnya luluh, ia tidak bisa menolak permintaan Nazwa.


Sesampainya di rumah Ari, suasananya tampak sangat ramai. Nazwa melihat sekeliling, semua teman Ari semasa kuliah dulu juga turut hadir di sana.


"Ini Nazwa kan? Iya bener, kamu Nazwa! Wah apa kabar? Sudah lama tidak bertemu, sekarang makin cantik aja?" sapa seorang teman Nazwa saat kuliah dulu.


"Iya, kabar ku baik.. Kamu Rehana kan?" tanya Nazwa.


"Aku pikir kamu sudah lupa denganku.." mereka berdua pun lanjut berbasa-basi dan saling bertanya kabar.


"Bukankah dulu kamu dan Ari pacaran? Lalu sekarang, apa yang terjadi? Kalian tidak jadi menikah?" tanya Rehana.


"Iya, kami belum berjodoh.." ucap Nazwa enggan menceritakan detail kisahnya.


"Oh... Maaf ya, Na, aku jadi kepo seperti ini. "


Nazwa menanggapinya dengan senyuman, untuk sekarang Nazwa hanya bisa menjawab bahwa mereka memang tidak berjodoh. Selebihnya Nazwa tidak ingin lagi membahas kisah yang telah berlalu.

__ADS_1


Ari mendekati Nazwa yang terlihat sedang mengobrol dengan beberapa teman kuliah dulu sambil menggendong anaknya.


"Hallo, Tante..." ucap Ari sambil menirukan suara anak kecil.


Nazwa menoleh ke belakang dan melihat bayi mungil yang ada dalam gendongan Ari.


"Eh halo, anak ganteng! Uh ya ampun lucunya.." puji Nazwa sambil mengelus pipi bayi.


"Namaku Abizar, Tante.. Aku mau digendong sama Tante!" ucap Ari lagi yang masih menirukan suara anak kecil, lalu menyerahkan bayinya pada Nazwa.


Tanpa bisa menolak lagi, Nazwa terpaksa menggendong bayi mungil itu. Ada perasaan senang sekaligus sedih saat bayi itu dalam dekapannya.


"Andai saja kamu masih bertahan di perut Mama dulu, Nak.. Mungkin sekarang Mama akan sangat bahagia, " kata Nazwa dalam hatinya.


Nazwa terus menatap wajah bayi mungil itu, hidungnya mancung seperti ayahnya. Semakin lama Nazwa merasa semakin sedih, ia terus mengingat momen kecelakaan itu serta menelan pil pahit setelah Ari meninggalkannya begitu saja di rumah sakit.


Nazwa tak tahan lagi, ia segera mengembalikan bayi itu kepada Ari.


"kok buru-buru, Na? Nggak mau cicipi hidangannya dulu?" tanya Ari.


"Tidak usah, terima kasih. Maaf sekali lagi, kami permisi. "


Nazwa menggandeng tangan Iqbal untuk pulang bersamanya, hatinya terasa perih mengingat momen kehilangan calon bayinya dulu. Raut wajah Nazwa yang semula tampak ceria, kini terlihat muram.


"Kamu baik-baik saja, Na?" tanya Iqbal.


"Aku baik-baik saja..." jawab Nazwa.


Tetapi tidak lama kemudian suara tangisannya pecah juga, hatinya tak bisa berbohong. Disalahkan karena kehilangan calon bayi, ditinggalkan lalu dikhianati membuat Nazwa benar-benar terluka.


Iqbal menepikan mobilnya dan langsung memeluk Nazwa, wanita itu menumpahkan segala kesedihannya dipelukan Iqbal.

__ADS_1


"Aku sudah dengan sebaik-baiknya yang aku bisa, aku belajar banyak dari pengalaman sebelumnya, pada akhirnya semua pengorbanan bukanlah jaminan supaya aku tidak ditinggalkan.. " kata Nazwa dalam tangisnya.


"Tapi setidaknya, kamu sudah berusaha secara maksimal untuk membuktikan bahwa kamu tidak ingin kehilangan. Semua itu kembali lagi ke manusianya sendiri, walau seerat apapun kamu menggenggamnya jika yang dia inginkan bukan kamu maka dia tetap akan pergi.." kata Iqbal.


"Menangislah, Na.. Luapkan semuanya! Aku tahu kamu hanya berpura-pura tegar, hanya ada aku di sini.. Aku tahu kamu rapuh, bersandarlah sampai hatimu merasa lega!" lanjut Iqbal.


Nazwa semakin erat memeluk Iqbal, perkataan Iqbal memang benar. Nazwa memang utuh tapi jiwanya sebenarnya rapuh. Nazwa sama sekali tidak menyesali perpisahannya, Nazwa hanya sedang ingin meluapkan emosinya yang ia pendam sejak keputusan hakim dibacakan.


Nazwa rela mengalah untuk Ari, ia tidak bekerja setelah menikah hanya karena ingin menjadi istri yang berbakti. Tetapi semua itu hanyalah harapan semu.


20 menit Nazwa menangis, tak terasa air matanya hampir habis. Ia pun perlahan melepaskan pelukannya dari Iqbal.


"Sudah merasa lebih baik?" tanya Iqbal.


Nazwa mengangguk, " Maaf ya, Bal.. Gara-gara aku, kemejamu jadi basah seperti itu!"


"Tidak apa-apa, aku rela basah kuyup asalkan semua kesedihan kamu hilang.. Jika butuh tempat bersandar, maka carilah aku!" ucap Iqbal.


"Terima kasih banyak ya, Bal.. Maaf aku selalu merepotkan kamu, " kata Nazwa.


"No! Jangan berkata begitu, aku tulus melakukannya untuk kamu."


Ya begitulah kedekatan keduanya, Iqbal selalu siap kapanpun Nazwa perlu. Dalam lubuk hatinya, Iqbal masih menyimpan perasaan dan harapan. Tetapi melihat keadaan Nazwa, mungkin wanita itu tidak ingin membuka hatinya dalam waktu dekat ini.


Nazwa menghapus sisa air matanya di pipi, lalu membersihkan make up yang menempel pada kemeja Iqbal. Pria itu menatap Nazwa dengan sangat dalam.


"Hidup memang memberiku banyak pilihan, tapi hatiku masih terpaku pada satu nama. Entah akhirnya akan seperti apa,tapi aku tak pernah ragu dalam menaruh rasa. Jika pada akhirnya bukan aku yang menjadi pilihan mu, maka aku akan selalu mendoakan kebahagiaan untuk mu.." batin Iqbal.


"Aduh sepertinya noda make up ini susah hilang deh, kita mampir ke toko baju aja sebentar ya.. Nggak enak kalo kamu balik ke rumah sakit dengan baju kotor gini," ucap Nazwa.


"Iya, Na... tidak apa-apa, kamu tenang aja. Jangan panik!"

__ADS_1


Iqbal kembali melajukan mobilnya dan mencari toko baju terdekat sesuai permintaan Nazwa. Entah kenapa Iqbal selalu senang berada di dekat Nazwa, tetapi ia sendiri belum berani mengungkapkan perasaannya pada Nazwa. Bukan karena tidak punya keberanian, Iqbal merasa waktunya belum tepat.


__ADS_2